Givenchy membuka kelopak mata sambil memegangi kepala yang terasa sakit. Matanya membulat sempurna setelah menyadari ruangan yang menjadi tempat beristirahat bukanlah kamarnya. Givenchy refleks melihat tubuhnya yang hanya terbalut bath robes. Tapi bra dan celana dalamnya masih menempel. Astaga… rumah siapa yang dia tempati sekarang? Perasaan kamar kakaknya tidak berwarna serba putih.
“Akhirnya tuan putri bangun juga,” ucap Parama sesaat keluar dari kamar mandi.
Givenchy memalingkan wajahnya ketika Parama berjalan semakin dekat. Laki-laki itu hanya melilitkan handuk di sekitaran pinggangnya, membiarkan barisan kotak-kotak sempurna pada perutnya terekspos. Tangan kekar nan berotot Parama turut mengisi pemandangan indah pagi ini. Belum lagi sisa-sisa air yang jatuh membasahi tubuh dari rambut yang basah. Secepat mungkin Givenchy menggelengkan kepala membayangkan keindahan yang tidak mungkin dia tolak. Tapi, tunggu…
“Ini kamar lo?” tanya Givenchy. Setelah Parama mengangguk, Givenchy melanjutkan, “Uhm… ki-ki-kita nggak… uhm… itu…”
“Having s*x maksud lo?” tebak Parama seakan mengerti maksud Givenchy. Kepala perempuan itu mengangguk pelan.
Parama menaiki tempat tidur, sementara Givenchy mundur begitu Parama semakin mendekat. Sambil terus merangkak maju, Parama berkata, “Kita menghabiskan malam yang luar biasa. Kayaknya nggak cuma satu ronde, tapi beronde-ronde sampai lo memohon minta udahan.”
“Nggak mungkin. Kita nggak mungkin melakukan itu,” elak Givenchy terus menggeleng tidak percaya. “Kok bisa sih gue ada di sini? Lo kasih gue obat tidur ya?”
Parama berhenti sebentar. Ternyata menggerjai Givenchy menyenangkan. Apa lagi setelah kejadian panas semalam. Andai Givenchy tahu tindakannya, mungkin akan mengejutkan perempuan itu. Dengan jahilnya Parama menjawab, “Semalam lo mabuk, terus gue bawa ke sini karena Arjuna nggak angkat panggilan telepon gue. Saat gue letakkin lo di ranjang tiba-tiba lo mulai nyium bibir gue, nyentuh d**a gue, dan lo bisa tebak sendiri cerita selanjutnya.”
Givenchy mengingat-ingat kembali kejadian semalam. Sialnya dia hanya ingat kalau dirinya pergi ke bar, dan menghubungi Antari. Sisanya tidak ada yang tersisa dalam ingatannya. Jadi, dia benar-benar melakukan itu dengan Parama? Oh, come on! Kenapa harus Parama?
Parama kembali merangkak maju, menunjukkan seringaian nakal seolah ingin melahap Givenchy. Sedangkan Givenchy buru-buru menarik bokongnya mundur ke belakang hingga dia tidak sadar sudah mencapai batas paling ujung ranjang dan akhirnya jatuh dari atas tempat tidur. Untung saja lantai kamar Parama dilapisi karpet beludru, kalau tidak kepalanya bisa sakit terbentur cukup keras.
“Aduh! Sialan!” umpat Givenchy. Dia mengusap kepalanya berulang kali karena sakit, lalu membenarkan posisinya menjadi duduk. “Pokoknya gue nggak percaya!”
Parama tertawa puas melihat Givenchy jatuh kesakitan. Dalam hati dia berkata, ya emang nggak tidur bareng. Gue harus main sendiri gara-gara lo! Tapi apa yang diutarakannya berlawanan. “Ya udah terserah kalo nggak percaya. Gue mau buat sarapan.”
“Parama gue serius! Ini masa subur gue. Kalo hamil gimana?!” teriak Givenchy saat menyadari Parama hendak melangkah keluar. Karena tidak mendapat respons, Givenchy melepas cincin pemberian ayahnya, lalu dilempar ke arah kepala Parama. Sialnya meleset. “Parama!!”
Parama menoleh sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. “Kenapa sih berisik banget? Kalo hamil ya udah kita nikah. As simple as that. Jangan teriak-teriak lagi. Sakit denger suara lo yang nyaring itu.”
“Bukan itu! Ughh!” Givenchy berlari mendekati Parama, kemudian berjongkok demi mencari cincin yang dilemparnya barusan. “Tadi gue ngelempar cincin ke arah lo, eh malah meleset. Tolong bantu cari karena itu pemberian ayah gue. Pleaseee…” jelas Givenchy setengah memohon.
Parama mengusap wajahnya kasar. Kenapa dia harus bertemu perempuan seunik Givenchy? Gadis itu tidak bisa apa-apa, bahkan apa pun yang dilakukan selalu berakhir buruk. Mencari cincin yang ukurannya tidak terlalu kecil saja Givenchy tidak mampu. Padahal cincinnya ada di depan mata, tapi Givenchy tidak sadar.
“Ini cincin lo.” Parama mengembalikan cincin yang tergeletak kepada Givenchy.
“Makasih ya. Gue pikir cincinnya hilang.” Givenchy hendak menyematkan kembali cincinnya ke dalam jari tengah sebelah kanan tapi, dia teringat suatu hal semalam. Tanpa pikir panjang, dia membuang cincinnya ke dalam tempat sampah.
“Kenapa lo buang? Bukannya tadi nyariin?”
Givenchy jadi teringat kejadian yang disaksikan semalam karena cincin itu. Matanya berkaca-kaca namun, dia berusaha menahannya supaya tidak menangis di depan Parama. Cukup sekali dirinya menangis di depan Parama. Jangan lagi untuk kedua kalinya. Tanpa menjawab pertanyaan Parama, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Di sana barulah dia menangis. Givenchy pikir Parama tidak akan mendengar tangisannya di dalam kamar mandi, tapi prediksinya salah karena Parama mendengarkan dari depan pintu.
Parama bingung. Kenapa Givenchy menangis sepagi ini hanya karena cincin pemberian ayahnya? Mungkinkah… tidak, tidak. Parama tidak boleh menebak-nebak apa yang membuat Givenchy menangis. Ada baiknya jika dia menanyakan langsung kepada Antari kenapa semalam Givenchy pergi ke bar sendirian. Kemungkinan Antari tahu. Ya, dia harus mencari tahu alasannya.
* * * * *
Parama duduk di atas sofa berwarna hitam yang ada di ruang kantor Dimas. Sambil menyesap teh hangat, Parama menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Dia menunggu Antari yang katanya sedang ke kamar mandi. Tatapan Dimas padanya terlihat tidak biasa.
“Kenapa mau ketemu sama Antari?” tanya Dimas penuh curiga.
“Mau bilang kalo gue jatuh cinta sama dia,” jawab Parama jahil. Sebelum Dimas melempar papan nama yang terletak di atas meja kerjanya, Parama buru-buru meralat, “Ya mau nanya soal Givenchy. Mana mungkin gue naksir Antari. Soalnya di kening Antari udah tertulis kalo dia milik Dimas Haritama, si posesif akut.”
Dimas mengernyitkan dahinya menatap curiga. “Berarti lo naksir Givenchy? Kenapa mau tau tentang dia?”
Parama diam untuk beberapa saat. Pertanyaan Dimas seakan menyadarkannya. Kenapa dia ingin menanyakan tentang Givenchy sampai datang menemui Antari? Bukan urusannya jika mengingat cincin yang dibuang Givenchy tadi pagi.
Baru saja Parama akan menjawab, suara ketukan pintu dari luar terdengar. Segera si pengetuk pintu masuk ke dalam setelah Dimas mempersilahkan. Antari menghampiri Parama karena dia mendengar Parama ingin menemuinya melalui pesan yang dikirimkan Dimas sepuluh menit lalu.
“Pak Parama kenapa mau ketemu saya?” tanya Antari.
“Kita ngobrol di luar. Mau nanya soal Given,” jawab Parama seraya bangkit dari tempat duduknya.
“Tukang gosip di sini banyak, nanti kalian digosipin. Masa pacar gue berduaan sama laki-laki lain? Jadi mending ngobrol di sini. Gue mau ke ke atap sebentar,” sela Dimas.
Parama duduk kembali, begitu pula dengan Antari yang duduk di seberang Parama—memunggungi pintu keluar. Sementara itu Dimas membuka pintu, berpura-pura keluar. Padahal nyatanya, laki-laki itu tidak keluar dan hanya menyandarkan tubuhnya pada dinding sambil bersedekap di d**a. Parama yang melihat hal itu membiarkan Dimas melakukan apa yang laki-laki itu inginkan. Toh, ini kantornya. Mau mendengar percakapan mereka ya bukan masalah besar.
“Jadi apa yang mau Pak Parama tanyain?”
“Kenapa Given pergi ke bar sendirian kemarin? Ada masalah apa sampai mabuk gitu?”
“Oh, itu…” Ada jeda sebentar sebelum Antari menjawab, “Saya sebenernya nggak boleh cerita, tapi katanya kamu udah tau soal ayahnya waktu ketemu Arjuna. Jadi nggak ada salahnya saya bicara.”
“Jadi kenapa?”
“Given lihat ayahnya jalan sama someone-nya. Makanya dia sedih banget. Ayahnya janji mau nemenin dia belanja, tapi ternyata nemenin orang lain. Sisanya kamu bisa tanya sendiri sama Given.”
Parama diam mengusap dagunya. Jadi ayahnya jalan dengan selingkuhannya? Pantas saja Givenchy sampai mabuk dan marah tadi pagi. Mungkin perempuan itu mengingat kejadian yang dia lihat.
“Oh, gitu. Makasih jawabannya ya. Cuma mau tau itu aja sih,” ujar Parama. Sedetik kemudian dia teringat sesuatu. “Lo kenal sama Arjuna nggak? Seandainya kenal, dia punya hape berapa banyak? Gue hubungin dia susah banget.”
“Kenal. Mau aku telepon Arjuna?”
“Boleh. Bilang adiknya nyariin. Gimana sih dia jadi kakak tapi ngilang mulu.”
Parama kaget saat mendengar Antari dapat bicara dengan Arjuna. Panggilan teleponnya selalu ditolak, kenapa Antari tidak? Sungguh, apa dia harus menjelma jadi perempuan jadi-jadian dulu? Tapi telepon Givenchy juga tidak diangkat.
“Kok Arjuna angkat telepon lo sih? Telepon gue sama Givenchy dicuekin, malah di-reject.” Parama bertanya setelah Antari selesai bicara dengan Arjuna.
“Masa sih? Dia hubungin aku mulu.”
Mendengar penuturan Antari, tanpa perlu ditanyakan Parama langsung kepikiran satu hal. “Lo mantannya Arjuna?”
Antari tertawa kecil. “Bukan. Dulu pernah deket tapi nggak sampai jadian. Hape-nya Arjuna selalu on kok, kecuali kamu telepon di saat dia lagi sama pacar-pacarnya.”
“Kenapa nggak jadian?" tanya Parama. Dia sengaja setelah melihat raut wajah Dimas di belakang sana. “Tapi kenapa lo nggak bantuin Givenchy pas dia nyariin kakaknya? Kenapa nggak coba bantuin ngomong?”
“Arjuna playboy. Kalau soal bicara, aku udah bilang kok sama Arjuna cuma dia belum mau ketemu adiknya. Makanya aku ngasih tau Givenchy kakaknya ada di mana,” jawab Antari.
“Oh, gitu. Bahas Arjuna, gue merasa dia lebih sempurna dari Dimas. Mukanya Arjuna lebih ganteng dari Dimas. Badannya juga lebih oke. Setuju kan?” ujar Parama semakin sengaja. Antari mengangguk cepat.
“Oh, jadi ada Arjuna yang belum kamu ceritain ke saya? Mantan gebetan kamu itu kakaknya Givenchy? Masih sering teleponan juga. Sesempurna itu ya Arjuna?” usik Dimas sembari berjalan mendekat. Kontan, Antari terlonjak kaget.
“Loh, Pak Dimas bukannya keluar?” tanya Antari panik.
Dimas memasang wajah cemburunya. “Nggak. Saya mau dengerin percakapan kalian. Ternyata bener aja saya dapet info lain.”
Parama langsung bangun dari tempat duduknya setelah menciptakan keributan. “Kalo gitu, gue pamit.” Belum sempat keluar, Parama kembali memanasi Dimas. “Dim, untung si Arjuna playboy kalo nggak mungkin lo nggak bisa sama Antari. Kakaknya Givenchy lebih oke dari lo. Udah ah, gue tinggal ya kalian.”
Dan suara perdebatan kecil terdengar di telinga Parama. Paling tidak ini menjadi hiburannya sesaat. Bicara soal hiburan, mungkin dia perlu menghibur Givenchy. Dengan cepat dia meraih ponselnya, namun berakhir memasukkan kembali sebelum telepon.
Mungkin ada baiknya kalau dia langsung menjemput ke kantor. Ya, begitu lebih baik.
* * * * *