Suasana di ruang tamu utama Ndalem Kyai Zubair sore itu terasa ganjil. Desain ruangan yang sederhana namun elegan, penuh dengan ukiran kayu jati dan aroma gaharu yang menenangkan, mendadak terasa sesak. Penyebabnya adalah kehadiran dua kutub yang sangat berbeda.
Di satu sisi, Pak Hartono duduk dengan takzim, terus-menerus melirik putrinya dengan tatapan cemas. Di hadapannya, duduk Kyai Zubair yang tenang, dan Ustadz Ilham yang menjaga pandangannya tetap tertunduk, mengenakan koko putih bersih dan peci hitam.
Di sisi lain, Clarissa Hartono adalah sebuah anomali. Ia datang mengenakan blazer nude mahal yang pas badan, dengan makeup minimalis namun tajam, dan sepatu hak tinggi yang ia silangkan dengan angkuh. Ia duduk dengan melipat tangan, tatapannya dingin menyapu ruangan, seolah sedang menilai harga setiap barang di sana.
"Alhamdulillah, kita bisa berkumpul di sini untuk niat yang mulia," buka Kyai Zubair dengan senyum tulus.
Clarissa hanya mendengus pelan, nyaris tak terdengar. Mulia bagi Papa, mungkin, pikirnya.
Ketika Pak Hartono memperkenalkan Ilham, Clarissa akhirnya bersedia menatap pria itu. Pertahanan mentalnya sedikit goyah.
"Oke, dia tampan. Sangat tampan, sebenarnya. Jauh lebih baik dari perkiraanku yang mengira dia akan lusuh." batinnya jujur.
Namun, kesombongan CEO-nya segera mengambil alih.
"Tampan tapi polos. Tidak punya modal di dunia nyata."dengusnya lirih.
"Jadi, Ustadz," Clarissa membuka suara, nadanya tajam dan jutek.
"Papa bilang Anda seorang ustadz hebat. Tapi jujur saja, dunia kita berbeda jauh. Anda hidup dari kitab kuning, saya hidup dari target omzet miliaran. Saya tidak melihat bagaimana kita bisa sejalan. Anda mungkin akan kaget melihat betapa 'duniawi' kehidupan saya."
Suasana mendadak kaku. Pak Hartono tegang, takut Kyai Zubair tersinggung. Namun, Ilham perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang teduh bertemu dengan mata Clarissa yang menyalang tajam. Ilham tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menunjukkan rasa inferior, melainkan kedamaian yang mendalam.
"Mbak Clarissa," suara Ilham terdengar tenang namun tegas. "Perbedaan di antara kita bukanlah tembok, melainkan jembatan yang belum dibangun. Anda melihat dunia dari puncak gedung pencakar langit dengan target omzet, dan saya melihatnya dari balik naskah klasik dengan target akhirat. Namun, bukankah tujuan kita sama? Ingin bermanfaat bagi banyak orang?"
Ilham memberi jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan kalimat yang membuat pertahanan Clarissa runtuh sedikit.
"Mbak mungkin melihat saya polos. Tapi ketahuilah, dalam kitab Al-Hikam disebutkan bahwa kegelapan yang paling pekat adalah saat seseorang menganggap dirinya sudah bercahaya. Kita berdua sama-sama butuh bimbingan Allah untuk melihat jalan yang benar. Saya di sini bukan untuk mengubah Mbak Clarissa menjadi orang lain, tapi untuk menemani Mbak Clarissa menjadi versi terbaik yang Allah ridhai, tanpa harus kehilangan diri Mbak sendiri. Di hadapan-Nya, kita sama."
Clarissa tertegun. Ia terbiasa dihadapi dengan ketakutan atau sanjungan palsu. Kata-kata Ilham yang jujur, rendah hati, namun mengandung kedalaman spiritual itu terasa asing di telinganya. Ada sesuatu yang luluh di hatinya. Dia tidak takut padaku, tapi dia juga tidak merendahkanku. Dan dia tidak keberatan dengan pekerjaanku?
"Deal-ku masih berlaku," gumam Clarissa ketus, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Jangan pernah mengekangku."
"Insya Allah, janji saya adalah janji Allah untuk menjaga kehormatan istri saya," jawab Ilham, kembali menundukkan pandangannya.