Gedung perkantoran bertingkat di pusat Jakarta itu seolah menahan napas saat Clarissa Hartono melangkah masuk. Dengan blazer merah menyala dan sepatu hak tinggi 10 senti yang berbunyi tuk-tuk-tuk dengan irama militer, ia adalah definisi harfiah dari "bos besar yang menakutkan". Di usianya yang baru 27 tahun, ia sudah memegang kendali penuh atas anak perusahaan utama milik ayahnya.
"Laporan bulanan ini sampah! Perbaiki dalam dua jam atau kalian semua tidak usah pulang!" suaranya menggelegar di ruang rapat, membuat para manajer pria yang usianya jauh di atasnya tertunduk lesu.
Namun, di balik kegarangannya, Clarissa punya satu titik lemah: Grup w******p keluarga.
Setiap kali ia membuka ponsel, notifikasi dari tantenya selalu berbunyi sama: "Clarissa, sepupumu yang baru lulus kuliah saja sudah lamaran. Kamu kapan? Ingat, umur 27 itu sudah 'lampu kuning' untuk perempuan."
"Lampu kuning kepalamu itu, Tan," gerutu Clarissa sambil melempar ponselnya ke atas meja kerja. Ia bukannya tidak laku, hanya saja tidak ada pria yang berani mendekatinya. Para pria sukses menganggapnya terlalu dominan, sementara pria biasa minder dengan isi rekeningnya.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Pak Hartono masuk dengan wajah yang kini lebih teduh, lengkap dengan baju koko premium dan tasbih di tangan—pemandangan yang masih terasa asing bagi Clarissa sejak ayahnya memutuskan untuk "hijrah" setelah bertemu Kyai Zubair.
"Papa mau bicara, Clarissa. Ini soal masa depanmu," ujar Pak Hartono lembut.
"Kalau soal bisnis, aku siap. Kalau soal jodoh dengan anak rekan bisnis Papa yang mata keranjang itu, lupakan saja," sahut Clarissa ketus.
Pak Hartono menghela napas, lalu duduk di hadapan putrinya. Ia teringat nasihat ulama yang baru saja ia pelajari tentang pentingnya menjaga hati dan bimbingan yang benar:
الْقَلْبُ كَالْمِرْآةِ، فَإِذَا صُقِلَتْ بِنُورِ الْإِيمَانِ تَبَيَّنَتْ فِيهَا حَقَائِقُ الْأُمُورِ
"Hati itu ibarat cermin; jika ia dipoles dengan cahaya iman, maka akan tampaklah padanya hakikat dari segala perkara."
"Papa ingin hatimu punya cermin yang jernih, Nduk. Papa merasa berdosa selama ini hanya memberimu harta tapi buta agama. Papa sudah menemukan calon untukmu. Dia seorang Ustadz muda di Jombang, murid kesayangan Kyai Zubair."
Clarissa tertawa hambar.
"Ustadz? Papa bercanda? Dia pasti bakal menyuruhku tinggal di kamar, memasak, dan melarangku bekerja. Aku ini CEO, Pa!"
Namun, sebuah pikiran licik tiba-tiba melintas di benak Clarissa. Jika dia menikah dengan seorang ustadz yang "polos" dari desa, bukankah ustadz itu akan lebih mudah dikendalikan daripada pengusaha licik? Lagipula, status "menikah" akan membungkam semua mulut nyinyir tantenya.
"Oke, aku terima," cetus Clarissa yang membuat Pak Hartono terperanjat.
"Tapi ada syaratnya: Dia tidak boleh mencampuri urusan pribadiku, tidak boleh mengatur karierku, dan singkatnya... dia tidak boleh mengekang kehidupanku. Deal?"
Pak Hartono hanya bisa mengelus d**a, berdoa dalam hati agar Ustadz Ilham punya stok kesabaran seluas samudera untuk menghadapi putrinya ini.