Roda-roda rantai truk kargo yang dikemudikan oleh Duke Mayweather menghantam lapisan es Pegunungan Catskill dengan guncangan ritmis yang kasar. Di balik kemudi, Duke sesekali mengumpat pelan.
Badai salju mulai memburuk.
Di kompartemen belakang yang pekat dan berbau pelumas senapan, sepuluh pasukan elite duduk berhadapan pada dua baris bangku panjang di bawah temaram lampu merah interior. Mengunci keakraban dalam sunyi.
Sang Commander bersandar malas di dekat sekat kemudi dengan kedua tangan melipat di d**a. Kelopak matanya terpejam. Meski begitu, radar di kepala James tetap terjaga, menyimak setiap pergeseran udara di sekelilingnya.
Di seberangnya, Sheikha Fatima duduk dengan punggung tegak yang anggun. Jaket parka longgar milik James nyaris menenggelamkan tubuh mungilnya. Ia tidak gelisah. Jemarinya melipat selembar sapu tangan sutra dengan tenang.
Di barisan bangku sebelah kiri, Hayes Vance sibuk memindai komputer genggam, membaca data radar intai jalur belakang. Di sebelahnya, sang kakak, Caleb Vance, mengetik cepat pada keyboard militer sambil sesekali melirik penasaran ke arah Sheikha.
“Jalur belakang bersih, Commander,” suara Hayes memecah keheningan.
James tidak membuka mata, namun rahangnya bergerak tipis sebagai tanda ia mendengarkan.
“Angin utara dua puluh knot,” lanjut Hayes. “Sensor mendeteksi getaran acak serigala dua mil di barat. Kemampuan membaca alam saya tidak pernah meleset satu inci pun.”
Fatima tidak menghentikan gerakan jemarinya yang sedang melipat saputangan sutra. Namun, sebuah senyuman tipis terbit di sudut bibirnya.
“Dua mil di barat?” suara Fatima mengalun lembut, “Sayang sekali sensor Pentagon-mu tidak bisa membedakan jenis mamalia, Chief.”
Hayes menengadah dari komputer genggamnya. “Apa maksud Anda, Your Highness?”
“Embusan angin dari celah palka belakang membawa pantulan suara yang terlalu berat untuk ukuran serigala, Chief Hayes,” ucap Fatima dengan senyum terkulum.
“Hewan liar selalu mengeluarkan dengusan napas penyeimbang saat bertarung dengan medan salju. Dan suara yang menyapu dinding luar truk kita memiliki irama langkah yang tidak beraturan.” Fatima memiringkan wajahnya tipis ke arah celah udara.
“Ada jeda berat di kaki kanan belakangnya. Serigala tidak berburu dengan kaki pincang di tengah badai salju sedalam ini.” Ia mendengus geli.
“Itu beruang hitam seberat dua ratus pon, Chief. Jaraknya satu mil setengah di barat laut. Udara badai yang padat membawa gema dengusannya lebih cepat daripada kalkulasi data komputer genggammu.”
Kompartemen belakang truk mendadak senyap.
Di balik mata yang terpejam, James tersenyum tipis.
Caleb Vance menghentikan ketukan jarinya di atas keyboard militer, menatap adiknya dengan sebelah alis terangkat.
Dari sudut bangku seberang, Red Gallagher mendengus keras, menahan tawa.
“Sialan,” kekeh Red dengan suara setengah berbisik. “Kemampuan membaca alammu baru saja didepak oleh seorang gadis sembilan belas tahun, Hayes.”
“Buang saja layar itu, Hayes,” gumam Ghost Thorne dari sudut kargo. “Nenekku bahkan bisa membaca arah angin lebih baik darimu.”
“Oh, ayolah!” Hayes Vance membela diri dengan wajah sedikit memerah, panik mematikan layar tablet portabelnya. “Sensor gerak membaca massa padat, Your Highness. Embusan angin tidak memiliki berat untuk memicu alat pemindai saya.”
Caleb mendongak malas dari Toughbooknya, dan berkomentar ringan. “Jangan buat alasan, Adik Kecil. Akui saja komputermu kalah dari radar insting Sheikha.”
“Ini masalah sistem data, Kakak Kedua,” Hayes bersikeras. Jemarinya bergerak cepat menyalakan kembali konsol digitalnya, menekan tombol penyelarasan dengan gusar. “Layar ini memetakan batas aman kita, bukan untuk mendeteksi jenis hewan di tengah badai.”
Fatima mengangguk kecil. Wajahnya cerah oleh binar jenaka. “Beruang hitam pincang yang kita lewati tadi sedang terdesak kelaparan di tengah badai salju.”
Ia meringis, lalu melanjutkan. “Jika perangkat canggih Anda hanya membacanya sebagai 'getaran acak' dan mengabaikan insting teritorinya, hewan itu bisa saja berbalik menyerang jalur roda rantai truk ini karena merasa terancam.”
Fatima menghela nafas, “Terkadang, alam adalah penyusup terbaik yang gagal dibaca oleh teknologi sehebat apapun.”
“Dengar itu, Hayes?” Miller—Sang Sniper yang duduk di ujung bangku melirik Hayes dan terkekeh. “Komputermu mungkin hebat dalam mendeteksi infanteri musuh, tapi kalau urusan membaca predator berkaki empat yang terancam di tengah badai, kau jelas kalah jeli dari insting Sheikha.”
Dan si sulung, Vance Creed menimpali, sama menyebalkannya. “Sebaiknya singkirkan layarmu sebelum beruang itu benar-benar mengunyah ban kita, Adik Kecil.”
Koor tawa pasukan DEVGRU memenuhi kompartemen kargo yang sempit.
Fatima memiringkan wajahnya ke sekat kemudi dan tersenyum tipis, “Asalkan kau tidak menyembunyikan keberadaan beruang raksasa paling sangar, Chief Hayes, perjalanan kita akan sangat menyenangkan,” ia menghela napas dengan cara berlebihan.
“Entah mengapa aku bisa merasakan kehadirannya yang sangat kuat. Dia bertubuh masif. Sangat dingin. Dan auranya sanggup membekukan pasokan udara di ruangan sempit ini.”
Ruang kargo mendadak sunyi senyap.
Kepada siapa pun, tolong izinkan pasukan elite DEVGRU memboyong putri istana yang sangat manis ini kemana saja.
Kelopak mata James bergerak tipis.
“Sinyal radio kita mendeteksi gangguan parah,” suara Chase Sinclair memutus keheningan dengan cepat. Berakting panik sambil menatap layarnya. “Telingaku mendadak tuli. Aku tidak mendengar apa pun, Commander.”
“Sial, monitorku juga mati total,” timpal Hayes sigap mengimbangi Chase. Jemarinya menekan tombol power tabletnya berulang kali hingga layarnya menggelap. “Sistem eror. Radarku mendadak buta.”
Red Gallagher ikut menepuk helm tempurnya dengan gerakan teatrikal.
“Telingaku juga tuli. Ini pasti gara-gara ledakan ranjau Creed kemarin. Gendang telingaku mendadak berdenging parah.”
Hening beberapa saat.
Fatima menunduk. Pundak gadis itu bergetar. Dengusannya terdengar samar, lalu suara terkikik yang ditahan-tahan.
Dua detik berikutnya ledakan tawa pasukan Elite DEVGRU kembali mengguncang kompartemen kargo. Di sudut lain, Dokter Smith Sterling tersenyum tipis sambil menatap monitor nirkabel medis di pergelangan tangannya. Sesekali ia melirik Fatima.
Putri istana ini selain jenius, rupanya sangat usil.
Kelopak mata James terbuka. Netra sebiru laut dengan tatapan setajam elang itu langsung mengunci Fatima. Tawa pasukan DEVGRU seketika senyap, dibungkam aura dingin Sang Commander.
Sang Putri tidak bisa melihat, tetapi instingnya setajam belati. Ia menegakkan punggungnya setegak gagang sapu. Bersiap menerima omelan Sang Commander.
“Beruang raksasa yang Anda maksud berada di bawah protokol keselamatan mutlak Pentagon, My Lady. Bukan bagian dari objek pengamatan siber,” sahut James dengan begitu datar, nyaris tidak peduli. “Dan kru saya tidak dilatih untuk menjadi petugas kebun binatang.”
Kargo kembali senyap, menyisakan deru mesin truk yang meredam ketegangan.
Fatima mengerucutkan bibir, “Sayang sekali,” ia memalingkan wajahnya dari arah suara James. “Padahal aku berniat membawanya setiap hari,” gumamnya lirih. Lalu mengulum bibir, menahan senyum.
James mendengus. Masih dengan posisi bersandar malas, ia kembali memejamkan mata. Di balik remang lampu kompartemen kargo yang sempit, sudut bibir Sang Commander berkedut halus.
Guncangan kasar truk kargo perlahan mulai mereda. Roda-roda rantai itu memotong tumpukan salju tebal, lalu berhenti total dengan satu entakan pelan di depan pondok terisolasi Pegunungan Catskill.
Lampu indikator merah di langit-langit kabin mati, berganti dengan pendar lampu kuning darurat.
Saat pintu palka belakang kargo terbuka, layar toughbook Caleb mendadak memancarkan sinar gangguan gelombang. Di sebelahnya, panel digital Hayes ikut memancarkan grafik getaran frekuensi tinggi yang memotong deru badai.
“Commander, zona aman kita bocor,” lapor Hayes sigap. Ekspresinya berubah dingin. “Sensor getaran menangkap pergerakan asing, arah jam sepuluh. Jarak dua ratus lima puluh meter.”
“Aku mengunci visualnya,” sambung Caleb, jemarinya menari kilat di atas papan ketik militer. “Sialan. Micro-UAV Black-Hornet generasi terbaru milik faksi pengkhianat. Mereka melacak posisi truk kita melalui pantauan satelit sebelum kita sempat memutus sinyal.”
“Mereka mencoba mengirim data balik ke satelit pusat,” Chase Sinclair menimpali cepat. Matanya menatap tajam layar mini di pergelangan tangan kirinya. Fokus penuh pada barisan kode yang bergerak cepat.
“Kucabut hak akses mereka. Caleb, retas satelit pembawa data mereka sekarang. Biarkan aku mengambil alih frekuensi audionya.”
“Copy.”
“Miller, sistem audio drone musuh sudah kubuat tuli selama tujuh detik,” bisik Chase dingin. “Koordinat target: 35 derajat barat laut. Angin utara dua puluh knot. Eksekusi.”
James membuka kelopak matanya. Tatapan elangnya berkilat tajam di balik remang lampu kargo. Ia melirik Miller Cross dan memberikan satu sentakan dagu yang tegas, “Jatuhkan nyamuk itu, Miller. Jangan sampai ada satu bita data pun yang lolos ke Washington.”
Miller Cross tidak menjawab. Sang sniper utama memiringkan tubuh secara efisien, menggeser terpal palka belakang kargo hanya selebar beberapa sentimeter. Ia membidik ke tengah badai putih yang mengamuk hebat, mengandalkan koordinat audio dari Chase.
FFUT!
Tembakan buta menembus badai salju tanpa jarak pandang. Satu ketukan halus. Dan di layar Caleb, tanda sinyal drone siluman itu seketika pecah, melandai, lalu mendatar mati total di atas lapisan es Catskill.
Miller mendengus malas. “Nyamuk mati, Commander.”
James menyunggingkan senyuman miring yang kejam, lalu menoleh ke arah pasukannya. “Tim, sterilkan area safe house sekarang.”
Sepuluh pasukan elite DEVGRU bergerak bagaikan rentetan bayangan tak kasat mata. Tanpa satu pun suara instruksi lisan, mereka menyebar membentuk formasi zona aman, mengunci setiap sudut pondok kayu dalam hitungan detik.