"Gue nggak paham lagi kenapa Bu Ruth rewelnya kayak bocah ngga dikasih permen. Ada aja manusia kayak gitu.” Givenchy memulai percakapan saat bersampingan dengan Radi. Keduanya hendak naik ke atas setelah jam pulang kerja.
“Sebenernya Bu Ruth sama lo sama tau. Rewel terus,” sahut Radi sedikit tertawa.
“Sial! Padahal yang rewel dia. Gue sih kalem,” balas Givenchy sembari menjulurkan lidahnya bagai anak kecil.
Radi tertawa sebentar sebelum akhirnya menyahuti, “Jangan sok imut gitu dong, Given. Nanti kalo ada yang mendadak kepincut karena keimutan lo gimana?”
“Kalo tuh orang Om-Om yang hartanya nggak habis tujuh turunan sih, gue mau. Nggak nolak deh. Jadi simpenan juga nggak masalah,” canda Givenchy berpura-pura serius.
“Kalo dapet yang kelas kakap gue mau minta duit setiap hari sama lo. Anggep aja ini balasan karena gue selalu ngasih tau tempat tersembunyi di sini,” kata Radi ikut berpura-pura serius.
Given tergelak mendengar ucapan Radi. Laki-laki itu memang paling bisa mengimbangi setiap obrolan. Dibawa serius, bercanda, atau pura-pura serius.
“Given…”
Langkah Givenchy terhenti saat mendengar sapaan itu. Tawa di wajahnya meredup sesaat menyadari sosok di depannya. Radi yang menyadari perubahan ekspresi Givenchy langsung melihat sosok yang dilihat perempuan itu.
“Boleh kita bicara?” Laki-laki itu kembali bertanya dengan tatapan hangat nan meneduhkan.
Givenchy mengabaikan laki-laki itu, dan memilih pergi tanpa permisi pada Radi. Dia tidak ingin melihat laki-laki itu.
“Givenchy! Givenchy, tunggu!”
Secepat apa pun Givenchy melangkah, laki-laki itu berhasil meraih tangannya. Dia menahan air matanya yang sudah mengembang supaya tidak tumpah. Ditatapnya wajah laki-laki itu dengan perasaan benci.
“Tolong beri aku kesempatan bicara sama kamu. Aku janji cuma lima menit,” pinta laki-laki itu memohon.
“Apa lagi yang mau kamu bahas? Aku nggak mau dengar apa pun,” balas Givenchy dingin.
“Ada banyak hal yang belum aku bicarain ke kamu. Termasuk permintaan maaf yang belum kamu terima sampai sekarang.” Laki-laki itu menurunkan tangannya sampai ke tangan Givenchy, dan menggenggamnya dengan erat. “Aku mohon jangan kayak gini, Givenchy.”
“Jangan kayak gini? Aku nggak bisa. Jangan pernah datang ke sini, atau ganggu aku.” Givenchy mencoba melepas genggaman tangan itu tapi tenaganya tak cukup kuat. “Lepasin atau aku teriak.”
“Aku nggak peduli. Silahkan teriak. Tapi aku mau kita bahas semuanya dari awal.” Laki-laki itu tetap menggenggam tangan Givenchy, dan menatap lebih dalam. “Aku selalu dihantui rasa bersalah karena—”
Givenchy langsung memotong kalimat yang belum selesai. “Apa kamu pikir aku nggak hidup dalam bayang-bayang itu? Apa kamu tau kalau aku terluka sampai aku nggak mau pacaran sama yang seumuran atau lebih tua? Semua itu karena kamu.”
Mata laki-laki itu berkaca-kaca menyalurkan sakit yang dirasa. Sementara Givenchy, dia sudah meneteskan air matanya. Mereka berdua saling menatap, menahan mulut yang ingin menyampaikan isi hati terpendam.
“Aku sama terlukanya kayak kamu, Given. Jangan seakan-akan cuma kamu yang terluka.”
“Kamu nggak terluka. Kamu nggak ngerasain itu. Jangan bikin keadaan semakin rumit. Aku capek.”
“Kamu yang bikin rumit. Kamu menghindari aku selama ini. Berapa kali aku coba minta maaf, kamu selalu nolak dan bilang kalau aku nggak bisa dimaafkan.”
“Ya, memang. Kamu nggak bisa dimaafin. Kesalahan kamu fatal.”
Genggaman tangan laki-laki itu melonggar. Hal ini menjadi kesempatan untuk Givenchy melepaskan tangannya dan berhasil. Tidak mau berlama-lama berhadapan dengan laki-laki itu, Givenchy kembali melangkah pergi. Sebab, dia tidak ingin jadi tontonan semua karyawan apartemen. Setidaknya menjauh sedikit dari sana lebih baik. Dan benar saja dugaan Givenchy. Laki-laki itu kembali menahan lengannya, memaksanya berhenti, dan tak habis-habisnya memanggil nama.
“Given, tolong kita bicarain dulu. Aku mau kamu ngerti. Aku sama—”
“Lepasin,” potong Givenchy dingin.
“Aku nggak mau lepasin sampai kamu benar-benar maafin aku.”
Sambil menangis, Givenchy meninggikan suaranya. “Aku nggak mau maafin kamu!” Isak tangis Givenchy terdengar menyakitkan. “Untuk memaafkan kamu rasanya susah. Aku nggak bisa,” lanjutnya lirih.
“Given tolong…”
“Lepasin,” pinta Givenchy dengan menurunkan nada bicaranya.
Laki-laki itu menggeleng.
“Lepasin!” teriak Givenchy keras hingga beberapa pejalan kaki melihat padanya. Laki-laki itu tetap mencengkram kuat pergelangan tangan Givenchy. Tidak ada indikasi akan melepaskan, bahkan tambah erat.
“Lo nggak denger Givenchy minta dilepasin?” Parama yang kala itu sudah berdiri di lobi dapat melihat pertengkaran awal keduanya hingga akhirnya memutuskan mengikuti dari belakang. “Lepasin tangan Givenchy,” tambahnya tegas.
“Lo siapa? Jangan ikut campur urusan gue sama Givenchy,” kata laki-laki itu menolak.
Givenchy melirik Parama, menatapnya penuh mohon seolah-olah telah memberitahu bahwa dia meminta bantuan Parama untuk melakukan sesuatu. Parama langsung mengerti akan kode itu.
“Gue pacarnya Givenchy. Kalo lo ada urusan sama dia, jangan kasar kayak gini.” Parama berucap sembari menarik paksa tangan laki-laki itu dari pergelangan tangan Givenchy. Setelah berhasil, dia menggenggam tangan Givenchy.
Laki-laki itu melihat Parama sebentar sebelum akhirnya menatap Givenchy yang tak lagi melihatnya. “Kita akan bicarain hal ini lagi besok.” Kemudian laki-laki itu pergi berlalu.
Parama melirik Givenchy yang menyeka air matanya. Dia tidak mendengar percakapannya karena hanya melihat dari jarak jauh sehingga tidak tahu apa yang mereka debatkan. Tapi, dia melihat Givenchy lebih terluka dibandingkan semua permasalahan yang sudah dia saksikan.
“Kenapa sih setiap gue ketemu lo selalu aja ada masalah? Ujung-ujungnya gue juga yang bantuin.”
Givenchy tidak menjawab, dan tiba-tiba melangkah begitu saja meninggalkan Parama tanpa terima kasih atau pamit.
“Givenchy!” Parama menyusul dari belakang. “Setelah gue bantuin, lo malah kabur? Gue dateng ke sini buat jemput lo.”
Givenchy masih saja diam. Parama kesal melihat sikap Givenchy. Karena hal itu, Parama menarik tangannya dan memaksa perempuan itu berhenti. Setelah berhadapan, Parama menangkap air mata Givenchy masih turun membasahi pipinya. “Gue anterin lo pulang sekarang.”
Parama menarik tangan Givenchy memutar arah menuju apartemen tempat Givenchy bekerja. Dia memarkir mobilnya di sana.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka masuk ke dalam mobil. Sesekali pandangan Parama tertuju pada Givenchy yang terdiam. Perempuan itu terlihat meremas tas tentengnya, dan wajahnya merah seperti menahan amarah. Entah masalah apa kali ini. Kenapa hidupnya Givenchy dipenuhi masalah? Dan tidak jauh-jauh karena urusan laki-laki.
“Gue udah bilang cari pacar yang bener. Lo malah nyari brondong terus,” ucap Parama mencoba mencairkan suasana. Mungkin nadanya terdengar serius, tapi sebenarnya bercanda.
Givenchy tetap diam sampai akhirnya tangisnya pecah memenuhi mobil. Suara isakannya terdengar lebih menyakitkan dari tangis yang pernah dia tunjukkan di depan Parama.
“Ngapain sih lo nangisin laki-laki kayak gitu? Nggak ada untungnya. Masih banyak yang lebih baik di luar sana,” kata Parama mencoba menghibur kembali.
Tangis Givenchy semakin keras. Dengan terpaksa Parama menepikan mobilnya karena tidak bisa fokus jika mendengar tangis Givenchy terus-terusan.
“Udah gue bilang ngapain lo—”
“Dia mantan suami gue,” potong Givenchy lebih cepat.
Parama memiringkan tubuhnya menghadap Givenchy, dan menatap perempuan itu tidak percaya. Apa telinganya salah dengar? “Lo bilang apa, Given?” Parama mencoba meyakinkan pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
Givenchy kembali mengulang kalimat yang sama sambil menatap Parama dengan tatapan sedihnya. “Dia mantan suami gue.”
* * * * *
Parama bersebelahan dengan Arjuna di atas threadmill. Keduanya sudah berlari cepat hampir lima belas menit. Arjuna tidak memelankan kecepatan, sementara Parama sebaliknya. Ada hal yang ingin Parama tanyakan menyangkut Givenchy.
Setelah semalam mengantar Givenchy pulang, pikirannya dipenuhi tanda tanya besar. Kapan Givenchy menikah? Kenapa mereka berpisah? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul. Ingin menanyakan langsung kepada Givenchy tapi perempuan itu tidak bicara lagi setelah memberitahu soal mantan suaminya. Anehnya, rasa penasaran ini terus mengganggu pikirannya.
“Gue nggak tau Givenchy pernah nikah,” ucap Parama tiba-tiba.
Arjuna hampir saja jatuh kalau tidak bertumpu pada pegangan karena fokusnya terpecah mendengar Parama mengatakan hal yang tidak pernah dibahas oleh siapapun. Dia melirik Parama sebentar, menangkap ada raut wajah ingin tahu yang tertulis dari tatapan Parama.
Setelah memelankan kecepatan, barulah Arjuna menjawab, “Pasti dia yang bilang. Soalnya nggak ada yang bahas masalah itu lagi setelah mereka pisah. Pernikahan adik gue itu adalah kesalahan besar.”
Parama melirik sekilas. “Maksud lo?”
“Ya gitu. Lo tanya anaknya sendiri deh,” kata Arjuna. Semenit kemudian, dia menoleh ke samping dan memicingkan mata curiga. “Tunggu deh, ada angin apa lo nanyain adik gue?”
“Cuma mau nanya aja.”
Arjuna kembali menatap penuh selidik. “Yakin nanya doang? Atau, jangan-jangan lo ada something sama dia?”
“Tuduhan lo nggak beralasan. Gue nanya karena mantan suaminya nemuin Givenchy kemarin.”
Arjuna langsung naik pitam. Spontan dia menghentikan threadmill dan melotot ke arah Parama. “Apa lo bilang??! Bocah sialan itu nemuin adik gue?!” Nadanya ikut meninggi hingga beberapa orang di sebelah mereka kaget.
Parama mengangguk. Arjuna langsung turun dari threadmill membawa handuk keringnya dan bergegas tanpa permisi.
“Arjun! Lo mau ke mana?” teriak Parama.
“Ketemu Givenchy!” jawabnya ikut teriak.
Parama terheran. Kenapa Arjuna langsung marah seperti tadi? Memangnya ada masalah apa? Tanpa membuang waktu, Parama ikut turun dari threadmill dan langsung mengejar Arjuna yang belum terlalu jauh.
* * * * *