Happy reading ??♀️
✨
✨
✨
Prince Julian tampak sedang termenung di balkon istananya, ada sesuatu yang sedang Ia pikirkan namun tak ada siapapun yang mengetahuinya. Sejak terkahir kali Julian bertemu Rosie, Ia tak henti-hentinya memikirkan perbuatannya pada gadis itu, bahkan Ia tak benar-benar hendak bicara sekasar itu pada Rosie. Julian tahu gadis itu menolongnya tanpa niatan apapun, Ia tahu jika gadis bernama Rosie itu memiliki hati yang lembut dan tulus.
"Your Highness.." seorang wanita berdiri di ambang pintu dan memanggilnya.
Julian seolah tahu suara yang tadi memanggilnya, tanpa menoleh Ia memerintahkan wanita itu untuk mendekat.
"Aku melihat Anda termenung di sini sejak tadi, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda, Your Highness?"
Julian tersenyum, wanita yang tadi menghampirinya tidak lain adalah Bethany, "Ya, sedikit. Tapi bisakah aku menanyakan satu hal padamu, Beth?"
"Anda tak perlu meminta izinku Your Highness, katakan apa yang ingin Anda tanyakan."
Julian memutar tubuhnya dan bersender pada balkon kemudian menoleh pada Bethany yang sudah siap mendengar pertanyaan Sang Pangeran.
"Apa kau tahu alasan mengapa negeri kita merebut negeri milik orang lain, maksudku mengapa peri Alpez harus merebut negeri milik peri Angeles? Ketika ayahku berhasil menguasai Angeles, saat itu juga aku masih terlalu muda untuk memahami alasan mengapa ayahku melakukannya."
Mendengar pertanyaan itu, Bethany yang berumur tak jauh dari Julian tampak kebingungan dengan pertanyaan Sang Pangeran, jujur Ia juga tak tahu menahu kejadian apa yang terjadi di masa lampau hingga akhirnya sebagian para peri Alpez harus tinggal di negeri Angeles sekaligus menguasainya.
"Bethany?" panggil Julian setelah beberapa saat Bethany terdiam.
"Eh- maaf Your Highness, sebenarnya akupun tidak cukup tahu alasan His Majesty melakukannya. Tapi yang ku tahu adalah, klan peri hitam tidak memiliki hubungan yang baik dengan klan peri putih hingga pada suatu masa terjadi peperangan antara negeri Angeles dan Alpez. Alpez telah berhasil mengalahkan Angeles dan negeri Angeles akhirnya jatuh ke tangan Alpez." jelas Bethany.
Mendengar penjelasan sang butler, Julian malah tertawa, pasalnya itulah hal yang selalu Ia dengar dari mulut banyak orang. Bukannya Ia semakin percaya, namun pernyataan semua orang yang sama sekali tak pernah berbeda membuatnya menjadi curiga. Bukankah rasanya ini seperti sebuah cerita dongeng? Mungkin bagi peri Alpez yang berumur tidak jauh darinya seperti Bethany, tak akan tahu apa yang telah terjadi pada masa lampau, namun siapa peduli dengan masa lalu selama mereka hidup tentram dan nyaman di bawah kendali Sang Raja, Jefferson Wilburn.
"Sebaiknya Anda tak perlu memikirkan hal itu Your Highness. Sepertinya secangkir teh hangat dapat membuat pikiranmu menjadi lebih santai." ujar Bethany berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tidak perlu Beth, aku sedang tak menginginkannya. Tapi, maukah kau lakukan suatu hal untukku?" pintanya.
"Katakan apa yang Anda inginkan dariku Your Highness."
Julian sedikit mendekat pada Bethany dan mengatakan hal yang di inginkannya dengan sangat perlahan hingga tak ada siapapun yang akan mendengar ucapannya.
Setelah Prince Julian mengatakan keinginannya pada Bethany, wanita itu tampak mengangguk dan kemudian meminta izin untuk kembali bekerja.
Di waktu yang bersamaan Sang Ratu yang sejak tadi mencari Julian datang menghampiri dengan sedikit kesal.
"Julian??" kejutnya.
Meski ibunya itu belum menyampaikan niatnya mencari dirinya, namun Julian tahu jika ini pasti tentang satu hal.
"Aku mencarimu dan ternyata kau ada di sini membiarkan Lalice seorang diri di taman?" ya, tidak lain adalah tentang Princess Lalice yang juga tak kunjung kembali ke negerinya.
"Jadi dia ada di taman sekarang?"
"Ya, setidakpeduli itu kau padanya hingga tak tahu apa keinginan gadis itu. Pergi dan tanyakan apa yang dia inginkan selama dirinya hendak berada di Angeles." perintah Queen Heidi.
"Sorry Mom, aku baru saja kembali dari memantau gerbang utara, aku ingin sekali menemaninya namun aku merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak." ujar Julian mengatakan yang sebenarnya.
"Pikirkanlah Your Highness, kita mengajaknya kemari bukan untuk membiarkannya merasa kesepian, belum lagi Joana sedang tak ada di istana, dia akan merasa sedih jika merasa tak ada yang menghiraukannya."
"Baiklah, aku akan menghampirinya."
Dengan sangat terpaksa Julian memutuskan untuk pergi menghampiri Lalice yang sedang berada di taman, namun tak sengaja Ia melihat sang Ayah dan maid Dorothy tengah berbincang di meja besar dalam ruang utama. Segera Julian bersembunyi untuk mendengarkan percakapan mereka.
'Apa kau sudah mengurusnya?'
'As your wish, Your Majesty.'
'Jadi, di mana kau pekerjakan gadis Angeles itu?'
'Seperti perintah Anda, aku membawanya ke ladang kapas.'
'Bagus.'
...
Jadi gadis itu di kirim ke ladang kapas? - batin Julian.
Namun segera Ia teringat akan niatnya hendak menghampiri Lalice dan segera pergi dari mendengarkan pembicaraan ayah dan maidnya itu.
"Jangan sampai siapapun tahu jika gadis itu sebenarnya adalah putri dari raja Angeles yang telah ku kalahkan."
"Apakah menurut Anda gadis itu menyadari statusnya sebagai putri dari seorang raja?"
"Entahlah, sekalipun dia mengetahuinya tentu dia akan menyembunyikan statusnya itu."
"Tapi Your Majesty, apakah Anda yakin jika dialah putri dari Henderson?"
"Henderson memiliki putra angkat yang masih ku ingat wajahnya, namun ku dengar istrinya melahirkan seorang bayi perempuan yang tak pernah ku temukan ketika peperangan antara Angeles dan Alpez terjadi."
"Jadi, Anda menebak jika gadis itulah putri Henderson yang Anda cari selama ini."
"Ya, kurasa dia masih hidup dan ku yakin jika gadis itu adalah putri Angeles yang ku cari."
"Baiklah jika itu yang Anda pikirkan. Akan ku pastikan jika tak akan ada siapapun yang mengetahui hal ini. Dan apa yang akan Your Majesty lakukan padanya?"
"Tidak ada yang tahu kemampuan apa yang di milikinya, jika waktunya tiba, aku akan sangat membutuhkan kekuatan dari gadis itu."
"Bukankah sayap gadis itu sudah di patahkan?"
"Henderson bukanlah sembarang raja dengan kekuatan terbatas yang di milikinya, namun dia adalah seorang peri luar biasa yang sangat sulit untuk di kalahkan."
"Lalu bagaimana Your Majesty dapat mengalahkan dan menguasai Angeles?"
"Kau tak tahu rupanya?"
"Bukankah Anda merekrutku ketika aku tak sengaja menolong Anda, Your Majesty."
Jefferson tertawa lalu bangkit dari kursinya.
"Suatu saat kau akan mengetahuinya."
"Baiklah Your Majesty. Jika begitu, gadis itu harus dalam penjagaan."
"Kau tidak perlu melakukannya, ku lihat dia adalah gadis yang cukup pendiam, kurasa dia tak akan mencoba untuk melarikan diri."
"Baik Your Majesty.."
Tampaknya Justin pergi terlalu terburu-buru hingga tak mengetahui jika Rosie ternyata adalah putri dari King Henderson, Raja dari negeri Angeles.
**
Sementara, Lalice tengah berjalan-jalan di sebuah taman milik Princess Joana bersama seorang maid yang menjaganya.
"Tidak ku sangka jika Princess Joana ternyata adalah sosok yang manis. Ya, setidaknya jika di lihat dari hobinya mengoleksi banyak tanaman berbunga." ujarnya setengah menghina, namun maid yang tengah bersamanya hanya menunduk tanpa mengomentari ucapan Lalice.
"Apa kau mendengarku??" tanya Lalice sedikit kesal.
"Maaf Your Highness, tentu aku mendengar ucapan Anda."
Seketika suasana hati Sang Puteri Thale itu menjadi kurang baik, dan terbersit di pikirannya untuk melakukan hal-hal yang tentu membuatnya merasa puas dan merasa lebih baik.
"Bisakah kau buatkan minuman untukku?"
"Sure Your Highness, apa yang Anda inginkan?"
"Buatkan apa saja yang mampu menghilangkan rasa hausku, cuaca seketika menjadi terlalu panas."
"As your wish, Your Highness.." sang maid pun akhirnya bergegas untuk segera membuatkan segelas minuman segar untuk Princess Lalice, sedangkan Lalice yang tengah sendiri diam-diam sudah merencanakan sesuatu yang tidak pantas.
"Aku tidak suka semua orang yang berada di sini selain Prince Julian yang payahnya juga mengabaikanku. Bahkan pelayan itu dan tamanmu ini juga membuatku muak!" gerutunya seorang diri.
"Baiklah, jadi semua tanaman ini milikmu? Huh! Kau akan terkejut ketika kembali dan memeriksa taman kesayanganmu ini." seringai Lalice.
Pyarr!
Pyarr!
Pyarr!
Lalice sengaja menjatuhkan tanaman dalam pasu yang terbuat dari tanah liat dengan sihirnya, hingga pasu-pasu berisikan tanaman itu hancur berantakan, kemudian Ia lepaskan seekor kelinci dalam kandang yang berada di taman tersebut. Lalice yang tengah sibuk dengan kejahilannya terkejut mendengar kehadiran seseorang yang tak lain adalah Julian yang tengah mencarinya.
"Rupanya kau di sini, Princess Lalice?"
Segera Lalice berpura-pura menunjukkan wajah sedih di hadapan Prince Julian.
"Syukurlah kau datang kemari, Prince Julian. Sebenarnya aku tengah berjalan-jalan di taman milik Princess Joana dan tak sengaja kejadian yang buruk terjadi di hadapanku."
"Kau tampak amat sedih, apa yang telah terjadi?"
"Seekor kelinci tampaknya keluar dari kandangnya dan melompat di setiap pasu hingga menjatuhkan pasu-pasu tersebut. Lihatlah betapa kacaunya tempat ini." bohongnya.
"Ini adalah tempat yang paling di sukai Princess Joana, dia begitu rajin mengurus taman miliknya, tentu dia akan sedih melihat beberapa tanamannya telah rusak."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Sebelum dia kembali, aku akan meminta seorang maid untuk mengurus kekacauan ini." ujar Julian bersamaan dengan datangnya sang maid yang tadi di minta membawakan segelas minuman untuk Lalice. Maid itu ikut terkejut melihat pasu-pasu yang terjatuh dari tempatnya hingga tanaman yang ada di dalamnya rusak dan berserakan.
"Oh My Godness! Apa yang terjadi dengan tanaman milik Princess Joana. Her Highness akan menghukumku jika sampai mengetahui hal ini." paniknya.
"Kelinci itu yang telah merusak tanaman milik Princess Joana." ucap Lalice seraya menunjuk pada seekor kelinci yang tak jauh dari sana.
"Bagaimana mungkin kelinci itu yang merusaknya, karena aku yang memastikan jika kelinci itu sudah terkunci di dalam kandangnya."
"Lalu apa maksudmu? Kau akan katakan jika aku yang melakukannya??" Lalice yang memang biang dari masalah tersebut merasa jika sang maid memang mencurigainya.
"Please forgive me Your Highness, aku tidak bermaksud mengatakannya."
"Bukankah kau melihatnya? Kelinci itu tidak benar-benar terkunci di dalam kandang. Kau sudah bersikap ceroboh!" marah Lalice.
"Sudahlah, tidak perlu mempeributkan masalah ini. Princess Lalice tak mungkin berbohong dengan ucapannya." bela Julian.
"Please accept my apologies Your Highness.." ujar sang maid pada Lalice.
"Tidak masalah, tolong jangan mengulanginya lagi. Untuk masalah ini, biarkan aku yang bertanggung jawab pada Princess Joana, aku yang akan menjelaskan padanya."
"Kau sungguh baik hati, Princess Lalice." puji Julian membuat Princess Lalice merasa menang atas permainannya sendiri.
"Bukankah semua puteri harus memiliki sifat tersebut. Kau tak perlu memujiku demikian Your Highness." jawab Lalice berusaha mencerminkan jika dirinya bersikap sangat rendah hati, sedangkan Prince Julian hanya tersenyum seraya memandangnya.
"Oh ya, aku sudah tak menginginkan minuman ini jadi kau bisa meminumnya."
"T-tapi.. Baiklah Your Highness.."
"Prince Julian, sepertinya esok aku harus kembali ke Thale. Jadi aku akan berkemas malam ini."
"Baiklah, mari ku antar kau menuju kamarmu."
Sementara Sang Pangeran dan Puteri itu pergi, sang maid masih bertanya-tanya dengan yang baru saja terjadi, Ia masih tak percaya jika dirinya tidak melakukan tugasnya dengan baik. Lagipula tidak mungkin seekor kelinci dapat menjatuhkan pasu-pasu yang berukuran cukup besar dan juga cukup berat tersebut. Namun percuma saja jika dirinya hendak menjelaskan karena bagaimanapun Ia tak mungkin menyela ucapan seorang anggota kerajaan.
•••