Patrick menghampiri Zena dan Jocelyn yang berdiri di depan panggung. Dia sedikit melirik ke arah Clarice yang ternyata sejak tadi wanita itu juga melihatnya. Clarice tersenyum padanya namun Patrick malah memalingkan wajahnya menunduk melihat Zena.
"Zena, kau belum makan, ayo kita makan dulu!" Ajak Patrick mengulurkan tangannya di depan Zena. Zena meraihnya namun belum pergi dari sana.
"Satu lagu dulu selesai y Dad? Lagu ini ciptaan Nona Clarice. Aku suka mendengarnya. Kau juga harus mendengarnya." Kata Zena membuat Patrick terpaksa harus mendengarkannya.
Clarice sudah bernyanyi di sana. Dia hanya menciptakan lirik lagunya saja lalu teman teman grup musiknya yang menciptakan nadanya. Lagu ini berjudul "Oh My!". Dan sebuah liriknya mampu mendebarkan hati Patrick seketika juga mendengar suara Clarice yang bisa disesuaikan dengan nada jazz dan juga sedikit beat.
"Jika aku sudah memilikimu, aku tak butuh yang lain. Kau seperti musim panas tanpa ada panas sedikitpun. Kau adalah inti dari rasa sepi yang selama ini kurasakan. Karna, memikirkanmu, aku tidak bisa tidur sampai pagi menjelang." Begitulah lirik lagu yang dinyanyikan Clarice
(lagu asli Oh My! by SEVENTEEN)
'Heng, lirik lagu macam apa itu? Seperti sangat memuja muja seseorang,' umpat patrick dalam hati.
'Heng, kau juga! Dia memang hebat membuat lirik lagu, sepertinya dia cocok denganmu!' saut Zhavia.
'Kau! Kenapa kau muncul?' Patrick melirik sesaat.
'Aku mau melihat anakku. Lihat, dia sangat senang melihat gurunya itu. Gurunya memang berbakat,' puji Zhavia.
'Berbakat dari mana. Dia hanya bisa bernyanyi tidak bisa memainkan alat musik dan membaca not sama sepertimu!' decak Patrick.
'Bukankah pas! Dekati dia, bye!!'
Zhavia kembali menghilang. Dia hanya berdiri sebentar di samping Patrick mengingatkan sesuatu dan pergi. Patrick tampak geram. Dia terus mendengar lirik lagu itu sampai Clarice selesai bernyanyi.
Patrick akhirnya memainkan ponselnya dengan satu tangan dan satu tangan lagi di masukan ke dalam saku celananya. Dia tidak menyadari kalau Clarice sudah selesai bernyanyi, turun dari panggung dan menemui mereka.
"Nona Clariceeee!!! Suaramu bagus sekali!!!" Teriak Zena sangat senang membuka tanganya hendak memberikan pelukan pada Clarice yang datang padanya dan akhirnya berjongkok menyambut Zena.
"Thankyou Zena.. em, siapa gadis kecil di sebelahmu? Apa dia si kembar Jojo yang sering kau ceritakan?" Tanya Clarice melirik ke arah Jocelyn. Sementara Patrick sudah juga sedikit melirik Clarice dari atas. Pakaian Clarice hari ini tampak terbuka karna menggunakan kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana jeans fit dengan kakinya yang jenjang dan cukup berisi.
"Oh iya Nona, ini Jocy! Kembarannya di sana bernama Joshua, tapi Joshua pendiam seperti daddy ku ini, keras kepala!" Decak Zena menyindir daddynya sedikit berbisik.
"Oiya? Kalau Jocy tidak kan?" Clarice lalu mengulurkan tangannya hendak berjabat pada Jocy yang juga sudah mengulurkan tanggannya.
"No! Kata mom aku seperti dad dan Joshua seperti mom. Mom juga agak pendiam dan sedikit judes. Hihi!!!" Kata Jocelyn menjelaskan.
"Jocy! Kau tidak boleh mengatai Bibi Line, nanti aku akan mengadukan padanya!" ancam Zena.
"Mengadu saja! Ble!!" Tantang Jocy menjulurkan lidahnya.
"Kalian berdua lucu sekali yaa." Kata Clarice berdiri setelah mengelus ke dua puncak kepala Zena dan Jocelyn.
"Em, selamat siang Tuan Muda Kwan? Kau menemani anak anak ya? Sungguh ayah yang bertanggung jawab." Kata Clarice akhirnya menyapa Patrick. Patrick hanya mengangguk dan berdehem. Dia lalu memasukan ponsel ke saku celananya.
"Baiklah Zena. Gurumu sudah bernyanyi, ayo kita makan?" ajak Patrick mengulurkan tangannya.
"Bersama Nona Clarice!" Zena sudah menggandeng tangan Clarice.
"Ehem, ah Zena, aku sudah makan, kau saja makan bersama dad-mu ya?" sela Clarice yang tidak ingin merusak suasana hati Patrick yang seperti tidak nyaman dekatnya.
"Tidak! Aku mau denganmu juga!" kata Zena tetap menggandeng tangan Clarice.
Patrick menarik napas. Dia harus sabar. Dia tahu, pasti ini rencana anaknya. Biarlah, dia harus menyenangkan Zena hari ini.
"Sudahlah, ayo makan bersama!" Kata Patrick akhirnya.
"Ayo Jocy, sama Paman," Patrick menggandeng tangan Jocy dan berjalan lebih dulu.
"Hihi, berhasil!" Zena terkekeh dan Clarice tersenyum menggeleng.
"Zena! Kalau aku tidak menyukai dad-mu bagaimana?" selidik Clarice tapi tersenyum menggoda. Zena mendongakan kepalanya menatap Clarice dengan sedikit tajam dan juga sedikit menyipit lalu tersenyum.
"Kau yakin tidak menyukai daddy-ku? Aku tidak percaya!!" ujar Zena.
"Hahahahaa, Zenaaa!! Kau menggemaskan sekali, sini kugendong!" Clarice tertawa dengan respon Zena yang sangat percaya diri kalau ayahnya adalah pria tertampan sejagat raya yang mana memang Clarice mengakuinya.
Sebenarnya, jauh sebelum Zena mengenalkan ayahnya dengan dirinya, Clarice sudah sering melihat Patrick sesekali menjemput Zena. Dia sudah terkagum dengan piawai Patrick yang dingin dan terkesan tak peduli dengan sekitar. Bukan hanya itu, Patrick yang sangat menyayangi Zena dan tidak memarahinya karna istrinya telah meninggal. Clarice langsung beranggapan pasti Patrick adalah sosok penyayang dan setia dibalik sikap dinginnya. Ketika Zena mengenalkannya entah mengapa rasa kagum itu berubah menjadi rasa suka apalagi ketika Patrick membantunya kemarin.
...
To be continued
Jangan lupa tinggalkan komen yang berkesan yaa :)
Thanks for read