Sore di Pegunungan Catskill membawa fenomena Bluebird Day—langit biru bersih tanpa awan pasca-badai besar, dengan matahari terik yang memantulkan kilau menyengat di atas hamparan salju padat.
Di halaman luar pondok, lima operator DEVGRU sedang mengamankan area pertahanan gelombang kedua dalam kesunyian yang disiplin.
Red dan Smith berdiri di dekat kap jip militer dengan bagian ban terlilit rantai salju. Jax berjaga dengan tubuh tegap di dekat undakan tangga beton.
Chase tengah mengalibrasi ulang drone pengintai mini di tangannya.
Di dekat jip, Duke sedang memeriksa sistem hidrolik ban dengan fokus penuh. Tubuh jangkung Duke yang memiliki proporsi estetis luar biasa—bahu kokoh dan pinggang ramping layaknya atlet renang Olimpiade—tampak menonjol di bawah sorot matahari.
“Taruhan dua puluh dolar, Red,” suara Duke memecah kesunyian halaman dengan kekehan rendah.
“Kau tidak akan bisa menembak sasaran di ujung pinus itu dengan mata tertutup, bahkan jika Smith menyuntikmu dengan serum keberuntungan Pentagon.”
“Simpan dolarmu untuk membeli kopi esok hari, Duke,” Red mendengus penuh percaya diri. “Aku bisa melakukannya sambil memikirkan menu makan malam.”
“Dan berakhir menembak tangki bahan bakar cadangan?” sela Jax dengan tawa mengejek. “Ide bagus.”
“Kecuali jika target yang kau maksud adalah seekor burung bangkai yang kebetulan sedang lewat, Sledge,” timpal Chase tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor drone-nya.
“Atau,” sebuah suara lembut beritme tenang tiba-tiba menyusup di antara gelak tawa mereka.
“Commander kalian yang kebetulan sedang berjalan kembali ke sini. Itu akan menjadi tembakan dua puluh dolar yang sangat dramatis, Gentlemen.”
Pesta ejekan itu mendadak mati total. Sunyi yang janggal dan kaku menyapu halaman dalam satu tarikan nafas.
Lima pasang mata operator DEVGRU terbaik di dunia itu terperangah.
Fatima berdiri di teras kabin mengenakan gaun wol rajut halus berwarna putih gading yang jatuh menyapu lantai, khimar kasmir sewarna kelabu senja yang menjuntai longgar hingga ke pertengahan pahanya.
Di bawah siratan matahari Bluebird Day, perpaduan kain itu menguatkan keanggunan aristokrat yang melekat pada dirinya.
Fatima menakjubkan.
Dan jelita.
Dan dalam pola mutlak Sang Commander.
“Uh... Your Highness?” Jax adalah yang pertama berhasil menemukan suaranya kembali, berdeham canggung. “Bagaimana... maksudku, sejak kapan Anda tiba di sini?”
Fatima tersenyum. Wajahnya berbinar dan ramah. Ia sedikit menggerakkan kepalanya ke arah suara Jax.
“Sepuluh hari tanpa oksigen bebas bisa membuat seorang wanita menggunakan seribu akalnya untuk meloloskan diri—Jax.”
Dengan lima kali nyaris terjatuh.
Ah, ngomong-ngomong, buta membuat Fatima mudah mengenali suara.
“Aku akan berada di halaman luar, jadi beritahu aku titik koordinatnya, Mr. Anvil.”
Jax terbatuk, dengan keras dan panik. Ia melirik Red dan Duke yang memalingkan wajah mereka ke langit.
Sialan.
“Uh... Sepertinya itu bukan kabar baik untuk Commander,” Jax tersenyum masam.
Dia tidak akan mati di medan perang, tapi di tangan James Brandon.
“Lima langkah lurus, Your Highness,” katanya, suaranya mendadak turun dua oktav, terdengar luar biasa sopan.
“Ada tiga undakan tangga beton di depan Anda, lalu delapan langkah sisanya untuk mencapai titik yang Anda tuju. Tapi saljunya sangat tebal di dasar tangga, esnya licin. Jadi berhati-hatilah.”
“Terima kasih, Prajurit.” Fatima tersenyum, sama sekali tidak menunjukkan keraguan saat ia mengikuti instruksi Jax.
“Omong-omong,” Wajah ekspresif sang putri berkerut, “Sebaiknya kita menanggalkan sedikit kesopanan disini.”
Lady Fatima mengulurkan ujung kaki, meraba bibir teras. Begitu menemukan undakan pertama, ia melangkah turun dengan langkah tenang dan teratur. Kain gaun wol putih gadingnya menyapu sisa es.
“Aku akan senang jika kita saling menyapa dengan sikap akrab,” katanya dengan manis, “Di negeriku, aku seorang putri istana, tapi di sini kalian adalah pelindungku. Jadi bisakah kita berteman?”
Hening menjatuhkan beban aneh di atas hamparan salju pekarangan. Kelima operator DEVGRU saling melempar pandangan senyap.
Menjinakkan ancaman yang tak terduga di palung dunia terasa jauh lebih masuk akal bagi sekumpulan pria di bawah radar komando operasi khusus ini, daripada harus merespons penawaran persahabatan dari Sheikha Fatima.
James Brandon akan memenggal kepala mereka.
Fatima menghentikan langkah. Sensasi empuk dan beku dari es yang tertekan di bawah sol karet tebal sepatunya langsung menyengat indra perabanya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen bebas Catskill yang murni menyapu paru-parunya.
Wajah Sang Sheikha berbinar di bawah sorot matahari sore. Ia sengaja menggeser kaki, menciptakan suara kresek-kresek renyah dari salju yang terinjak. Senyuman menari-nari di bibir indahnya saat ia mendongakkan wajah jelitanya ke arah angin.
Dan kelima pasukan elite DEVGRU menahan napas.
Sunyi sesaat.
“Well,” Duke memecah keheningan dengan tawa rendah, “Tawaran persahabatan yang terlalu mewah untuk dilewatkan, Your Highness.” Ia menyandarkan bahu kokohnya pada kap jip, melipat tangan di d**a sembari menatap sang putri dengan geli.
“Tapi mohon turunkan standar ekspektasimu, karena kau sedang berhadapan dengan sekumpulan pria kasar yang bahasa utamanya adalah kalkulasi gramasi peledak.”
“Bicara saja untuk dirimu sendiri, Duke,” sahut Red Gallagher tanpa membuang waktu sedetik pun. “Protokol sosialmu memang selalu payah.”
Ia melangkah maju dua langkah longgar, mengambil posisi berdiri yang sopan dalam radius jarak aman di hadapan Fatima, wajah kerasnya mencair dalam senyuman kasual yang hangat.
“Penawaranmu resmi diterima, Your Highness. Panggil aku Red. Dan jika boleh memberikan saran yang jujur: bertemanlah denganku saja, karena sisa empat orang di halaman ini memiliki selera humor yang sangat buruk.”
Jax Henderson mendengus pendek. Ia melempar gumpalan es kecil yang langsung hancur di dekat sepatu Red.
“Jangan percayai pria yang hampir menghancurkan dapur kabin karena tidak bisa membedakan merica hitam dan bubuk mesiu, Your Highness. Tapi omong-omong, selamat datang di klub pelindung rahasiamu, Sheikha.”
“Konfirmasi dari sektor medis,” Smith menimpali dari dekat kap jip. Ia tersenyum tipis. “Akses persahabatan disetujui tanpa syarat. Kehadiran Anda sore ini adalah terapi terbaik bagi kami, setelah sepuluh hari terjebak dalam sangkar es menatap wajah-wajah membosankan yang sama.”
Chase Sinclair akhirnya mengangkat pandangan dari monitor drone-nya, “Kamera pengintai udara kami juga sudah mengunci koordinatmu, Your Highness."
Ia menyeringai hangat, “Aliansi rahasia ini resmi aman di seluruh batas luar Catskill. Setidaknya, burung besi kami akan memberikan sinyal peringatan dini sebelum Commander kita yang super protektif itu sempat merusak sore yang indah ini.”
Fatima tertawa, “Dia akan bereaksi seperti gurita yang sedang tersetrum.”
Duke meringis, “Dan gurita seberat dua ratus lima pon itu akan menghukum kami dengan lari marathon dua puluh mil di atas es, setelah melihatmu berdiri disini.”
“Kau melupakan bagian terbaiknya, Duke,” Jax tersenyum miring, “Seratus kali push up dengan tangan telanjang di atas salju, sementara dia berdiri di atas punggungmu dan menikmati secangkir kopi panas.”
Fatima berdecak, “Terdengar seperti sipir Azkaban yang bengis.”
Kelima operator elite itu terkekeh.
“Sipir paling tampan di jagad raya, Your Highness,” sahut Red dengan seringai malas, “Jadikan dia sipir, maka seluruh wanita di planet ini akan berbondong-bondong menjadi narapidananya.”
Smith menggosok pelipisnya, “Meskipun berat bagiku untuk mengucapkan sesuatu yang romantis, tapi ya, Red berkata benar.”
Fatima mengerutkan bibir dengan keras kepala, “Tetap saja, di kepalaku, dia terdengar seperti monster berkepala dua,” ia mendesah dengan berlebihan, “Sepuluh hari, dan dia membuat hidupku benar-benar seperti di Azkaban.”
Kelima Pasukan DEVGRU itu tertawa.
Fatima merasakan lengannya meremang di dalam gaunnya. Bulu kuduknya berdiri. “Lapisan es padat di bawah sepatu kita ini mirip kabel yang menyalurkan getaran suara,” ia memejamkan mata, “Langkah kaki yang berat. Setiap entakannya menekan es dengan tegas. Ada jeda tipis yang begitu tenang setiap dia berganti langkah. Serta ritme nafas yang tak pernah berubah. Teratur. Stabil. Dan hanya satu orang yang bisa melakukannya.”
Fatima membuka mata. “Dia kembali.”
Kelima pasukan DEVGRU menatap Fatima dengan takjub.
Chase berdeham. Matanya kembali menatap layar, “Dan dia memotong jarak dengan instan.”
Fatima menarik nafas panjang. “Well, prajurit, sepertinya aku akan kembali ke Azkaban.”
***
“Halo, Commander,” sapa Fatima. Memandang ke arah suara pergerakan James, walau ia buta, “Kau kelihatan sangat tampan sore ini, menurutku.”
Kelima pasukan elite itu tidak akan pernah meragukan keberanian serta kecerdikan sang putri. Kadang-kadang, wanita bangsawan muda itu akan bersikap keras kepala dengan cara yang menggemaskan. Seperti sekarang ini.
Di posisinya, James berdiri sekokoh pohon pinus yang diselimuti hawa dingin. Wajah jantannya tetap datar, kaku seperti pahatan marmer es.
“Menyenangkan sekali kau bisa menilai penampilanku, My Lady,” sahut Commander Brandon dengan nada yang dirancang kejam seperti biasanya.
“Kuberitahukan saja padamu, saat ini aku baru kembali dari berburu di hutan dengan keringat dan kotoran yang menempel di tubuhku sementara tangan kiriku menyeret rusa jantan yang sekarat. Sama sekali tidak tampan.”
James Brandon bisa membuat seseorang mengalami regresi psikologis secara mendadak.
Fatima mengedikkan satu bahu, “Setidaknya kau lebih menarik dari rusa jantan yang sekarat, Commander.”
Di belakang mereka, atmosfer di halaman mendadak terasa luar biasa tipis bagi kelima operator DEVGRU.
Hanya sepersekian detik, kelimatnya tiba-tiba tertarik pada warna langit sore itu.
“Biar kuberitahukan satu hal lagi padamu, My Lady,” kata James kepada Fatima, nadanya gelap. Ia melangkah maju tiga sentimeter, mempersempit ruang di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menaungi Fatima.
Ia menunduk di atas wajah Fatima yang tertengadah.
“Aku tidak menyusun barisan pengamanan berlapis selama sepuluh hari terakhir hanya agar kau bisa menggunakan seribu akalmu untuk menjadi target empuk di ruang terbuka.” Wajahnya mengeras saat tatapannya menyapu gaun wol putih gading sang putri yang sedikit basah di bagian bawah akibat embun es.
“Kau melanggar batasan zona aman, keluar tanpa kompas suara, dan mengira salju Catskill adalah lantai dansa istanamu,” lanjut James tenang, namun mematikan. “Kembali ke dalam kabin. Sekarang.”
“Dan aku akan mati rasa karena kekurangan vitamin D di dalam kotak kayu tanpa jendela.”
“Dan kau tidak akan pernah mendapatkan jendela di kamarmu, My Lady. Masuk.”
“Dan aku akan tetap di sini,” bantah Fatima, dagunya terangkat menantang di depan wajah kaku James. Berbicara cepat dan berpikir lebih cepat lagi, “Setidaknya, sampai aku berhasil menyerap cukup vitamin D untuk bertahan hidup sepuluh hari ke depan.”
Netra James menyipit tajam, menatap sang putri seolah gadis itu baru saja merusak seluruh logika intelijen Pentagon.
“Matahari sore di Pegunungan Catskill tidak lagi memancarkan gelombang ultraviolet yang kau butuhkan untuk sintesis vitamin, My Lady,” ia melanjutkan dengan nada datar yang mampu mengguncang psikologis seseorang, “Sains dasarmu cacat. Kau tidak sedang menyerap vitamin, kau murni sedang membeku. Masuk.”
Fatima mendengus kecil, dan menunjukan sikap keras kepala yang tak bisa dibantah. “Biar kuberitahu padamu satu rahasia kecil, Commander,” sepasang bibir penuh itu membentuk seringai licik yang menggemaskan,
“Aku sengaja membolos di kelas sains istana hanya untuk bisa mendengarmu menceramahiku tentang gelombang ultraviolet sore ini. Jadi, kurasa aku akan tetap berdiri di sini menikmati kegagalan sainsku.”
Sepasang alis James terangkat tipis. Matanya yang setajam elang bergeser beberapa senti ke arah pasukannya, mengunci lurus dengan tatapan yang sepenuhnya gelap.
“Gallagher. Mayweather,” suara bariton James terdengar santai, namun dinginnya mampu menguliti udara sore.
“Kalian berdua baru saja mengalami malafungsi disiplin. Protokol Pengawalan Aset dilanggar. Jadi, silakan bersenang-senang dengan berlari maraton dua puluh mil di atas es lereng barat setelah ini. Tanpa jaket musim dingin.”
Senyum geli di wajah para pasukan DEVGRU itu menguap dengan cepat. Rahang mereka mengeras dalam posisi siap, mematung tegak tanpa berani membantah satu patah kata pun.
Fatima mengerjapkan matanya. Dan dia berpikir akan bertanya pada Duke apakah pria itu punya korek api yang meledak atau tusuk gigi berhulu ledak nuklir yang bisa ia berikan saat ini juga.
“Tunggu dulu!” Fatima menginterupsi, tubuh mungilnya menegang kaku. Wajahnya yang jelita merona merah, bukan karena dinginnya Catskill, tapi karena badai amarah yang meledak di dadanya.
“Kau tidak boleh melakukannya,” sembur Fatima ganas, napasnya berembus pendek dan cepat, membentuk kepulan uap putih kecil di udara musim dingin.
“Aku yang ingin keluar, bukan mereka! Kau tidak bisa menghukum pasukanmu hanya karena mereka memiliki kesopanan sosial yang gagal kau miliki! Jika ada yang bersalah disini dan pantas dihukum itu adalah kau dan semua aturan gilamu!”
James tidak tersinggung. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah Fatima. Seringai liciknya justru semakin melebar, memancarkan pesona predator yang tak bisa di kendalikan.
“Henderson. Sinclair,” lanjut James sama datarnya, seolah sedang membaca daftar logistik yang menjemukan.
“Karena kalian ikut bersekongkol memanipulasi pantauan udara untuk menyembunyikan pelanggaran area pertahanan, kalian mendapatkan menu yang sama. Tambahan sepuluh mil karena membiarkan aset beredar tanpa kompas suara.”
Fatima tersentak, sepasang mata bulatnya melebar panik. Bibir penuhnya terbuka, membentuk huruf ‘O’ yang sempurna akibat kejutan murni yang didapatnya. Ekspresinya berubah segalak anak kecil ketika mainan favoritnya direbut anak lain.
Hidung mungilnya kembang kempis saat ia berupaya menghirup udara musim dingin yang membeku sambil menahan dongkol yang luar biasa, sementara uap putih yang berembus cepat dari mulutnya membuat ekspresi marahnya sore itu tampak tak tertahankan.
Ya Tuhan, izinkan para pasukan elite itu menculik sang putri dan menjadikannya maskot peleton mereka yang bisa mereka beri makan biskuit manis setiap hari. Demi Penguasa Surga dan Neraka, Putri muda itu terlalu menggemaskan.
“Kau—kau monster tak berhati!” pekik Fatima, melangkah maju satu depa hingga salju di bawah sepatu boot burgundy-nya berderit panik.
Ia menoleh ke arah kanan dan kiri secara acak, seolah-olah bisa melihat wajah-wajah kaku para pasukan DEVGRU yang kini harus menanggung akibat dari sikap nekatnya.
“Jangan dengarkan dia!” seru Fatima kepada lima teman barunya, suaranya bergetar antara cemas dan gemas.
“Kalian tidak boleh berlari di atas es tanpa jaket! Bagaimana jika kalian membeku dan jari-jari kalian lepas? Siapa yang akan mengemudikan drone gila itu jika Chase terserang hipotermia?!”
Ia menyentak wajah dengan kasar ke arah James, tatapannya melenceng satu sentimeter. “Berhenti menghukum mereka, James Brandon, atau aku tidak akan makan apa pun kecuali mugalgal! Atau yugmish dengan taburan kismis! Atau… atau…” Fatima berpikir cepat, berbicara sama cepatnya. Ia menggeram tidak sopan. Keras. Dan murka.
“Demi Rabbku, aku tidak akan menyentuh sup buatan Doc Smith, tidak akan meminum air, dan membiarkan perutku kelaparan sampai berat badanku menyusut drastis dan merusak seluruh laporan inventaris Pentagonmu!”
Di belakang mereka, atmosfer halaman luar kabin yang semula tegang mendadak terasa aneh. Duke Mayweather tiba-tiba tersedak udara dingin, terbatuk-batuk kaku di balik kepalan tangannya.
Jax Henderson harus menggigit bibir kuat-kuat agar tawanya tidak menyembur.
Red Gallagher mati-matian menatap ujung sepatu bootnya, memaksa otaknya berpikir keras mengapa salju harus berwarna putih.
Chase Sinclair terpaksa menatap langit sore dengan keheningan yang teramat khusyuk, berpura-pura mengagumi formasi awan musim dingin.
Dan Smith Doc Sterling tiba-tiba menemukan kejanggalan pada jahitan benang nilon sarung tangannya yang memang sudah dijahit sempurna.
Demi Tuhan, seorang gadis bangsawan muda bertubuh mungil dari Timur Tengah baru saja mengancam seorang komandan SEAL tingkat tertinggi dengan menu makan malamnya.
James akhirnya memiringkan kepalanya sedikit, menatap siluet Fatima dengan fokus tanpa ampun walau gadis itu buta. Bibir sensualnya kembali terbuka, siap menghabiskan barisan pasukannya yang tersisa. “Sterling—”
Fatima mengangkat telapak tangannya ke udara dan membentak, “Aku masuk! Dasar Commander jelmaan Hitler! Sipir Azkaban bengis! Pria tua kurang kasih sayang!”
Ia membalik tubuhnya dengan sentakan cepat dan dramatis. Kain wol putih gading dan mantel kasmir kelabunya berputar di udara dengan sapuan hangat. Marah, membuatnya lupa memperhitungkan langkahnya. Ia kehilangan orientasinya dan—
DUB!
Tubuh mungil Fatima melosot dan mendarat terduduk di atas hamparan salju tipis pekarangan kabin dengan bunyi puk yang teredam.
Kelima pasukan elite itu nyaris merengsek, jika saja Sang Commander tidak memberikan lirikan mata yang setajam pedang dan membuat kelimanya sukses mengambil formasi sekaku manekin.
James mendeteksi sudut jatuh sang putri dengan pemetaan visual yang secepat kilat tanpa perlu melakukan kontak fisik.
Posisi mendarat Fatima berada pada sudut aman. Tidak ada resiko patah. Tidak ada serpihan tajam. Dan tidak ada erangan kesakitan atau indikasi trauma fisik.
James bergeser ke barat, sengaja memasang tubuh besarnya sebagai tameng manusia untuk menghalangi embusan angin musim dingin Catskill yang menusuk langsung ke arah punggung sang putri yang sedang terduduk.
Fatima bisa merasakan kehadiran pria itu, tanpa harus mendengar suara sentakan sepatu larasnya atau aroma tubuhnya.
Dan kenyataan itu terasa seribu kali lebih menjengkelkan.
“Jangan mendekat!” Fatima memperingatkan dengan penuh harga diri. Ia bangkit dengan bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangannya, lalu mengarahkan wajah meronanya—sedikit miring—ke arah posisi d**a bidang James, lalu menyumpahi pria dua ratus lima pon itu dengan sisa napasnya yang menggebu-gebu.
“Jangan berani-berani mengambil satu langkah pun, James Brandon! Kau pria tua yang membosankan! Aku berharap sekarang ini wajahmu ditumbuhi seribu kutil dan kepalamu botak sebelah! Dan—dan kau tidak bisa makan pizza karena lidahmu terkilir!"
Demi Tuhan, kelima operator DEVGRU itu berharap bisa tuli sejenak. Mereka sudah kenyang menghadapi intimidasi interogasi militer, umpatan kasar gembong narkoba, atau kepungan maut di wilayah musuh, namun mendengar kalimat-kalimat polos Sang Putri yang sedang murka, Demi Tuhan— Kelima raksasa itu harus bekerja keras mengerahkan seluruh kontrol otot wajah agar rahang beton mereka tidak runtuh menjadi ledakan tawa sore itu.
James bergeming. Di bawah tudung bayangan tubuh besarnya, mata elang pria itu hanya menatap lurus ke arah siluet Fatima dengan ketenangan yang terukur.
Tidak ada serangan balasan verbal. Ia murni menggunakan postur tubuh berototnya untuk menaungi Fatima dengan jarak, lalu berkata tanpa emosi, “Masuklah, My Lady. Smith akan menyiapkan makan malam untukmu.”
“Jangan konyol!” jerit Fatima panik, “Aku tidak mau makan daging rusa yang tidak disembelih dengan nama Rabbku!” ia memberitahu dengan suara lantang, dan melanjutkan dengan sama lantangnya, “Itu seperti bangkai untukku, apa kau tidak tahu?!”
“Baiklah. Red akan membuatkan pasta untukmu.” James menanggapinya dengan tenang dan sabar.
“Aku tidak mau! Oh, astaga—Fatima nyaris frustasi, meremas keliman mantel kasmirnya dengan gusar—satu hari lagi dan aku akan benar-benar gila bersamamu! Kau membuat hidupku seperti di penjara Azkaban!” Fatima menggeram dengan tidak pantas. “Ke arah mana, Commander?!” bentaknya ganas.
Senyum tipis tersungging sangat samar di balik rahang tegas Sang Commander. Ia melirik ke arah lima pasukannya yang menatap serius ke tempat lain—tepatnya pura-pura menatap serius ke tempat lain.
“Dua langkah serong ke kanan dari posisimu saat ini, My Lady,” James berkata dengan raut datar. Lalu sengaja mengentakkan sol sepatu boot Solomon di kakinya sebanyak dua kali di atas permukaan salju.
Bunyi gedubal berat yang dihasilkan dari bawah kakinya menjadi gema penunjuk arah yang sangat akurat bagi pendengaran Fatima.
Dan James kembali melanjutkan, dengan nada yang tenang seolah tak terusik dengan amukan Sang Lady.
“Setelah itu, berjalanlah lurus sebanyak dua belas langkah ke depan. Kau akan menemukan undakan teras kabin.”
Fatima menarik nafas dalam-dalam dan memaksa jantungnya lebih tenang. Ia memutar tubuhnya menyesuaikan dengan instruksi James dan berjalan dengan tidak anggun.
Sampai saat ini ia tak pernah mengalami kesulitan dengan seluruh bagian pondok perlindungan.
Dan sesungguhnya, semua itu karena pria kaku menyebalkan yang setia mengikuti di belakangnya.
“Omong-omong, My Lady,” sahut James dengan ketenangan yang berwibawa.
Jemari Fatima yang terulur untuk meraih kenop pintu, tergantung kaku di udara.
“Sebagai informasi tambahan bagi kelas sains istanamu yang gagal... besok pagi kepalaku akan tetap ditumbuhi rambut hitam yang tebal, wajahku akan tetap terlihat tampan tanpa satu kutil pun. Dan aku akan tetap makan pizza sambil mencium tiga wanita. Masuklah.”
Begitu tangan Sang Putri menemukan kenop pintu kayu kabin yang berat, ia mendorongnya kasar, melangkah masuk, dan membanting pintu itu dari dalam hingga berdentang keras menembus kebekuan pekarangan Catskill.
“Pria tua sok macho!”
Brak!
Suasana halaman luar kabin mendadak sunyi senyap, meninggalkan embusan angin musim dingin yang berbisik di antara pepohonan pinus yang angkuh.
Dan Sang Commander memutar tubuhnya, menatap dengan kilat berbahaya satu persatu pasukannya yang langsung mengambil posisi siap dengan rahang yang mengeras kaku—menunggu takdir sanksi fisik yang sesungguhnya.
***