Cast Clarice Cecilia Ohana : Yoo Seung Ok
Cast Zena Patricia Kwan kecil : Kim Gyuri
Bisa di searching di google, pinterest atau i********: atau follow akun ig viiyovii, vii suka update status tentang novel vii :)
...
Patrick menarik tangannya dan menegangkan wajahnya. Dia sangat tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif kecuali istrinya namun dia tidak mengatakan apapun pada Clarice, dia hanya menatap anaknya kemudian.
"Baiklah, Zena cari aunty Ella mu dan turuti dia, dad harus kembali ke gedung." Kata Patrick mengelus puncak kepala Zena tanpa menghiraukan Clarice lagi yang masih tersenyum.
"Kau tidak bisa lama lagi dad? Bicaralah pada Nona Clarice!" Kata Zena mendongakan kepalanya. Patrick masih memasang wajah datar.
"Zena, masih banyak kesempatan, Daddy mu masih harus menemui komponis inti. Dia sudah mengundur waktunya demi melihatmu, jadi ijinkan dia pergi sekarang, oke sayang?" Eden yang sudah melihat wajah Patrick yang risih segera menjelaskan pada Zena.
"Tidak apa apa Zena sayang, tidak ada yang harus aku bicarakan pada Daddy mu karna kau anak yang luar biasa." Tambah Clarice mengerti posisi penting Patrick.
"Sampai jumpa di rumah Zena!" Pekik Patrick mengecup kening Zena dan berbalik hendak berjalan.
"Terimakasih atas kedatangannya Tuan Muda Kwan!" Ucap Clarice membuat Patrick hanya setengah menoleh dan kembali berjalan.
"Permisi Nona Clarice." Ijin Eden dan menyusul Patrick.
Sementara Zena di sana menunduk dan menekuk wajahnya. Clarice mengerti perasaan Zena.
"Zena, biar bagaimanapun daddymu sudah menyempatkan waktunya," Clarice mencoba memberikan pengertian.
"Bukan itu!" Keluh Zena melipat lipat bibirnya.
"Lalu?"
"Daddyku tidak mau bicara padamu, aku heran sekali, kau kan cantik seperti mommyku dan kau yang paling baik padaku, kenapa dia tidak mengerti?" Kata Zena memberitahu maksudnya.
"Oohh, jadi kau berniat menjodohkan daddy mu dengan diriku? Kau nakal sekali yaa!!" Clarice berjongkok dan mencubit hidung Zena.
"Tidak seperti itu. Aku hanya ingin daddy memiliki teman wanita. Dia selalu bertengkar dengan Ella Aunty dan Bibi Line," tambah Zena masih merengutkan bibirnya.
"Aunty Ella sayang," Clarice mengoreksi panggilan Zena dengan lembut.
"Aahhh, sama saja Nona Clarice!!"
"Baiklah, lanjutkan,"
"Iya, Daddy selalu bertengkar dengan Ella Aunty dan Bibi Line," Zena kembali bercerita.
"Siapa Bibi Line?" Tanya Clarice seketika.
"Ibunya sikembar Jojo, Nona!"
"Oh, istrinya Tuan Eden, haha aku kan tidak mengajar mereka. Aku tidak tahu!" Clarice terkekeh.
"Iya! Daddy selalu menentang mereka, jadi aku sangat yakin kalau daddyku tidak mempunyai teman Wanita, dia selalu bersama Paman Eden dan Paman Hoshi, tidak ada yang lain. Jadi, aku ingin dia memiliki teman wanita dengan sepengatahuanku!" Akhirnya Zena selesai menjelaskan maksud hatinya.
"Kau ini gadis cilik yang sangat pintar, kau pasti seperti daddymu juga kan?" Clarice tersenyum.
"No! Aku seperti mommy, begitu yang daddy bilang!"
"Baiklah, mommymu! Emm, lebih baik kau mendoakannya saja ya? Aku tahu apa yang kau inginkan, tapi kau tidak bisa memaksa daddymu. Biar bagaimana pun daddy memiliki caranya sendiri untuk membuatmu bahagia, dan kau sendiri tadi yang bilang, daddy juga sudah menjadi mommymu kan?" Kata Clarice mencoba memberi pengertian pada Zena yang polos itu. Dia hanya seorang anak kecil.
Zena berpikir dan mengingat kata sambutannya tadi di panggung. Zena mengangguk pun mengangguk.
"Jadi, ya kau harus menghargai dia. Oke? Terus dukung daddymu dan selalu sayangi dia. Dia pasti sangat lelah setelah seharian bekerja untukmu Zena," tambah Clarice lagi memegang wajah Zena.
"Baiklah. Tapi aku akan terus berusaha membuat kalian dekat," balas Zena tetap pada keinginannya.
"Ya coba saja! Ayo, kita cari Nyonya Kwan, em maksudku Nyonya Ella dan Javier," ajak Zena.
"Oh my god, aku harus melihat Javier bermain piano nona kalau tidak dia akan marah!" Pekik Zena mengingat.
"Ya, ayo kita lihat!" Clarice lalu menemani Zena mencari Ella dan Xavier.
Di sekolah itu Zena memang hanya bermain bersama Jocelyn (anak perempuan Adeline dan Eden). Itupun kalau jam istirahat mereka keluar bersamaan. Di kelas, kalau Clarice tidak sibuk, dia selalu menemani Zena. Zena tidak memiliki teman di kelasnya. Dia selalu dibully teman temannya karna tidak memiliki ibu. Kalau Xavier mendengarnya, Xavier pasti membela Zena. Namun, Xavier hanya anak laki laki yang juga bermain dengan anak sebangsanya. Meski begitu, Zena tidak pernah sedih, dia merasa Mommy nya selalu ada di sampingnya jadi dia tetap merasa memiliki seorang ibu. Mungkin juga karna kasih sayang yang diberikan Clarice padanya di kelas.
...
Cast Eden Basariah : Joshua Hong 'Seventeen'
Cast Hoshi Abednego : Hoshi 'Seventeen'
...
"Apa maksudmu dengan masih banyak kesempatan, Eden?! Kalian tuh, aduh aku tidak bisa menjelaskannya lagi! Kalian semua terlalu keras kepala!" Decak Patrick di mobil nya dalam perjalanan menuju Gedung Musik nya.
"Semua permintaan anakmu! Sekali sekali kau jangan melulu menyalahkan kami! Coba kau marahi Zena, kau berani atau tidak?!" Saut Eden membela diri.
"Kalian sungguh menyulitkanku bahkan kalian menghasut anakku!" Balas Patrick ketus.
"Ada apa lagi Eden? Kalian mengenalkan siapa lagi pada Patrick?" Sela Hoshi yang kini menjemput mereka.
Hoshi juga merupakan asisten pribadi Patrick yang mengurusi gedung. Berbeda dengan Eden yang mengurusi semua jadwal Patrick. Namun, Patrick mengatakan pada mereka kalau mereka adalah wakil pemilik Gedung musiknya. Hoshi juga merupakan komponis andalan dari tuan Leonard di Colosseum Legacy. Dia ditarik Patrick karna memiliki bakat musik dengan sangat entertain. Hoshi merasa terhormat karna dapat bekerja dengan Patrick.
"Kau tidak usah ikut ikut Hoshi! Kau juga sama saja!" Decak Patrick pada sahabat yang satunya.
"Oh come on bos! Ini sudah dua tahun! Istrimu juga pasti sudah menerimanya," saut Hoshi mencoba membenarkan pikiran Patrick yang sebenarnya.
"Diam! Aku hanya mencintai istriku! Kemudi dengan benar, aku tidak mau mendengar jodoh menjodohkan lagi! Dan kau Eden, jangan berencana bersama Zena lagi, aku menentang keras!!" Bentak Patrick tetap pada pendiriannya.
"Who knows!!" Saut Eden seenaknya sambil terus memainkan ponselnya. Dan Hoshi bersenandung mengikuti alunan lagu pada radio mobil mereka.
Sementara Patrick terus memperhatikan jalan dengan tatapan nanarnya. Dia benci dengan semua kondisi ini. Dia selalu dihadapkan dengan hal hal kesukaan Zena yang tidak ia sukai. Dia sudah sering mengatakan pada Zena kalau dirinya dapat menjadi kedua unsur penting bagi hidup Zena.
'Zhavia, apa aku salah terus mempertahankan cinta kita? Mengapa tak satu pun orang yang mengertiku, bahkan dirimu?' gumam Patrick dalam hati.
'Salah sayang! Karna aku sudah tiada, cobalah untuk menerima usaha anakmu! Sedikit saja maka lambat laut kau akan mengerti maksudnya!' balas Zhavia.
'Aku sudah mengerti, dia ingin pengganti dirimu, masa kau tidak marah Zhavia?!'
'Karna dia membutuhkannya,' balas Zhavia lagi.
'Baiklah percakapan ini selesai! Pergilah!' Patrick mengusir Zhavia mengitari pikirannya. Ini tidak benar menurutnya.
'Bagaimana aku bisa pergi selamanya kalau kau sulit melupakanku?!' Zhavia masih memutar balikan sikap Patrick.
'Tunggu aku di kamar malam ini, aku akan menghabisimu!' decak Patrick tidak peduli apa yang hendak Zhavia beri pengertian padanya.
'Terus saja kau memanfaatkan rohku!' dengus Zhavia.
'Kau istriku, SELAMANYA TIDAK ADA YANG BISA MENGGANTIKAN!'
...
To be continued
Don't forget to COMMENT, LIKE AND FOLLOW :)
Thanks for read