Sudah sampai pukul 5 sore, Patrick masih mendekam di ruangannya. Mood nya benar benar kacau. Dia memikirkan Zena. Dia memikirkan sepeninggalnya tadi, Zena tampak muram. Setelah bertemu dengan komponis inti Honolulu, dia menghubungi Ella hendak berbicara dengan Zena. Namun, Zena pergi ke rumah Eden. Ketika Patrick menghubungi Adeline, Zena sedang tertidur.
"Apa lagi yang kau perbuat sehingga anakmu tampak muram dan tidak selera bermain bersama sikembar?" Tanya Adeline dengan nada tak suka.
"Tidak ada!" Saut Patrick santai.
"Baiklah, semoga bukan karna kau tidak mau mengenal wali kelas Zena, iya?!" Adeline menerka dengan ketus.
"Aku sudah kenal! Baiklah, kalau Zena sedang tidur, thanks!"
Patrick mematikan panggilan karna ujung ujungnya dia pasti akan bertengkar dengan Adeline. Belum lama juga Adeline mengenalkan temannya karna temannya senang ketika melihat Zena bermain di rumahnya. Teman Adeline begitu antusias ketika Patrick datang menjemput Zena, namun tak sedikit pun Patrick melihat temannya. Dia langsung menggendong Zena untuk pulang.
"Zena, kau membuat aku frustasi!" Gumam Patrick benar benar tak selera. Dia sebenarnya dapat pulang namun tidak ada yang bisa ia kerjakan di rumah jika Zena pun tidak ada.
"Pat, Amber datang!" Tiba tiba Hoshi membuka sedikit pintu ruangannya dan memberitahukan kedatangan seseorang.
...
Cast Amber Lee : Shannon William
...
"Suruh pulang saja dulu, aku sedang tidak selera!" Kata Patrick menghentak hentakan pena di atas meja kacanya.
"Terlambat!" Kata Hoshi karna tak lama Amber menyeruak masuk.
"Pat, kau keterlaluan! Masa kau menyuruhku pulang setelah perjalanan panjang ku mengisi pundi pundi emas mu! Kau tidak merindukanku?!" Kata Amber dengan sedikit penekanan.
"Tidak!" Patrick tidak memandang Amber sama sekali.
"Kau benar benar menyebalkan!" Amber menopang tangannya di atas meja.
"Duduk di depan ku dan jangan bergerak lagi! Kau mau apa?!" Tanya Patrick melirik tajam Amber.
Amber Lee merupakan penyanyi dari management Patrick yang suaranya sangat merdu dan dia baru saja menggelar konser di kota besar sekitaran Legacy. Dia menyukai Patrick. Sangat menyukai, tapi Patrick sama sekali tidak ada perasaan sedikit pun pada Amber. Amber pun tahu kalau atasannya itu belum bisa merelakan kepergian istrinya.
"Pat, tolonglah penyanyimu ini sekali saja, temani aku menjadi pasanganku di acara pernikahan sahabat dekatku. Kau tau Andara kan? Dia akan menikah besok! Aku malu selalu datang sendiri kemana pun, sekali ini saja, Pat!" Pinta Amber kemudian.
"Tidak! Aku tidak mau ke acara ramai seperti itu, suruh saja Eden atau Hoshi!" Saut Patrick tidak peduli dengan permintaan Amber.
"Aahhh, mereka tidak terkenal Pat!" Dengus Ambar sudah duduk bersebrangan dengan Patrick.
"Apa maksudmu? Kau jangan membuat berita berita miring!" Bentak Patrick dengan nada mencekam dan pandangannya pada Amber begitu tajam.
"Tidak Pat! Aku hanya tidak mau malu saja. Ayolah Pat, sekali saja. Tidak ada kali kedua, aku mohon!!!!!" Pinta Amber lagi dan lagi.
"Sekali tidak, tidak Amber!" Bentak Patrick lagi.
"Pat, aku sudah bekerja untuk mu ya?! Aku menjalankan semua yang kau perintahkan padaku! Kau juga yang memilih manager ku, apa aku pernah mempermasalahkan? Tidak kan? Jadi sebaiknya kau temani aku, oke?" Amber terus memaksa dan harus berhasil.
Ketika Patrick hendak menjawab, Zhavia muncul di sampingnya.
'Suamiku, apakah kau mencintaiku dengan Zena?' tanya Zhavia berbisik di dekat telinga Zhavia.
"Hemmm!"
"Sangat sangat cinta?!!" Selidik Zhavia lagi.
"Iya!!!" Jawab Patrick tanpa sadar dengan penekanan nada yang cukup keras sehingga Amber mengira Patrick menyetujuinya.
"Ah begitu baru benar Patrick! Aku hanya meminta jawaban iya saja dari mu kenapa susah sekali!" Balas Amber dengan senyum melebar senang.
"Apa Amber? Aku bukan bicara padamu!" Kini Patrick sudah berdiri menolak pinggangnya.
"Lalu dengan siapa, disini hanya kita berdua, kau ini! Sudahlah, besok jam 6 sore kau jemput aku, oke? Byee!! Thankyou Patrick!!" Amber beranjak dari kursinya dan menuju keluar ruangan.
Brak! Patrick menggebrak mejanya dan merengkuh pinggang Zhavia yang masih berdiri tepat di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" Patrick berbalik dan mendekatkan wajahnya percis di depan Zhavia.
"Tidak ada!" Jawab Zhavia tersenyum dan melingkarkan tangannya ke leher Patrick.
"Mengapa kau terus memancingku Zhavia?! Aku tidak menyukai dia, kau ini apa hah?!" Balas Patrick hendak melepaskan tangan Zhavia dari lehernya.
"Bukan masalah Amber!" Kata Zhavia terus memeluk leher suaminya.
"Lalu?" Patrick memicingkan matanya.
"Kau akan tahu sayang! Kau temani saja Amber!" Saut Zhavia tersenyum.
"Ini karna dirimu! Kemarikan bibirmu!"
Patrick mencumbu bibir Zhavia. Meskipun dalam rupa yang lain, Patrick benar benar merasakan kehadiran istrinya setiap saat. Ketika Patrick membutuhkan Zhavia, Zhavia dengan senang hati muncul menenangkan hati suaminya. Disaat Patrick kacau, Zhavia juga akan datang. Zhavia masih terlalu lemah meninggalkan Patrick sepenuhnya karna suaminya belum merelakan dirinya.
...
Patrick melepaskan jasnya, lalu kemejanya dengan sangat cepat sambil terus mencumbu bibir Zhavia. Dia sudah tidak tahan dengan Zhavia yang terus berceloteh mengenai masa depan Zena, apa yang terjadi pada Zena jika dia hanya memenuhi kebutuhannya tanpa memberikan kasih sayang. Dan sesampainya di rumah Zhavia masih mengikutinya sehingga tak sabar dia hendak mencurahkan semua hasratnya. Zhavia mengikuti apa yang Patrick inginkan.
Patrick menyibakan dress putih yang melekat pada tubuh Zhavia. Karena hanya Patrick yang memang bisa melihat serta merasakan tubuh Zhavia seperti nyata. Padahal semua hanya sebagian kekutan zhavia untuk menciptakan sebuah halusinasi. Setelah ia sudah membuka semua yang menutupi tubuhnya, dia menghujam Zhavia dengan penekanan yang cukup keras namun berirama. Zhavia sangat mengerti bagaimana perasaan Patrick yang setiap hari merindukannya namun tidak bisa melulu ada di sisinya. Zhavia hanya menjadi pelurus jalan Patrick sehingga nantinya suaminya itu akan merelakan dirinya tenang di atas sana.
Kenyataannya Patrick memuaskan dirinya sendiri namun Zhavia membuat seakan akan dirinya bersatu dengan suaminya itu. Sejatinya dia juga mencintai suaminya dengan mendalam.
"Argh! Zhavia, aku ingin!" Erang Patrick setelah sekian puluh menit dia melakukan persetubuhan itu pada Zhavia.
"Cepat keluarkan dan temui anakmu! Ini sudah pukul 11 malam!" Decak Zhavia masih dalam kungkungan Patrick.
Patrick meraih tysu dan membuang semua kenikmatannya di sana. Ia lalu membersihkan dirinya hendak ke kamar Zena.
"Kau tetap di sini?" Tanya Patrick pada Zhavia sebelum keluar dari kamarnya.
"Aku akan di samping Zena nanti!" Jawab Zhavia melipat kedua tangan di depan dadanya berdiri di depan lemari.
"Baiklah!"
...
Patrick ke kamar Zena yang mana gadis kecil itu sudah tertidur dengan matanya yang agak membengkak. Patrick menerka pasti gadinya kembali menangis. Mungkin karna kejadian siang tadi.
"Oh my good! My little star! I am so sory! Berikan aku waktu, aku akan berusaha menurutimu!" Gumam Patrick di atas kepala anaknya dan mengecupinya.
"Teruslah bergumam seperti itu setiap malam namun kau tak menjalankannya!" Sindir Zhavia tertidur di samping Zena.
"Jadi kau benar sudah rela aku mencari wanita lain?" Selidik Patrick hanya ingin me dengar jawaban Zhavia.
"Bukan wanita lain, tapi benar benar wanitamu karna aku sudah tiada Patrick, mengapa kau benar benar tak mengerti?" Kini Zhavia beranjak. Sudah dua tahun ini Zhavia terus menghantui Patrick namun nyatanya Patrick tidak mengerti posisi istrinya itu. Patrick masih memenjarakan dirinya dengan rasa bersalahnya.
"Ya ya baiklah, kau berisik sekali! Yasudah, kau yang harus membantuku menemukan wanita yang tepat untuk Zena," ujar Patrick akhirnya mengalah.
"Dan juga untukmu!" Tambah Zhavia
"Terserah!" Decak Patrick dan tidur di samping Zena sambil bersenandung lagu good to me ciptaan Zhavia waktu itu. Lagu ini kini menjadi lagu andalan salah satu grup penyanyi pria di tempatnya dan disukai masyarakat khususnya kaum hawa.
...
To be continued
Don't forget to COMMENT, LIKE and FOLLOW
thanks for read