Tampak di sana King Jefferson tengah sibuk berdiskusi dengan beberapa orang kepercayaannya.
“Joana? My Princess?” Joana yang berdiri di ambang pintu besar tersebut tampak ragu untuk masuk.
“Dad.. Apa aku mengganggumu?”
“Tidak, masuklah..” segera King Jefferson mengisyaratkan orang-orangnya untuk keluar.
“Aku ingin bicara padamu.” ujar Joana melangkah masuk.
“Kemari, mendekatlah.. Apa yang ingin kau katakan?”
“Aku ingin sekali pergi ke Alpez, apakah Daddy mengizinkannya?”
“Ya?” King Jefferson terdiam sejenak sambil berpikir.
“Bukankah kau akan segera menetapkan tanggal pernikahanku dengan Duke Hans? Tapi sebelum aku menikah, beri aku waktu untuk sendiri.” ujar Joana seolah tahu apa yang King Jefferson pikirkan.
“Apa sesuatu terjadi?”
“Tidak, aku hanya ingin menikmati kesendirianku saja. Aku merindukan Alpez dan ingin tinggal di sana untuk beberapa waktu.”
“Tapi Duke Hans masih berada di sini untuk menemuimu lebih lama.”
“Aku tahu, tapi tolong izinkan aku untuk pergi ke Alpez, kami masih bisa bertemu di lain waktu.”
King Jefferson kembali berpikir lalu mengangguk perlahan, “Baiklah, kapan kau akan pergi?”
“Jika kau mengizinkannya, aku akan pergi besok.”
“Aku mengizinkanmu untuk pergi ke negeri Alpez, kau bisa pergi besok.”
“Benarkah Your Majesty? Thank you so much.” Princess Joana yang merasa senang memeluk ayahnya dengan erat.
“Aku akan meminta beberapa prajurit untuk menemanimu.”
Princess Joana melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap ayahnya, “Kau tidak perlu memerintahkan prajurit untuk menemani perjalananku, Dad.”
“Mengapa? Bukankah kau terbiasa dengan pengawalan mereka?”
“Eh, bagaimana jika Duke Vince saja yang menemaniku pergi ke sana?”
“Vince?”
“Ya, dia sudah lama tidak mengunjungi Uncle Frans di sana, ku yakin dia pasti mau mengantarku.”
“Dia tak akan menolaknya Joana, tapi apa kau tak tahu jika Vince pergi bersama Julian ke negeri Thale?”
“A-apa? Dia sedang pergi ke Thale?”
“Dia menemani Julian untuk menjemput Princess Lalice.”
King Jefferson memegang erat pundak putrinya, “Pergilah bersama beberapa prajurit, kau tak perlu menunggu Vince, tentu dia akan sedikit lama di sana.” ujarnya meyakinkan.
Dengan terpaksa, Joana tersenyum dan mengangguk pada ayahnya.
“Baiklah.. Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu Dad.” Joana keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal, Ia bahkan tak henti-hentinya mengutuk nama Lalice, pasalnya gadis itu selalu saja membuatnya kesal hingga melibatkan Vince. Ingin rasanya Ia menjambak rambut hitam wanita itu.
Sebenarnya, Joana berniat pergi ke negerinya sendiri untuk menenangkan diri bersama Vince dan membicarakan hubungannya, tapi wanita bernama Lalice itu mengacaukan rencananya. Joana sadar jika dirinya tak bisa menyetujui begitu saja perjodohannya dengan Duke Hans, pria yang sama sekali tidak dia cintai.
Sementara, King Jefferson tampak menyadari sesuatu, Ia mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat hingga tampak buku-buku jarinya yang memerah, siapapun yang melihatnya tentu tahu jika King Jefferson sedang sangat marah.
Bragg!
Beberapa pelayan yang tengah berlalu lalang di depan ruang utama itu terkejut mendengar King Jefferson membuka pintu dengan kasar.
“Di mana Jacey?”
“M-maid Jacey? K-kami tidak tahu di mana Ia.” Jawab seorang maid dengan gugup.
“Cari dia sekarang juga! Perintahkan dia untuk menghadapku!” Teriak King Jefferson.
Dengan segera seorang maid mencari-cari di mana keberadaan maid Jacey, Ia bahkan tak tahu alasan King Jefferson memintanya memanggil wanita itu, namun Ia tahu Rajanya itu tengah begitu marah.
“Maid Jacey! Maid Jacey!” maid Jacey yang sedang sibuk dengan urusan dapur menghentikan aktivitasnya.
“Ya??” Ia menoleh pada salah seorang maid yang tadi memanggilnya dengan panik.
“King Jefferson memanggilmu, cepatlah temui dia!”
Maid Jacey tampaknya paham mengapa pelayan itu memanggilnya dengan begitu panik, tidak lain adalah karena King Jefferson pasti sedang naik darah. Namun Ia tak peduli, Ia hanya bertanya-tanya apa yang King Jefferson inginkan darinya? Sudah lama sejak terakhir kali pria itu memanggilnya. Malam itu, ketika Queen Heidi tak berada di istana.
*
Pintu kayu yang tebal dan kokoh itu terbuka perlahan, Maid Jacey melihat jelas King Jefferson berdiri di hadapan singgasananya menatap tajam ke arahnya. Maid Jacey menundukkan wajah, bukan karena Ia takut, sedikitpun tak ada rasa takut ketika berhadapan dengan Raja Alpez itu, hanya saja Ia begitu enggan bahkan benci meski hanya melihat matanya saja.
“Jace..”
Wanita paruh baya itu sudah begitu muak dengan panggilan yang hanya di gunakan oleh Raja, tak ada siapapun yang memanggil dirinya dengan sebutan Jace kecuali King Jefferson, bahkan pria itulah yang membuat panggilan yang kini begitu jijik Ia dengar. Namun apa daya, dirinya hanya seorang pelayan yang harus patuh pada perintah tuannya dan mau tak mau Ia mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah King Jefferson.
King Jefferson memberi arahan pada para penjaga untuk menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua. Setelah hanya mereka berdua dalam ruangan besar itu, King Jefferson mendekat ke arah Maid Jacey yang kembali tertunduk, tiba-tiba dengan kasar King Jefferson meraih wajah wanita itu untuk bertatap muka dengannya.
“Y-Your Majesty.. Kau menyakitiku.” ujar Maid Jacey meminta untuk di lepaskan.
Seolah tak menghiraukan ucapan Maid Jacey, satu tangannya mengusap wajah wanita itu dengan lembut dan perlahan.
Tak ingin terlihat tunduk, Maid Jacey justru menatap mata King Jefferson dengan tajam, membuat tangan pria itu turun dan mencengkram lehernya hingga Maid Jacey kesulitan bernapas.
“Kau bahkan berani menatapku dengan penuh kebencian, apakah kini kau sudah benar-benar melupakanku??” tanya King Jefferson lirih.
“T-tolong—” Maid Jacey tampak kesulitan untuk bernafas.
“Apa yang kau katakan pada putriku??” tiba-tiba King Jefferson bertanya tentang Princess Joana padanya. Tak mengerti dengan pertanyaan itu, Maid Jacey hanya menggeleng.
“Jawab! Apa yang kau coba katakan padanya!” King Jefferson melepas cengkeraman tangannya dan mendorong Maid Jacey hingga Ia terlempar dan mendarat di lantai.
Wanita itu terbatuk-batuk seraya mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya, namun King Jefferson tak peduli. Pria itu berpangku tangan seraya memandangi wanita yang tengah berusaha mengatur nafasnya.
“Kau mencoba memperdayainya?” Maid Jacey masih menggeleng, mencoba menyangkal ucapan King Jefferson, sedangkan pria itu lagi-lagi berjalan mendekat, kemudian King Jefferson menariknya untuk bangun dan merapatkan tubuh Maid Jacey padanya.
“Jika kau berani ikut campur, aku tak ajan segan-segan untuk membunuh putramu, Jacey..”
Jacey menggeleng dengan panik dan kembali King Jefferson melempar tubuhnya ke lantai bertepatan dengan masuknya Queen Heidi dan Chef Anthony di sana, bahkan keduanya menyaksikan ketika King Jefferson tengah melempar Jacey.
Cukup lama Queen Heidi terpaku melihat pemandangan itu, begitu pula dengan Anthony yang begitu marah dan tak terima melihat King Jefferson bersikap kasar pada Jacey.
Menyadari tatapan King Jefferson, Jacey menoleh ke belakang dan melihat Queen Heidi beserta Anthony berdiri di sana, Ia segera bangun dan merapikan seragamnya, kemudian dengan sedikit berlari Ia menuju pintu untuk segera keluar dari ruangan itu.
**
Princess Lalice tengah duduk di atas daun teratai dalam kolam di istananya, Ia bermain-main dengan air di sana, hingga seorang maid mencarinya dan mengatakan jika Peince Julian telah datang.
“Prince Julian sudah datang?” Princess Lalice melompat kegirangan, lalu sedikit terbang untuk mencapai tepian dan berlari ke dalam untuk menemui Prince Julian.
Sementara seperti rencananya, Rosie dan Cobalt memutuskan untuk keluar ke tempat di mana Cobalt memetik buah-buah apel itu.
“Kau yakin di sini tempatnya Co?”
“Ya, tapi ku rasa peri Angeles itu hanya melintas di sekitar sini.”
“Menurutmu, dari arah mana mereka datang?”
“Entahlah Rosie.. Tapi bukankah kau cukup mengenal tempat ini, tentu kau tahu di mana lagi tempat yang terdapat gua yang memungkinkan mereka untuk tinggal.”
“Ah ya! Tempat yang sempat ku jadikan persembunyianku dulu, kita bisa memeriksanya di sana.” ujar Rosie dengan semangat kemudian melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah berjalan, Rosie menginjak sesuatu dan tiba-tiba sebuah jaring yang sangat berat jatuh di atasnya, membuatnya tak dapat melepaskan diri.
“Oh tidak! Rosie, itu jebakan!” Cobalt berlari ke arahnya dan mencoba menarik jaring itu dengan giginya.
“Cobalt! Keluarkan aku dari sini!” panik Rosie.
“Tenang Rosie, jangan berteriak, aku akan membantumu!” Cobalt masih mencoba menggigit jaring-jaring itu namun tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat dan dengan begitu keras seseorang menendangnya cukup jauh hingga membuat Cobalt tak sadarkan diri.
“Cobalt! Cobalt!” Rosie berteriak, khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada anjingnya, namun anjing anomalous itu sudah tak bergerak sedikitpun.
“Co! No!” Rosie menangis, lalu tiba-tiba sebuah benda keras mengenai kepalanya, membuatnya pingsan seketika.
“Akhirnya kita berhasil menangkapnya!” salah seorang pria kegirangan.
“Tentu Duke Vince akan sangat senang ketika kembali ke Angeles.” timpal yang lain.
“Bukankah dia yang di maksudkan Duke Vince?”
“Entahlah, tapi sebaiknya segera bawa dia ke sel!”
**
Seorang pria tak sengaja menemukan Cobalt yang tergeletak di tanah. Pria itu tahu jika anjing yang tengah pingsan itu masih hidup sehingga Ia memutuskan untuk membawanya ke tempatnya. Setelah mencoba meneteskan air ke mulutnya, akhirnya Cobalt tersadar.
“Hhh! Rosie! Rosie!” Cobalt yang terkejut melompat dan meneriakkan nama Rosie.
“Hei tenanglah! Anjing pintar jangan takut!” ujar salah seorang pria.
“Rosie! Di mana Rosie?! S-siapa kalian?!” panik Cobalt.
“Tenanglah.. Kami adalah peri Angeles.” jelasnya membuat Cobalt berhenti berlarian.
“K-kau peri Angeles?”
“Kau tidak percaya padaku? Bukankah Rosie yang kau maksudkan adalah seorang peri Angeles juga?”
“T-tapi, tidak mungkin peri Angeles masih hidup.”
“Jika itu yang kau pikirkan, bagaimana dengan peri Angeles yang kau maksudkan? Bukankah dia juga masih hidup?”
“Benarkah yang ku dengar? Kau adalah peri Angeles?”
“Of course! James.. Namaku James, dan aku adalah peri Angeles.” jawabnya.
**
“Apakah kau tidak ingin berjalan-jalan lebih dulu di sini, Your Highness?” tanya Lalice pada Julian.
“Ku rasa, kami tak bisa berlama-lama di sini. Lagi pula Duke Vince memiliki banyak pekerjaan di Angeles.”
“Jika begitu mengapa kau tidak datang sendiri, Prince Julian?”
“Kau tentu tahu jika aku tak akan di izinkan untuk datang sendiri menjemputmu.”
“Maaf jika aku mengganggu waktu kalian.”
“Jangan khawatir Your Highness, kami masih memiliki waktu luang untuk menjemputmu.” ujar Vince.
“Selamat datang di negeriku Prince Julian dan Duke Vince.” sapa King Marcus yang baru saja menyambut keduanya.
“Terimakasih Your Majesty.”
“Lalice, mengapa tidak mengajak mereka untuk masuk, kami sudah siapkan banyak makanan untuk kalian. Pangeran dari Alpez harus di sambut dengan amat baik di sini.”
“Ya, maaf dengan sambutan yang amat sederhana ini.” ujar Lalice kemudian mengajak keduanya untuk masuk.
“Baiklah, jadi apa rencanamu, Prince Julian?” tanya King Marcus setelah mereka duduk.
“Sepertinya kami akan kembali ke Angeles malam ini juga.”
“Malam ini? Kalian akan membawa putriku melewati malam dengan cuaca yang sangat dingin, sebaiknya bermalam saja dulu, akan ku minta pelayan menyiapkan dua kamar untuk kalian berdua.”
Julian dan Vince saling memandang, keduanya sedikit berpikir, awalnya mereka hendak menolak tawaran itu, namun tampaknya Prince Julian harus memikirkan tentang Princess Lalice yang harus melakukan perjalan malam.
“Baiklah Your Majesty, kami akan menginap dan akan kembali ke Angeles besok pagi.” ujar Julian.
**
Brugh!
Para prajurit Alpez itu melempar tubuh Rosie ke dalam penjara, gadis itu sudah hampir sadar dan kesadarannya kembali ketika mereka melepas penutup di kepala Rosie. Dapat Ia lihat beberapa prajurit Alpez tengah menatapnya dan mengunci pintu penjara itu dan meninggalkan Rosie di sana. Sedangkan Rosie hanya menatap kepergian prajurit itu dengan pasrah, percuma saja melawan dengan cara apapun karena tak ada kompensasi apapun untuk peri Angeles yang melanggar aturan Alpez.
“Cobalt..” Rosie teringat akan Cobalt yang terlempar cukup jauh karena salah satu prajurit itu menendangnya.
“Cobalt.. Ku harap kau baik-baik saja saat ini.”
Rosie mendudukkan dirinya dengan bersandar pada tembok, ruangan itu cukup lembab dan membuatnya sedikit kedinginan beruntung terdapat jerami-jerami yang membuatnya sedikit hangat. Rosie tak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti, Ia menyesal tak mendengar ucapan Cobalt, jika saja Ia lebih berhati-hati mungkin Ia tak akan berakhir di dalam ruangan dingin ini sekarang.
***
“Ku dengar tadi malam kalian menemukan lagi peri Angeles?” tanya King Jefferson pada para prajuritnya.
“Ya Your Majesty.”
“Lalu apa yang kalian tunggu? Bukankah seharusnya kalian sudah memberikan hukuman padanya.” ujar Queen Heidi dengan gemas.
“Mohon maaf Your Majesty, tapi Duke Vince berpesan kepada kami supaya kami menunggunya hingga Ia kembali ke Angeles.”
“Mengapa? Apakah dia tahu tentang hal ini?”
“Ya Your Majesty, Duke Vince yang memberi kami perintah untuk menangkap wanita itu.”
“Wanita? Jadi dia peri perempuan?”
King Jefferson menoleh pada Queen Heidi yang juga terlihat keheranan, ini pertama kalinya mereka menangkap peri perempuan dari Angeles.
“Baiklah, sebaiknya tunggulah Duke Vince hingga Ia kembali.”
“Baik Your Majesty.”
•••