Ruby berjalan ke kursi di seberang pasangan itu, posisi yang sengaja dia pilih agar bisa melihat mereka berdua tanpa harus memutar kepala. Dia duduk dengan punggung tegak yang dipelajari dari Alaric, dengan postur yang seolah berkata, ‘aku di sini bukan sebagai korban tapi sebagai penonton yang akan menikmati pertunjukan kehancuranmu.’
Indri duduk di kepala meja, di kursi yang seharusnya menjadi milik Donni yang entah ke mana perginya. Ayah sambungnya itu sering tidak pulang, sering menghindari konflik, sering membiarkan dirinya disiksa oleh wanita yang dia nikahi karena bujuk rayu maut Indri.
Indri menatap Ruby dengan mata yang menyipit berusaha mencari celah, mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memicu ledakan yang dulu selalu berhasil membuat Ruby menangis, memohon, kemudian melarikan diri ke kamarnya dan mengunci pintu.
Tapi Ruby yang sekarang sungguh berbeda, tidak ada celah padanya. Ruby menatap balik Indri dengan mata yang sama dinginnya juga dengan senyum yang sama tenangnya.
"Jadi," akhirnya Indri bersuara. Suaranya mengalun dengan nada yang dimaksudkan untuk menjadi ramah tapi terdengar kaku, "karena sudah lengkap, kita akan mulai acara makan ini. Kita semua di sini untuk merayakan hari bahagia antara Lumia dan Alan. Lumia membawa kabar yang membahagiakan."
Indri berhenti untuk menatap Ruby dengan intensitas yang erlalu menantang, seolah minta untuk diperhatikan. Ruby mengangguk perlahan, mengambil cangkir teh yang telah disiapkan di depannya tapi bibirnya tidak benar-benar menyentuh cangkir itu. Alaric sudah berpesan agar dia tidak menyentuh makanan atau minuman yang disediakan oleh tuan rumah.
"Lumia hamil," Indri melanjutkan dan kata-kata itu terdengar seperti gong yang dibunyikan di tengah keheningan, “anak Alan. Sehingga, sebagai kepala keluarga, aku sudah memutuskan bahwa pernikahan yang direncanakan bulan depan masih akan tetap berlangsung. Toh, semuanya sudah siap, gaun, katering, gedung juga undangan. Hanya saja, pengantin perempuannya akan diganti. Bukan Ruby, melainkan Lumia."
Kata-kata beracun Indri seharusnya menghancurkan Ruby, seharusnya membuatnya menangis atau berteriak atau setidaknya memrotes marah. Nyatanya malah diterima dengan ketenangan luar biasa yang membuat ruangan terasa mencekam.
"Bagus," kata Ruby.
Hanya satu kata saja. Tapi ada kekuatan tersembunyi untuk mengubah atmosfer di ruangan itu, dari kemenangan menjadi kebingungan, dari kebanggaan menjadi kecurigaan.
"Bagus?" Lumia mengulangnya. Suaranya naik karena bingung dengan senyum yang goyah di bibirnya yang terlalu merah. "Kak Ruby, maksudmu…" bahkan Alan seketika menoleh ke arah Ruby dengan kening berkerut.
"Maksudku," Ruby memotong, suaranya masih begitu lembut, tenang sekaligus mematikan, "kau pemulung bukan? Jadi kau boleh mengambilnya,” Ruby kedikkan bahu seolah berkata itu adalah hal yang biasa saja untuknya. Tanpa ada yang tahu betapa dia ingin mencakar wajah cantik Lumia.
“Kau boleh mengambil Alan. Kau boleh mengambil gaun yang seharusnya kukenakan. Kau boleh mengambil hari yang seharusnya menjadi milikku. Kau boleh mengambil semuanya, Lumia. Karena yang kau ambil…" dia berhenti, menatap Alan yang juga menatapnya dengan mata yang penuh penyesalan. Sungguh terlihat keinginan Alan untuk mendapatkan maaf dan kembali pada Ruby, "...yang kau ambil adalah barang bekas yang memang sudah tidak layak kupakai."
Kata-kata itu, barang bekas yang tidak layak kupakai, terdengar seperti sebuah pengakuan yang menyerahkan barang tidak berharga pada orang lain. Cara Ruby mengucapkannya, dengan dagu yang terangkat dan mata penuh percaya diri, membuat kata-kata itu terasa seperti pedang tajam.
Wajah Lumia dan Alan memerah bukan karena malu. Hei, Lumia tuh tidak tahu arti malu. Wajahnya memerah karena menahan amarah yang tidak bisa dia ungkapkan. Karena tiba-tiba kemenangannya terasa pahit.
Ruby tidak bereaksi seperti yang dia harapkan. Lumia sengaja menggenggam tangan Alan di meja makan, agar Ruby melihatnya kemudian berkata dengan suara manja yang nyata hanya dibuat-buat, "kau iri. Kau hanya iri karena akhirnya aku yang akan menikah dengan Alan, bukan kau."
Ruby tersenyum kecil, Indri melihat senyum itu berbahaya dan penuh dengan rahasia yang belum terungkap, "iri katamu?" ulang Ruby dengan suaranya yang hampir seperti tawa.
"Kenapa aku harus iri, Lumia? Aku di sini, duduk di depanmu, di depan kalian, dengan tubuh yang tidak membawa beban siapapun. Dengan masa depan yang tidak terikat pada pria bodoh yang tidak bisa membedakan ketulusan dengan kebohongan. Justru kau yang membawa beban di perutmu.” Kata Ruby dengan tajam.
“Ngomong-ngomong Lumia, aku kasian padamu. Kau akan terikat pada pria yang akan selalu melihatku di matamu setiap kali dia menatapmu. Kau yang..." Ruby berhenti, ekspresi wajahnya terasa seperti sebuah ejekan, "...kau memenangkan hadiah yang bahkan tidak kuinginkan lagi."
Keheningan menyergap mereka karena terkejut mendengar RUby mampu berkata seprti itu. Bankan Ruby bisa mendengar detak jam dinding, bisa mendengar napas Alan yang terengah melihat ke arahnya penuh ketidakpercayaan, bisa mendengar Lumia mengumpatinya pelan. Mungkin saja Lumia baru menyadari bahwa ternyata dia tidaklah mengalahkan kakak tirinya yang selalu membuatnya iri.
Indri berusaha mengambil alih kendali, suaranya naik dengan nada yang dimaksudkan untuk menjadi otoritatif tapi terdengar seperti kepanikan yang tersamar, "Ruby, kau tidak mengerti. Ini demi kebaikan keluarga. Anak itu butuh nama ayah. Lumia butuh…"
"Lumia butuh apa yang selalu kau berikan padanya," Ruby memotong, untuk pertama kalinya suaranya naik, untuk pertama kali ucapannya ada api yang membakar.
"Putri kesayanganmu itu butuh apa yang selalu kau ambil dari orang lain. Tapi itu bukan urusanku lagi, Indri. Kau ingin rumah ini? Ambil saja. Kau ingin pria tidak setia itu, Lumia? Ambil saja. Dan Indri, kau ingin menganggap dirimu sebagai kepala keluarga yang sempurna sementara kau duduk di kursi yang dicuri dari orang mati? Silakan. Aku tidak peduli." Jawab Ruby penuh penekanan.
“Lagipula, apa katamu tadi? KEbaikan keluarga? Keluarga mana, keluarga siapa? Jangan pernah sok baik menganggap kalian adalah keluargaku, karena…” Ruby membuang napas saat melanjutkan, “kalian pengkhianat.”
Ruby berdiri, merasa sudah tidak ada lagi keperluan di rumah ini. Tapi tangan Indri, tangan yang menamparnya berkali-kali selama belasan tahun, tangan yang menjambak rambutnya berkali-kali, tangan yang meninggalkan bekas luka yang tidak terlihat, tiba-tiba saja terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Ruby dengan kekuatan penuh.
Ruby meringis merasakan kekuatan tangan Indri yang masih sama menyakitkan, masih sama mengingatkannya pada kesewenangannya.
"Kau tidak boleh pergi," kata Indri, penuh emosi, “kau tidak boleh datang ke sini, berkata hal-hal seperti itu kemudian pergi begitu saja seolah-olah kau lebih baik dari kami. Kau tidak lebih baik, Ruby. Kau hanya…”
"Aku hanya apa, Indri?" tanya Ruby dengan suara yang begitu tenang sehingga membuat Indri terdiam, dan membuat tangan yang mencengkeram tangan Ruby melonggar sedikit. "Aku hanya anak perempuan naif yang kau siksa selama sepuluh tahun? Aku hanya ahli warisan yang rumahnya kau coba curi dengan sertipikat palsumu? Aku hanya…" Ruby menarik tangannya dengan gerakan yang begitu cepat sehingga Indri tidak punya waktu untuk bereaksi.
Ruby menyambung lagi, "dengar Indri, aku hanya seseorang yang kau tidak akan pernah lagi bsia kau sakiti, bisa kau hina. Tapi sekarang, aku, Rubyana Ardhana, adalah seseorang yang telah menghitung baik buruknya orang lain dan aku menemukan tempat yang lebih tinggi daripada lumpur yang kau coba kuburkan aku."
Ruby berjalan ke pintu dengan langkah kaki yang begitu mantap sehingga tidak ada yang berani lagi menghentikannya.
Tapi ketika Ruby mencapai pintu, ketika tangannya menyentuh kenop yang dingin, suara Alan akhirnya keluar, memanggilnya penuh rindu.
"Ruby, tunggu. A-aku bisa menjelaskan…”
Ruby berhenti tapi tidak berbalik. Hanya berhenti, dengan punggung yang masih tegak dan bahu yang tidak bergetar, dia berkata dengan suara tajam, “kau sudah membuat pilihanmu, Alan. Dan aku telah membuat pilihanku. Selamat tinggal."
Langkah kakinya yang terbungkus sepatu hak tinggi berbunyi ritmis menimbulkan sebuah suara yang tegas tanpa keraguan. Namun, saat Ruby hampir mencapai mobilnya, Alan berlari ke arahnya dan menarik tubuhnya.
"Tidak! Tunggu kubilang!"
Cengkeraman tangan itu mendarat di lengan atas Ruby. Sangat kasar dan penuh dengan keputusasaan yang memuakkan. Ruby tersentak, tubuhnya sampai berputar. Ruby lihat wajah Alan tampak berantakan dan menyedihkan. Napasnya memburu, matanya memerah oleh campuran antara rasa bersalah dan ego yang terluka. Tapi dia tetap berusaha menaklukkan hati Ruby.
"Lepaskan," desis Ruby. Suaranya memang tidak keras, tapi matanya tertumbuk pada tangan Alan yang tetap ada di lengannya. Wjah Ruby menunjukkan rasa jijik yang tidak dapat disembunyikan.
"Dengarkan aku dulu, kumohon," suara Alan serak, jemarinya justru mengunci lebih erat pada lengan Ruby hingga meninggalkan bekas merah, "Lumia, dia menjebakku, Ruby. Malam itu aku dibuat mabuk olehnya, aku tidak sadar. Aku mencintaimu, hanya kau. Pernikahan ini hanya formalitas demi anak itu, setelah dia lahir, aku akan…"
"Kau akan apa?" Ruby memotong, bibirnya melengkung membentuk senyum yang lebih dingin dari embun pagi hari. Dia berusaha menepis tangan Alan yang masih menempel di lengannya seolah-olah tangan itu adalah serangga menjijikkan, "kau akan membuangnya setelah kau menikmati tubuhnya? Seperti kau membuangku setelah lima tahun kebersamaan kita? Lagipula Alan, mabuk itu hanya terjadi pada saat yang pertama kali, bukan? Tapi berikutnya, kalian lakukan itu dengan amat sadar, bahkan kamu..." Ruby pejamkan mata teringat video di jacuzzi yang dikirim Maya, "kamu dengan suka cita melakukan persetubuhan dengan adik tiriku yang culas itu! Itu yang kamu minta aku untuk pahami, hah?"
Ruby menyentakkan lengannya dengan satu gerakan kuat, sebuah penolakan fisik yang membuat Alan terhuyung mundur. Ruby membersihkan bagian lengannya yang tadi disentuh Alan dengan punggung tangan, seolah-olah pria itu baru saja mengotorinya dengan kuman yang mematikan.
"Ruby, jangan seperti ini. Aku tahu kau masih peduli. Tatapanmu tadi di dalam... kau tidak bisa membohongi aku," Alan kembali merangsek maju, matanya berkilat liar.
Dia mencoba meraih jemari Ruby, berusaha memanggil kembali memori-memori manis mereka yang pernah tercipta yang kini telah membusuk.
Ruby melangkah mundur, dagunya terangkat tinggi. "Jangan lancang menyebut namaku dengan mulut yang sudah mencumbu adik tiriku, Alan. Kau tahu apa yang paling menyedihkan?" Ruby menjeda, matanya menyapu sosok Alan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan sekaligus menjijikkan, "melihatmu memohon seperti ini membuatku sadar betapa rendahnya seleraku dulu."
Emosi Alan akhirnya naik juga karena RUby selalu menolaknya. Akhirnya dia berucap ancaman yang membuat Ruby ingin memotong habis burungnya, "kalau begitu, kamu akan menyesal Ruby. Kamu akan menyesal karena telah menolakku. Lihat saja, akan kubuat kamu berlutut di kakiku untuk memintaku kembali padamu!"
Tidak berapa lama kemudian, raungan mesin Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan Ruby setelah Alan menyumpahinya. Ruby berbalik, melihat rumah warisan ayahnya untuk terakhir kali tapi gerakan kakinya masuk mobil terhenti saat suara Indri terdengar. Entah sejak kapan wanita ular itu berada di situ.
Di teras rumah, Indri dan Lumia berdiri dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan sekaligus rasa iri yang tidak bisa mereka sembunyikan, melihat bagaimana wanita yang beberapa waktu lalu mereka usir dengan hinaan kini kembali dengan kemewahan yang bahkan tidak bisa diberikan oleh Alan.
Bibir Indri melengkung, bertanya sinis, "jadi pria mana lagi yang kau jadikan korban untuk membiayai gaya hidupmu ini, Ruby? Siapa pria malang yang kau jerat untuk menggantikan posisi Alan?" tanya Indri dengan suara yang sengaja dikeraskan, sementara Lumia di sampingnya tersenyum licik sembari mengusap perutnya, menantikan kehancuran mental kakak tirinya.
Tapi mereka salah. Ruby yang sekarang, berbeda dengan Ruby yang lalu. Dia tersenyum kecil, tidak meledak marah. Dia malah sengaja menatap Indri dan Lumia dengan mata sedingin es, “kalian akan tahu nanti.”
Mata Alan menyipit melihat mobil mewah itu, berharap yang ada di pikirannya salah, ‘tidak, itu tidak mungkin mobil milik Pak Alaric. Ruby tidak mungkin punya hubungan dengan pria dingin itu.'
*
Keesokan Hari
Maya datang menemui Ruby dan Alaric, tentu saja dia harus memastikan bahwa sepupunya yang tampan tapi sedingin es di kutub utara ini akan memerlakukan sahabatnya dengan baik.
"Kalian ada masalah denganku? Kenapa kalian melihatku seolah ingin mengulitiku?" tanya Alaric, tanpa mengangkat mata dari formulir yang sedang dia periksa untuk kesekian kalinya. Suaranya datar, profesional, sama sekali tidak mengandung getaran emosional apa pun.
Ruby menarik napas dalam, “sesuai kontrak, kita akan menikah. Tapi aku bukan barang yang bisa kau beli, Alaric. Aku bukan wanita simpanan yang bisa kau sembunyikan di apartemen dan kau kunjungi sesuka hatimu. Kita akan menikah secara resmi," Ruby berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat, "catatan sipil dan KUA. Aku punya harga diri dan hanya itu yang tersisa dariku.”
“Aku setuju, Al, awas saja kalau kamu selingkuhi Ruby, aku gak akan segan mengirimimu santet online!” kata Maya bersemangat yang direspon pelototan mata oleh Ruby.
Alaric akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya menatap Ruby sangat intens, membuat Ruby ingin melangkah mundur, tapi kakinya menolak perintah otaknya.
"Baiklah, kita akan melakukan ini dengan cara yang kau inginkan. Kantor catatan sipil dan KUA untuk pencatatan resmi. Tapi tidak ada pesta, tidak ada undangan, tidak ada foto-foto yang bisa jadi bukti bagi siapa pun yang mencari."
"Kenapa harus diam-diam?" tanya Maya, “kalau ini pernikahan resmi, kenapa harus seperti transaksi obat terlarang?"
"Karena kalau Alan tahu Ruby sudah menjadi istri sahku, " Alaric menjeda, menyandarkan punggungnya, “maka semua rencana akan percuma. Status kami akan menjadi hal yang membungkam mereka semua, terutama Indri. Aku akan mengenalkanmu sebagai Nyonya Alaric Mahesa dan melihatnya hancur."
"Satu lagi, Alaric, aku mau saksi dari pihakku, hanya Maya. Tidak ada yang tersisa dari keluargaku yang bisa dipercaya untuk jadi wali, jadi kau yang atur."
"Fandi akan mengurusnya. Wali hakim, semuanya, kau hanya perlu duduk di sampingku, mengucapkan janji dan menandatangani dokumen." Alaric berdiri mendekati Ruby, mengangkat dagunya agar menatapnya, “Ruby, jangan berpikir ini membuatmu aman. Pernikahan kita resmi atau tidak, kau tetap milikku. Hanya sekarang, kau milikku dengan nama yang sah di depan hukum."
*
Pria paruh baya yang menjadi wali hakim Ruby, duduk tegak dengan mata yang menunjukkan dia terlalu sering menjadi saksi bagi pernikahan-pernikahan yang tidak dilandasi cinta. Dia berucap kalimat dengan monoton.
Fandi, yang berdiri di belakang Alaric, telah menyiapkan segalanya dengan sempurna. Dari surat-surat yang tiba-tiba sudah lengkap dengan stempel dan tanda tangan, hingga wali hakim yang tiba-tiba tersedia di hari yang seharusnya dia cuti.
Pencatatan di catatan sipil dan KUA berlangsung lebih cepat daripada yang Ruby kira. Atau mungkin Fandi memang seefisien yang dikatakan Alaric, atau mungkin juga uang dan kekuasaan memang bisa memercepat waktu.
Usai pernikahan kilat itu, Maya menangis di sudut ruangan, bungkus tisu yang dia bawa dari rumah sudah berubah menjadi bola kertas basah. Herannya, Ruby tidak menangis karena air matanya habis sejak malam dia melihat video syur 47 detik itu.
"Selamat," kata petugas dengan suara datar, seolah menunjukkan dia sudah mengucapkan kata itu seribu kali dan akan mengucapkannya ribuan kali lagi, "kalian sudah resmi menjadi suami istri."
Tidak ada ciuman ataupun pelukan. Hanya Alaric yang condongkan tubuh untuk mencium kening Ruby hingga sempat membuat pipi gadis itu merona walau sesaat dan Maya bertepuk tangan karena euforia.
Usai mengantar Maya ke rumahnya, secara resmi Ruby tinggal bersama Alaric di penthouse super mewahnya.
“Antar Ruby ke kamar untuk istirahat,” titah Alaric pada Fandi yang dijawab dengan anggukan patuh.
Ruby mengikuti Fandi yang sepanjang perjalanan ke kamar, pria itu hanya diam. Tapi saat hendak masuk ke kamar, langkah Ruby membeku saat mendengar suara Fandi yang penuh kelembutan berkata padanya.
"Nyonya Ruby," kata Fandi dengan mata tetap waspada seperti elang, "boleh aku berbicara denganmu sebentar?" Fandi tidak mau repot berbasa-basi.
Ruby mengangguk, "ada apa?"
Fandi menghela napas dan untuk pertama kalinya Ruby melihat wajah Fandi yang menanggalkan semua profesionalitas, “aku mengenal Alaric sejak kami masih remaja. Aku melihat perjuangannya jatuh bangun hingga menjadi pria yang bisa membeli kota ini jika dia mau. Aku melihatnya melakukan hal-hal yang…" Fandi berhenti, mencari kata-kata yang tepat.
“Yang…?” Ruby balik bertanya.
"... yang membuatku bertanya-tanya apakah dia masih punya hati." Lanjut Fandi setelah menemukan kata yang tepat
Ruby merasa tidak nyaman di ulu hatinya, namun dia tetap diam dan menunggu.
"Jangan jatuh cinta padanya, Ruby. Jangan biarkan hatimu yang sudah hancur itu menemukan celah untuk tumbuh lagi karenanya. Alaric bukan pria yang cocok untuk dicintai, untuk dijatuhi hati. Kalau kau jatuh cinta padanya, kau akan patah hati. Dan kali ini, patah hatimu akan membunuhmu.” Fandi memeringatkan Ruby.
Ruby ingin tertawa, tapi malah terdengar seperti kekehan hambar, "kau tidak perlu khawatir, Fandi. Hatiku sudah hancur berkeping-keping sejak menonton video sialan itu. Tidak ada lagi yang bisa patah. Tidak ada lagi yang bisa hancur. Secara emosional aku sudah mati dan tubuh ini hanyalah wadah kosong tanpa nyawa.."
Fandi menatapnya dengan mata penuh penyesalan, “justru itu yang aku takutkan. Kata-kata seperti itu yang paling berbahaya, Ruby. Mereka yang bilang hatinya sudah mati, biasanya yang paling mudah untuk kembali terbakar."