Alaric tidak menyelesaikan kalimatnya. Atau mungkin dia menyelesaikannya dengan cara yang berbeda. Dia mengikis jjarak, dengan bibir yang begitu dekat sehingga Ruby bisa merasakan panasnya tanpa benar-benar bersentuhan, dengan napas yang bercampur menjadi satu.
Tapi mereka tidak benar-benar berciuman. Walaupun Ruby sudah pejamkan matanya dan sesekali merutuki Alaric dalam hati karena mampu membuat tubuh bagian bawahnya berkedut.
Hanya ada detik-detik di mana waktu terasa berhenti. Hanya ada dua orang yang hancur, berdiri begitu dekat tapi bukan karena cinta. Tidak, cinta terlalu awal untuk saat ini, mereka ada di sini karena satu kepentignan yang sama.
Setelah beberapa saat tidak terjadi apa-apa Alaric adalah yang pertama bergerak mundur walau penuh penyesalan, seolah-olah setiap dia menjauh dari Ruby merupakan penderitaan.
“TIdak malam ini, Ruby kecil. Buka matamu dan pakai lagi kaosmu sebelum kamu masuk angin karena kedinginan.” Bisik Alaric, membuat Ruby membuka mata dan sekali lagi mengumpati seolah dia adalah p*****r yang begitu mudahnya menyerahkan diri.
Mata Alaric tidak meninggalkan mata Ruby, dengan senyum sangat tipis dia berkata, “minum cokelatmu sebelum dingin. Kamu butuh energi. Besok kita..." tiba-tiba Alaric menjeda. Dia menunduk di dekat telinga Ruby, mengambil nafas dan ketika dia berbicara lagi, ada kelembutan pada suaranya.
"Istirahatlah Ruby kecil. Besok kita akan berbicara tentang rencana. Tentang Alan, tentang Indri, tentang bagaimana kita bisa saling membantu."
Alaric berbalik, langkah kaki panjangnya cepat mencapai pintu walau sesungguhnya dia ingin tinggal lebih lama di kamar ini bersama Ruby dan melakukan hal lain.
"Alaric," desis Ruby lirih membuat pria itu berhenti di ambang pintu, punggungnya yang tegang nampak begitu nyata.
"Tunggu!" Suara Ruby memecah keheningan kamar yang mewah itu, bergetar antara kedinginan dan ketidakpercayaan karena ditinggal begitu saja. Ruby masih berdiri di tempat yang sama dengan tadi, hanya berbalut kain tipis underwear yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang montok dan menggoda iman Alaric.
“Siapa kamu sebenarnya dan kenapa kamu tiba-tiba muncul seperti pahlawan untuk menolongku?" tanya Ruby, menuntut jawaban.
Alaric terhenti tepat sebelum jemarinya memutar kenop pintu. Dia berbalik perlahan dan Ruby bisa melihat betapa mata Alaric tampak berkabut penuh gairah, kembali menyisir setiap jengkal tubuh polos Ruby yang terpampang di depannya yang membuat napas Ruby tertahan.
"Kamu akan tahu siapa aku, Ruby. Percayalah…," jawab Alaric dengan suara rendah, “dan siapa bilang aku sedang menolongmu? Kamu ingin balas dendam? Ingin mendapatkan kembali rumah warisan papamu dan menghancurkan martabat Indri, Lumia juga Alan, bukan?"
Alaric menyeringai tipis, “aku akan membantumu tapi tentu saja tidak gratis. Ada mahar yang harus kamu bayar untuk aliansi ini," ucapnya sembari mengedipkan mata dengan penuh arti, sebuah gestur yang sarat akan godaan berbahaya.
Sebelum kendalinya akan akal sehatnya benar-benar hilang untuk tidak menerjang Ruby lalu menindihnya di atas ranjang dengan seprai sutra itu, Alaric segera berbalik dan keluar dari kamar meninggalkan Ruby dalam kebingungan, menyadari bahwa dia baru saja menyerahkan dirinya pada seorang pria yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada para pengkhianat yang ingin dia hancurkan.
"Terima kasih," bisik Ruby, entah untuk cokelat hangat atau untuk apartemen, untuk sapu tangan atau untuk melihatnya ketika dia merasa tidak terlihat terutama untuk menginginkannya ketika dia merasa tidak diinginkan.
***
Pagi datang menyapa. Ruby tiba di depan gedung pencakar langit yang menjadi kantor perusahaan Alaric. Dia ditemani Fandi, tangan kanan Alaric yang berumur jelang 40 tahun.
Saat matanya terbuka, Ruby menemukan selembar kertas bertuliskan, ‘Bajumu sudah kusiapkan. Tunggu di lobi apartemen dan Fandi akan menjemputmu jam 9 pagi. Kita akan bertemu di kantorku untuk membahas kontrak.’
Ruby tidak mau berpikir dari mana Alaric bisa tahu pasti ukuran tubuhnya hingga underwear-nya. Bisa saja Maya yang memberi tahu Alaric kan?
Semalam Maya mengiriminya tautan ke media sosial yang menampilkan sebuah foto terpampang seolah mengejeknya. Di foto itu, Alan, dengan senyum yang dulu dia pikir hanya miliknya, melingkarkan lengan di pinggang Lumia yang nampak begitu bercahaya dalam balutan gaun sutra.
Di jari manis Lumia, ada sebuah cincin berlian berkilauan, seolah mengejeknya dan ingin membangkitkan amarahnya. Mereka berfoto di depan teras rumah peninggalan papanya, lengkap dengan keterangan foto yang memuakkan tentang "“He’s mine, forever, karena cinta sejati akhirnya menemukan jalan pulang"
Pesan Maya menyusul tertulis di bawahnya, “Ruby, dengar gue. Mereka sudah mengumumkan pertunangan. Indri dan adikmu yang sialan itu, sudah menang. Satu-satunya cara untuk meruntuhkan kesombongan mereka adalah dengan menyambut tangan pria yang menampungmu semalam. Alaric punya segalanya termasuk alasan yang sama dengan elu. Terima tawaran dia atau elu akan selamanya jadi butiran debu tidak berharga di bawah kaki mereka!”
Setelah memikirkan matang-matang akhirnya Ruby memutuskan menerima saran Maya.
Pagi itu, Ruby memakai gaun selutut yang ditemukan di lemari, gaun hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, sepatu hak tinggi warna hitam hingga membuatnya jadi lebih percaya diri. Rambutnya diikat kuncir kuda, make up natural yang hanya fokus untuk menyamarkan mata yang sedikit bengkak.
Tidak menunggu lama, Alaric melangkah keluar dari lift privat di sudut lobby, bukan lift yang digunakan staff biasa, tapi lift yang tampaknya hanya berhenti di lantai eksekutif. Ruby menelan ludah melihat betapa sempurnanya Alaric yang mengenakan setelan abu-abu tua dengan potongan sempurna sehingga setiap gerakannya tampak seperti iklan mode bergerak.
Wajah yang begitu tenang dan terkontrol, tidak seperti pria yang semalam berdiri di depannya, di kamar tidurnya dengan mata terbakar gairah.
Alaric berjalan ke arahnya dan orang-orang di sekitar mereka seketika menyingkir dan menunduk hormat pada Alaric.
"Kamu datang," katanya dengan senyum tipis.
"Kamu yang memintaku," balas Ruby enteng.
Alaric tersenyum profesional, “aku memang memintamu tapi datang adalah pilihanmu."
"Dan jika aku tidak datang?"
"Maka aku akan mencarimu," jawab Alaric begitu cepat. Rahangnya mengencang setelah menyadari itu dan dia melanjutkan, “tapi aku lega kamu datang. Karena aku punya sesuatu untuk ditunjukkan yang mungkin akan mengubah segalanya."
Alaric berbalik dan melangkah pergi. Dia yakin Ruby akan mengikutinya dan itu memang benar.
"Masuklah," katanya sebagai sebuah undangan untuk masuk ke mobil mewahnya.
"Kita mau ke mana?" tanya RUby.
Alaric tidak menjawab langsung. Dia mencondongkan tubuh, begitu dekat sehingga Ruby bisa merasakan panas tubuhnya yang menembus setelan yang sempurna, bisa melihat setiap detail wajahnya yang tampak begitu tenang tapi menyesatkan.
"Mau membalas dendam?"
Alaric tersenyum dingin, tapi sudut bibirnya naik, “ikut aku."
Ruby sekali lagi melirik ke wajah Alaric, ke mata yang gelap yang menatapnya dengan sabar seolah-olah dia telah menunggu ini seumur hidupnya dan bisa menunggu lebih lama lagi jika perlu.
Ruby masuk ke mobil, duduk dengan manis dan pasrah pada Alaric dia akan dibawa ke mana.
*
Penthouse Alaric berada di puncak gedung yang menjulang seperti jari menunjuk ke arah surga atau mungkin ke arah neraka, Ruby tidak tahu.
Mata Ruby membola, ini bukan apartemen tapi lebih tepat jika disebut kerajaan di awan.
Yang menarik perhatian Ruby bukanlah kemewahan ini, melainkan pemandangan di balik dinding kaca yang menghadap ke barat, ke arah matahari terbenam sedang melukis langit.
"Kau diam saja."
Suara Alaric terdengar dari belakangnya, begitu dekat sehingga Ruby merasakan hangat napasnya di tengkuk, membuatnya berbalik dengan gerakan yang terlalu cepat. Alaric berdiri di sana, kini hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku dan mata yang gelap yang menatapnya dengan intens, yang membuat Ruby ingin mundur juga mendekat secara bersamaan.
"Aku hanya... euum mengagumi pemandangan," jawab Ruby, agak gugup.
Alaric tersenyum, “pemandangannya memang indah," tapi matanya tidak meninggalkan wajah Ruby, tidak sekali pun beralih ke jendela kaca, “tapi aku lebih suka pemandangan di depanku saat ini."