Patrick masih merebahkan dirinya di tempat tidurnya setelah subuh tadi menguras penuh emosinya dan tangisnya dalam pelukan Zhavia. Komponis berbakat itu menangis di depan perapian elektroniknya dan Zhavia tidak bisa meninggalkannya. Istrinya terus memeluknya sampai dia puas meluapkan semua kesedihannya. Berlarut larut Pitter anaknya juga sering menggandrungi dirinya dalam tidurnya. Patrick masih sangat merasa bersalah dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.
Ketika Zhavia dinyatakan mengidap penebalan akut di sisi rahimnya. Zhavia menjadi sangat lemah, tidak nafsu makan dan semakin kurus. Dia melakukan perjalanan kesegala tempat menghampiri rumah sakit bersama suaminya. Patrick menyerahkan kekuasaan management musiknya pada Eden dan Hoshi. Dia sibuk mengurusi istrinya yang ternyata tak kunjung sembuh dan akhirnya Tuhan memanggilnya.
"Zhavia, kau tak sendiri. Ada aku. Aku akan membawamu kemanapun agar tumor itu hancur. Tenang saja ya?" kata Patrick di depan istrinya.
"Aku takut mati Patrick!" ucap Zhavia.
"Bicara apa kau? Kau tidak akan mati, kalau kau mati, aku harus kemana? Rumahku disini!" Patrick menunjuk d**a Zhavia. Zhavia meraih tangan suaminya dan mengecupinya.
"Zhavia, pikirkan Zena. Kau harus sembuh. Kau tidak usah khawatir, oke? Aku di sini, tenanglah!" Patrick memeluk istrinya itu.
Tidak ada waktu baginya berdiam diri. Setiap hari bersama Zhavia memberikan kenyamanan dan apa yang diinginkan istrinya itu. Sesekali mereka membawa anak mereka yang ditemani oleh mom Xa mereka (Lexa, asisten ibunya Zhavia). Di dalam sakitnya pun, Zhavia juga memberikan kewajibannya sebagai seorang istri melayani Patrick. Hal ini juga yang membuat Patrick tidak bisa mencintai wanita lain. Zhavia selalu memberikan apa yang Patrick butuhkan tanpa memikirkan kondisi tubuhnya. Istrinya selalu berkorban untuk suaminya. Maka dari itu, Zhavia adalah jiwa dan raganya, jasmani dan rohaninya.
Sampai suatu ketika Zhavia mengatakan kata kata yang membuat Patrick jauh sangat bersalah. Rasanya dia ingin menukar jiwanya dengan istrinya itu. Dia ingin, dia saja yang merasakan semua penderitaan Zhavia selama ini. Dia rela menukarnya dengan apapun bahkan dirinya.
"Sayang, aku sudah lelah. Aku terima apapun yang terjadi!" tutur Zhavia menunduk dan menitikan air matanya.
"Terjadi apa? Kau hanya di sini dirawat agar lebih intensif, aku disini Zhavia. Setiap malam aku tidur di sini!" jawab Patrick mendongakan kepala istrinya.
"Aku mau ke mansion kita." kata Zhavia kemudian.
Ya mansion. Tadinya Zhavia menolak untuk membangun sebuah mansion, tapi Patrick mengatakan mengenai masa depan anak anak mereka nanti. Kalau di apartemen mereka akan terisolasi sedangkan di mansion, mereka dapat bermain bersama para pengasuh atau teman teman mereka di taman, kolam renang dan lainnya. Dan karna insiden istrinya bertengkar hebat dengan kembarannya, akhirnya mereka berdua memutuskan membangun mansion. Bukan hany itu, mereka juga mengkhawatirkan kedua orang tua mereka, Alex dan Sandra yang semakin menua dan Alex yang kesehatannya semakin menurun.
"Tapi kau masih harus menjalani beberapa operasi sayang." Patrick berusaha menjelaskan.
"Sudahlah Patrick, aku sudah menerima semuanya. Aku baik baik saja. Tidak usah ada operasi operasi lagi. Semua percuma!" Zhavia memalingkan wajahnya.
"Ya kau memang baik baik saja. Kita akan pulang. Setelah operasi kali ini saja, dua hari lagi kita pulang ya apapun keputusan dokter. Aku akan membawamu pulang aku janji!" jawab Patrick tersenyum dan kembali menolehkan wajah Zhavia.
"Oke sayang, aku hanya mau mengatakan kalau aku akan baik baik saja. aku akan tenang kemudian sayang. Tapi aku mohon kau jaga anak kita. Sayangi dia, jangan pernah memarahinya dan memukulnya, namun beritahu dia dengan tegas kalau dia memiliki salah. Jangan membuatnya menangis sama seperti kau tidak pernah mengijinkan aku menangis Patrick!" Pesan Zhavia.
Patrick agak mendelik mendengar penuturan istrinya waktu itu.
"Kau bisa bicara atau tidak Zhavia? Kau mengatakan seakan akan ingin pergi. Katanya kau takut mati!" Patrick memperingatkan.
"Aku hanya berpesan saja sayang karna sekarang saja aku tidak bisa merawatnya kan? Pokoknya kau resapi saja semua pesanku ini. Lindungi Zena sama seperti kau melindungiku. Berikan apa yang dia butuhkan. Jaga dia untukku. Kau mau berjanji kan suamiku?" Zhavia memegang pipi Patrick.
"Pasti Zhavia! Tanpa kau mengatakannya aku akan melakukannya. Sekarang tidak usah berkata macam macam lagi. Makanlah sedikit sup ini." Patrick mengambil sup asparagus yang dibawakan Adeline ketika tadi menjenguk.
"Terimakasih sayang. Aku tidak sabaar untuk pulang ke mansion cinta kita itu, pat!" zhavia tersenyum sumringah.
"Ya kita akan pulang setelah operasimu ya?" Patrick menyuapi sup itu.
Namun Zhavia tidak pernah lagi pulang ke mansion itu. Zhavia menghembuskan napas terakhirnya pada operasi itu. Patrick hancur dan tak tahu seperti apa kembalinya.
...
To be continued
Plis comment and love
Thanks for read