Keesokannya Patrick membawa mobilnya sendiri menjemput Amber. Hoshi dan Eden harus mengadakan breafing dengan beberapa anggota paduan suara dari tempat musiknya untuk mengadakan kompetisi.
Amber menggandeng lengan Patrick dengan sangat percaya diri memasuki gedung resepsi pernikahan sahabatnya itu. Mereka berdua seperti pasangan kekasih walaupun wajah Patrick sangat dingin dan datar. Amber sudah biasa menghadapi Patrick yang pendiam seperti ini. Tidak banyak bicara namun sekali bicara mengapa begitu menyakitkan.
"Amber, waw, kau bersama Tuan Muda Kwan?" Sapa seorang teman Amber dan yang pasti sangat mengenal Patrick.
"Bagaimana? Kami sangat serasi kan?" Saut Amber tersenyum bangga.
"Kalian sudah berpacaran?" Tanya salah satu temannya.
"Sebentar lagi!" Saut Amber dan Patrick langsung menatapnya tajam!
"Bercanda Patrick sayang!!" Amber yang merasa seperti tatapan membunuh langsung menimpali agar Patrick tidak marah dan pergi meninggalkannya.
Amber dan Patrick terus menyaksikan jalannya acara pernikahan walau ada sedikit keganjalan. Iringan lagu yang digunakan melalui musik rekaman bukan iringan dari pemusik. Baru dikabarkan kalau pianisnya tidak bisa hadir karna mendadak sakit.
"Sangat tidak profesional!" Decak Patrick pada Amber yang mengetahui masalah di belakang.
"Aku ke toilet dulu!" Kata Patrick kemudian.
Patrick menuju ke toilet yang berada di belakang pelaminan dan dekat dengan ruang pengisi acara.
Ketika sudah selesai Patrick dari toilet dia melihat sesosok wanita keluar dari ruang ganti yang sepertinya ia mengenalinya.
Wanita itu mengenakan gaun hitam sedang mengusap usap kedua tangannya seperti gugup. Patrick memicingkan matanya mencoba mengingat siapa wanita itu.
'Ah iya, Clarie, no, Clarice. Ya itu gurunya Zena,' gumam Patrick dalam hati dan berbalik hendak kembali pada Amber tetapi sebuah suara malah menahannya.
"Ayo Clarice, kau bernyanyilah! Dengan iringan rekaman yang sudah ada saja!" Kata seorang wanit tua pada Clarice.
"Tapi aku tidak tahu liriknya madam," saut Clarice sedikit panik.
"Kau bisa menggunakan buku lirik di depan Larie!!"
"Tidak sama madam! Iringan lagu itu sesuai dengan suara penyanyi aslinya. Nanti aku bisa salah di tengah tengah dan kau juga yang malu! Aku sudah berlatih dengan Tuan Erka, mengapa dia harus sakit?! Mendadak sekali!" Dengus Clarice dan membuat dirinya semakin tidak ingin bernyanyi.
"Lalu ini bagaimana? Aku tidak mungkin kan membawa penyanyi asli dengan iringan lagu lagu wedding itu? Kau ini Larie!" Decak wanita itu.
"Aku juga tidak akan bernyanyi jika tanpa iringan piano dari Tuan Erka! Sudah tahu aku tidak bisa membaca not dan segalanya itu, mengapa dia tidak bisa menahan rasa sakitnya?! Menyebalkan!" Clarice kembali mendengus.
"Kau tidak bisa bermain piano sambil bernyanyi?" Tanya atasannya itu.
"Aku rasa kau ini sudah telalu tua Madam, kau selalu lupa kalau aku tidak bisa bermain semua jenis alat musik. Hanya memegangnya. Aku juga tidak berminat belajar, memusingkan!" Clarice benar benar kesal sekarang.
Sementara Patrick mendengarnya. Entah mengapa, dia menjadi mengingat ketika Zhavia dimarahi oleh Melody beberapa tahun silam. Zhavia terus berceloteh dan mendengus di depannya seperti yang dilakukan Clarice pada bos nya itu. Dia juga mengingat anaknya yang mengenalkan dirinya pada Clarice.
Patrick akhirnya menarik napas dan berbalik lagi menuju Clarice dan majikannya itu.
"Biar aku yang membantu mengiringimu bernyanyi!" Kata Patrick membuat Clarice dan atasannya menoleh dengan cepat ke arah Patrick. Clarice terkejut. Tentu saja atasannya juga.
"Tuan Muda Kwan? Anda Tuan Muda Kwan kan? Selamat malam!" Madam membungkukan tubuhnya memberi hormat dan Patrick hanya menganggukan kepalanya sekali.
"Tu-Tuan Muda Kwan, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Clarice sedikit gugup.
"Hanya lewat dan mendengar kau membutuhkan pianis. Cepatlah, aku akan mebantumu!" Saut Patrick.
"Ta ta tapi kita belum berlatih," kata Clarice terbata.
"Kau bernyanyi saja nanti aku yang akan mengikuti,"
"Kau bisa?"
"Clarice! Tuan Muda Kwan komponis terhebat di Honolulu dan Legacy, dia punya bakat istimewa, sudah cepat ayo naik ke panggung selagi Tuan Muda mau membantumu, ayooooo!!" Sela atasan Clarice memperingatinya.
"Ba baikah, silahkan Tuan!" Jantung Clarice tak karuan. Dia tidak menyangka kalau ayahnya Zena mau mengiringi dirinya bernyanyi tanpa berlatih.
Clarice pun naik ke podium yang sudah disediakan untuk dirinya bernyanyi. Patrick pun juga naik dan menduduki kursi pianonya. Beberapa orang melihatnya termasuk Amber yang terkejut mengapa Patrick bisa ada di sana.
"Lagu apa yang sudah kau latih bersama temanmu itu?!" Tanya Patrick sebelum Clarice menuju ke stand up mic nya.
"I'll never love again dari Lady Gaga." Jawab Clarice membuat Patrick mengernyitkan alisnya. Itu lagu kesukaan dirinya dan Zhavia.
"Tidak ada yang lain?" Pinta Patrick masih dengan wajah datarnya. Clarice agak heran dengannya namun ia kesampingkan dulu.
"Home dari seventeen." Jawab Clarice kemudian dan lagi lagi Patrick kesal. Dalam hatinya itu semua lagu kenangan dirinya dan Zhavia. Sampai sampai Patrick belajar menari dengan lagu itu.
"Itu suara pria, memangnya kau bisa?" Patrick mencoba mengalihkan.
"Aku sudah berlatih!" Tantang Clarice.
"Lagu pertama saja!" Akhirnya Patrick menyuruhnya bernyanyi lagu pertama. Di dalam hati Clarice benar benar bergemuruh. Dia bingung sekali dengan sifat Patrick yang tidak jelas. Namun dia menyabarkan dirinya karna pria itu sudah mau membantunya.
Akhirnya Clarice bersiap untuk bernyanyi. Patrick menyuruhnya untuk bernyanyi terlebih dahulu di awal lirik. Clarice lagi lagi bingung, seharusnya dia yang memberi nada, tapi malah Clarice yang disuruhnya bernyanyi lebih awal.
Clarice pun bernyanyi di awal lirik.
"Wish I could, I could've said goodbye .."
Clarice terkejut karna Patrick langsung mengiringinya dan sangat sesuai dengan suaranya. Iringannya pun sama seperti yang ia latih dengan Erka namun ini lebih baik dan sempurna. Clarice bernyanyi dengan pengahayatan yang lebih lagi karna iringan yang dimainkan Patrick benar benar sesuai dengan suara dan tarikan falsetonya serta kecakapan tehnik bernyanyinya.
Dan ketika di lirik reffnya :
"No, I'll never love again, I'll never love again, oh, oh, oh, oh..."
Clarice bernyanyi sambil menatap Patrick yang memainkan pianonya dengan mata terpejam. Clarice merasakan getaran yang tak biasanya yang lebih dari sekedar kata kagum. Dia menyukai pria itu. Pria yang satu hari kemarin hendak dijodohkan oleh anak muridnya, yang tak lain anak dari pria ini.
...
To be continued
Don't forget to COMMENT LIKE and FOLLOW
Thanks for read:)