Mereka pun makan ber-empat di sebuah restoran di pinggir taman. Eden, Pierre, Xavier dan Joshua tidak bergabung. Mereka telah memesan makanan mereka sendiri dan masih di meja taman.
"Zena, kau mau makan apa?" Tanya Patrick
"Biasa dad big hamburger, kau juga kan Jocy?" Jawab Zena juga menawarkan pada Jocelyn.
"Hehem!" Jocy mengangguk tersenyum.
"Baiklah, kau apa, nona?" tanya Patrick.
"Panggil saja Clarice, Tuan Muda Kwan," saut Clarice tersenyum.
"Patrick!" Patrick juga mengoreksi.
"Ya, maksudku Tuan Patrick,"
"Jadi, kau mau pesan apa?" tanya Patrick lagi dengan wajah datar.
"Aku sudah makan berat tadi, aku ingin lemon cake saja," jawab Clarice sontak membuat Patrick mendelik.
"Apa?!" tanya Patrick agak memekik.
"Lemon cake daddy, seperti kesukaan mommy, kau begitu saja tak dengar!" Zena memperjelas sehingga Clarice mengambil kesimpulan kalau Patrick pasti mengingat istrinya.
"Apa apaan kau ini?! Pesan yang lain saja, jangan lemon cake!" dengus Patrick tak senang.
"Kenapa Tuan? Aku sangat menyukai kue itu, di etalase itu hanya ada lemon cake dan choco opera, aku bahkan alergi coklat. Jadi aku hanya bisa memakan lemon cake itu," saut Clarice menjelaskan.
"Hem, bo ... " Patrick hendak mengatakan kata bodoh namun langsung mengingat kalau ada Zena dan Jocelyn disini.
"Ah, sudahlah! Tunggu sebentar aku pesankan!" Patrick menyerah. Clarice benar benar selalu membuatnya merasa dekat dengan Zhavia. Patrick pun beranjak memesan semuanya.
"Aneh sekali ada yang tidak menyukai coklat, sial!" Gumam Patrick yang terdengar oleh Clarice. Clarice tersenyum melihat gelagat Patrick yang pasti mengingat istrinya. Clarice semakin menyukainya karna disitulah perasaan sayang seorang pangeran kutub utara itu terpancar.
Setelah mereka selesai makan, Zena melihat ada yang menjual gulali kapas. Dia jadi sangat ingin. Jocelyn juga sudah membisik bisik padanya.
"Daddy, bisakah aku meminta uang? Aku mau membeli gulali kapas itu." pinta Zena sudah menengadahkan tangannya.
"Kau belum kenyang?" selidik Patrick menaikan alisnya.
"Aku mau daddy!!" rengek Zena.
"Zena, ayo bersamaku!" Belum saja Patrick mengeluarkan dompetnya, Clarice sudah mengajak Zena. Zena dan Jocelyn langsung menyetujuinya. Mereka bertiga pun menuju ke penjual gulali kapas di pinggir jalan di sisi taman. Patrick menghela napas dan dia akhirnya bergabung pada Eden dan lainnya ke meja taman.
"Keluarga yang utuh. Sungguh pemandangan yang indah," gumam Eden ketika Patrick menghampiri mereka.
"Nampaknya Zena tidak menyayangiku lagi, dia lebih mendengarkan ibu gurunya itu ketimbang diriku!" Sungut Patrick kesal duduk di samping Pierre.
"Mana ada anak yang tidak menyayangi ayahnya, apalagi sudah tidak ada ibunya! Dia hanya menginginkan satu pasangan yang nyata yang bisa menjadi ayah dan ibunya!" Kata Pierre menambahkan maksud perkataan Eden.
"Diamlah kalian semua! Tidak ada yang mengerti perasaanku!" sungut Patrick lagi.
"Begitu saja kau terus, Patrick! Mengapa kau tidak peka hah? Zena hanya ingin seorang ibu yang baik baginya. Kurasa ibu guru itu cocok dengannya, bukan begitu Eden?" Tambah Pierre lagi.
"Ya, kau kan tahu bagaimana sikap adikmu Pierre?! Keras kepala melebihi batu terkeras di dunia!" balas Eden merutuki Patrick.
Tok tok! Eden mengetuk kepala Patrick berkali kali dengan kepalan tangannya.
"Apa apaan kau? lepas!" dengus Patrick menghempaskan tangan Eden.
Eden terkekeh. Patrick lalu berdiri hendak mengambil air mineral yang sudah dibeli Eden di meja. Patrick berdiri di samping Eden yang juga berdiri. Eden melihat Javier dan Joshua main di taman bermain di sampingnya lalu melihat Jocelyn, Clarice dan Zena membeli gulali kapas. Tapi sepertinya ada yang membuat hatinya resah. Eden melihat Zena tampak senang memegang gulali kapasnya yang ia dapatkan lebih dulu namun dia berjingkrakan sampai ke tengah jalan.
"Pat, anakmu ke tengah jalan!" Ucap Eden reflek dan hendak menghampiri Zena namun Patrick juga menoleh ke arah Zena dan langsung berlari cepat ke sana.
Dan benar, Zena tidak melihat sebuah kereta keretaan anak anak yang cukup besar hendak melintas di tengah jalan itu. Clarice masih menunggu gulali kapas milik Jocelyn tapi akhirnya dia menyadari keberadaan Zena ketika mendengar lonceng kereta tersebut. Clarice langsung ke arah Zena begitu juga Patrick yang masih berlari menuju Zena.
Clarice segera mengangkat Zena yang hampir tertabrak langsung ke pinggir jalan dia berpijak. Namun, karna terlalu cepat Clarice bergerak, pijakan Clarice tak seimbang sehingga ia hendak terjatuh. Untung saja Patrick sampai tempat waktu dan malah menahan Clarice dari belakang. Clarice terkejut sehingga dia mendongakan kepalanya menatap Patrick. Begitu juga dengan Patrick. Patrick memegang pinggang Clarice yang cukup langsing itu dan mereka saling memandang. Sekilas Patrick melihat Zhavia dan mengingat ketika dirinya menyelamatkan Zhavia dulu. Waktu Zhavia hendak tertabrak mobil Ella tapi malah Patrick yang terserempet. Zhavia membawa Patrick ke rumah sakit dan wajahnya teramat khawatir. Patrick masih sangat mengingat wajah itu. Sama seperti kini dia melihat Clarice yang agak panik dengan Zena tadi dan terperangah karnanya.
Tak lama Patrick tersadar. Dia lalu menegakan tubuh Clarice.
"Aduh, terimakasih Tuan, hampir saja aku mau terjatuh," ucap Clarice dengan wajah yang agak memerah.
Patrick hanya mengangguk. Dia lalu berbalik hendak melihat keadaan Zena yang malah sedang memegang dahinya. Jocelyn sudah di samping Zena merangkulnya.
"Zena, dahimu kenapa?" Tanya Jocelyn.
"Sakit, kepalaku sakit Jocy." Kata Zena. Patrick langsung berjongkok memegang lengan Zena.
"Ada apa, sayang?" tanya Patrick.
"Pusing daddy, kepalaku pusing!" Kata Zena lagi dan tak lama gadis kecil itu tak sadarkan diri.
...
To be continued
Plis comment and love
Thanks for read