"A-apa yang kau lakukan padaku??" tanyanya sembari memeluk tubuhnya sendiri.
Julian hendak menunjukkan ramuan di tangannya namun Rosie berpikir jika pria itu hendak melakukan perbuatan jahat padanya.
"Jangan mendekat! Katakan apa yang hendak kau lakukan padaku?!" teriaknya panik.
Prince Julian menghela nafas, mencoba untuk mengontrol dirinya yang mulai merasa kesal. Sedangkan Rosie menatapnya dengan penuh antipasi.
"Tenanglah.. Aku hanya mencoba untuk membantumu." ujar Julian.
Rosie kembali memperhatikan tubuhnya, Ia masih curiga jika Julian melakukan hal tak pantas padanya.
"Aku tidak melakukan apapun padamu, aku hanya memberimu ramuan ini." Julian mengangkat sedikit tangannya untuk menunjukkan ramuan di tangannya.
Rosie mengingat kejadian ketika para prajurit itu mematahkan sayapnya, dan tiba-tiba dadanya terasa sesak meski tak Ia rasakan sakit di punggungnya namun kembali Ia menangis karena merasa sedih telah kehilangan sayapnya.
"Sayapku..hiks.."
Julian merasa bingung dengan apa yang harus Ia lakukan untuk mencoba sedikit menghibur Rosie, "Mereka sudah mematahkannya." ujarnya meski Ia tahu jika ucapannya itu akan sia-sia.
"Aku tahu! Dan kalianlah yang telah mengambilnya! Mengapa kalian begitu jahat! Apa kalian merasa puas telah mematahkan sayap kami?!" Rosie menumpahkan segala amarahnya pada Julian yang hanya terdiam menatapnya bingung, namun seketika Rosie berhenti bicara dan tampak tengah merasakan sesuatu. Gadis itu menyadari jika Ia tak lagi merasakan sakit di punggungnya seperti ketika pertama mereka mematahkan sayapnya.
"Aku sengaja memberikan ramuan penghilang rasa sakit padamu." ujar Julian seolah tahu apa yang tengah di pikirkan gadis itu.
"Kau membuat rasa sakitku hilang?"
"Itu sebagai balasan atas kebaikanmu padaku malam itu."
Rosie menundukkan wajahnya dengan malu, tadi Ia telah bersikap terlalu berlebihan padanya.
"T-terimakasih.." ujar Rosie menengadah pada Prince Julian yang sudah bangkit.
"Kau tidak perlu berterimakasih, bukankah kita telah impas sekarang." ucapan Julian membuat Rosie mengerutkan dahi.
"Ku beri saran, akan lebih baik jika kau tak perlu bersikap terlalu baik pada sembarang orang, karena bisa saja orang itu tak tahu cara membalas kebaikanmu." lanjutnya.
"Aku berbuat baik bukan karena aku ingin mereka membalasnya."
"Tapi apakah kau tidak tahu jika mungkin kebaikanmu pada akhirnya akan menjadi beban untuk orang lain."
Ucapan Julian membuat Rosie menyadari jika pria itu bersikap baik padanya karena merasa harus membalas kebaikannya, sedangkan tak ada niat sedikitpun ketika Rosie mencoba menolong Julian saat itu, Rosie melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan apapun.
"Jangan katakan pada siapapun jika aku telah memberikanmu ramuan itu, seperti ketika aku sembunyikan kekuatan healing-mu itu di hadapan semua orang."
Rosie mengangguk dengan lemah, "Tak akan ku katakan pada siapapun.." jawabnya.
Kemudian Julian melangkah keluar, namun sebelum pergi Rosie kembali bicara.
"Di lain waktu, bersikaplah seolah kita tak pernah saling bertemu." ujarnya, namun Prince Julian seolah tak peduli, dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Terimakasih.." lirih Rosie bahkan tampaknya Julian sudah tak mendengar ucapannya.
***
Sudah dua hari sejak Rosie di tahan dalam penjara kayu itu. Awalnya Ia berusaha keras untuk dapat keluar, namun semua usahanya tampak sia-sia saja, sehingga tak ada yang Ia lakukan selain merenung dan membayangkan banyak hal.
Terdengar suara besi dari pintu bangunan itu terbuka, kemudian derap langkah kaki mendekat ke arahnya, seorang wanita dewasa memperhatikannya dari sana, kemudian bertanya apakah lukanya sudah lebih baik, sedang Rosie hanya mengangguk untuk menjawabnya.
Beberapa penjaga yang sebelumnya berdiri di belakang sang wanita kemudian membuka pintu kayu itu dan meraih paksa lengan Rosie untuk membawanya keluar.
"Apa yang kalian inginkan?!" teriak Rosie.
"Jangan melawan, aku hanya akan mengantarmu menuju ladang kapas." jelas si wanita dengan sangat tenang.
"Ladang kapas? Siapa kau??" geram Rosie.
"Dorothy, aku adalah kepala pelayan istana, King Jefferson yang telah memerintahku."
"Apa yang hendak kau lakukan padaku??"
"Tidak perlu banyak bertanya, sebaiknya ikutlah bersamaku jika kau tak mau mendapat masalah." tegasnya.
Dalam perjalanan menuju ladang kapas, Rosie memperhatikan sekeliling, negerinya yang dulu begitu indah kini telah berubah. Peri Alpez benar-benar telah menguasai negeri Angeles dan merubah keindahan alami yang ada di dalamnya. Dulu tempat yang Ia lewati saat ini begitu berwarna, penduduk Angeles begitu menyukai berbagai macam tumbuhan dengan bunga yang berwarna-warni, namun tampaknya peri Alpez sudah menghapus pemandangan indah yang kini hanya sebuah cerita saja.
Tak berapa lama, sampailah Rosie di ladang kapas yang dulunya adalah milik Angeles. Keadaan ladang itu masih tetap sama seperti ketika berada di tangan Angeles, dari jauh bahkan ladang itu sudah terlihat indah. Biasanya peri-peri Angeles akan bekerja di ladang itu dengan gembira, beberapa pekerjanya datang membawa beberapa camilan atau masakan buatannya, lalu mereka akan bercerita banyak hal sembari melakukan tugas mereka memetik bunga kapas. Namun kini dapat Rosie lihat jika tak ada raut wajah bahagia sama sekali dari para pekerja di ladang kapas tersebut.
Rosie memperhatikan satu persatu wajah para pekerja di sana, beberapa dari mereka masih sangat Rosie ingat wajahnya, tapi sepertinya tak ada satupun dari mereka yang mengenali Rosie mengingat ketika itu dia masih kanak-kanak.
Rosie tersentak ketika para penjaga itu melepaskan pegangan mereka pada Rosie dengan sedikit mendorongnya hingga membuatnya terhuyung ke depan, sedangkan Dorothy tampak menghampiri seorang wanita dengan rambut hitam yang di gelung dan bicara empat mata dengannya. Entah apa yang Dorothy bicarakan dengannya karena wanita itu hanya mendengar dan sesekali mengangguk.
Tak lama kemudian wanita itu berjalan ke arah Rosie dengan raut wajah yang tak bersahabat, padahal Rosie tahu jika dia adalah seorang peri Angeles sama sepertinya, namun tampaknya peri Angeles itu tidak ramah dan cukup menakutkan.
"Ikut aku!" perintahnya singkat.
Dengan rasa heran, Rosie mengikuti kemana perginya wanita yang kini berada beberapa langkah di depannya, sedangkan kepala pelayan bernama Dorothy itu telah pergi bersama para penjaga tahanan.
Wanita Angeles itu mengajak Rosie ke sebuah ruang yang tidak cukup besar, lalu setelah Rosie masuk wanita itu menutup pintu ruangan tersebut dengan kasar. Kemudian langkahnya terarah pada sebuah lemari kayu dan dapat Rosie lihat jika wanita itu mengambil sebuah penutup kepala beserta apron dan memberikannya pada Rosie.
"Kenakan ini."
Rosie memperhatikan wanita itu sekejap, Ia tebak jika umur wanita itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekitar 40 tahun, namun wajahnya begitu cantik meski tampak sedikit guratan di dekat matanya.
"Apa yang kau lihat? Pegang ini!" sentaknya pada Rosie, menyadari gadis itu tengah memperhatikan dirinya.
"Maaf.." Rosie segera meraih penutup kepala dan apron yang wanita itu berikan.
"Segera kenakan, tak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia." jelasnya hendak meninggalkan Rosie, namun Rosie memanggilnya untuk mengajukan sebuah pertanyaan.
"Tunggu.. Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan padamu?"
Wanita itu menghentikan langkahnya dan berdiri di ambang pintu, "Bukankah sudah ku katakan untuk tak membuang waktumu." wanita itu kembali melangkahkan kakinya namun dengan lancang Rosie menahan salah satu lengan wanita itu.
"Sebentar saja." pinta Rosie seraya melepas pegangannya.
Wanita itu menekuk bibirnya dengan malas, "Apa yang hendak kau tanyakan?" tak di sangka Ia merespon permintaan Rosie.
"Bukankah___kau adalah seorang Angeles?"
Namun tiba-tiba wanita itu menyeringai mendengar pertanyaan Rosie, "Apa kau tak melihatnya? Bukankah sangat jelas jika aku memiliki sayap peri Angeles."
"Ya, dan itulah yang ingin ku tanyakan, bagaimana bisa kau tak kehilangan sayapmu?"
"Aku hanya beruntung karena mereka tidak mematahkan sayapku." jawabnya ketus.
"M-maaf jika aku ingin tahu.. Tapi mengapa kau bersikap sedingin itu padaku, bukankah kita dari negeri yang sama?"
Kembali wanita itu tertawa, "Aku akan menjawabnya, tapi sebelumnya ku ajukan sebuah pertanyaan padamu."
Rosie merasa tak siap karena mengapa tiba-tiba wanita itu ingin bertanya padanya, dan apa yang akan Ia tanyakan.
"Ya, katakan apa yang ingin kau tanyakan."
"Berapa lama kau menikmati kehidupan bebasmu dari para peri Alpez? Jika aku benar, bukankah mereka baru saja menangkapmu? Dan bukankah kau baru saja kehilangan sayapmu?"
Rosie sedikit kesulitan untuk menjawab karena wanita itu memberondongnya dengan banyak pertanyaan, "Ya, seperti yang kau sebutkan, mereka baru saja menangkapku dan menghukumku dengan mematahkan sayapku."
"Itulah alasan kau masih bersikap begitu ramah, karena kau belum merasakan bagaimana tersiksanya kami tinggal di negeri yang terjajah. Kau akan sungguh-sungguh mendapat jawabannya setelah bertahun-tahun hidup di bawah kendali mereka."
"Tapi--"
"Tak ada gunanya bersikap baik dan ramah seolah tampak seperti hidupmu baik-baik saja, tak ada yang peduli akan hal itu, bahkan tak akan ada yang membutuhkan senyumanmu itu. Kau akan memahaminya untuk beberapa waktu ke depan." ujar si wanita tersebut dan hendak kembali melangkah, namun lagi-lagi Rosie menghentikannya.
"Tampaknya peri-peri Angeles memang sudah berubah," celetuk Rosie, "Bolehkah ku tahu namamu, Ma'am?" lanjutnya.
"Irene." jawabnya singkat.
"Irene.." nama yang cantik - batin Rosie.
"Aku memiliki seorang putri yang mungkin umurnya sama sepertimu." ujar Irene sedikit luluh dengan suasana tegang sebelumnya.
"B-benarkah? Dimana dia dan siapa namanya?" Rosie tahu wanita itu tidak benar-benar menyebalkan, hanya saja Ia harus lebih sabar untuk menghadapi para peri Angeles yang masih tersisa dan dalam tekanan batin.
"Sayangnya, dia sudah tak hidup lagi." sambung Irene seraya tersenyum tipis.
Seketika Rosie yang tak bermaksud menyakiti wanita itu jadi merasa bersalah. Ia tahu betul bagaimana rasanya kehilangan sanak saudara bahkan anggota keluarga yang begitu dekat seperti ayah ibu bahkan kehilangan yang di alami Irene, Rosie tahu Irene sangat bersedih namun tak ada yang dapat mereka lakukan untuk mendapatkan keadilan atas kehilangan keluarga mereka.
"Sudahlah, itu sudah tak penting lagi untuk di bicarakan."
"Maaf untuk pertanyaanku tadi."
"Tidak masalah. Eumh, siapa namamu?"
"Namaku adalah Rosie."
"Rosie, sebaiknya segera kenakan itu dan bantu aku di ladang kapas."
Rosie kembali mengingat ucapan Irene, Ia tahu betapa jahatnya para peri Alpez dalam menghukum peri Angeles, namun apakah tak ada sedikitpun dari mereka yang mencoba untuk berpikir bahwa akan ada saatnya penduduk Angeles mendapatkan kembali hak negeri mereka, selama mereka bersatu dan saling membantu. Bersikap seolah tak ada hari esok bahkan bersikap dingin dan tak peduli pada Angeles yang lain tentu bukanlah hal yang seharusnya mereka lakukan, Rosie melihat bahwa harus ada yang berubah.
•••