Jam di dinding stasiun perawat melompat pelan menunjuk pukul dua lewat empat belas menit dini hari. Waktu di mana dunia luar di luar jendela kaca Saint Jude Hospital membeku dalam keheningan total, dan koridor-koridor panjang bangsal VIP berubah menjadi labirin sunyi yang dipenuhi bayangan-bayangannya sendiri. Di sayap barat lantai empat, udara malam terasa jauh lebih menusuk dari biasanya. Pendingin ruangan berdengung monoton, bergesekan dengan suara sol sepatu Dr. Park Jaeho yang bergesekan pelan di atas lantai linolium putih yang memantulkan pendar lampu darurat berwarna kekuningan.
Jaeho baru saja keluar dari ruang ICU setelah menangani kasus darurat seorang pasien pasca-operasi besar yang mengalami komplikasi mendadak. Matanya terasa berat, dibalut kelelahan akut yang berakar setelah hampir dua puluh jam tidak tidur secara layak. Ia berniat kembali ke ruang jaganya untuk sekadar meregangkan otot leher yang kaku dan meneguk sisa air hangat di cangkirnya, namun insting seorang dokter yang telah bertahun-tahun ditempa oleh tekanan rumah sakit besar membuat langkah kakinya terhenti tepat di persimpangan lorong menuju kamar-kamar VIP.
Ada sesuatu yang ganjil di udara malam itu. Sebuah keheningan yang terasa berbeda—bukan keheningan yang menenangkan atau membawa kedamaian, melainkan keheningan yang menyisakan ketegangan tak kasat mata, seolah ada sesuatu yang sedang bergeser di luar batas kesadaran normal.
Jaeho mengubah arah tujuannya, berjalan menyusuri koridor panjang tempat kamar 402 berada. Lampu-lampu utama di sepanjang lorong telah dipadamkan sejak tengah malam, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu emergensi yang meredup di setiap sudut dinding. Saat ia mendekati deretan pintu kamar pasien, matanya menangkap sebuah siluet samar di ujung koridor yang membentang luas, tepat di dekat jendela besar lengkung yang menghadap ke halaman parkir rumah sakit yang basah oleh sisa hujan malam.
Langkah Jaeho serta-merta melambat, lalu terhenti sepenuhnya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari normal, memompa darah dengan ritme yang tidak beraturan di dalam dadanya yang sesak oleh kelelahan.
Sesosok tubuh wanita berdiri tegak menghadap kaca jendela yang dingin dan berembun. Rambut hitam panjangnya yang biasa dibiarkan tergerai kini tampak berantakan, menutupi sebagian punggungnya yang kurus. Ia masih mengenakan piyama rumah sakit tipis berwarna biru muda yang tampak jauh kebesaran di tubuhnya. Tidak ada alas kaki di kedua kakinya; jemari kaki yang pucat bersentuhan langsung dengan permukaan lantai keramik yang membeku oleh suhu malam.
Itu Chaerin.
Pikiran Jaeho langsung berpacu menembus kabut kelelahan yang menghimpit kepalanya. Jam berapa ini? Mengapa pasien dengan kondisi psikologis seberat Chaerin berkeliaran di luar kamar pada dini hari tanpa pengawasan? Apakah perawat malam melewatkan sesuatu dalam pengecekan berkala mereka?
"Chaerin-ssi?" panggil Jaeho dengan suara rendah, sangat berhati-hati agar tidak memecah keheningan koridor dengan cara yang bisa memicu kepanikan mendadak atau kejut saraf pada pasien.
Tidak ada respons. Wanita itu tidak bergeming sedikit pun. Posisinya begitu kaku, seperti patung porselen yang diletakkan sembarangan di tengah malam buta.
Saat Jaeho melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya, ia mendapati kelopak mata Chaerin terbuka lebar seperti biasa—tidak terpejam, tidak pula berkedip. Namun, tidak ada binar kesadaran di sana. Sepasang manik mata hitam itu benar-benar kosong, menatap lurus menembus kaca jendela ke arah kegelapan pekat di luar sana tanpa fokus. Ia terjebak dalam kondisi sleepwalking jenis bermata terbuka, di mana raganya bergerak otomatis sementara jiwanya tertidur lelap dalam labirin memori masa lalu.
Dari sudut mata wanita itu, air bening mengalir begitu saja tanpa isakan, meluncur turun melewati pipinya yang tirus dan jatuh menimpa kerah piyamanya. Ia hanya diam mematung. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, tidak ada gerakan meronta; hanya keheningan mutlak yang menyelimuti sosoknya yang rapuh.
Penglihatan itu membuat tenggorokan Jaeho terasa keluh. Buku-buku teks psikiatri selalu mengajarkan aturan dasar yang tidak boleh dilanggar: jangan pernah membangunkan seorang somnambulist secara tiba-tiba. Kejutan mendadak bisa memicu disorientasi parah, serangan panik akut, histeria, atau membuat sistem saraf mereka mengalami shock traumatik yang berpotensi membahayakan kondisi mentalnya.
Tetapi membiarkan wanita itu terus berdiri di sini dalam dinginnya dini hari, dikuasai oleh kekosongan jiwanya, juga bukan pilihan yang bisa ditoleransi.
Jaeho menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di samping Chaerin. Ia bisa mencium aroma samar sabun antiseptik rumah sakit yang bercampur dengan wangi khas tubuh wanita itu. Perlahan, Jaeho mengulurkan tangannya, merentangkan telapak tangannya beberapa sentimeter dari lengan Chaerin—tidak menyentuhnya secara kasar, namun bersiap sedia untuk menopang jika tubuh wanita itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Chaerin-ssi... kita kembali ke kamar, ya?" bujuk Jaeho dengan nada suara paling lembut yang bisa ia keluarkan, bernada rendah dan menenangkan, dirancang khusus agar menembus lapisan bawah sadar tanpa membuatnya tersentak kaget. "Di luar terlalu dingin. Tempat tidurmu sudah menunggu di dalam."
Untuk sesaat, wanita itu tampak sedikit menegang. Jemarinya yang terkulai di sisi tubuhnya bergetar pelan. Bibirnya terbuka tipis, seolah hendak merespons sesuatu, namun tidak ada suara yang lolos selain desiran napasnya yang pelan.
Jaeho menahan napasnya, memperketat kewaspadaannya. Ia tahu mereka sedang berada di garis tipis antara membawa pasien itu kembali dengan selamat atau membiarkan pertahanan mentalnya runtuh di tengah sunyinya malam rumah sakit. Dengan gerakan yang terukur sangat hati-hati dan penuh perhitungan, Jaeho menangkupkan kedua telapak tangannya secara perlahan di kedua lengan atas Chaerin. Sentuhan itu hangat, sangat kontras dengan dinginnya udara malam.
"Mari kita pulang ke kamar, Chaerin-ssi. Kamu sudah lelah berjalan," bisik Jaeho sabar, memberikan jangkar fisik yang nyata bagi raga wanita itu yang tengah melayang di jurang kegelapan.
Mendengar suara Jaeho yang konstan dan tenang, ketegangan di sekujur tubuh Chaerin perlahan-lahan mulai mencair. Beban berat dari tubuhnya seolah runtuh seketika, membuat wanita itu kehilangan sisa tenaga terakhirnya. Jika saja Jaeho tidak sigap menopang kedua lengan dan tubuhnya, Chaerin pasti sudah merosot jatuh menimpa lantai keramik yang dingin.
Dengan penuh kehati-hatian, Jaeho memapah tubuh kurus Chaerin berbalik arah, menjauhi jendela kaca besar tersebut. Langkah demi langkah, ia membimbing pasiennya menyusuri koridor yang sama, membawa wanita itu kembali ke dalam kamar 402, sementara malam terus merayap dalam kebisuan yang menyimpan sejuta rahasia luka yang belum terobati.