"A-apa? Eksperimen kita menuju ke arah yang salah, Dok?" tanya dokter Rani dengan wajah ketakutan.
Tak menjawab, dokter Ivan malah berjalan semakin mendekat ke arah ruang kaca dengan langkah seperti tak memiliki rasa takut sama sekali. Ia mendekatkan wajahnya ke dinding kaca, membuatnya berjarak hanya beberapa centimeter saja dari makhluk yang sudah bukan berupa manusia lagi itu. Dinding kaca itu akan menjadi penentu hidup dan mati dokter Ivan dengan jarak sedekat itu dari obyek eksperimen gagalnya.
Dokter Ivan mengamati makhluk itu dari dekat. Tampak banyak sekali kerusakan yang bisa dilihat dari bagian luar tubuhnya hanya dalam waktu semalam saja. Kemarin ia melihat makhluk yang sebelumnya merupakan seorang manusia berjenis kelamin pria itu masih sehat dengan kemampuan yang terlihat melebihi manusia rata-rata. Kecepatan larinya bertambah dibuktikan dengan alat treadmill yang ada di dalam ruangan, indera penciuman dan pendengarannya semakin kuat, bahkan penglihatannya semakin tajam di dalam gelap. Dokter Ivan bisa mengingat dengan jelas bahwa kemarin ia telah merasa sangat bangga bahwa tujuan eksperimennya terwujud sesuai dengan yang ia harapkan, yaitu menciptakan sesosok manusia super.
Kini pria yang ia lihat kemarin, yang masih bisa tersenyum dengan bangganya waktu itu, menjadi sesosok makhluk yang lebih terlihat seperti mayat hidup. Gigi-giginya tak berhenti-berhentinya mengeluarkan suara bergemeretak dan suara erangan-erangan yang mengerikan seperti suara hewan malam. Namun ia mengamati bahwa arah pandangan mata makhluk itu seperti sedang mencari sesuatu, atau mungkin tak menyadari kehadirannya yang berada tepat di depan matanya.
Dokter Ivan melambai-lambaikan tangannya di depan mata makhluk itu, berusaha untuk mencari tahu akan suatu hal. Namun beberapa kali ia berusaha membuat makhluk itu melihat gerakan tangannya, makhluk itu tak kunjung menyadari kehadirannya.
"Dokter Rani-"
Dokter Ivan berhenti berbicara karena makhluk itu mulai menggedor-gedor dengan keras dan mengerang-erang dengan lebih keras pula. Ia pun berdiri tercekat, berada dalam keadaan di antara terkejut dan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan makhluk itu. Reaksi yang ditunjukkan oleh makhluk itu pasti karena suara yang ia keluarkan tadi.
Dokter Ivan membalikkan badan menghadap dokter Rani yang berdiri agak jauh di belakangnya kemudian tangannya memberi isyarat untuk mematikan lampu ruangan, tanpa bersuara sama sekali. Dokter Rani yang paham dengan maksud dokter seniornya itu pun melangkah mendekat ke arah saklar dan meletakkan jarinya di atas tombol saklar.
Ia tak langsung memencet tombol itu. Jantungnya berdebar seakan telah mengetahui akan ada suatu hal buruk terjadi setelah ia mematikan lampu. Ia pun menghela napas panjang, mempersiapkan dirinya untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Perlahan-lahan jari lentiknya memencet tombol saklar dan ... matilah lampu di ruangan tersebut.
Tak diduga, makhluk itu kini justru berhenti mengerang dan terdengar lebih tenang. Dalam gelap, dokter Ivan berusaha untuk berjalan semakin mendekat ke arah ruang kaca untuk melihat reaksi makhluk itu secara lebih jelas. Ia berjalan dengan perlahan dan berusaha agar tak menimbulkan suara.
Dokter Ivan mendekatkan wajahnya ke dinding kaca, ke arah wajah makhluk itu. Namun ... pandangan mata makhluk itu kini malah tepat menatap ke arah mata dokter Ivan! Ia menatapnya dengan tajam seperti anjing gila yang sedang kelaparan. Makhluk itu pun mulai kembali mengerang dengan lebih kencang dan kini tampak sangat gelisah setelah melihat kehadiran dua manusia itu di hadapannya.
Brak! Brak! Brak!
Makhluk itu mulai menghantam-hantamkan kepalanya ke arah dinding kaca dengan cukup keras sampai terdengar suara "krek", tanda bahwa bagian dinding kaca yang dihantamnya tersebut mulai sedikit retak. Tubuhnya juga bergerak tak karuan seperti sedang kesurupan.
"Dokter, nyalakan lampunya!" perintah dokter Ivan.
Namun dokter Rani yang ketakutan dan tangannya mulai bergetar hebat tak mampu menemukan tombol saklar yang tadi dapat dinyalakanya dengan mudah saat kondisi terang benderang. Dengan sangat gelisah dan tubuh mulai terasa sangat lemas, dokter Rani terus berusaha mencari tombol saklar diiringi dengan suara erangan makhluk itu yang semakin keras dan suara hantaman kepalanya yang juga terdengar semakin lantang.
"Dokter!" Dokter Ivan mulai kehabisan kesabaran.
"Iya sebentar, Dokter. Saya sedang mencari tombolnya!"
Klik!
Akhirnya dokter wanita itu menemukan letak tombol saklar dan langsung menekannya. Lampu segera menyala dengan terangnya dan membuat makhluk itu kembali memandang dengan arah tak jelas. Suara erangannya pun terdengar lebih pelan sekarang, serta gerakan tubuhnya sudah mulai terlihat lebih pelan dan tenang.
"Hosh! Hosh! Hosh!" Napas Dokter Rani tersengal-sengal dan jantungnya berdebar dengan sangat hebat. Ia mulai perlahan menjatuhkan tubuhnya ke bawah karena kakinya terasa sangat lemas dan tak bertenaga. Ia menatap ke arah makhluk tersebut dengan nanar dan perasaan tak percaya tentang apa yang baru saja ia alami.
Sementara itu, dokter Ivan masih saja berdiri tercekat sambil melihat ke arah makhluk yang sudah mulai tenang itu. Pikirannya berkelana mencoba menganalisis apa saja yang sudah terjadi. Meski dalam kondisi genting, bagaimanapun juga ia harus tetap bisa mengamati semua perubahan dan membuat laporannya untuk dapat mencari solusi dari permasalahan tersebut.
"Dokter, ayo kita bicarakan ini di luar," ajak dokter Ivan dengan suara lirih, meskipun masih saja menimbulkan reaksi pada makhluk yang sedang tidak dapat melihat dengan jelas itu.
Kedua dokter tersebut berjalan keluar dari ruangan sakral itu, tak lupa menutup pintunya dengan rapat. Pintu itu dikendalikan oleh sistem keamanan gedung dan hanya dapat dibuka dengan kode akses atau melalui aktivitas peretasan pada sistem keamanan gedung.
Mereka terus berjalan meninggalkan ruang laboratorium sampai ke ruang kerja dokter Ivan. Keduanya langsung duduk dengan pandangan mata yang masih terlihat kosong dan kaki yang masih terasa lemas, terutama dokter Rani yang ternyata telah mengeluarkan banyak sekali keringat membasahi rambutnya.
"Dokter, saya dapat menarik kesimpulan bahwa pria itu sepertinya sudah tak bisa kembali pada keadaan semula. Sel-sel tubuhnya berubah dengan sangat drastis," ujar dokter Ivan berusaha menarik kesimpulan.
Dokter Rani yang ia ajak bicara tak bisa berkata sepatah kata pun untuk menanggapi pernyataan mengejutkan itu. Ia hanya bisa menatap dokter yang ada di depannya dengan ketakutan yang mulai muncul kembali di wajahnya.
Dokter Ivan segera bangkit berdiri dan mengambil sebuah catatan yang ada di atas mejanya serta sebuah pulpen, lalu berjalan kembali ke tempatnya tadi, berdiri di hadapan dokter Rani yang masih saja duduk menenangkan diri.
"Kita sudah mengetahui bahwa pria itu-"
"Itu bukan pria! Itu bukan manusia!" sanggah dokter Rani dengan nada tak terima.
"Makhluk itu memiliki indera pendengaran, penciuman, dan penglihatan yang sangat tajam. Kita telah mengetahuinya. Tapi keadaan sel-sel tubuhnya menurun dengan drastis. Rambutnya habis, tubuhnya mengurus, kulitnya putih pucat seperti tak dialiri darah. Membuatnya terlihat seperti telah mati ... tetapi hidup," terang dokter Ivan sambil menulis laporannya.
Ia kemudian mengangkat kepalanya dan melihat dokter Rani dengan ekspresi wajah yang ngeri, tak percaya dengan apa yang telah ia simpulkan. Namun berusaha tetap profesional, ia pun melanjutkan analisisnya.
"Tapi kita bisa melihat bahwa indera penglihatannya tidak aktif di tempat terang dan sangat tajam di tempat gelap. Dan saat dia melihatku tadi, makhluk itu seperti memiliki keinginan untuk mengejarku dan menangkapku." Dokter Ivan bergidik ngeri. Tak bisa ia bayangkan jika tadi makhluk itu benar-benar mengejarnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya dokter Rani dengan nada yang terdengar putus asa.
Dokter Ivan tak langsung menjawabnya. Ia bergegas menuju ke mejanya dan mengambil ponselnya, berniat menghubungi seseorang.
"Siapa yang Dokter hubungi?" tanya dokter Rani.
"Magnus Corporations," jawab dokter Ivan. Ia meletakkan ponsel di telinganya namun terus saja terdengar nada sambung dan teleponnya tak kunjung ada yang mengangkat. Ia mencoba menghubungi nomor itu sekali lagi. Sama saja! Tak ada yang mengangkatnya.
"Tampaknya kita harus pergi ke Magnus dan melaporkan semua kejadian ini," ujarnya menarik kesimpulan. Dari situasi yang terjadi, sudah bisa dipastikan bahwa Magnus Corporations memiliki andil dalam proyek besar itu.
Dokter Ivan segera melepas jubahnya, diikuti oleh dokter Rani yang bangkit berdiri dari kursinya dengan kaki yang masih saja terasa gemetaran. Mereka berdua berjalan dengan langkah cepat dan wajah yang terlihat cukup panik menuju ke mobil dokter Ivan. Mobil itu pun melaju dengan cukup cepat meninggalkan gedung laboratorium, melewati jalanan yang ada di dekat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Saat mobil putih itu lewat di dekat gedung kampusnya, Jae sedang berjalan sendirian dengan membawa botol air mineral yang baru saja ia beli di kantin kampus. Diego sudah terlebih dahulu menuju ke ruang kuliah untuk mengerjakan tugas yang tentunya jarang ia kerjakan di rumah. Banyak gadis di kelas yang bisa meminjamkan tugas untuk ia contoh, pikir Diego. Untungnya Jae tidak sama gilanya dengan sahabatnya itu.
Jae berjalan sambil melihat layar ponselnya, memindah lagu yang ia dengarkan lewat earphone-nya. Saat ia mengganti lagu dari R&B ke HipHop, tiba-tiba...
Brak! Ia tak sengaja menabrak seseorang yang lewat di depannya dan botol air minum yang baru ia beli itu pun menggelinding di bawahnya. Namun tangan orang yang tak sengaja ia tabrak itu dengan sigap menghentikan gerakan menggelinding botol itu. Dengan sigap pula, Jae berjongkok dan hendak mengambil kembali botolnya. Namun orang di depannya yang ternyata seorang gadis itu langsung berdiri, seolah ingin menghindari adegan bak drama Korea yang bisa saja terjadi di antara mereka.
"Ini," kata gadis itu sambil menyodorkan botol minum Jae.
Jae melihat ke arah gadis itu untuk mengetahui siapa dia. Gadis bergaya agak tomboy itu mengenakan kaos berwarna hitam yang dilapisi oleh kemeja kotak-kotak berwarna coklat, serta dilengkapi dengan celana jeans pas badan berwarna abu-abu. Rambutnya yang hitam panjang diikat ekor kuda di atas, sangat pas dengan tubuhnya yang ramping dan tinggi. Namun Jae benar-benar terkesiap saat menyadari siapa gadis itu. Mia! Gadis yang ia kagumi.
"Terimakasih," sahut Jae sambil menerima botol air mineralnya kembali. Tak pernah ia sangka ia akan dapat berinteraksi dengan gadis itu dengan cara murahan seperti ini.
Dilihatnya Mia hanya berdiri sambil tersenyum kecil dan melihat ke arah botol air yang dipegang oleh Jae. Ia sudah tahu kalau Mia adalah seseorang yang tidak banyak bicara dan hanya memiliki sedikit teman, terlihat dari berbagai pengamatan diam-diam yang telah ia lakukan selama ini.
"Mmm ... terimakasih," ucap Jae.
"Kau sudah mengucapkannya tadi," sahut Mia sambil terkekeh.
"Oh." Jae tertawa dengan kelinglungannya di depan gadis yang ia sukai itu. Tidak apa-apa. Yang penting ia telah berhasil mencairkan suasana, pikirnya. "Kau ... sekelas denganku, bukan?" tanyanya basa-basi.
"Mmm ...." Mia terlihat seperti berpikir dan sedang berusaha mengingat-ingat. "Mungkin iya," jawabnya dengan ragu-ragu.
Jae sedikit terkejut dengan jawaban Mia. Ia tak menyangka gadis itu tak pernah memperhatikannya yang jelas-jelas selalu hadir di kelas dan menarik perhatian banyak teman sekelas mereka yang lain. Jika saja Jae tidak mengambil ulang mata kuliah umum Ilmu Kealaman Dasar itu, mungkin ia tak akan bisa bertemu Mia. Ya, Jae memang lemah dalam Sains. Jiwanya adalah jiwa sosial, dalihnya.
"Wah, aku sangat kecewa. Kau bahkan tak mengetahui bahwa aku berada dalam satu kelas denganmu di mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar," sindir Jae dengan nada bercanda.
"Maafkan aku, Kak," sahut Mia dengan gamblangnya, yang mana malah membuat Jae merasa bersalah. Mia memiliki kesan gadis kuat dan berterus terang, tampak tak akan segan mengutarakan apa yang ia pikir dan rasakan.
"Ah, tak perlu meminta maaf. Oh ya, kau bisa memanggilku Jae. Kita hanya berjarak satu tahun saja," pinta Jae yang memang hanya berjarak dua semester saja dengan Mia di kampus.
"Baik. Aku akan lebih memperhatikan siapa-siapa saja yang ada di sekitarku sekarang," ujar Mia berusaha untuk bersikap sopan. "Apakah kau akan menuju ke kelas sekarang?"
Jae tak kunjung menjawab pertanyaan Mia. Ia malah menengadah dengan pandangan mata yang terlihat ngeri, memperhatikan sesuatu yang ada di langit. Pandangannya seolah-olah melihat suatu hal yang tak biasa ia lihat, sampai-sampai matanya mulai membelalak dan mulutnya mulai sedikit menganga.
Tak lama berselang, sebuah bayangan sangat besar melewati mereka dan membuat area di sekitar mereka menggelap, disertai dengan suara gemuruh yang cukup keras. Mia pun menengadah untuk melihat apa yang melewati mereka di atas. Alangkah terkejutnya ia saat melihat sebuah pesawat terbang sangat rendah di atas kepala mereka dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dengan wajah tak percaya, Jae dan Mia melihat pesawat itu semakin menukik rendah ke arah Fakultas Kedokteran, yang berada tepat di sebelah gedung laboratorium.
Blam!
Muncul gumpalan api yang sangat besar disertai dengan suara benturan yang teramat keras. Pesawat itu menghantam gedung fakultas dan laboratorium sekaligus, menimbulkan kehebohan bagi siapa saja yang melihatnya! Para mahasiswa berlarian ke halaman untuk melihat pemandangan langka nan ngeri itu, membicarakan kejadian tersebut dengan suara keras sambil menujuk-nunjuk. Tak sedikit pula yang berusaha untuk mengabadikannya.
Jae dan Mia berdiri tercekat. Sungguh pemandangan itu bukanlah pemandangan yang ingin Jae lihat saat pertama kali berhasil melakukan interaksi dengan Mia. Mereka hanya bisa memandang kericuhan yang terjadi di sekeliling mereka tanpa berkata sepatah kata pun satu sama lain. Kejadian itu tampaknya sangat membuat mereka terkejut.
Sementara itu di dalam gedung laboratorium yang sebagiannya dihantam oleh moncong pesawat tadi, listrik mengalami korsleting. Lampu-lampu pun berkedip-kedip di seluruh sudut gedung. Setelah listrik berkedip selama beberapa saat, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang tak terlalu keras.
Seketika itu juga semua lampu pun padam. Listrik mati di seluruh gedung laboratorium akibat tabrakan pesawat yang cukup parah tadi.
Namun tak ada yang tahu bahwa ada hal yang lebih mengerikan daripada itu. Tepat sebelum listrik mati, semua pintu dengan kode akses terbuka secara otomatis, membiarkan siapapun yang ada di dalam bisa keluar dengan bebas!