Ruby merasa darahnya naik ke pipi dan ia membenci reaksi tubuhnya, bagaimana bisa dia merasa malu hanya dengan rayuan receh seperti itu? Bagaimana bisa dia merasa begitu diinginkan? Setelah apa yang dilakukan Alan? Setelah apa yang ditontonnya di video yang direkam Maya?
"Jangan main-main, Alaric," kata Ruby, mencegah dia kembali terlena pada pesona mata hitam Alaric yang menyesatkan. “Katakan apa yang kau inginkan dariku dan bagaimana kau bisa membantuku menghancurkan mereka."
“Maya pasti sudah memberitahumu bahwa aku membutuhkan pewaris laki-laki dari sebuah pernikahan?”
Ruby mengangguk, “aku ingin sebuah pernikahan resmi, bukan hanya yang di bawah tangan.” Jawab Ruby, tegas.
Ganti Alaric yang mengangguk, dia menarik laci dan mengeluarkan map kulit hitam yang tebal membuat jantung Ruby berdebar lebih kencang.
"Ini," kata Alaric santai, "adalah kontrak kita. Fandi, asistenku, telah menyiapkannya berdasarkan instruksiku semalam. Setiap klausul telah diperiksa oleh tim hukum terbaik yang kumiliki. Setiap kata telah dipilih dengan hati-hati. Setiap konsekuensi telah dipertimbangkan."
"Baca setiap detailnya, Ruby. Aku tidak ingin ada keluhan di tengah jalan.”
Alaric mendorong map itu ke arah Ruby, yang segera membukanya. Dokumen di dalam map itu ada beberapa lembar, diketik dengan font yang begitu formal sehingga terasa seperti surat kematian. Di bagian atas halaman pertama, tertera judul yang membuat darahnya membeku.
**PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAKTUAL DAN KETURUNAN**
Ruby membaca kata per kata. Semakin dia membaca, semakin dia merasa seperti tenggelam dalam kolam air yang dingin dan gelap.
Pasal 1: Pihak Pertama (Alaric Mahesa) dan Pihak Kedua (Rubyana Aradhana) setuju untuk melangsungkan pernikahan yang sah secara negara dan agama, dengan masa berlaku minimum dua (2) tahun terhitung sejak tanggal pernikahan.
Pasal 2: Pihak Kedua wajib tinggal serumah dengan Pihak Pertama di tempat yang ditentukan oleh Pihak Pertama, dan wajib menjalankan kewajiban-kewajiban istri sesuai adat dan hukum yang berlaku.
Pasal 3: Pihak Kedua berkewajiban untuk...
Ruby berhenti, dia sempat mendongak melihat ke Alaric. Matanya terjebak pada Pasal 4, yang tertera dengan huruf tebal seolah-olah penulis dokumen ini ingin memastikan tidak ada yang terlewat:
Pasal 4: Pihak Kedua wajib memberikan keturunan laki-laki kembar kepada Pihak Pertama dalam waktu paling lambat dua (2) tahun sejak pernikahan. Apabila dalam kurun waktu tersebut lahir keturunan perempuan, atau tidak lahir keturunan sama sekali, masa kontrak diperpanjang otomatis hingga kelahiran keturunan kembar laki-laki. Apabila setelah lima (5) tahun tidak lahir keturunan kembar laki-laki, kontrak dianggap gugur dan kedua belah pihak berhak mengajukan perceraian.
Mata Ruby menyisir baris demi baris kata-kata hukum yang dingin itu hingga dia terpaku pada satu pasal yang membuatnya sontak mendongak dengan wajah bingung sekaligus protes. "Pernikahan selama dua tahun atau sampai lahirnya anak laki-laki kembar? Alaric, pasal ini sama sekali tidak masuk akal!" seru Ruby sembari menunjuk dokumen tersebut.
Alaric menyandarkan punggungnya, menyatukan ujung jari-jarinya di depan dagu sambil menatap Ruby dengan binar misterius yang sulit dibaca. Dia menggeleng perlahan, sebuah senyum tipis yang hampir tidak terlihat menghiasi sudut bibirnya. Dia tahu persis bahwa peluang itu sangat kecil, dan justru itulah tujuannya, sebuah jerat tidak terlihat agar Ruby tetap berada dalam jangkauannya lebih lama dari yang diperkirakan wanita itu.
"Memangnya di keluargamu ada keturunan kembar?" tanya Ruby dengan nada sangsi.
Alaric menggeleng pelan sembari menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. "Tidak ada. Tapi bukankah itu tantangan yang menarik?" sahutnya dengan nada provokatif.
Ruby berpikir keras untuk menyiasati ini, "kita bisa ke rumah sakit, teknologi kedokteran sudah sangat maju untuk hal semacam itu," Ruby mencoba menawarkan solusi medis agar ia bisa segera lepas dari jeratan kontrak tersebut, tentu saja Alaric langsung menolaknya mentah-mentah dengan tatapan yang kembali mendingin.
"Aku tidak ingin ada campur tangan laboratorium dalam proses penciptaan pewarisku, Ruby. Kita akan pakai cara yang tradisional," jawab Alaric dengan seringai kecil, membuat wajah Ruby seketika merona sebagai implikasi dari kata-kata pria itu karena dia sudah membayangkan ranjang di kamarnya.
Tangan Ruby gemetar. Bukan karena ketakutan tapi karena…
"Kau menjualku," bisiknya pasrah, suaranya hampir tidak ada.
"Aku menawarkanmu kesepakatan, Ruby," jawabnya dengan nada datar tanpa emosi, tanpa penyesalan. "Kau ingin membalas dendam? Aku akan menghancurkan Alan Hadiputra juga Lumia, adik gilamu itu. Aku akan membuat mereka kehilangan segalanya, kariernya, reputasinya, juga harga dirinya. Aku akan mengambil kembali rumahmu dari tangan Indri, dengan cara yang membuatnya tidak hanya kehilangan properti, tapi juga kebebasannya. Aku akan..." Alaric berhenti, mengelilingi meja untuk menuju Ruby, "...aku akan memberimu kekuasaan untuk berdiri di atas mereka yang telah menginjakmu, Ruby. Tapi setiap kekuatan ada harganya. Setiap senjata ada bayarannya. Dan bayaranmu..." Alaric berhenti tepat di depan Ruby, mengangkat dagu Ruby untuk melihatnya, "...adalah dirimu."
Ruby melongo menatapnya dan untuk pertama kalinya dia melihat dengan jelas bahwa Alaric Mahesa bukanlah pahlawan penyelamatnya melainkan sosok iblis berwajah tampan, yang menawarkan kesepakatan gila dan tahu persis Ruby akan menyetujuinya.
Masalahnya, yang paling mengerikan dari itu semua adalah, Ruby tahu fia akan setuju bukan karena dia butuh penyelamat. Bukan pula karena dia tidak bisa membalas dendam seorang diri. Tapi karena di dalam mata Alaric yang gelap, dia melihat tekad yang sama, jadi tidak salahnya mereka berkongsi kan?
"Aku minta klausul tambahan," kata Ruby dengan suara tajam, "kau tidak boleh menyentuhku tanpa izinku. Tidak dalam kontrak ini, tidak di kamar tidur, tidak dalam cara apa pun. Aku bukan..." dia berhenti, menelan kata-kata yang terasa pahit, "aku bukan Lumia. Aku tidak jual diri untuk kepuasanmu."
Alaric mengangkat alisnya dan untuk pertama kalinya nampak kekaguman di matanya. "Fandi sudah memprediksi kau akan mengatakan itu," katanya, mengambil pena mahal yang mengkilap di bawah cahaya lampu. "Maka izinkan aku menambahkan klausul pribadi."
Alaric meraih dokumen, menulis dengan tangan yang begitu cepat dan terlatih sehingga tinta hampir tidak sempat mengering sebelum dia selesai.
Addendum Pribadi: Pihak Pertama berhak mendekati Pihak Kedua secara fisik hanya dengan persetujuan eksplisit dari Pihak Kedua. Namun, Pihak Kedua menyadari bahwa untuk memenuhi Pasal 4, diperlukan kontak fisik dan dengan menandatangani kontrak ini, Pihak Kedua memberikan persetujuan implisit untuk kontak fisik yang diperlukan dalam rangka pembuahan.
Ruby membaca ulang kalimat itu dan kembali matanya membola kali ini karena kesal. Dadanya berdenyut kencang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lebih rumit dan lebih mengganggu.
Dia menatap Alaric, yang wajahnya tampak begitu tenang seolah-olah mereka sedang membahas prakiraan cuaca esok hari. Alis Ruby terangkat saat bertanya, “kau akan memaksaku?"
Alaric menatapnya balik, “ooh Ruby kecilku, aku tidak perlu memaksa," jawabnya, mengedip nakal.
"Aku hanya perlu menunggu. Karena kau, Rubyana Aradhana, akan terbakar api jika kau terus menahan diri. Ketika kau memohon padaku, dan aku sungguh yakin kau akan memohon agar kita b******a, itu bukanlah sebuah pemaksaan."
Ruby merasa napasnya terhenti. Bukan karena ancaman, tapi karena yang terucap dari bibir Alaric begitu santai dan penuh keyakinan.
"Kau sombong," kata Ruby pasrah dan kesal. Tapi suaranya tidak memiliki kekuatan untuk menjadi tuduhan.
"Aku realistis," balas Alaric, “sekarang tanda tangan atau pergi. Pilihanmu."
Ruby menatap pena itu kemudian menatap dokumen, yang berisi klausa yang mengubah hidupnya menjadi sebuah transaksi bisnis.
Akhirnya Ruby menandatangani dokumen itu dengan kesal hingga tanda tangannya berantakan dan tidak rapi karena penuh emosi yang tidak bisa dia kendalikan.
Alaric Mahesa. Rubyana Ardhana. Dua nama, satu kontrak.
Ketika dia selesai, Alaric mengambil dokumen itu, melihat ke tanda tangannya dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca, kemudian, begitu cepat sehingga Ruby tidak punya waktu untuk bereaksi, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Ruby dan menariknya mendekat.
“Jadi, kita sepakat, istriku?" bisik Alaric di dekat telinga Ruby, suaranya yang serak membuat bulu kuduk Ruby meremang. Tangan Alaric yang panjang mulai merayap naik, jemarinya membelai helai rambut Ruby dengan sangat lembut sementara wajahnya semakin menunduk, seolah ingin menyesap napas Ruby yang kian memburu. Mata Ruby terpejam secara refleks, menantikan sesuatu yang seharusnya tidak dia inginkan tapi secara fisik sangat dia dambakan.
"A-apa…" Ruby mencoba protes, tapi kata-katanya tercekat di tenggorokan ketika tubuhnya bertabrakan dengan d**a Alaric yang keras. Alaric tidak mau menjauh. Sebaliknya, dia semakin merunduk hingga napasnya yang hangat terasa di ceruk leher Ruby.
Jarak di antara mereka kini hanya seujung kuku. Tangannya terkepal kuat di atas pangkuan, antara ingin mendorong pria ini menjauh atau justru menariknya lebih dekat untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pengkhianatan Alan.
Tangan Alaric kini beralih ke dagu Ruby, mengangkatnya agar mata mereka bertemu. Di dalam kegelapan mata Alaric, Ruby tidak melihat belas kasihan. Dia melihat api yang sama dengan yang dirasakannya, namun bercampur dengan gairah hingga membuatnya merasa pusing. Bibir Alaric mendekat, bergerak perlahan seolah ingin menyesap habis napas Ruby sebelum benar-benar mengklaimnya.
"Klausul addendum," bisik Alaric sangat seksi di telinga Ruby, napasnya yang hangat menerpa bibir Ruby yang terbuka karena kaget. "Kau bilang aku tidak boleh menyentuhmu tanpa izin. Tapi kau tidak bilang aku tidak boleh mencumbumu."
Tiba-tiba saja bibir Alaric sudah menempel di bibir Ruby, bukan dengan sentuhan lembut, bukan pula ciuman romantis seperti di novel. Tapi itu ciuman yang menuntut, yang mengklaim. Bibir Alaric melumat bibir Ruby hingga lutut gadis itu lemas.
Ooh, Alaric ternyata seorang pencium yang handal! Dengan teknik yang begitu mahir sehingga Ruby lupa untuk menutup mulutnya, lupa untuk melawan, lupa untuk mengingat bahwa dia baru saja menjual dirinya pada iblis yang tampan.
Tangan Alaric di pinggangnya menariknya lebih dekat membuat Ruby bisa merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya. Bukti dari hasrat yang tidak disembunyikan atau pun bisa ditawar. Lidah Alaric menuntut masuk dan Ruby, dengan polosnya dia membukanya.
Ciuman itu begitu dalam sehingga Ruby merasa seperti tenggelam. Ketika Alaric akhirnya melepaskannya, hanya sebentar untuk mengambil napas, matanya yang gelap kini berkilau dengan sesuatu yang tidak terkendali, yang mampu membuat Ruby takut sekaligus terpesona secara bersamaan.
"Kau membalas ciumanku seperti perawan," desis Alaric, suaranya serak karena syahwat yang mengaburkan kontrolnya yang sempurna.
Ruby merasa wajahnya memanas dan menjawab dengan nada marah, “aku bukan perawan," bohongnya dengan suara tajam dan napas terengah.
Alaric tersenyum, “bohong," katanya begitu lembut, "toh aku akan membuktikannya nanti saat malam pertama kita. Untuk sekarang..." Alaric menarik tangannya dari tubuh Ruby walau merasa sangat kehilangan, "...aku punya pekerjaan untuk dilakukan. Alan tidak akan tahu apa yang menimpanya."
Alaric berbalik, berjalan ke arah pintu dan Ruby berdiri di sana dengan bibir yang sedikit bengkak djuga hati yang berdebar dengan ritme yang salah.
"Tunggu," panggilnya, Alaric berhenti, menoleh dari atas bahu dengan ekspresi yang menunggu.
"Kamar tidurku di mana?"
Alaric tersenyum lagi tapi kali ini terasa hangat, “lorong sebelah kanan, di yang paling ujung. Kamar terbesar. Dengan balkon pribadi." Alaric berhenti, menatapnya dengan intensitas yang membuat Ruby merasa seperti telanjang meskipun ia masih mengenakan gaun hitam yang sempurna. "Tapi jangan khawatir, Ruby kecil. Aku tidak akan mengganggu tidurmu di malam ini. Tapi besok..." dia mengangkat bahu dengan elegan, "kita lihat seberapa kuat tekadmu."
Alaric meninggalkan Ruby yang berdiri termangu dengan tangan meneyntuh bibirnya, kembali membayangkan saat mereka b******u mesra.
***
Malam di penthouse Alaric berbeda dari malam di mana pun. Ruby berbaring di tempat tidur yang begitu luas sehingga dia bisa berbaring melintang tanpa menyentuh tepi, di tengah sprei sutra yang begitu lembut. Tapi kantuknya tidak kunjung datang.
Bagaimana dia bisa mengantuk ketika pikirannya dipenuhi dengan wajah Alaric, dengan ciuman yang masih terasa di bibirnya yang merambat ke bagian bawah tubuhnya yang berkedut-kedut?
Ruby bangkit, berjalan ke balkon yang menghadap ke kota yang tidak pernah tidur. Udara malam yang dingin menyentuh kulitnya yang hanya terbungkus kaus besar dengan bau Alaric begitu kuat.
Ketika Ruby mendengar pintu kamar terbuka, dia tidak berbalik karena tahu siapa. Hanya ada satu orang yang memiliki kunci, satu orang yang berani masuk tanpa mengetuk, satu orang yang telah membelinya dan kini datang untuk mengambil apa yang menjadi haknya.
"Kau belum tidur," suara Alaric terdengar.
"Aku tidak bisa tidur," aku Ruby.
Alaric berdiri di sampingnya, begitu dekat sehingga lengan mereka hampir bersentuhan. Dia mengenakan piyama tidur dengan celana hitam yang digantung rendah di pinggang dan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan lengan yang begitu kuat dan begitu berotot. Di tangannya, dia membawa dua mug dengan uap panas masih mengepul.
"Minum," katanya. RUby menerima dan menegak perlahan s**u cokelat itu.
Ruby mengambil gelas yang diulurkan, jari-jarinya bersentuhan dengan jari Alaric, dan sesuatu yang elektris berlari di tulang-tulangnya. Ia meneguk s**u cokelat itu terlalu cepat hingga merasakan panasnya melewati tenggorokan, menghangatkan perutnya.
"Kau mencoba membuatku ngantuk ya?"
"Aku mencoba membuatmu rileks," balasnya, "karena kau terlalu tegang, Ruby. Aku tidak suka berburu mangsa yang terlalu mudah. Tapi aku juga tidak suka menunggu terlalu lama."
Ruby menaruh gelasnya di samping gelas Alaric, "kau tidak memiliki hak untuk memburuku."
Alaric berbalik, menghadapnya sepenuhnya dan Ruby baru menyadari betapa sempitnya balkon ini. Membuat betapa dekatnya mereka berdiri dan betapa sedikitnya ruang untuk melarikan diri.
"Aku memiliki setiap hak," bisik Alaric dengan sangat seksinya, “aku memang telah membelimu, Ruby. Bukan tubuhmu karena itu bonus. Tapi dirimu, kemarahanmu dan tekadmu untuk menghancurkan mereka."
Jemari Alaric yang panjang menelusuri garis rahang Ruby dengan gerakan yang begitu lambat, “sekarang, aku ingin melihat apa yang telah kubeli."
Ruby seharusnya mundur, masuk ke kamar dan mengunci pintu. Tapi kakinya tidak bergerak. Tubuhnya berkhianat pada logikanya karena tidak mendengarkan perintahnya.
Mata gelap Alaric mampu membuatnya menyerah pasrah, tanpa perlawanan.
Tangan Alaric meraih bahu kaus yang longgar, jari-jarinya menyentuh kulit Ruby yang telanjang, dan sentuhan itu, demi Tuhan, sentuhan itu, membuat Ruby lagi-lagi merasa seperti tersengat listrik.
Alaric lakukan itu denagan perlahan, seolah-olah memberikan Ruby kesempatan untuk berkata tidak. Alaric menarik kaos ke atas melalui kepala Ruby dan…
Kaos itu jatuh ke lantai balkon dengan pasrahnya.
Sekarang Ruby hanya mengenakan underwear hitam berenda dan Alaric menatapnya penuh hasrat juga kekaguman. Entah kagum untuk apa.
"Kau indah," bisik Alaric usai mengamati Ruby. Suaranya terdengar seperti doa yang salah arah, seperti mantra yang terucap di kuil yang salah.
Alaric mulai mengecupi tubuh bagian atas Ruby yang polos bahkan tanpa bra!
"Alaric," desah Ruby, tubuhnya menggeliat karena sentuhan bibir Alaric di area sensitifnya. Menyebutkan nama Alaric yang terdengar seperti kepasrahan.
"Shht," balas Alaric, “jangan bicara. Jangan berpikir. Rasakan saja."
Alaric melepaskan ciuman mereka untuk mendapatkan oksigen lagi. Dua tubuh yang hampir telanjang, dua jiwa yang hancur, dua api yang akan membakar satu sama lain atau menyatu menjadi sesuatu yang lebih besar.
Tangan Alaric meraih belakang paha Ruby, mengangkatnya dengan mudah seolah-olah Ruby adalah sekarung kapas. Ruby merasakan tubuhnya terangkat, berada di antara dinding kaca balkon dan bagian tubuh Alaric yang keras.
Refleks, kakinya melingkar di pinggang Alaric tapi posisi itu begitu terbuka, begitu rentan, membuat sesuatu di dalam dirinya berkedut dengan panik oleh hasrat yang tidak mampu dibendung.
Tangan Alaric beralih ke bagian bawah tubuh Ruby, jari-jarinya bermain-main sebentar di segitiga pengaman itu, sesekali menggoda Ruby dengan gerakan hendak menurunkan tapi tidak jadi karena tangannya malah mengelus dan menggenggam b****g montok Ruby membuat gadis itu bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang sehingga dia yakin Alaric bisa mendengarnya.
Hanya dibutuhkan satu tarikan saja dan dia akan benar-benar telanjang, benar-benar terbuka, benar-benar...