Givenchy merogoh kunci rumah yang berada di dalam tas. Dia lupa kalau hari ini orangtuanya pergi ke rumah neneknya di Yogyakarta. Karena tidak menemukan kunci, Givenchy membuka tas lebar-lebar dan mengamati dengan teliti isi tasnya. Hanya ada peralatan make up, bolpoin, dan ponsel. Tak ada wujud kunci duplikat miliknya.
“Sial! Kenapa gue ninggalin kuncinya sih? Masa gue tinggal di rumah Arjuna dulu?” ucap Givenchy berdialog sendiri.
Givenchy segera berbalik badan. Dia menunduk sambil merogoh ponsel di dalam tas. Pendengarannya terusik ketika mendengar suara langkah yang semakin mendekat. Pandangannya beralih lurus ke depan, mendapati mantan suaminya berdiri di hadapannya.
“Kamu mau apa lagi?” tanya Givenchy. Tatapan dan nada bicaranya dingin.
“Aku akan terus menemui kamu sampai kamu maafin aku,” jawab laki-laki itu pelan, yang kemudian bersimpuh di depan Givenchy. “Aku mohon maafin aku…”
Air mata Givenchy luruh. “Itu susah, Tio. Aku nggak bisa.”
Laki-laki bernama Tio itu bergerak memeluk kaki Givenchy. Sambil ikut menangis, Tio berkata, “Aku sama terlukanya kayak kamu, Given. Aku nggak bisa tidur tenang selama dua tahun ini karena mikirin semua yang udah terjadi. Aku ngaku kalau aku salah, tapi aku mohon maafin aku…”
Givenchy menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang semakin keras. Membayangkan kejadian dua tahun lalu membuatnya terpuruk. Hatinya hancur lebur. Hidupnya tak pernah sama seperti sebelum dia menikah dengan Tio.
“Given, beritahu aku apa pun yang kamu mau. Aku akan usahain penuhin keinginan kamu,” ucap Tio memohon.
Givenchy menarik tubuh Tio agar bangun dari simpuhnya. Dia tidak ingin dicap perempuan jahat oleh semua tetangga karena membiarkan Tio bersimbuh sambil menangis dan memohon. Selain itu, dia ingin melihat langsung wajah Tio sebelum dia mengutarakan apa yang ada dalam benaknya.
“Aku mau Arga kembali. Apa kamu bisa menghidupkan Arga?”
Tio terdiam. Kepalanya menggeleng lemah, dan tatapan sedihnya terarah pada Givenchy.
“Lihat kan, kamu nggak bisa memenuhi apa yang aku mau. Jangan selalu nanya apa yang aku mau, karena aku cuma mau anak kita hidup. Nggak ada yang lain.” Givenchy semakin deras meneteskan air mata.
“Aku tahu aku salah karena teledor nggak bisa jaga Arga. Hati aku sakit setiap kali ngebayangin yang udah berlalu. Sesulit itukah kamu melihat ketulusan permintaan maaf aku? Kamu pikir aku nggak ngerasain sakit yang sama kayak kamu? Apa kamu nggak mau memberi aku kesempatan lain untuk memperbaiki semuanya?”
Givenchy menatap Tio semakin dalam. Wajah putranya mirip dengan mantan suaminya. Itulah sebabnya setiap kali melihat Tio, dia teringat akan luka yang tak pernah hilang dari hatinya. Dadanya sesak. Givenchy tidak tahu harus berbuat apa sampai dia menjalani hidup dalam kepura-puraan terlihat bahagia demi menutupi semua kesedihannya.
Dengan gerakan cukup kuat, Givenchy memukul d**a Tio. Tidak cukup sekali, tetapi berulang kali sambil menggumamkan kalimat yang sama. “Balikin Arga… aku kangen. Tolong balikin Arga…”
Tio membiarkan Givenchy memukulnya sekuat tenaga. Menangis dalam perasaan bersalah yang tidak pernah pergi. Dia mengerti apa yang mantan istrinya rasakan. Lambat laun pukulan Givechy melemah. Mendengar Givenchy menangis membuat Tio semakin hancur. Pelan-pelan tangannya bergerak, dan mencoba merengkuh Givenchy dalam pelukan. Usahanya berhasil. Mantan istrinya berada dalam pelukannya sekarang.
Sambil menangis Givenchy berucap, “Aku kangen Arga, Tio… aku kangen dia…”
Tio masih menangis seperti Givenchy. Dia ikut membalas dengan kalimat yang tidak jauh berbeda. “Aku juga kangen, Arga. Aku kangen banget seperti kamu sampai hatiku sakit.”
Givenchy terus menangis—sama halnya dengan Tio. Mereka berpelukan dalam luka yang masih hidup di dalam hati. Ada penyesalan besar yang menghantui karena gagal menjadi orangtua yang baik bagi anak mereka yang telah tiada.
Dari jauh, Arjuna baru saja menghentikan mobilnya di seberang rumah orangtuanya. Melihat Givenchy menangis dalam pelukan Tio membuatnya semakin kesal. Baru akan keluar dari mobil, Parama yang ikut menemaninya langsung menghalangi.
“Biarin dia bicarain masalahnya sama mantan suaminya. Jangan diganggu,” ucap Parama.
Arjuna terpaksa setuju. Dia kembali memerhatikan adiknya yang terluka. Dia tahu seberapa besar luka yang membekas di hati Givenchy setelah kematian putranya. Hal itu pula yang menjadi alasan Givenchy berpisah dengan Tio.
Parama ikut memerhatikan kejadian yang baru dia lihat kali ini. Biasanya dia yang selalu menemani dan berada di sisi Givenchy saat perempuan itu sedih. Tapi kali ini, mantan suaminya yang berada di sampingnya. Entah kenapa ada rasa sesak yang menjalar di dadanya.
“Andai Arga nggak meninggal, mungkin mereka masih sama-sama,” gumam Arjuna.
“Arga? Siapa Arga?” tanya Parama bingung.
“Anaknya Givenchy sama mantan suaminya. Setelah putra mereka meninggal, mereka pisah,” jawab Arjuna lirih.
Parama diam mendengarkan. Dia baru tahu fakta lain dari seorang Givenchy Feodora. Semakin mengenal perempuan itu, semakin banyak rahasia yang tersingkap.
“Givenchy mungkin terlihat ceria dan selalu senyum dari luar, tapi hatinya terluka dan merasa sedih. Dia sampai mengalami depresi setelah kehilangan Arga,” ungkap Arjuna pelan.
Ungkapan Arjuna memaksa Parama melirik ke arahnya, lalu beralih pada kedua insan yang masih berpelukan di tengah hari yang semakin malam. Selain menikah, dan punya anak, ternyata Givenchy pernah depresi.
“Makanya gue suka nggak mau ketemu Givenchy karena ikut merasa gagal jadi kakak yang baik untuk dia. Apalagi dulu gue dan keluarga gue yang nentang pernikahan itu. Seandainya dulu gue bisa membujuk keluarga gue membiarkan Givenchy menikah, mungkin mereka nggak akan kawin lari dan berakhir begini…” Arjuna ikut menitikkan air matanya. Ada rasa bersalah yang turut menghantui karena gagal membuat Givenchy mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang dicintainya.
Parama tahu lebih banyak tentang Givenchy sekarang. Pandangannya masih tertuju pada perempuan itu. Dan pikirannya melambung jauh mempertanyakan hal lain. Ada hal apa lagi yang lo sembunyikan dalam keceriaan selain hal ini, Given?
* * * * *
Parama melihat tulisan ‘Boba Fest’ terpampang di depan pintu masuk tempat acara. Suasana dari depan kelihatan ramai. Karena Givenchy, dia terpaksa ikut menemani gadis itu. Anggap saja yang dia lakukan sekarang demi menghibur Givenchy.
Givenchy menarik lengannya melewati keamanan, dan melihat suasana di dalam setelahnya. Sungguh, ini pertama kalinya Parama datang ke acara seperti ini. Biasanya dia menjauhkan diri dari suasana yang terlalu ramai, dan berdesak-desakan.
“Gue mau nyoba yang itu.” Givenchy menunjuk barisan paling ramai di antara tempat yang lain.
Parama menghela napas. “Emangnya nggak ada toko-nya? Beli di toko-nya aja sih, ngapain harus ngantri nggak masuk akal kayak gitu?”
Givenchy mencibir, “Ngantri kayak gini lebih berasa euforia-nya tau! Makanya jangan cuma main ke tempat sepi dan mahal, sekali-kali datengin tempat kayak gini.”
“Terserah. Gue nggak mau ngantri. Lo sendiri aja sana.”
“Ya udah, lo tunggu luar aja.”
Parama memerhatikan Givenchy yang melenggang pergi meninggalkannya menuju barisan antrian yang tidak masuk akal. Iya, di antara banyaknya booth minuman, yang Givenchy inginkan ada enam barisan panjang sebelum mencapai kasir. Entah kenapa akhirnya Parama menghampiri Givenchy setelah berdesak-desakan melewati kerumunan yang masuk dan keluar dalam satu jalur.
“Tadi katanya mau nunggu di luar? Nggak jadi?” tanya Givenchy begitu menyadari Parama berada di sampingnya.
“Nggak. Kasihan jones kayak lo dibiarin sendirian,” jawab Parama.
Givenchy terkekeh. Di balik mulut asal ceplos Parama, laki-laki itu masih memiliki sisi baik. Karena terharu, Givenchy menempelkan stiker bergambar kue yang dibeli olehnya tadi.
“Ini stiker apaan sih?” Parama mengambil stiker yang Givenchy tempel. “Gue bukan anak kecil jangan ditempelin sesuatu yang aneh kayak gini.”
“Waktu kecil gue beli buku khusus nempelin stiker. Terus gue beli stiker beraneka bentuk yang bisa gue tempel sesuka hati. Ya, kalo orang kaya macem lo sih mainannya pasti beda.”
Bicara mainan, pikiran Parama langsung melambung pada anak Givenchy. Mungkinkah putranya suka menempelkan stiker juga?
“Iya sih, beda. Masih kecil gue dibeliin mobil beneran, bukan mobil-mobilan.”
Givenchy mencibir, “Sombong banget! Beda sama Pak Batara yang rendah hati.”
“Banyak banget yang ngagumin Batara. Tapi sayang kisah cintanya tragis.”
“Tragis?”
“Iya.”
“Eh, cerita dong! Gue mau tau.”
Parama mungkin licik menjadikan Batara tumbal agar Givenchy cerita mengenai pernikahannya terdahulu, tapi jika tidak melakukan ini rasa penasarannya tidak terjawab.
“Batara selalu gagal nikah. Waktu udah tunangan sama Aruna, tiba-tiba pernikahannya batal. Setelah itu dia pacaran sama yang lain, udah bahas pernikahan tapi gagal karena akhirnya perempuan itu nikah sama yang lain. Pokoknya Batara selalu gagal nikah makanya dia belum cari pacar lagi,” beber Parama.
Parama yakin telinganya tidak salah karena mendengar kalimat yang keluar dari mulut perempuan di sampingnya. “Ya, masih mending gagal nikah daripada nggak direstuin nikah sama keluarga.”
"Lo bilang apa, Given?"
Givenchy menggeleng, berpura-pura tidak menggumamkan kalimat apa pun. Dia hanya ingin mengutarakan pendapatnya tetapi tidak ingin Parama tahu soal kebenaran yang dialami olehnya.
"Tapi, apa menurut lo kawin lari hal yang bener?" tanya Parama.
"Tergantung sudut pandang mana yang lo pakai. Setiap orang punya sudut pandang berbeda jadi nggak bisa menganggap sudut pandang lo atau gue bener. Isi kepala orang juga beda-beda. You know that," jawab Givenchy.
Givenchy maju selangkah saat antriannya mulai berkurang satu per satu. Bibirnya kembali bergerak untuk menanggapi pertanyaan Parama sebelumnya. "But for me, kawin lari adalah hal yang salah. Tapi kalo orangtua menganggap pendapat mereka paling bener dan nggak percaya dengan apa yang kita pilih, gue rasa kawin lari jawaban yang tepat. Jadi semua ini tergantung sudut pandang mana yang lo pakai. Paham kan maksud gue?"
Parama manggut-manggut. "Gue paham. Kayak contohnya lo jatuh terus gue nggak nolongin. Menurut gue itu supaya lo bangun sendiri dan nggak manja, tapi menurut orang tindakan gue udah salah. Semacam itu kan?"
Givenchy mengangguk, membenarkan perumpamaan Parama yang 'nggak banget'. Bahas jatuh, dia malah jadi malu sendiri. Sudah sebesar ini sering jatuh, sering kepleset, sering kesandung, aduh... banyak seringnya!
"By the way, lo tau nggak apa yang menyakitkan?"
Parama menggeleng. "Apa?"
Givenchy melirik ke bawah, lalu menunjuk kaki Parama. "Diinjek sama kaki lo. Angkat tuh kaki lo!"
"Eh, sori. Gue sengaja," balas Parama sambil tersenyum meledek.
Givenchy mendengkus sebal. "Kalo bukan temennya Pak Batara, lo udah gue kiloin terus jual ke pasar!"
Parama tertawa kecil. "Kalo gue hilang nanti lo kangen. Siapa yang mau bantuin lo?"
"Pak Dimas."
"Lo yakin?"
"Ya, nggak sih. Tapi ada Pak Batara."
"Lo yakin nih?"
Givenchy diam berpikir sejenak. Setelah beberapa menit, dia berkata, "Sangat yakin. Pak Batara nggak mungkin menolak untuk membantu gue. Nggak kayak lo yang pamrih!"
Parama tertawa kecil, lalu tangannya mengacak-acak rambut Givenchy. "Gue akan selalu bantu lo, tenang aja."
* * * * *