“Poros jam dua belas, My Lady.” Suara James meluncur datar dan tajam. Nada esensial dari seorang perwira perfeksionis yang otaknya sedang berputar keras menyusun ulang strategi pengawalan.
Kelalaian Pentagon yang menyembunyikan fakta kebutaan Fatima dalam berkas intelijen telah mengacaukan seluruh kalkulasi matang pengamanannya dalam sekejap. Kini, ia harus berimprovisasi.
“Dua undakan besi di depan Anda. Lima belas langkah lurus menuju pintu utama pondok. Hawa beku di luar garasi ini bisa menurunkan suhu tubuh Anda dalam hitungan detik. Bergerak.”
Nada masam dalam suara James sanggup memadamkan semangat orang paling ceria sekali pun, tetapi entah sejak kapan Fatima mulai terlatih menghadapinya. Dan karena itu, ia memutuskan membuang sopan santun.
“Kau menggertak seperti bajak laut, Commander.” Fatima mengeksekusi arahan James dengan mantap.
Salah satu alis yang tebal dan tampak seperti sapuan kuas yang kokoh itu bergerak naik, sudut bibir James terangkat tipis. Sejujurnya, ia mengagumi presisi langkah wanita di hadapannya.
“Sayangnya, aku tidak seromantis itu, My Lady,” sahut James. Tanpa nada, “Hadapkan tubuhmu sembilan puluh derajat ke kiri dan berjalan lima belas langkah lurus. Kita akan tiba di ruang utama pondok.”
“Oh, kau baik sekali. Terima kasih,” Fatima mengikuti instruksi James, “Kau sebaiknya memeriksa tekanan darahmu setelah ini, Commander. Terlalu banyak menghirup debu Zahran membuatmu terdengar mirip beruang yang sakit kepala.”
James mendengus. “Berhati-hatilah, My Lady. Beruang yang sakit kepala bisa kehilangan kendali dan menerkam siapa saja di sekitarnya.” Ia berkata datar, nyaris tidak peduli. “Ulurkan tanganmu untuk menyentuh kenop pintu.”
“Kau terlalu berlebihan, Commander.” Fatima menggerakkan tangan kanannya ke depan. Ujung jemarinya menyapu permukaan kayu yang kasar, lalu bergeser beberapa sentimeter sebelum menemukan sensasi dingin dari logam kenop pintu. Tepat sasaran.
Sambil memutar kenop logam itu dengan sekali sentakan mantap, Fatima menoleh ke arah asal suara James. “Berikan saja beruang itu sesendok madu murni atau potongan salmon liar yang segar dan berlemak, dan kau bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang.”
Dari saluran radio internal yang lupa dimatikan, suara tawa tertahan tiba-tiba berkresek renyah.
“Hei, Doc,” bisik Red lewat interkom. “Buka ransel medismu. Siapkan toples madu darurat. Beruang yang sedang sakit kepala butuh asupan glukosa agar tidak menggigit aset.”
“Madu saja tidak cukup, Red,” timpal Smith dengan terkekeh. “Pentagon tidak menyediakan anggaran salmon liar berlemak untuk menu ransum DEVGRU di tengah badai salju. Kita harus memancing ke sungai es untuk menjinakkan beruang besar ini.”
“Jangan biarkan beruang itu kelaparan, Doc,” Duke menimpali sambil mengunci sistem penggerak kendaraan di garasi bawah tanah. “Atau kita semua berakhir menjadi umpan salmon di sungai beku malam ini.”
“Diamlah, Duke,” gerutu Jax, suaranya ikut memotong frekuensi. “Seseorang baru saja menyadari bahwa memimpin peleton DEVGRU jauh lebih mudah daripada menjinakkan seorang putri.”
“Jax,” potong James sambil tetap mengikuti Fatima. Suaranya mengalir dengan tenang melalui frekuensi radio, “Sepertinya kau punya banyak waktu luang sore ini."
Kalimatnya sederhana, namun mampu memotong rantai tawa pasukannya. “Sterilkan garasi dari kepingan salju. Sekarang juga.”
“Chase—
“Chase mengisolasi jaringan radio kita agar tidak disadap, Boss!”
“Smith—
“Smith sedang menyortir logistik medis cadangan, Komandan!”
“Red—
“Red bersama Duke menuju titik tinjau area timur, Sir. Keluar dari frekuensi!”
Dan saluran interkom senyap seketika. Frekuensi radio mati total.
Fatima menahan senyum. “Gerakan yang bersih, Commander,” katanya dengan manis. “Salah satu bukti bahwa taring beruang itu lebih tajam dari laser.”
Pintu terbuka. Fatima menarik nafas dalam-dalam menghirup udara di sekelilingnya. Kehangatan interior rumah kayu dengan aroma kulit kayu yang menggoda.
Di belakangnya, suara langkah James terdengar menutup pintu dengan klik pelan. Derit engsel kayu yang berat itu beradu dengan bunyi gedebuk pelan sepatu tempur James di lantai papan. Sang Commander melepas sarung tangan tempurnya, lalu menoleh ke belakang.
“Creed,” panggil James pendek. “Nyalakan perapian di ruang utama. Siapkan teh hitam hangat dan kudapan tinggi kalori. Kirim ke meja tengah dalam lima menit.”
“Di-copy, sir.”
Sepasang alis indah Fatima bertaut, “Aku pikir kau akan mengurungku di kamar berkunci baja, Commander.”
“Hipotermia bukan bagian dari rencana pengamananku, My Lady,” sahut James datar sambil melewati Fatima untuk memeriksa keamanan jendela, “Dan beruang yang sakit kepala ini tidak suka berurusan dengan aset yang pingsan karena kelaparan.”
Fatima mendengus geli, “Dua cangkir teh hitam hangat. Beruangku tidak boleh terkena serangan migrain susulan karena terlalu banyak menggertak malam ini. Jika kau tidak keberatan, Creed.”
“Sir?” Creed melirik. Terjebak di antara dua kekuatan.
James berbalik menghadap Fatima, “Aku tidak minum teh, My Lady,” katanya singkat, lalu melirik Creed. “Lakukan perintah utamaku, Creed.”
Fatima bergeming dengan dagu terangkat, “Creed, tolong bawakan dua cangkir teh hitam dan kudapan tinggi kalori. Dan sejujurnya, saat ini aku bahkan tidak peduli kau menyukai teh atau tidak, Commander. Karena kau tidak akan minum bir selama kau bersamaku.”
Creed tidak bergerak, namun matanya melirik James dengan tatapan yang seolah berkata: Sir, wanita ini adalah petasan manis berjalan, tolong beri saya perintah yang aman.
James maju melangkah ke arah Fatima, berhenti dalam jarak satu lengan. Ia menunduk di atas wajah Fatima yang tertengadah. “Apa yang aku minum bukan urusanmu, My Lady.” ekspresinya tenang untuk menutupi kejengkelan dalam dirinya.
“Urusanku, Commander,” bantah Fatima keras kepala. “Kau mengawalku, ingat?” ia mengacungkan jarinya yang terbungkus sarung tangan ke arah—menurutnya—d**a James. “Bagaimana jika setelah minum segelas bir kau jatuh pingsan dan dokter Smith mendiagnosis kau mengalami komplikasi lambung dan paru? Siapa yang akan memimpin pengawalan aset berharga Pentagon ini?”
James mendengus seraya menatap wajah Fatima. “Tubuhku mampu mentolerir sampai gelas bir ke lima belas, My Lady.”
Di bawah terang lampu ruang utama, James benar-benar bisa melihatnya. Tubuh Fatima mungil, tidak lebih dari seratus lima puluh delapan sentimeter dengan berat maksimal empat puluh lima kilogram. Kulitnya putih bersih dengan rona kemerahan yang segar. Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan dua pipi montok.
James terpaku menatap mata bulat dan besarnya, lalu turun ke hidung mancung tapi mungil yang mempermanis parasnya. Bibirnya penuh berpadu dengan bentuk dagu menyerupai buah apel.
Tanpa sadar James menahan napas.
“Tubuhmu mungkin bisa mentolerir racun, tapi otakmu tidak bisa berbohong. Alkohol murni tetaplah zat depresan,” Fatima mencibir, lalu melipat kedua lengannya di d**a. “Bagaimana kalau tiba-tiba ada musuh dan kau malah mengajak mereka bermain hide and seek karena kau sudah setengah mabuk?”
Astaga. James memiliki banyak kekuatan, tetapi kesabaran bukanlah salah satunya.
“Aku telah melewati delapan belas tur tempur dan misi berbahaya lainnya dengan alkohol di darahku, dan tidak satu pun dari misi itu yang berubah menjadi permainan bocah,” katanya ketus dan jengkel. “Aku tidak pernah mabuk, My Lady. Dan hal konyol yang kau sebut itu tidak akan pernah terjadi dalam pengawalanku.”
“Aku bilang setengah mabuk, Commander,” kata Fatima, menolak kalah. “Dan kau tidak boleh mengingkari hukum probabilitas. Apa pun bisa terjadi. Alam semesta ada Pemilik-Nya, Commander.”
James menggeram dan menoleh tajam ke arah Creed. “Kau dengar dia, Creed? Lakukan saja perintahnya.”
Creed mengangguk dengan seringai tipis yang nyaris tak terlihat. Sebelum bergerak, ia mengirimkan pesan bisu pada Sang Commander. Auranya seperti jenderal, bukan? Keputusan yang tepat, Sir. Karena jika tidak, dia tidak akan berhenti menceramahimu dengan kuliah medis sampai pagi.
Fatima menggerakkan sedikit wajahnya ke arah suara pergerakan Creed. “Terima kasih, Creed,” sahutnya, tersenyum cemerlang.
Creed mengangguk kecil, walau Fatima buta. “Bukan masalah, Your Highness. Mengganti target amunisi dari alkohol 4,5 persen ke kafein dosis tinggi demi keselamatan aset Pentagon dan mental Commander. Eksekusi.”
Wajah James menekuk masam.
***
James merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah untuk mengusir lelah. Di bawah temaram lampu kabin, ia menatap layar perangkat komunikasi satelit militer di tangannya yang baru saja dibuka kuncinya oleh Caleb Vance.
Jalur komunikasi rahasia ini hanya dibuka selama tiga menit, menyaring tumpukan panggilan yang masuk ke nomor penyamarannya—enam di antaranya merupakan panggilan video.
James menekan tombol panggil.
“Apakah kau terlalu sibuk untuk menjawab panggilanku, Commander Brandon?”
Suara menggerutu dari seberang.
“Ini hari pertamaku bertugas, Blaire,” James menjawab datar.
“Dan kau tak teralihkan,” katanya, “Bagus untukmu.”
James memijit batang hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, lalu melepaskan satu kata yang kaku, “Maaf.”
“Sangat mudah ditebak bahwa aku akan memaafkanmu.”
James mendengar suara tarikan napas yang diembuskan perlahan dari seberang, dan ia menyahut dengan ketukan kalimatnya yang pendek, “Aku harus memastikan semuanya sesuai dengan keinginan aset, Blaire.”
“Apakah dia cantik, James?”
James seorang pria yang jujur. “Ya.”
“Kau tertarik padanya?”
“Usianya dua puluh satu, Blaire. Dan dia berdarah bangsawan.”
Itu benar. Sialnya hal itu membuat jantung James berdetak tajam dalam satu hentakan.
“Usia naif dan gelar angkuh.”
James tidak mengatakan apa-apa. Ia merasakan putaran asing di ulu hatinya, mata yang lelah dan kedua tangan yang ingin menelungkup di d**a. Tiga puluh enam jam dan dia belum mendapatkan tidur yang lelap.
Di luar dinding kabin yang berderit diamuk badai, sepuluh operator DEVGRU terbaiknya telah menyebar penuh dalam formasi perimeter berlapis. Red Gallagher dan Smith baru saja mengambil alih giliran jaga gelombang pertama di tengah hawa beku Catskill.
“Aku merindukanmu, James.”
“Kau sudah terbiasa tidak melihatku, bukan?”
James mendengar suara desahan panjang, dan ia melarikan pandangannya pada langit-langit rumah.
“Kau tidak merindukanku?”
“Kemarin malam aku tidur denganmu, Blaire.”
“Aku benci kau selalu mengatakan hal yang sama.”
“Kalau begitu jangan menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah ada di kepalamu.”
“Aku tunanganmu,” bantah Blaire cepat, “Bisakah kau berhenti memperlakukanku seperti salah satu dokumen Pentagon yang sudah selesai kau tinjau. Dingin. Formal.”
James menarik nafas pendek melalui hidung. Sungguh, seluruh episode ini membuatnya sangat lelah. “Aku sudah pernah memperingatkanmu, Blaire,” kata James datar, “Kau tidak peduli syaratku dan terus saja berlari ke ranjangku.”
Di sebarang, Blaire menjawab dengan gusar, “Aku hanya ingin kau melibatkan perasaanmu. Sedikit saja.”
“Jangan, Blaire,” potong James, “Aku tidak akan melakukan apa yang tidak ingin kulakukan. Harus berapa kali kuperingatkan padamu, jangan mengharapkan kesetiaan padaku apalagi cinta. Hal yang secara prinsipil kutentang.”
“James—"
“Istirahatlah. Waktuku habis.”
Klik.
James memutus sambungan tepat ketika indikator hitung mundur pada perangkat satelitnya menyentuh angka nol. Jalur komunikasi terputus total.
“Wanita memang masalah, Commander,” sahut Creed, berdiri beberapa langkah dari James dalam posisi siaga. “Itu kenapa aku lebih menyukai senapanku.”
James mendengus. “Kalimat itu diucapkan oleh pria yang tiga puluh tujuh jam lalu kuseret dari rumah bordil,” sahutnya dengan mata terpejam dan kedua lengan menelungkup silang di d**a.
“Katup pengamanku sudah kelebihan beban, Sir. Aku harus mengosongkannya, karena jika tidak, akurasiku saat menembak jatuh target di Zahran bisa berantakan.”
“Kau bisa menggunakan satu tanganmu jika kau terdesak.”
Creed mengumpat pelan, “Aku belum terlalu putus asa, Sir.”
James tidak membalas, tapi kelopak matanya sedikit terbuka. Melirik Creed, sebelum kembali terpejam.
“Tidak ada wanita yang bisa membuat tim elite DEVGRU putus asa,” seolah menyadari sesuatu, Creed menahan kata-katanya sejenak. “Astaga, kecuali wanita di dalam kamar itu,” ia melirik ke arah pintu kamar Fatima. “Dia seperti petasan yang terus berbunyi.”
“Lebih tepatnya torpedo udara khusus,” koreksi James dengan geli.
Creed terkekeh. “Bersiaplah, Commander,” katanya penuh rahasia. “Wanita yang kita kawal, selain jenius dan keras kepala. Dia juga master berdebat.”
James tidak menjawab, tapi sudut bibirnya bergerak samar.
Apel kecil yang keras kepala itu. James punya aturan manisnya sendiri.
***