Beberapa prajurit tampak menarik Rosie untuk berjalan lebih cepat, mereka hendak membawanya ke tengah lapangan dimana semua peri Alpez berada di sana dan hendak menyaksikan hukuman apa yang akan di berikan padanya.
King Jefferson sudah hadir dan duduk di kursinya bersama Duke Vince yang berdiri di sebelahnya. Diam-diam Vince mencoba mengambil hati King Jefferson dengan menyombongkan diri jika tidak ada peri Angeles manapun yang dapat lolos darinya.
Semua mata tertuju pada Rosie yang telah sampai di lapangan, beberapa dari mereka menyadari betapa cantiknya peri Angeles yang kini tengah berdiri membeku di tengah lapang, sedangkan ada pula dari mereka yang melempar gadis itu dengan makanan hingga batu kerikil dan meminta supaya King Jefferson segera menghukumnya.
King Jefferson mengangkat satu tangannya dan dalam sekejap semua peri di sana terdiam. Suasana hening itu justru membuat Rosie semakin gemetar, dirinya jadi bertanya-tanya hukuman apakah yang akan di timpakan padanya.
“Katakan, siapa namamu?!” tanya Duke Vince sontak membuat perhatian Rosie tertuju padanya.
Rosie sungguh berani menatap pria yang bertanya padanya saat ini, Ia amat ingin mengetahui seperti apa wajah-wajah peri yang sudah merampas negerinya, hingga tak Ia rasakan darah segar yang mengalir di pelipis matanya akibat lemparan batu kerikil yang mengenai wajahnya.
“Kau wajib menjawab pertanyaanku!” teriak Duke Vince.
“Namaku adalah Rosie.” tanpa menunjukkan ketakutan sedikitpun, Rosie menjawab pertanyaan Vince.
“Rosie. Kau tahu apa kesalahanmu?”
Rosie menggeleng, “Aku tidak melakukan kesalahan apapun, ini negeriku dan aku berhak untuk hidup di negeriku sendiri.” jawab Rosie begitu menantang hingga membuat King Jefferson geram di buatnya.
Julian yang berada jauh di sana mendengar ucapan gadis yang ternyata bernama Rosie, Ia menyayangkan jawaban Rosie yang terdengar begitu menantang meski Ia menyukai keberanian gadis itu namun tentu jawaban itu akan membuat ayahnya menjadi semakin marah.
“Kau benar-benar menguji kesabaranku.” ucap King Jefferson yang kini menatap Rosie dengan nyalang namun gadis itu tak gentar, Rosie tetap menengadahkan wajahnya untuk menunjukkan jika Ia tidak takut sedikitpun.
“Patahkan sayapnya dan berikan pembangkang ini dunia gelap yang akan membuatnya jera!” tambahnya, kemudian tanpa menunggu lama beberapa prajurit Alpez mendekat pada Rosie dan hendak menyeretnya menuju tempat eksekusi.
“Tunggu!” Julian yang merasa iba tidak dapat diam begitu saja, setidaknya Ia mencoba untuk membuat Rosie mendapatkan hukuman yang tidak seberat itu. Mungkin semua sayap peri Angeles memang harus di patahkan, namun dunia gelap yang berarti menusuk kedua mata Rosie dengan bara panas supaya Ia tidak dapat lagi melihat adalah hukuman yang sangat tidak pantas Rosie dapatkan, sehingga Prince Julian harus memberi pembelaan.
“Prince Julian?” semua peri termasuk Raja dan Duke Vince terkejut dengan kehadiran Prince Julian yang tiba-tiba menghentikan para prajurit yang hendak membawa Rosie.
“Your Majesty, aku mendengar semua hukuman yang kau timpakan pada peri Angeles ini. Tapi kurasa hukuman yang kau timpakan terlalu berat dan aku memohon supaya engkau memberikan sedikit keringanan padanya.” jelas Julian, sedikit membuat King Jefferson merasa heran dengan permintaan putranya itu.
“Apa yang coba kau katakan ini Prince Julian? Perintahku adalah mutlak sekalipun putraku merasa keberatan dengan ini. Mengapa kau menentangnya, apa karena dia adalah peri wanita sehingga aku dapat memberinya keringanan?” tolak King Jefferson.
“Tidak Your Majesty. Tentu perintahmu adalah mutlak.”
“Aku tak ingin ada yang membantah ucapanku, lakukan semua yang telah ku perintahkan!”
“Namun peri Angeles itu telah menolongku, sehingga aku memiliki alasan untuk membelanya!” King Jefferson yang sudah beranjak menghentikan langkahnya dan memperhatikan putranya yang kini tengah menatapnya dengan amat serius seolah Ia benar-benar ingin menolong peri Angeles bernama Rosie tersebut.
Sedangkan Rosie begitu terkejut mengetahui jika pria tampan yang Ia tolong ternyata adalah seorang putra raja Alpez dan pangeran itu mengetahui jika Rosie lah yang sudah menolongnya malam itu.
King Jefferson masih membeku di tempatnya berdiri, dan Julia tahu jika ayahnya itu mencoba memberinya waktu untuk menjelaskan.
“Mungkin ini terdengar lucu karena peri Angeles itu telah menolong dan mengobati lukaku, namun aku tak mungkin berbohong tentang ini hanya demi seorang peri yang tidak ku kenal, bahkan sebelumnya aku tak pernah keberatan dengan segala hukuman yang kau timpakan pada peri Angeles manapun.” jelas Julian.
Tentu penjelasan Julian terdengar tidak masuk akal, sehingga orang-orang yang berada di sana saling membicarakan hal lucu yang telah di ceritakan oleh Prince Julian yang tentu rasanya tidak mungkin bagi seorang Angeles menolong peri Alpez.
“Apa maksudmu dengan mengobati?” tanya King Jefferson.
Prince Julian sejenak menoleh pada Rosie yang menggeleng kecil, Rosie takut jika pria itu sampai mengatakan jika dirinya memiliki kekuatan healing dalam tubuhnya.
“Di malam ketika aku hendak berburu di hutan, aku kurang berhati-hati dan tak sengaja menabrak sesuatu di hadapanku hingga aku terjatuh dan mematahkan sayapku.”
“Kau mematahkan sayapmu?” sergah King Jefferson cukup terkejut karena tak mengetahui hal tersebut.
“Tapi ketika aku terbaring di sana, seorang peri yang adalah gadis ini meletakkan kepalaku di pangkuannya dan mengobati sayapku yang patah.”
“Itu tidak mungkin Your Highness, peri Angeles tak mungkin melakukan hal tersebut untuk peri Alpez yang mereka anggap jahat,” ujar Duke Hans yang baru saja tiba, “Mungkin saja dia mengira jika kau adalah peri Angeles sehingga dia mencoba menyelamatkanmu.” tambahnya.
Prince Julian menyeringai “Tapi bukankah itu lebih tidak mungkin karena peri Angeles dan peri Alpez memiliki perbedaan yang sangat jelas.” ujarnya.
“Lalu apa niatmu mencoba membantu mengobati luka peri Alpez, apa kau mencoba mencari keuntungan dari itu?” pertanyaan yang menohok dari Duka Hans membuat Julian geram, pasalnya hal itu tidak benar dan Duke Hans mencoba membuat posisi Rosie semakin sulit.
Rosie menggeleng dengan panik, “Tidak! Aku tidak menginginkan apapun darinya. Aku merasa kasihan padanya sehingga aku mencoba mengobati lukanya sekalipun aku tahu jika dia adalah peri Alpez.”
“Jadi kau mengetahui jika peri Angeles telah mengobati lukamu Prince Julian?" tanya King Jefferson.
Sebelum Julian bicara, Rosie lebih dulu menjawab pertanyaan King Jefferson karena Ia tahu jika Prince Julian tentu akan mendapat masalah jika sampai salah bicara.
“Tidak! Dia tidak tahu-”
“Dia?? Dia yang kau sebut adalah seorang pangeran, bicaralah dengan lebih sopan!” teriak Vince membuat Rosie gemetar takut.
Rosie menelan ludah, kemudian melanjutkan ucapannya, “Prince Julian tidak mengetahui jika akulah yang mengobatinya. Ketika aku memastikan keadaannya, Prince Julian dalam keadaan setengah sadar, sehingga aku berani menolongnya.”
“Benarkah? Lalu darimana kau dapat tahu jika dialah yang telah menolongmu Prince Julian?” King Jefferson tampak ragu dengan jawaban Rosie.
“Scarf yang Ia kenakan, dia mengikat sayapku dengan itu dan ku kembalikan di malam berikutnya dengan meletakkan scarf itu di tempatku terjatuh, sehingga ketika Ia memakainya kembali, aku tahu jika dialah yang telah menolongku.” jelas Julian.
“Prince Julian menyadari jika peri Angeles lah yang telah menolongnya dan mengatakan padaku tentang keberadaan peri Angeles ini supaya para prajuritku dapat menangkapnya.” tambah Vince mencoba menyelamatkan posisi Julian.
Mendengar penjelasan Duke Vince, Rosie menoleh pada Justin dengan penuh tanda tanya, apakah benar jika pria itu malah berniat menangkapnya setelah memberikannya sebuah cermin, untuk apa? Apakah dia sengaja memberikan cermin itu untuk menjebaknya. Rosie yang tadi sempat mengagumi pria itu sejenak karena mencoba membelanya, kini merasa sangat kesal dan marah padanya.
“Baiklah, aku akan meringankan hukumanmu,” ujar King Jefferson, kemudian menoleh pada para prajurit yang bertugas, “Tempatkan Ia di kebun kapas dan sebelum itu, patahkan sayapnya lebih dulu.”
Rosie terkejut bukan main, begitu pula dengan Julian yang terlihat panik ketika para prajurit itu hendak membawa Rosie ke ruang hukuman.
Ketika King Jefferson beranjak, Julian hendak bicara namun Vince segera mengisyaratkan dirinya untuk tidak mengatakan apapun.
Segera Vince menghampiri Julian yang tampak begitu gelisah.
“Your Highness, tolong jangan katakan apapun.”
“Ayahku tidak sepatutnya memberikan hukuman itu padanya, aku akan bicara pada Raja dan kau harus hentikan para prajuritmu.” ujar Julian yang hendak menemui ayahnya.
“Tidak Your Highness.” Vince terus menghalangi langkahnya.
“Apa maksudmu tidak Sir? Gadis itu telah menyembuhkan sayapku yang mungkin tak akan sempurna kembali jika dia tak menyembuhkannya, dan inilah balasan yang dia dapatkan? Dengan kehilangan sayapnya? Ini sangat tidak adil untuknya.”
“Meski King Jefferson adalah ayahmu, kau tetap tak bisa menentang ucapannya, lagipula berlebihan membela peri itu akan membuatmu di curigai, kau bisa saja di anggap berkhianat oleh rakyatmu sendiri.”
“Jika begitu perintahkan para prajuritmu untuk tidak melukainya Sir.”
“Your Highness, kau tahu jika itu tidak mungkin ku lakukan.”
Prince Julian semakin cemas, apa yang harus Ia lakukan untuk menolong gadis itu. Jika ini tentang mempertahankan sayap yang di milikinya memang sangat tidak mungkin, Ia harus memikirkan cara lainnya.
“Kau tahu betul jika kita tidak bisa menghentikan ini.”
“Ya, tapi mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuknya.”
“Apa maksudmu Your Highness?”
“Christina, aku harus menemui wanita itu untuk meminta ramuan penghilang rasa sakit.”
“Kau tidak bisa melakukannya Your Highness. Your Highness!” Julian tak menghiraukan ucapan Duke Vince dan segera menuju kediaman wanita bernama Christina itu.
*
"Ramuan penghilang rasa sakit?" tanya wanita bernama Christina, seorang penyihir wanita yang bekerja membuat ramuan untuk King Jefferson.
"Aku yakin kau bisa membuatkannya untukku Nona Christina."
"Kau tahu jika aku tak bisa melakukannya Your Highness. Hanya raja yang dapat memerintahku membuat atau memberikan ramuan apapun."
"Ku mohon bantulah aku Nona Chris."
"Your Highness, ku mohon jangan lakukan ini karena kau tak pantas untuk hhmemohon pada wanita sepertiku."
"Your Highness, sebaiknya pikirkan apa yang akan kau lakukan. Jika raja mengetahui hal ini, bukan hanya dirimu yang akan mendapatkan masalah tapi juga Christina." ujar Vince mengingatkan.
"Akan ku pastikan jika ayahku tak akan mengetahui hal ini."
Christina tampak berpikir, Ia menoleh pada Duke Vince yang memang cukup dekat dengan King Jefferson, Christina ingin membantu Prince Julian namun Ia ragu jika Duke Vince diam-diam tak menyetujui. Namun beruntung, Duke Vince tiba-tiba mengangguk padanya, mengisyaratkan Ia untuk memberikan apa yang Prince Julian butuhkan.
Christina berjalan ke sebuah rak di belakangnya dan mengambil sebotol kecil ramuan dari tumbuhan abadi dan sedikit mantra darinya, Ia berikan ramuan itu pada Prince Julian yang menunggunya dengan gelisah sejak tadi.
"Berikan beberapa tetes saja dan ramuan itu akan bekerja." ucapnya.
Prince Julian mengangguk dengan gembira dan bergegas pergi, sedangkan Vince hanya menggeleng melihat tingkah Prince Julian yang tampak kekanak-kanakan.
"Terimakasih untuk bantuanmu Christina. Aku pastikan King Jefferson tak akan mengetahui tentang hal ini." ujar Duke Vince sebelum Ia pergi.
Christina tersenyum, Ia yakin jika Duke Vince bicara jujur, "Aku percaya padamu Your Grace."
**
"Apa? Peri Angeles itu pernah menolong putra kita?" Queen Heidi tampak begitu terkejut mendengar kabar jika putranya Julian pernah di tolong oleh peri Angeles.
"Bahkan Justin memintaku untuk meringankan hukumannya." tambah Jefferson.
"Ini sungguh tidak biasa, peri Angeles menolong peri Alpez, aku baru mendengarnya. Apa peri Angeles itu benar-benar melakukannya bukan untuk mendapat keuntungan?"
"Entahlah, kurasa peri Angeles tak sanggup melakukan hal itu." jawab raja.
"Dan sekarang kau mencoba berpihak pada peri itu?"
"Aku tidak memihaknya, Julian mencoba meyakinkanku, putra kita tak mungkin berbohong hanya demi peri yang tidak di kenalnya."
"Ya, kau benar. Julian membela peri yang sama sekali tak di kenalnya, dan lihatlah! Dia meninggalkan Princess Lalice hanya untuk hadir di sana dan membela peri itu, apa yang sedang Ia coba perjuangkan??" Queen Heidi tampak kesal seraya berjalan ke sana dan kemari.
"Tenangkan dirimu, dia hanya merasa berhutang budi, setidaknya peri Angeles itu tetap mendapatkan hukumannya." King Jefferson mencoba menenangkan istrinya dan membawanya untuk duduk.
Sementara Lalice diam-diam mendengarkan perbincangan mereka di kamar, Ia begitu kesal mendengar Prince Julian meninggalkan dirinya hanya untuk membela peri Angeles itu.
"Jadi pekerjaan yang kau maksud adalah menemui peri Angeles itu, Prince? Baiklah, akan ku buat kau menebus waktuku yang sia-sia ini." ujarnya lirih seraya mengepalkan kedua tangannya karena merasa marah.
**
"Your Highness, berhati-hatilah." Duke Vince kembali mencoba mengingatkan Prince Julian yang begitu terburu-buru.
"Aku tak punya banyak waktu Sir."
Keduanya akhirnya sampai di tempat para prajurit Alpez menahan Rosie, dan tampaknya mereka telah selesai memberikan hukuman.
"Aku akan berjaga di luar, masuklah.." ujar Duke Vince, kemudian Julian masuk dan menemui Rosie yang tengah terbaring menghadap tembok penjara, dapat Ia lihat sayap gadis itu yang telah di patahkan dan juga darah di punggungnya yang terbuka. Julian merasa iba melihatnya, gadis itu pasti merasa sangat kesakitan.
Perlahan Julian menghampirinya, kemudian berjalan ke arah depan gadis yang kini sedang terlelap, Julian tahu jika gadis itu tak sadarkan diri karena merasakan sakit yang begitu dahsyat dari bagian punggungnya. Prince Julian berlutut dan memperhatikan wajah lembut peri Angeles itu, Ia tak menyangka akan bertemu peri Angeles secantik dan selembut dirinya, bukan hanya cantik rupanya saja tapi juga hatinya. Lagi, Julian merasa sangat iba padanya.
Kemudian Julian berlutut di hadapan Rosie, meraih kepala gadis itu supaya bersandar di lengannya yang kokoh. Kemudian Ia berikan beberapa tetes ramuan itu ke dalam mulutnya yang sedikit terbuka. Hingga beberapa detik menunggu akhirnya Rosie membuka matanya dan melihat wajah Prince Julian tepat di atas wajahnya, membuat Rosie terkejut dan berusaha menjauh darinya.
Julian hanya terdiam di tempatnya berlutut tadi, sedangkan Rosie masih mencoba mencari tahu apa yang tadi Julian lakukan padanya.
•••