"Dadddyyy!!!!! Buka pintunyaa!!" Zena mengentuk kencang kamar ayahnya di hari minggu ini.
Patrick mencoba membuka matanya. Dia hanya mengenakan celana piyamannya. Dia mencari cari piyamanya yang ia lepas setelah menangis tadi. Dia lelah dan tertidur setelahnya. Zhavia terus mengelus kepalanya agar tertidur. Kini dia memakai piyamanya dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa sayang?" tanya Patrick mengucek matanya.
"Lihat, Paman Eden sudah datang bersama si kembar jojo dan Uncle Pierre juga sudah datang bersama Javier. Mereka akan pergi ke Taman Bianglala. Mereka mengajakku dan aku tidak mau pergi tanpa daddy!!" Zena merajuk dan melipat tangan di depannya.
"Oh Lord! Kalian tidak punya kerjaan ya harus ke tempat itu?" dengus Patrick menggendong Zena menuju ke meja makan. Dia merutuki Eden yang sedang bercanda dengan Jocelyn dan Pierre yang melihat lihat ponselnya.
"Uncle Pat! Kau harus ikut, aku tidak mau Zena menangis di taman sana!" celetuk Javier melihat mobil kecil yang Joshua bawa. Mereka menjalan jalankannya di atas meja makan.
"Pierre, Eden, aku tidak mau kesana, disana terlalu ramai!" Protes Patrick.
"Bilang pada anakmu!" kata Pierre seenaknya.
"Paman Pat! Cepatlah hari semakin panas, aku ingin menaiki roller coaster!" kata Jocelyn mengingatkan. Patrick memutar bolamatanya malas. Dia tidak suka tempat yang terlalu ramai dan outdoor. Lagi lagi dia suka Mengingat Zhavia karna dulu mereka sering berjalan jalan di taman dan tempat terbuka seperti taman rekreasi itu.
"Zena, dengan Hoshi Uncle saja ya? Kau kan dekat dengannya? Biar kusuruh paman Eden menghubunginya, bagaimana?" Patrick menawarkan pada Zena karna percuma meminta tolong pada kakak tirinya dan Eden. Mereka berdua pun tak sanggup menolak Zena. Dan mereka berdua tahu, Patrick hanya lemah dengan Zhavia dan Zena.
Zena menekuk wajahnya lebih murung lagi dan kesal.
"Kau mau kan My Little Star? Kau kan tahu daddy-mu sangat lelah dan hendak beristirahat! Yah yah?" patrick menaik turunkan alisnya.
"Tidak mau!!! MOOMMYYY, DADDY TIDAK MAU IKUT DENGANKU KE TAMAN BIANGLALA, OMELI DIA MOMMYY!!!! DIA TIDAK MENYANYANGIKU, AKU BUKAN ANAK HOSHI UNCLE TAPI DIA SELALU MENYERAHKAN KU PADA HOSHI UNCLE!! KAU HARUS MEMARAHINYA MOMMY!!"
Tiba-tiba Zena berteriak dan memanggil manggil mommy-nya. Patrick tersentak begitu juga dengan yang lainnya. Javier dan Jocelyn sudah menutup telinga mereka.
"Hem hem hem, aku tidak ikut ikutan! Jocy, ayo kita tunggu Zena dan Paman Pat-mu di luar?" ajak Eden pada anak perempuannya.
"Paman Pat akan ikut dad?" Tanya Jocy.
"Tentu! Zena sudah memberi ultimatum memanggil mommy-nya," jawab Eden yang sudah bergandengan dengan anak perempuannya.
"Via mom akan datang? Apa itu ultimatum dad?" Tanya Jocy lagi dengan polos.
"Peringatan dan Via Mom-mu selalu ada bersama kita," jawab Eden tersenyum.
Eden dan Jocelyn saling bergumam seraya menyindir Patrick sambil berjalan keluar.
Sementara Zena masih menunggu ayahnya menuruti permintaannya. Zena sangat jarang mengajak Patrick berjalan jalan. Dia mengerti bagaimana pekerjaan ayahnya, tapi dia juga iri melihat teman teman bahkan saudara mereka pergi setiap minggu bersama ayahnya.
"Bagaimana? Sudah kuadukan pada mommy, dia juga pasti memarahimu! Sekalian saja nanti malam kuadukan daddy kalau daddy tidak pernah membelikanku ice cream dan aku tidak pernah marah! Nanti malam aku pasti bertemu mommy di mimpi! Kau mau apa daddy?!" Zena merajuk. Zena sangatlah tahu kalau daddy-nya sangat takut jika sudah membawa bawa mommy-nya. Meskipun Zena tahu, Zhavia tak ada tapi Zena selalu memanggilnya. Hanya ibunya yang dapat melindungi dirinya dari ayahnya yang super dingin ini.
Patrick membelalakan matanya mencoba tenang dan menghela napasnya.
"Oke fine! Daddy akan membersihkan diri dulu. Kau tunggu ya?" Patrick mengelus puncak kepala Zena dan kembali ke kamar setelah menatap tajam Pierre yang terkikik.
Zena pun berlari ke arah pierre dan melakukan tos dengan unclenya itu.
"You smart, My Lovely Nephew!" puji Pierre tersenyum lebar.
...
Mereka tiba di sebuah Taman Bianglala yang cukup besar. Dengan banyak permainan dan taman taman kecil. Ada juga taman yang cukup besar untuk duduk bersantai menikmati makanan makanan kecil di sekitarnya yang dijual di sana dan live music.
Setelah anak anak sudah memainkan hampir semua jenis permainan yang mana hanya Eden yang menemani, mereka menuju ke taman besar yang terdapat live music-nya itu. Patrick dan Pierre sudah menunggu di sana. Di sebuah meja makan di luar dan terdapat payung di dekatnya. Patrick dan Pierre terus memainkan ponselnya dan tidak menyadari kalau yang bernyanyi di atas panggung adalah Clarice dan grup musiknya.
Zena yang melihatnya karna matanya masih awas dan jeli berteriak memanggil ibu gurunya itu.
"Nona Clarice!!!!"
Patrick yang mendengar suara putrinya memicingkan matanya menatap Zena terlebih dahulu sebelum pada akhirnya dia menoleh ke arah panggung.
"Oh ternyata Nona Clarice yang bernyanyi, kau tidak engeh Patrick?" gumam Pierre melihat ke panggung.
Patrick hanya menggeleng dan melihat Clarice di atas panggung sana.
"Benar, itu Nona Clarice, Zena!" tambah Javier mendekati ayahnya. Pria kecil itu lalu meminta makan pada ayahnya.
"Ya begitulah Nona Clarice, Pierre. Dia sungguh pekerja keras. Dia selalu memanfaatkan waktu luangnya jika tidak mengajar. Sungguh wanita yang luar biasa," kata Eden menggandeng kedua anaknya. Patrick hanya terus menatap Clarice sampai mendengar celetukan anaknya dan dia menoleh ke anaknya.
"Oleh sebab itu aku sangat menyayanginya Paman Eden. Aku mau mendengarnya bernyanyi lebih dekat. Jocy, kau mau ikut bersamaku?" sela Zena mengulurkan tangannya mengajak Jocy mendekati gurunya yang akan bernyanyi lagi. Sementara Clarice di sana sudah melambaikan tangan pada Zena.
"Zena, kau belum makan, makan dulu sayang!" Patrick memperingatkan dan malah ikut menyusul Zena yang sudah berlari ke sana.
...
To be continued
Plis comment and love
Thanks for read