Zhavia!" Patrick terbangun dari tidurnya setelah acara semalam memperingati dua tahun meninggal mendiang istrinya. Dia kembali mengingat ketika istrinya dinyatakan pergi untuk selamanya dari dunia ini. Semua ingatan itu malah menjadi mimpi buruk baginya. Zhavia tak akan terganti dalam hatinya. Semua penyesalan menghantuinya setiap saat. Rasa bersalah tidak pernah pergi dari setiap tidurnya.
Napasnya masih tersenggal. Semua begitu sesak baginya.
"Apa?" Saut Zhavia yang sudah ada di sampingnya. Zhavia dalam jiwa yang lain.
"Kau bermimpi lagi?" Tambah Zhavia lagi bertanya.
Patrick menoleh ke wajah istrinya dengan sendu.
"Kemarilah, aku selalu memimpikanmu!" Patrick menarik Zhavia untuk masuk dalam pelukannya.
"Segera bersihkan dirimu dan datang ke pertunjukan Zena, apa kau menerima kalau ayah Zena adalah kak Pierre, bukan dirimu?!" Kata Zhavia lagi mengingat permintaan Zena agar Patrick datang melihat pertunjukan harpanya.
"Ya aku akan datang, tapi puaskan aku dulu Zhavia!" Patrick mengecupi kulit putih istrinya. Hanya Patrick yang bisa melihat dan menyentuh dirinya walau semua tampak seperti ilusi tapi Zhavia dengan kekuatannya membuat seakan akan nyata.
"Kau selalu memuaskan sendiri," saut Zhavia mengingatkan.
"Karna kau tiada!" Ujar Patrick masih mengecupi pundak Zhavia, leher sambil mengendusinya. Tangannya juga sudah menjalar ke dalam pakaian Zhavia dan menjajaki kedua bongkahan kenyal di sana.
"Kita sungguh berbeda sayang," kata Zhavia terus mengingatkan juga memejamkan matanya.
"Tapi aku bisa merasakanmu!" Bisik Patrick sudah berada di belakang telinga Zhavia dan menjilatinya. Satu tangannya menolehkan wajah Zhavia agar bibir merah itu bisa ia kecup dengan b*******h.
"Aku menginginkanmu, Zhavia, puaskan aku sayang!" Bisik Patrick dalam kecupan bibirnya sementara Zhavia hanya melenguh menerim perlakukan suaminya. Patrick merebahkan Zhavia dan memulai keinginan hasratnya.
Patrick kembali memuaskan dirinya. Dalam pikiran Patrick, dia melakukannya dengan Zhavia. Dengan istrinya. Dia seperti berhubungan layaknya sepasang manusia normal padahal Patrick melakukan dengan tangannya. Zhavia melakukan semua halusinasi ini karena merasa Patrick belum bisa melepaskannya.
...
Baiklah, aku sudah siap. Aku akan datang ke sekolahnya Zena, kau puas?" Kata Patrick membenarkan jas nya menatap tajam Zhavia yang menyenderkan dirinya di depan lemari. Dia sudah membersihkan diri setelah mengeluarkan hormon biologis dalam tubuhnya.
"Sangat puas! Kau tampan sekali sayang! Jangan terlalu dingin dan perhatikan sekitarmu, mungkin ada yang mencubit hatimu," kata Zhavia menghampiri suaminya dan ikut membenarkan jas casual itu.
"Bicara apa kau?! Tidak penting! Sudah sana pergi, kau ini tidak pernah mencintaiku!" Decak Patrick memegang pergelangan tangan Zhavia.
"Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa aku di sini?! Lebih baik aku merangkai bunga di atas bersama ibumu!" Balas Zhavia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir suaminya.
"Ah kalian sama saja! Jahat!" Sungut Patrick dengan wajah datarnya.
" Baiklah, selamat bersenang senang!" Ucap Zhavia berbalik dan kembali ke alamnya.
"Heng, zhavia pun sekarang menentangku! Dia tidak tahu bagaimana besar perasaan ini untuknya! Sekali kukatakan tidak akan ada ibu baru untuk Zena, TIDAK AKAN! Aku ibunya dan ayahnya!" Dengus Patrick dan meninggalkan kamarnya menuju ruang makan.
Di ruang makan tampak Zena yang sudah sarapan bersama Ella, Xavier dan juga Pierre. Pierre dengan ponsel di tangannya karna sambil bekerja. Sementara Ella membantu Zena dan Xavier sarapan.
"Daddy! Kau tampan sekali, kau mau kemana?" Tanya Zena yang melihat ayahnya keluar dari pintu kamar.
Patrick tersenyum dan mendekati meja makan.
"Aku akan melihat permainanmu!" Kata Patrick duduk di samping anaknya lalu mengecup pipi tembam itu.
"Benarkah? Thankyou dad, akhirnya kau mau melihat permainan harpaku, bagaimana dengan gaun ku dad?" Tanya Zena tampak antusias apalagi mendengar ayahnya akan melihat pertunjukannya.
"Wow, this incredible !!" Pekik Patrick memperhatikan dengan seksama gaun yang dikenakan anaknya.
"Daddy!" Tatapan Zena seperti mengintimidasi
"Ya?"
"Itu kata kata mommy, kau tidak boleh mengatakannya!" Decak Zena memicingkan matanya.
"Ups sory Zena, daddy penggemar mommy mu yang sejati, jadi daddy akan menyukai semua yang berhubungan dengan mommymu!" Gumam Patrick menampilkan wajah kagum.
"Kalau begitu aku juga! Tapi, mommy sudah tidak ada, bagaimana kita mengikutinya lagi?" Seketika Zena bersedih dan menundukan kepalanya.
Sesaat Ella melirik wajah Zena yang menekuk.
"Hah, perhatikan anakmu jangan hanya memenuhi kebutuhannya. Dia membutuhkan kasih sayang zhavia! Aku tidak akan membahas pengganti, karna sepertinya akan percuma!" Sela Ella sambil terus membantu Xavier sarapan.
"Itu kau tahu! Jadi jangan seenaknya berkata!" Patrick menyeruput ginger tea hangat nya. Setiap pagi dia selalu meminum minuman itu, jika tidak ada, dia tidak akan menyantap sarapan lain.
"Pikirkan emosional dan kehidupan sosial Zena, Pat! Jangan kekanak kanakan!" Decak Ella mengingatkan.
"Terus saja kau berkata karna tidak akan berguna Ella. Hanya zhavia istriku tidak ada yang lain! Sudah jangan bahas ini lagi aku mual! Di mana Eden?" Saut Patrick tidak peduli dengan apa yang dipesankan Ella.
"Sebentar lagi, dia juga harus menyempatkan diri untuk anak anaknya. Kau juga seharusnya seperti itu. Karna seorang anak membutuhkan dua unsur!" Decak Ella lagi belum puas.
"Ella!" Patrick menatap tajam Ella.
Ella diam dan memutar bola matanya malas.
"Aku senang hari ini Paman Pat ikut dengan kami ke sekolah, kau pasti akan terpukau dengan permainan pianoku. Permainan harpa Zena tidak ada apa apanya!" Tiba tiba Xavier berkata kata membuat percakapan itu menjadi kembali teralihkan.
"For you boy!" Patrick tersenyum tipis pada Xavier.
"Daddy, for me?" Zena menarik jas ayahnya.
"Yes, everything is you you my good! Cup!" Patrick mengecup kening putrinya yang masih menikmati roti lapisnya.
Patrick lalu menikmati roti lapisnya dengan diam. Dia malas berbicara pada orang yang membahas tentang pengganti Zhavia.
"Baiklah Patrick, aku ke kantor dulu. Eden akan datang sebentar lagi. Aku akan bersama Ella dan Xavier. Zena? Kau mau bersama uncle atau ur dad?" Ijin Piere yang harus berangkat ke kantor.
"Daddy!" Zena mengalungkan tangannya pada lengan ayahnya. Patrick mengusap puncak kepala anaknya.
"Oke, come on Xavier!" Ajak Piere pada anak laki-lakinya itu.
Xavier, Ella dan Pierre lebih dulu berangkat sementara Patrick dan Zena menunggu Eden.
...
To be continued ...
Next part 4
Plis like and to be favorite :)