Patrick dan Eden sudah duduk di kursi penonton ruang auditorium di bagian tengah. Sebenarnya Patrick mendapatkan sofa khusus di bagian depan karna merupakan orang tua donatur penyumbang terbesar di sekolah Zena, namun Patrick tidak ingin menjadi sorotan saat itu. Dia lebih nyaman menyendiri dan tidak diketahui orang meskipun saat ini banyak pasang mata yang terus memperhatikannya.
Patrick menunggu Zena tampil dan tidak memperhatikan beberapa penampilan musik yang tampil sebelum anaknya. Tangannya terus menari nari di ponselnya.
Ketika salah satu guru wanita sekolah Zena tampil dengan suaranya bernyanyi, Patrick agak menghentikan aktivitas bermain ponselnya. Dia seperti pernah mendengar suara yang sudah lama sekali ia tidak dengar secara langsung. Dia hanya mendengarnya di video atau rekaman yang ia simpan dengan sangat baik karna itu adalah mahakarya terbaik istrinya.
Guru wanita itu menyanyikan lagu berjudul And I am telling you I'm not going oleh Jennifer Hudson. Patrick masih hanya mendengarkannya saja tanpa memperhatikan dengan baik sambil kembali memainkan ponselnya. Namun, ketika sang guru menyanyikan di lirik yang mengambil nada tinggi menggelegar dengan falseto dan power, Patrick langsung terdiam. Matanya membelalak.
"And.......... I am.... telling you
I'm.......not going! You're the best man I'll ever know ...." Begitulah lirik di hentakan suara guru tersebut.
Patrick mendongakan kepalanya.
"Zhavia?!" Ucap Patrick mencari cari ke segala arah suara tinggi menggelegar seperti milik istrinya itu.
"Zhavia apa?" Tanya Eden sedikit terkejut melihat Patrick.
"Suara Zhavia, Eden! Dimana suara itu!" Patrick menoleh ke kanan ke kiri ke belakang seperti orang linglung.
"Suara Zhavia apa? Yang ada hanya Nona Clarice bernyanyi di depan sana!" Saut Eden memberitahu pertunjukan yang sedang berjalan.
"Oh!" Balas Patrick.
Patrick melihat ke depan, dia tidak memperhatikan guru tersebut karna tak lama dia memejamkan matanya mendengar dengan seksama suara itu. Dia kembali membuka matanya dan memainkan lagi ponselnya.
Eden menggeleng. Sahabatnya benar benar tidak peka terhadap wanita lagi. Eden merasa Patrick hanya mendengar suara yang mirip seperti Zhavia.
"Ada apa dengan suara Nona Clarice, Pat?" Tanya Eden menyelidiki.
"Tidak bisa bermain alat musik!" Gumam Patrick sambil memainkan ponselnya menunduk.
"Memangnya kenapa kalau tidak bisa, yang penting suaranya bagus kan? Seperti Zhavia kan?" Dengus Eden membela guru yang bernyanyi itu.
"Sedikit!"
"Bagaimana dengan wajahnya. Lihatlah Pat, dia masih di sana!" Kata Eden lagi bersemangat .
Bukannya menjawab, Patrick malah menatap tajam Eden.
"Hanya melihat, tidak usah marah! Hem! Percuma!" Decak Eden ngedumel sendiri dan tidak mengajak Patrick bicara lagi.
Dan yang ditunggu akhirnya akan tampil. Di sana seorang panitia sudah membawakan harpa kecil seukuran tubuh Zena. Tak lama Zena memasuki panggung. Patrick melihat anaknya dengan terkagum. Dia tersenyum sumringah dannsedikit melambaikan tangan pada Zena yang sudah melihatnya. Sebelumnya Eden sudah memberi pesan pada Ella untuk memberi tahu Zena kalau dia dan ayahnya Zena ada di bagian tengah.
Sebelum memainkan harpanya, Zena berkata kata terlebih dahulu hendak menjelaskan instrument yang akan dia bawakan. Dia sudah berlatihnya bersama Eden. Eden juga tersenyum mendengar pernyataan Zena yang sudah mereka berdua rencanakan.
"Selamat siang semua. Sebelum memainkan harpaku, aku akan mengenalkan diri terlebih dahulu. Nona Clarice yang menyuruhku." Zena membungkukan dulu tubuhnya lalu kembali melanjutkan.
"Namaku Zena. Zena Patricia Kwan. Zena berasal dari nama Xena, kalian tahu tokoh fiktif Xena kan? Kata mommy ku dia ratu perang supaya aku kuat dan karna huruf depan mommyku berasal dari Z jadi huruh X diganti dengan Z, sedangkan Patricia berasal dari nama daddy ku. Aku kelas 1 di kelas Nona Clarice. Maafkan aku memperkenalkan diriku karna hari ini sangat istimewa bagiku. Daddy ku datang kesini hendak menyaksikan permainan harpaku. Aku senang sekali. Untuk itu biarkan aku memberi tahu instrumental lagu yang akan ku bawakan. Lagu ini ciptaan diriku sendiri dan Paman Eden. Lagu ini berjudul Thanks. Aku yang membuat judulnya karna aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Daddy ku! Daddy adalah orang yang paling kucintai di dunia ini! Aku sudah tidak mempunyai Mommy, namun Daddy juga bisa menjadi Mommy ku! Dan pada kesempatan kali ini, aku mau mengucapkan terimakasih pada daddy ku!"
(Lagu asli berjudul Thanks by Seventeen. Alunan harpanya menggunakan alunan instrumental piano di atas hehe)
Eden menepuk bahu Patrick yang mana dirinya terus menatap anaknya dengan sedikit berkaca kaca.
"Daddy, aku mengucapkan terimakasih atas hari hari kita selama mommy tiada. Terimakasih karna daddy terus melihatku meskipun aku tahu, daddy juga menginginkan mommy. Daddy, aku hanya ingin menjadi kebangaan daddy, menjadi masa depan daddy agar daddy selalu kuat. Daddy, sejak aku menyadari akan kehadiranmu sampai saat ini, daddy selalu ada di hatiku! Daddy yang membuatku percaya kalau Mommy selalu ada di tengah tengah kita sehingga aku tidak bersedih. Daddy, sebenarnya aku ingin mengatakan hal yang lebih dari kata terimakasih, tapi sepertinya aku tidak bisa. Ini lah diriku untuk daddy. Daddy selalu memberiku kasih sayang dan daddy selalu menyempatkan diri bernyanyi bersamaku setiap malam sebelum tidur. Terimakasih daddy. Dan, kini dengarkanlah persembahan permainan harpaku dan juga untuk kalian semua. Terimakasih."
Zena kembali membungkuk. Dengan gaun putihnya dan rambutnya yang ikal, dia memberikan mic kepada panitia dan mulai memainkan harpanya.
Sementara Patrick sudah meneteskan air matanya. Dia malah merasa bersalah kalau selama ini dia sebenarnya lebih mementingkan pekerjaannya untuk menafkai Zena. Semua yang Zena inginkan selalu Patrick penuhi. Apapun. Namun, hanya karna Patrick memang selalu menyempatkan diri untuk bernyanyi dan berdoa setiap malam dengan Zena, Zena sangat berterimakasih. Hanya hal sederhana itu yang membuat Zena sampai berterima kasih seperti ini. Patrick menghapus air matanya lalu mendengarkan dengan seksama permainan harpa Zena.
'Zhavia, lihat anakmu di sana, dia begitu cantik dan sangat lihai memainkan harpa. Zhavia, kami merindukanmu, sangat dan mendalam! Kau ada di sini kan?' gumam Patrick ditengah tengah permainan Zena.
'Ya, ini, aku di sini, gadis itu meminta kehadiranku, maka aku datang! Dan, setelah ini kau harus memikirkan keinginan Zena yang sebenarnya!' Zhavia sudah duduk di samping Patrick.
Patrick hanya melambai lambaikan tangannya agar Zhavia pergi karna Patrick tahu maksud Zhavia.
Akhirnya permainan harpa Zena selesai. Tepuk tangan riuh memuji permainan harpa Zena yang sangat mengalun lembut dan merdu. Zena memang sudah berlatih harpa sejak usia 3 tahun. Waktu itu Zhavia masih andil bagian dalam melatih Zena bermain musik dan bernyanyi. Sekarang hanya Ella dan satu guru musiknya yang membantunya.
"Zena sudah selesai tampil, kita keluar dari sini! Aku risih dengan semua tatapan dan bisik bisik ini Eden!" Kata Patrick dan beranjak dari duduknya. Eden mengikutinya. Mereka keluar dari ruang pertunjukan itu menuju ke lobby sekolah.
Zena juga menuju ke lobby sekolah bersama satu pengasuhnya karna Ella masih harus menemani Xavier. Zena hendak menemui ayahnya di lobby sekolah. Ketika Zena hendak memanggil ayahnya, Nona Clarice, wali kelasnya memanggilnya.
"Zena?" Panggil Clarice.
"Nona Clarice!!" Zena memeluk Clarice.
"Permainan harpa mu sungguh menakjubkan!" Puji Clarice mengelus puncak kepala Zena.
"Terimakasih Nona! Suaramu juga sangat bagus!" Balas Zena tersenyum lebar.
"Terimakasih sayangku! Jadi siapa yang mau kau kenalkan padaku?" Tanya Clarice penasaran karna akhir akhir ini Zena ribut hendak mengenalkannya dengan seseorang.
"Oiya, itu dia di sana! Hari ini dia datang!" Zena menunjukan ayahnya dan Eden yang kini menghampirinya.
"Tuan Eden? Aku sudah kenal sayang!" Tutur Clarice tersenyum.
"Bukan Nona! Sebentar ya? Dadddyy!!!!" Zena memanggil ayahnya dan Clarice masih berjongkok memeluk Zena.
Patrick dan Eden menghampiri Zena.
"Zena, kau mau pulang? Daddy mu masih harus ada pertemuan!" Kata Eden memegang kepala Zena. Sedangkan Patrick melihat lihat ke sekitar lobby sambil memasukan tangannya ke sakunya.
"Tidak! Aku akan bersama Ella aunty!" Jawab Zena.
"Aunty Ella sayang!" Clarice sedikit membenarkan sambil terkekeh.
"Sama saja! Nona Clarice, aku mau mengenalkanmu dengan Daddy ku! Daddy, kenalkan ini guruku!" Zena mengenalkan Clarice dengan ayahnya.
Clarice tersenyum dan akhirnya berdiri. Eden agak tersenyum melihat aksi Zena. Sebenarnya Eden juga ingin sekali mengenalkan Clarice dengan Patrick, karna kedekatan wanita itu dengan Zena namun Patrick selalu banyak alasan untuk menjemput Zena. Sekalinya bisa, Eden yang tidak ikut. Sekaranglah memang saat yang tepat.
"Daddy, kenalkan ini Nona Clarice, Nona Clarice ini daddyku!" Zena memperkenalkan.
"Selamat siang Tuan Kwan, perkenalkan namaku Clarice."
Clarice mengulurkan tangannya sementara Patrick hanya mengangguk.
"Patrick." Kata Patrick dan tersenyum tipis. Eden dan Zena terheran karna Patrick tidak mengulurkan tangannya juga. Zena mendelik dan akhirnya menarik jas ayahnya.
"Daddy! Ulurkan tanganmu, kau tidak sopan!" Sungut Zena memberitahu.
Eden terkekeh. Hanya Zena yang berani memerintahnya.
Patrick menarik napas dan akhirnya mengulurkan tangannya.
Mereka berdua berjabat tangan.
Patrick melihat Clarice sesaat. Clarice juga menatapnya tersenyum.
"Zhavia?" Tutur Patrick pelan namun Eden mendengarnya. Dia lalu menyenggol sahabatnya itu dan tersadarlah Patrick. Dia lalu hendak melepas genggaman tangannya pada Clarice namun Clarice menahannya. Patrick agak terkejut. Clarice lalu sedikit menarik tangan Patrick.
"Namaku Clarice Tuan!" Ucap Clarice tersenyum dan melepaskan jabatan tangan mereka.
...
To be continued
Don't forget to LIKE AND FOLLOW :)
Thanks for read