Komponis berbakat itu mengiringi Clarice dengan sangat syahduh. Dia memejamkan matanya dan tidak melihat Clarice atau para hadirin. Semua mata tertuju pada Patrick dan Clarice. Alunan yang dimainkan Patrick begitu menyatu dengan dirinya. Dia memikirkan Zhavia. Dia merasa Zhavia yang bernyanyi di depan sana. Namun, entah mengapa Zhavia tidak hadir di antara mereka. Dan, Patrick merasa menikmati setiap suara yang dikeluarkan dari Clarice sampai lagu selesai. Patrick akhirnya membuka matanya. Dia hendak melanjutkan lagu selanjutnya namun dia menyadari sesuatu.
'Sial! Ini pasti sudah direncanakan Zhavia!' decak Patrick dalam hati dan dia berdiri.
"Tuan Muda Kwan, mau kemana?" Tanya Clarice memberanikan diri. Patrick menoleh namun tak menjawab. Dia lalu turun dari podium itu dan keluar dari ruang pertemuan itu. Clarice yang merasa belum mengucapkan terimakasih juga ikut ke belakang ruangan setelah membungkukan tubuhnya. Clarice mengejar Patrick dan menahan pergelangan tangan Patrick.
"Tuan Muda Kwan, tunggu!" Kata Clarice menahan Patrick langsung menghempaskan tangan Clarice secara tak sadar. Clarice hendak terjatuh. Patrick setengah menolah.
"Tuan Muda Kwan, terimakasih telah membantuku." Ucap Clarice berdiri tegak. Patrick diam saja dan langsung pergi.
Clarice sangat bingung. Mengapa pria itu begitu dingin dan sedikit sekali bicara? Tanggapnya dan Clarice hanya melihat kepergian Patrick dengan diam.
Patrick menuju ke Amber dan mengajak pulang namun Amber tidak mau. Amber malah bertanya tentang dia di atas tadi. Patrick tidak mau membahas dan dia meninggalkan Amber sendiri. Dia pulang lebih awal. Kira kira pukul 10 malam dia kembali ke mansionnya.
"Daddy!!" Panggil Zena keluar dari kamarnya.
"Bintang kecilku! Kau masih terjaga? Mengapa kau belum tidur?" Patrick menyambut larian kecil anaknya dengan tangan terbuka.
"Kata Paman Eden, kau pergi bersama Aunty Amber?" Selidik Zena menyapu rambut halus yang melintas di pipinya.
"Ya benar!" Jawab Patrick tersenyum.
"Akhirnya kau dekat dengan seorang wanita?" Kata Zena lagi tampak tak suka.
"Em, tidak juga, aku hanya menemaninya pergi ke acara pernikahan temannya," saut Patrick santai.
"Oh, kalau begitu bisa kah kau juga pergi bersama Nona Clarice? Dia juga wanita seperti aunty Amber. Aku tidak suka lagi dengna aunty Amber," ujar Zena polos karena dia menginginkan Clarice.
"Kenapa tidak suka? Mommy tidak mengajarkan padamu untuk membeda bedakan teman," saut Patrick menyauti dengan senyumnya menggoda.
"Iya kah? Tapi Aunty Amber tidak mau menggendongku lagi, katanya berat! Hem, aku kan tidak gemuk Daddy!!!" Dengus Zena mengembangkan pipinya.
"Emm, tapi sedikit cubby!" Patrick mencubit pipi mungil Zena yang kemerahan.
"Jadi Daddy mau ya pergi bersama Nona Clarice?" Tanya Zena lagi memastikan.
"Pergi kemana?" Tanya Patrick masih menggoda anaknya.
"Emm, seperti kencan Daddy, aunty Amber kau terima, masa kau tidak mau mengenal guru kelasku?? Dia temanku yang sangat baik Daddy!" Dengus Zena sedikit menunduk dan menekuk wajahnya.
"Sepertinya anak dad sudah besar ya? Kenapa kau bisa mengetahui kata kencan? Jangan jangan Joshua mengajakmu kencan ya?" Patrick terkekeh dan mencubit kecil hidung anaknya.
"Daaadddyy!!! Aku serius! Joshua itu selalu bermain sendiri, dia tidak memperdulikanku! Jadi bagaimana Daddy, kau mau kan?" Zena terus memaksa ayahnya.
"Aku sudah bertemu dengan ibu gurumu tadi," kata Patrick sontak membuat Zena tersenyum lebar.
"Benarkah? Mengapa tak katakan sejak tadi? Jadi kalian berkencan?" Zena sangat penasaran.
"Emmm, kau tanya saja hari senin besok padanya!" Patrick mengangguk angguk tersenyum menunggu respon gembira anaknya.
"Aarghh, aku tidak sabar mendengar ceritanya!" Kata Zena tersenyum sumringah. Patrick juga ikut senang, akhirnya dia bisa membuat Zena nya tersenyum setelah beberapa hari ini agak murung.
"Baiklah, sekarang waktunya tiduuurr..." Kata Patrick lagi menggendong tuan putrinya menuju ke kamar tidur anaknya itu.
Setelah Patrick memastikan Zena tertidur pulas dan sedikit tersenyum, dia menuju kamarnya. Dia membersihkan dirinya dan merebahkan dirinya. Sepertinya malam ini agak melelahkan karna dia harus mengingat kejadian kejadian yang membuatnya sesak. Membuatnya agak merindukan Zhavia. Tak lama jendela kamarnya terbuka dan angin semilir memasuki sudut ruangan.
"Aku mengantuk! Tidak mau membahas apapun!" Dengus Patrick menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sungguh pertemuan yang mengesankan. Kau mendekati keluar dari zona nyamanmu sayang!" Kata Zhavia yang memasuki kamar dan bersandar di depan lemari.
"Kau menyebalkan! Kau tidak menghargai cintaku Zhavia!" Marah Patrick.
"Tidak menghargai apa?! Bahkan aku menghargai hatimu sayang. Aku ingin kau bangkit, kau tidak melulu merasa bersalah. Biarkan aku tenang. Aku tidak apa apa. Aku bahagia kalau kau bahagia sayang!" Kata Zhavia mendekati suaminya.
"Diam kau Zhavia?! Kau tidak tahu bagaimana diriku ketika mengetahui kau sudah meninggal? Duniaku hilang sayang!! Semuanya terasa gelap. Bahkan aku tidak tahu caranya menekan tuts piano, aku lupa memegang sendok dan garpu. Dan kau tahu yang lebih parahnya lagi Zhavia? Aku hampir melupakan nama anak kita. Zhavia, tidak bisa kah kau berengkarnasi dan kembali padaku? Aku mohon!!" Patrick akhirnya beranjak dari tidurnya dan duduk. Wajahnya sungguh nelangsa dan bersedih. Air matanya sudah menetes lagi. Zhavia sungguh tak tega melihatnya.
Dia lalu berjalan terus ke depan Patrick dan memeluk kepala pria nya itu.
"Tenanglah sayang! Bagaimana aku kembali kesini jika kau saja masih seperti ini? Aku sudah tidak sakit lagi, jangan kau sesali terus Patrick-ku!!" Zhavia mengelus pipi Patrick.
"Kau sekarang menyuruhku untuk mencintai wanita lain, apa kah kau tidak tahu betapa ini terasa sulit dan menyakitkan?! Padahal aku sudah bersumpah kalau aku tidak mau mengenal dan merasakan wanita lain lagi sayang, kau benar benar membuatku terbelenggu dalam kendi yang terdapat di atas bara api!!"
Kini Patrick menangis.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa, namun semua harus terjadi sayang. Aku pun juga harus meninggalkanmu. Aku tidak bisa seperti ini terus. Kau tega melihatku tidak tenang seperti ini? Hah?" Tanya Zhavia.
Patrick menggeleng.
"Kau tidak ingin ya aku tenang di surga bersama ibumu?" Tanya Zhavia lagi.
Patrick menggeleng lagi
"Aku mencintaimu Zhavia." Patrick kembali mengungkapkan.
"Entahlah, sepertinya ini adalah penyesalan bukan cinta!" Jawab Zhavia.
"Kau? Sudah kubilang aku tidak mau membahasnya! Pergi kau sekarang! Sungguh membuat jalan pikiranku menyempit setiap waktu!!!!" Patrick menghempaskan Zhavia agar membiarkannya sendiri.
"Sampai kau melepaskanku dan mencintai wanita yang jauh lebih baik dariku, aku akan tetap membimbingmu. Aku pastikan yang terbaik bagi dirimu, suamiku!!" Ujar Zhavia dengan pasti.
"Terserah terserah!!! Pergi kau!!!!" Patrick melempar bantal ke arah Zhavia berdiri tadi namun dia sudah pergi dan jendela kamar suaminya itu kembali tertutup. Dia lalu membenamkan dirinya ke dalam selimut. Dia menghapus seluruh air matanya yang dia rasa percuma. Zhavia tetap menginginkan penggantinya dalam kehidupannya. Patrick berusaha menghilangkan kenangannya dengan Zhavia namun rasanya seperti sudah terkunci di otaknya.
...
"Mohon maaf Tuan Muda Kwan, istri anda keguguran. Asupan gizi dalam tubuhnya dan tubuh anakmu tidak terpenuhi. Istri anda tidak bisa menerima obat obatan tradisional dan memang kandungannya lemah. Maafkan kami." Kata sang dokter memberitahukan keguguran Zhavia. Patrick langsung menghempaskan sang dokter dan menemui istrinya.
Zhavia menangis. Dia memiringkan tubuhnya. Tangisan istrinya begitu menyayat hatinya. Patrick segera menghampiri istrinya, membalikannya dan memeluknya.
"Anak kita Patrick, ini anak kedua kita, adik untuk Zena. Sudah kukatakan ini anak kita, anak kita!! Mengapa kau tidak percaya? Aku tidak berselingkuh, tidak pernah, ini anakmu!!!" Zhavia memukul mukul kecil d**a suaminya. Dia ikut menyesal dengan perbuatannya yang melarikan diri dari penjagaan ketat suaminya. Seharusnya dia tetap bersama Patrick.
"Sudah Zhavia, aku minta maaf!!!" Patrick ikut meneteskan air matanya. Hatinya sudah abstrak dan perih mendengar tangis Zhavia di dadanya.
'Daddy, bolehkah aku memanggilmu Daddy? Bisakah kita bersama lagi? Daddy, aku ingin melihatmu namun rasanya begitu jauh sampai aku benar benar menghilang. Daddy, daddy daddy!!'
"Pitter!! No! Pitter! Kau bisa melihatku sayang, no! Oh my god! Aku harus menemuinya, harus!!!" Patrick terbangun. Dia menyebut nama anak keduanya yang hendak ia namai Pitter Zalion Kwan. Dia segera beranjak dari kasurnya hendak keluar kamar namun Zhavia menahannya dengan memeluknya dari belakang.
"Dia sudah tenang bersama ibumu! Aku sudah merelakannya! Tenanglah!" Kata Zhavia dan Patrick tersungkur berlutut. Dia menutup wajahnya dan menangis.
...
Next part 9
Don't forget to COMMENT
Thanks for read and love you all