Cahaya matahari yang terang menyelinap melalui celah tirai kamar Ruby di penthouse Alaric dan membuatnya membuka mata meskipun dunianya sempat berhenti sejenak sejak semalam. Saat di balkon ketika bibir Alaric masih terasa hangat di bibirnya dan kata-katanya, ‘kau akan memohon padaku’ masih terngiang di telinganya seperti janji yang salah tempat.
Ruby berbaring di tempat tidur yang terlalu luas, sprei sutra yang dingin menempel di punggungnya yang telanjang karena dia langsung saja tidur tanpa mau bersusah payah memakai baju lagi setelah Alaric meninggalkannya.
Dia telah menandatangani kontrak itu yang artinya telah menjual dirinya.
Tapi yang paling mengerikan, yang paling tidak bisa dia akui bahkan kepada dirinya sendiri di dalam keheningan kamar yang megah ini, adalah bahwa ketika Alaric berdiri di depannya dengan tubuh yang berotot dan mata yang gelap, dia malah merasa ditemukan.
Itu yang membuatnya takut melebihi apa pun.
Ponselnya bergetar di meja nakas, suara notifikasi yang familiar terdengar, memaksa Ruby keluar dari kubangan lumpur pikirannya yang gelap. Dia mengambilnya dengan tangan yang masih gemetaran bukan karena dingin, tapi karena setiap kali mengingat sentuhan Alaric di kulitnya, setiap kali ia mengingat cara pria itu menatapnya seolah-olah dia adalah harta karun yang telah lama hilang dan akhirnya ditemukan.
Pesan dari Maya. Ada beberapa pesan yang berjejer di layar dengan tanda seru merah yang menuntut perhatian.
‘Ruby, elu harus baca ini.’
‘Ini undangan yang tersebar di grup teman-teman kita.’
‘Gue minta maaf gak bilang lebih awal karena gue kira elu udah tahu.’
Ruby menatap layar dengan dahi yang berkerut, jari-jarinya yang panjang dan kurus mengusap permukaan ponsel seolah-olah bisa menghapus apa yang akan dia lihat walau tahu itu tidak mungkin.
Dengan hati masih berdegup kencang, dia membuka lampiran yang disertakan Maya. Sebuah foto undangan pernikahan yang dibuat dengan elegan, malah nampak berlebihan, dengan font kaligrafi yang meliuk-liuk seperti ular berbisa. Warna emas dan krem yang seharusnya melambangkan kemurnian tapi kini terasa seperti ejekan paling kejam.
Dengan hormat, kami sampaikan bahwa pernikahan yang akan diselenggarakan pada tanggal 15 bulan depan, akan tetap berlangsung sesuai rencana semula.
Pengantin pria: Alan Hadiputra
Pengantin wanita: Lumia Hariputra
Ruby membaca ulang berkali-kali. Seharusnya nama pengantin wanita yang tertulis di situ adalah namanya. Nyatanya malah nama Lumia Hariputra yang tercetak. Yang tterasa seperti tamparan fisik meskipun dia hanya melihatnya di layar ponsel. Terasa seperti pisau yang menusuk ulang luka yang masih segar, terasa seperti... seperti… entahlah.
Tangannya begitu gemetaran sehingga ponsel hampir terlepas dari genggamannya. Ruby bahkan sampai harus menggigit bibirnya hingga berdarah untuk mencegah suara apa pun keluar dari tenggorokannya. Entah tangisan atau u*****n atau sumpah serapah. Tidak, dia tidak mau keluar tenaga hanya untuk mengumpati mereka.
Lumia Hariputra.
Adik tirinya yang selalu menginginkan apa yang menjadi miliknya. Lumia yang selalu berikan senyum manis palsu di bibir sekaligus membawa pisau tersembunyi di balik punggung untuk bisa menikamnya di saat yang tepat.
Lumia yang kini tidak hanya merebut Alan, tapi juga merebut hari yang seharusnya menjadi milik Ruby, gaun yang seharusnya dia kenakan, berucap akad dengan pria yang dia cintai, dengan masa depan yang telah dia impikan sejak remaja.
Tidak ada yang lebih buruk selain semua milikmu dicuri darimu, bukan? Bahkan ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga. Selain kehilangan tunangan, Ruby juga rumah warisan ayah kandungnya yang kini digunakan oleh Lumia seolah-olah dia adalah putri kandung Ardhana, seolah-olah darah yang mengalir di tubuh mereka sama.
Ruby melempar ponsel ke tempat tidur dan berdiri dengan gerakan yang begitu cepat sehingga kepalanya berputar. Dia berjalan mondar-mandir di kamar dengan langkah-langkah yang panjang dan tidak terarah, tangan kanannya mengusap wajahnya yang panas sementara tangan kirinya terus mengepal, seolah-olah mencari sesuatu untuk dihancurkan.
Dia ingin berteriak, ingin merobek seprai sutra itu, ingin melampiaskan amarah. Dia ingin kembali ke rumah yang dulu menjadi miliknya, rumah yang kini ditempati Indri, Lumia juga Alan. Dia sangat ingin membakar segalanya menjadi abu.
Tapi kemudian dia berhenti.
Di depan cermin besar yang terpasang di lemari, Ruby menatap bayangannya sendiri. Sosok wanita menyedihkan dengan rambut hitam berantakan, menjuntai di bahu yang telanjang. Mata yang bengkak namun berkilau dengan sesuatu yang baru, yang lahir dai api kemarahan.
Dia melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun, melihat ke jejak bekas gigitan yang Alaric tinggalkan semalam. Disentuhnya satu bekas gigitan dari Alaric dan perlahan, senyum muncul di bibirnya.
Bukan senyum manis atau pun senyum bahagia. Tapi senyum dingin, senyum dari seseorang yang telah berhenti menjadi korban dan mulai menjadi pemain untuk menghancurkan mereka yang mengkhianatinya.
"Ambil saja," bisiknya pada bayangannya dengan suara tegas, “ambil saja barang bekas yang memang sudah tidak layak untuk kupakai." Tangannya mengepal keras, sekeras keinginan hatinya untuk membalas dendam.
Kata-kata itu memang benar, kan? Bahwa Alan memang bekasannya, bahwa cintanya memang usang, bahwa lima tahun kebersamaan mereka adalah lima tahun penuh sia-sia yang terbuang percuma pada pria yang tidak pernah benar-benar melihatnya.
Beda dengan…, dia. Pria tampan itu yang memujanya seolah dia adalah seorang dewi turun dari kahyangan.
Seolah-olah dipicu oleh pencerahan ini, pikirannya beralih ke Alaric. Pria yang semalam hampir beradu syahwat dengannya. Pria yang mengikatnya dengan kontrak tidak masuk akal tapi tetap dia setujui.
Alaric Mahesa.
Ruby pejamkan matanya. Pipinya merona saat mengingat cara Alaric menatapnya penuh kekaguman ketika dia mengaku masih perawan. Alaric melihatnya bukan dengan ejekan atau kekecewaan, tapi dengan kilatan di mata yang gelap seolah dia pemenang. Seolah-olah keperawanan Ruby adalah hadiah yang tidak dia duga, adalah sesuatu yang akan membuat permainan ini lebih menarik.
Sayangnya Ruby tidak punya waktu untuk menganalisis maksud Alaric. Tidak sekarang, karena ponselnya bergetar lagi, dan kali ini nama yang muncul di layar bukan Maya, tapi nomor yang dia kenal sangat baik.
Nomor yang masih dia simpan dengan nama Cintaku, karena lupa belum dia edit, nomor yang kini terasa seperti nomor asing yang salah sambung.
Alan.
Ruby menatap layar dengan mata yang tidak berkedip, tapi dadanya terasa sakit.
Dia mengangkat panggilan itu.
"Ruby," suara Alan terdengar dari speaker. Suara yang terdengar seperti pria yang kebanyakan menangis atau kurang tidur atau keduanya. "Ruby, tolong dengarkan aku. Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu merasa aku mengkhianatimu. Tapi ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Sayang. I-ini…"
"Jangan panggil aku, Sayang," potong Ruby.
Suaranya begitu dingin sehingga dia sendiri terkejut. Begitu tajam sehingga Alan terdiam di ujung sana dan di dalam jeda keheningan itu, Ruby bisa merasakan getaran amarah yang ditahan, bisa merasakan kekuatan. Kekuatan untuk mengambil kendali.
"Kau tidak punya hak untuk memanggilku apa pun, Alan. Kau kehilangan hak itu ketika kau memilih meniduri adik tiriku di tempat tidur milikku."
"Ruby, a-aku…" Alan mencoba lagi, suaranya naik dengan nada memohon yang dulu selalu berhasil membuat Ruby melunak, yang selalu berhasil membuatnya memaafkan dan melupakan kesalahan Alan.
"Aku dibuat bingung. Lumia, dia... dia datang padaku dengan cerita-cerita tentangmu, tentang bagaimana kau berselingkuh di luar negeri, tentang bagaimana kau tidak pernah benar-benar mencintaiku. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat tiba-tiba dia menawarkan kehangatan. Aku…"
"Kau tidak tahu apa yang kau pikirkan, Alan? Sungguh?" Ruby mengulang dan tawa yang keluar dari bibirnya terdengar seperti suara nenek sihir, seperti lonceng kematian untuk hubungan indah mereka, “itu alasan terbaik yang bisa kau buat? Bahwa kau tidak tahu? Bahwa kau lebih memercayai Lumia? Dia Lumia, Alan, wanita yang selalu iri padaku sejak kami berbagi atap yang sama. Kamu lebih percaya padanya daripada memercayai tunanganmu sendiri? Itu maksudmu, kan?”
Di ujung sana, Alan terdiam lagi. Ruby bisa membayangkan wajah tampannya yang kini pasti berkerut dengan kebingungan. Tangan yang selalu terlalu lembut untuk pria sebesar dirinya mengusap rambut dengan frustrasi, d**a kekar yang pernah dia anggap sebagai rumah tapi kini terasa seperti tempat asing yang telah dia tinggalkan.
"Aku akan memerbaikinya, Ruby. Aku janji." Kata Alan, masih coba merayu Ruby. Suaranya penuh dusta, yang terdengar seperti janji yang dibuat di tengah malam tapi akan dilanggar saat fajar. Dasar pembohong!
"Aku akan menikahimu, Ruby. Kita masih bisa menikah. Lumia bisa menunggu, dia bisa…"
"Lumia sedang hamil, Alan," Ruby memotong, kata-kata itu keluar dengan begitu datar sehingga terasa seperti pengumuman jadwal kereta api berangkat.
"Dia memberitahu semua orang di grup. Undangan juga sudah tersebar. Nama yang seharusnya namaku, sudah diganti dengan namanya. Apa yang bisa kau perbaiki dari semua itu? Apa yang bisa kau lakukan selain menikahi wanita yang kau buat hamil dan berharap aku akan menunggumu di sudut seperti anjing setia sampai kau selesai bermain rumah-rumahan dengan adik tiriku?" Desis Ruby, menahan emosi.
"Ruby, aku mencintaimu," kata Alan. Dulu, kata-kata itu bisa membuat dunia Ruby berhenti berputar tapi kini terdengar seperti gema dari gua yang dalam, seperti suara dari masa lalu yang tidak lagi memiliki makna. "Aku akan menceraikan Lumia setelah dia melahirkan. Aku akan membereskan semuanya. Kita bisa menikah kemudian, diam-diam, tanpa mereka tahu. Aku hanya butuh waktu…"
"Waktu...," Ruby mengulang, dan kali ini ketika dia tersenyum, senyum itu mencapai matanya yang berkilau penuh tekad, sesuatu yang tidak bisa dibuat lunak oleh kata-kata manis apapun. "Kau butuh waktu dan aku butuh kepala yang tidak penuh dengan kebohonganmu, Alan. Selamat tinggal."
Ruby menutup panggilan itu sebelum Alan bisa menjawab, menutup dengan gerakan yang begitu cepat sehingga ponsel hampir terlepas dari tangannya. Dia berdiri di tengah kamar dengan napas yang terengah seolah-olah baru saja berlari maraton. Tangannya gemetar, tapi kali ini bukan karena amarah tapi karena sesuatu yang lebih rumit dan lebih gelap.
Dia telah menolak Alan.
Dia yang menutup telepon lebih dulu.
Dia telah membuat pilihan.
Dan pilihannya bukan pria yang telah mengkhianatinya, tapi pria yang telah membelinya dengan kontrak yang berdarah.
***
Ketika Ruby turun ke ruang tamu beberapa jam kemudian, setelah mandi air panas yang begitu lama sehingga ujung jarinya berkerut, setelah dia mengenakan gaun hitam sederhana yang dia temukan di lemari dengan potongan yang begitu sempurna seolah-olah dibuat untuknya, setelah menata rambutnya menjadi sanggul kecil yang menampakkan lehernya yang jenjang dan garis rahangnya yang tegas, dia melihat Alaric sudah berdiri di depan jendela kaca ruamg makan, menatap kota yang terbangun karena cahaya matahari yang terlalu cerah ini dengan postur yang begitu tegang seolah-olah sedang menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Pria itu berbalik begitu Ruby menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Di matanya yang gelap Ruby melihat sesuatu yang tidak dia duga, kelegaan. Kelegaan yang muncul dan hilang begitu cepat sehingga hampir tidak terlihat, tapi cukup nyata untuk membuat Ruby berhenti sejenak, cukup nyata untuk membuatnya bertanya-tanya sudah berapa lama Alaric berdiri di sana menunggunya turun. Sudah berapa lama Alaric menahan diri untuk tidak menaiki tangga dan mengecek keadaannya.
"Aku tahu kamu sudah dengar semua," kata Ruby ringan, bukan sebuah pernyataan.
Alaric mengangguk perlahan, satu kali tapi tegas, "Fandi meneruskan sebuah pesan. Undangan itu tersebar di grup yang juga ada beberapa kolega bisnisku."
Alaric berhenti, jarinya yang panjang bermain-main dengan gelas kopi yang tidak dia minum. Ketika ia berbicara lagi ada sesuatu yang terdengar nyata di suaranya, sebuah perhatian, "Ruby kecil, kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu memang begitu sederhana dan manusiawi. Tapi begitu tidak cocok dengan sosok pria yang kemarin menatapnya dengan mata kelaparan.
Pertanyaan itu membuat Ruby terkejut. Matanya melotot melihat ke Alaric penuh ketidakpercayaan. Dia berusaha mencari jejak ejekan atau hinaan, tapi yang dia temukan hanyalah ketulusan dan kekhawatiran. Tapi bagi Ruby, ketulusan itu malah salah tempat, tidak dia diharapkan karena berbahaya bagi hatinya.
"Aku masih hidup," kata Ruby akhirnya, suaranya lebih parau daripada yang dia inginkan, "itu lebih dari yang bisa kukatakan tentang hubunganku dengan keluarga sialan itu."
Alaric meletakkan gelasnya dengan lembut di meja. Dia mendekati Ruby dengan langkah-langkah panjang dan terukur sehingga Ruby merasa seperti mangsa yang hendak diterkam meskipun dia berdiri di tengah ruangan yang begitu luas.
Alaric berhenti tepat di depannya, begitu dekat sehingga Ruby bisa mencium aroma kopi dan parfum beraroma woody yang dia tahu hanya milik Alaric. Ruby harus mendongak untuk menatap mata yang gelap itu.
"Aku bisa mengantarmu," kata Alaric lembut. Suaranya lirih seperti bisikan yang hanya terdengar oleh mereka berdua.
"Aku antar kamu ke rumah itu, ke pertunangan yang mereka rencanakan. Aku bisa berdiri di sampingmu, memerkenalkan diriku sebagai..."
"Tidak," potong Ruby begitu cepat sehingga Alaric mengangkat alisnya dengan ekspresi terkejut jika wajahnya yang sempurna itu memungkinkan ekspresi sejelas itu.
Ruby menggeleng. Dia mundur selangkah dan ketika dia berkata lagi suaranya lebih tenang, "jangan sekarang karena saat ini aku ingin mereka tidak tahu. Aku ingin memenuhi undangan makan dari mereka dan pergi ke sana sendiri, dengan mobil yang kau sediakan, dengan Fandi yang profesional agar mereka menyangka aku sudah menyerah kalah."
Senyum tipis yang dingin terbit di bibirnya yang berpoles lipstik warna merah tua. Warna yang dia pilih dengan sengaja, karena itu adalah warna perang.
"Karena Alaric, ketika waktunya tepat, saat mereka merasa paling aman, ketika mereka merasa menang, barulah aku akan mengenalkanmu ke dunia. Bukan sebagai penyelamatku. Bukan juga sebagai pahlawanku. Melainkan sebagai pemilikku. Sebagai pria yang telah membeli apa yang mereka buang dengan begitu mudahnya. Sebagai Nyonya Alaric Mahesa."
Nama itu, Nyonya Alaric Mahesa, terasa asing di lidah Ruby. Terasa seperti gaun yang terlalu besar, terasa seperti peran dalam drama yang ia tidak tahu akhirnya. Tapi ketika dia melihat reaksi Alaric, dia melihat pupilnya yang melebar, melihat rahangnya yang mengencang, melihat matanya gelapnya berkilau oleh kebanggaan, Ruby tahu bahwa dia telah membuat pilihan yang tepat.
"Kau memainkan permainan yang berbahaya, Ruby kecil," bisik Alaric di telinga Ruby dan hembusan napasnya membuat bulu kuduk Ruby meremang. Suara seksi Alaric saat berkata Ruby kecil lagi-lagi terdengar seperti mantra di telinga Ruby, seperti penanda kepemilikan, seperti janji yang tidak bisa dibatalkan.
"Kau yang mengajariku, kan?" balas Ruby. Untuk pertama kalinya sejak dia menandatangani kontrak itu, dia merasa setara. Seperti pemain, bukan pion, seperti api, bukan lilin.
Alaric tersenyum, dan senyum itu nampak berbahaya. Penuh dengan janji gelap dan rahasia yang belum terungkap, "Fandi akan mengantar dan menunggumu. Dia akan menjadi pengawalmu," katanya tegas, tidak mau dibantah.
Alaric berbalik hendak meninggalkan ruangan itu tapi berhenti di ambang pintu, menoleh dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Ruby...," lagi-lagi dia menjeda, seolah-olah memertimbangkan kata-kata selanjutnya, "jangan biarkan mereka melihatmu menangis. Tapi buat mereka melihat permata yang mereka buang. Buat mereka menyesal. Buat mereka merasa takut."
***
Rumah di Jalan Mawar nomor 7adalah rumah yang dulu milik ayah kandung Ruby. Tapi rumah itu kini ditempati Indri dan Lumia setelah memalsukan sertipikat. Gilanya lagi, Lumia dengan perut yang masih rata tapi sudah mengumumkan dia hamil, yang artinya perutnya berisi benih pengkhianatan.
Fasad putih yang sama, kolom-kolom besar ala Yunani yang sama, bunga mawar yang bermekaran dengan liar karena tidak ada Ruby yang merawatnya penuh cinta. Ketika Ruby melangkah keluar dari mobil hitam yang Alaric sediakan, sebuah mobil yang begitu mewah sehingga tetangga-tetangga melotot melihatnya. Ruby merasa seperti orang asing yang datang ke tempat yang dulu pernah menjadi rumahnya.
Atau mungkin, pikirnya sambil menaiki anak tangga marmer dengan punggung tegak dan dagu terangkat, dia merasa seperti hantu yang kembali untuk mengklaim apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Pintu terbuka sebelum dia mengetuk dan nampaklah wajah Indri yang selalu siap dengan senyum palsu. Ekspresi wajahnya seolah hampir terkejut, karena Indri terlalu terlatih untuk menyamarkan emosi sehingga orang lain tidak tahu apa yang dia rasakan sebenarnya.
Mata lebar yang sama dengan Lumia, mata yang dulu Ruby anggap indah dan ramah, kini hanya terlihat seperti mata ular. Indri melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, menilai gaun hitamnya dengan potongan sederhana tapi terlihat mahal, menilai sanggul rambutnya yang rapi. Indri tahu ada yang berbeda pada cara Ruby berdiri, pada cara Ruby menatap balik dan cara gadis itu mengangkat dagu dengan pongah seolah tidak lagi memohon pengakuan.
"Ruby," sapa Indri. Saat namanya disebut oleh bibir ibu tirinya, entah kenapa terdengar seperti pengingat akan statusnya yang rendah, "kamu datang."
"Tentu saja aku datang," Ruby membalas, suaranya begitu lembut sehingga terasa seperti lipatan beludru yang menyembunyikan pisau, "kamu mengundangku untuk makan keluarga, bukan? Untuk merayakan pertunangan adikku tercinta dengan calon suamiku yang dulu. Bagaimana mungkin aku bisa melewatkan itu?"
Rahang Indri mengencang mendengar sindiran Ruby. Senyum palsunya tidak goyah tapi matanya yang tajam menunjukkan ada sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan lagi dari Ruby yang sekarang berdiri di depannya.
"Masuklah," katanya. Sedikit bergeser untuk memberi jalan seolah-olah berharap Ruby akan tersandung atau setidaknya menundukkan kepala seperti yang dulu selalu gadis itu lakukan.
Tapi Ruby tidak tersandung juga tidak menunduk. Dagunya tegak, terasa pongah.
Ruby melangkah masuk dengan keanggunan yang dia pelajari dari ibunya yang dulu dan langsung menuju ruang makan. Dia tahu rumah ini lebih baik daripada siapapun, tahu setiap sudut yang bisa menyembunyikan rahasia, setiap langit-langit yang pernah menjadi saksi tangisnya, setiap dinding yang pernah menahan suara tamparan yang Indri berikan ketika Donni, ayah sambungnya, tidak ada di rumah.
Ruang makan itu telah diatur sedemikian rupa untuk sebuah acara pengumuman pertunangan yang bukan miliknya. Meja panjang yang dulu digunakan untuk makan keluarga, kini dipenuhi dengan bunga-bunga putih, penuh lilin-lilin yang menyala seolah-olah berusaha mengusir bayangan-bayangan yang tidak diinginkan.
Di ujung meja, di sebelah kursi tunggal yang dulu menjadi tempat duduk untuk ayahnya, duduk Lumia dengan gaun merah muda yang terlalu keetat seolah ingin memerlihatkan lekuk tubuh seksinya. Tangannya terlalu sering dan sengaja mengusap perutnya yang masih rata seolah memohon untuk diperhatikan.
Di sampingnya, duduk Alan dengan wajah lesu, sedari tadi menunduk menghindari tatapan Ruby.
Ruby melihat wajahnya yang tampan kini terlihat lebih pucat daripada yang dia ingat, melihat mata yang tidak berani menatapnya lebih dari satu detik, melihat tangan yang dulu selalu lembut mengelusnya diiringi dengan janji-janji palsu yang menguap tepat di depan mata Ruby.
Ruby tahu Alan sangat canggung padanya hingga hampir membuatnya tertawa kesal.
"Kak Ruby!" teriak Lumia dengan suara yang terlalu ceria, terlalu dibuat-buat, terlalu penuh dengan kemenangan yang belum sepenuhnya dia miliki. "Kakak! Aku sangat senang kau datang! Aku khawatir kau akan terlalu sedih untuk hadir di acara ini." Katanya, dengan ekspresi wajah yang membuat Ruby ingin melempar sepatu hitam hak tinggi yang dia pakai ke wajah ular itu.
Ruby menatap Lumia dengan senyum lembut dan begitu dingin.
"Kenapa aku harus sedih, Lumia?" tanyanya. Suara Ruby mengalun seperti musik yang indah, "Indri mengundangku di hari bahagiamu. Hari bahagia kalian berdua. Aku di sini untuk...."