Aku sedikit kesulitan berjalan dengan sepatu setinggi 9 cm ini, dikehidupanku sebelumnya, aku tidak pernah memakainya. Asistenku dengan setia mendampingiku agar tetap seimbang dengan langkahku.
"Angkat dagumu, Bu Boss. Orang-orang memperhatikanmu." Bisiknya padaku ketika aku mengeluh kesakitan karena sepatu ini. Aku mendengarkan ucapannya dan mulai berjalan dengan angkuh ketika memasuki gedung tinggi yang mereka sebut sebagai kantorku.
"Jangan lupa senyum sok ramahmu, Bos." Aku mendelik kesal karena ucapannya itu tapi aku tetap mendengarkannya.
"Apa aku dulu adalah orang yang seperti itu?" tanyaku padanya.
"Tidak, dulu kau dianggap lemah oleh orang-orang dan tidak pantas jadi seorang pemimpin, bos. Makanya kau dipaksa menikah dengan tunanganmu yang dingin itu." Asistenku ini ternyata tau banyak hal tentangku, huh, aku di masalalu dan masa sekarang ternyata tidak ada bedanya.
"Selamat pagi, Bu Greya. Anda terlihat lebih sehat hari ini." seseorang menyapaku.
"Selamat pagi, terimakasih. Anda tampak baik juga hari ini, Pak." balasku dengan penuh ketidak-ikhlasan.
"Beliau manejer pemasaran, bos, jika anda memang lupa." kata asistenku mengingatkan. Aku sangat menyukai asistenku ini, dia jauh lebih baik daripada asistenku dulu. Ayah memberitahunya bahwa ingatanku sedikit bermasalah karena terjatuh dikamar mandi, yah, sedikit berbohong.
"Greya!!!! Sayangku,, akhirnya kau kembali!! Aku sangat merindukanmu, apa kau sudah sehat?" Aku tidak percaya melihat orang yang sedang berlari menuju kearahku saat ini, aku tahu tujuannya pasti ingin memelukku, jadi aku menghindari pelukannya dengan memundurkan tubuhku 1 langkah.
Kenapa dia juga bekerja disini?
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku tidak ramah, dia tampak bingung dengan ucapanku.
"Tentu saja ingin memelukmu, memangnya apalagi?" jawabnya.
"Hehe, bisa peluk aku nanti saja? Aku terburu-buru ingin masuk keruang kerjaku." Kataku canggung. Hubungan kami dimasalalu kurang baik, tapi apa dikehidupan dalam mimpi ini kami menjadi dekat?
"Aku akan mengantarmu." tawarnya
"Tidak perlu, aku akan pergi dengan Claires saja." Tolakku halus,
"Honey, apa yang terjadi denganmu? Aku sekretarismu dan aku yang selalu ada bersamamu, Claires itu hanya asistenmu!" ucapnya, sebenarnya ada hal yang membuatku bingung, memangnya apa yang membedakan sekretaris dengan asisten?
"Biarkan saya yang mengantarkan Nona Greya, Riya. Kau kembali saja keruanganmu." Claires, si asistenku itu akhirnya membantuku menghindar dari Riya. Ah, jadi didunia ini ternyata dia tetap menggunakan nama yang sama.
"Kau berani bersikap kurangajar padaku?" tanya Riya geram,
"Tentu saja tidak, hanya saja Nona Greya terburu-buru masuk keruangannya karena ada hal yang harus beliau kerjakan." balas Claires dengan tenang.
"Apa pekerjaan Greya yang aku tidak tahu? Aku ini sekretarisnya!" Riya selalu berusaha menekankan statusnya sebagai sekretarisku.
"Urusan pribadi yang hanya saya dan Nona yang tau, jadi tolong beri jalan untuk Nona Greya." Ah, sekarang aku mengerti, Riya akan mengurus pekerjaanku dikantor sedangkan Claires akan mengurusku secara pribadi atau lebih tepatnya diluar kantor. Tenang saja, aku akan mengangkatnya jadi sekretarisku sebentar lagi. Mengalah, akhirnya Riya memberikan jalan untuk kami sehingga aku dan Claires bisa memasuki ruang kerjaku yang ternyata sangat luas.
"Ariya Glisco, sahabat kecil yang anda angkat jadi sekretaris sejak 3 tahun lalu. Ada rumor yang mengatakan bahwa dia berselingkuh dengan tunangan anda." Claires memberitahuku info tentang Riya, ah.. Seperti yang kuduga, bahkan dikehidupan inipun mereka masih berhubungan dan yang pasti sangat saling mencintai.
"Claires.."
"Ya, Nona."
"Bisa kau gantikan dia jadi sekretarisku?" tawarku, Claires tampak bingung dengan ucapanku.
"Maaf, Nona. Saya tidak mempunyai kualifikasi untuk itu." tolaknya.
"Kenapa tidak bisa? Kau sudah memenuhi kualifikasi yang kubutuhkan." Aku mencoba merayunya.
"Kau yakin, Bos?" tanyanya
"Sebenarnya tidak." kataku bercanda,
"Kau sangat mengerikan, Bos." aku terkekeh mendengar responnya itu.
"Sebenarnya kau itu sangat aneh, Claires. Terkadang kau memanggilku dengan anda tapi terkadang kau memanggilku dengan kau juga. Sebenarnya kau ini sedekat apa denganku?"
"Ternyata Nona benar-benar lupa, kita ini 'bestie' dalam segala bentuk 'perghibahan', Bos!" Dia menjadi bersemangat, meski aku bingung dengan kata-katanya tapi aku memilih tertawa dengan ucapannya.
"Kau sangat lucu." Pujiku tulus
"Benarkah? Bu Bos sangat jarang memujiku, anda lebih banyak memuji Riya!"
"Sepertinya anda bukan Nona Greya yang saya kenal." Aku terkekeh lagi, Claires sangat menyenangkan.
"Carikan aku asisten baru, besok kau akan menjadi sekretarisku yang baru." putusku, Claires bahkan tak sanggup berkata-kata karena ucapanku itu.
"Beri aku waktu 1 minggu untuk belajar bu Bos. Jangan memilihku dengan terburu-buru." tawarnya kemudian, aku menyanggupi itu. Aku masih mampu menghindar dari Riya hingga minggu depan. Tenang saja, aku tidak menghindar karena takut kepadanya, aku menghindar karena malas melihat wajah liciknya itu.
"Tapi Bu Bos, kenapa anda tiba-tiba ingin mengganti Riya? Bukankah dia 'soulmate'mu?" tanya Claires penasaran.
"Kau yang mengatakan bahwa dia berselingkuh dengan mantan tunanganku, kan?" balasku santai, jawaban yang membuatnya tergagap.
"Jangan salah paham, Bu Bos. Saya hanya mengatakan rumor saja, saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut sudah pasti benar." ucapnya terburu-buru, mungkin dia takut disebut sebagai penyebab aku mengganti Riya.
"aku hanya bercanda, tolong perhatikan ekspresi wajahmu yang aneh itu." Kataku lagi,
"Aku hanya ingin dia naik jabatan, tidak lebih kok. Kemampuannya tidak akan bekerja maksimal jika dia masih bekerja sebagai sekretarisku. Aku akan mengangkatnya sebagai kepala sekretaris." jelasku, Claires jelas tidak terima dengan ucapanku.
"Apakah anda ingin menyiksaku, Bu Bos? Aku tidak memiliki hubungan yang baik dengannya lalu kenapa aku harus menjadi bawahannya?" protesnya.
"bagian dari rencana balas dendam" bathinku, tapi aku tidak akan mengatakannya pada Claires.
"Kau harus memecahkan masalah itu, Claires. Bersikap hangatlah padanya sesekali." pintaku, Claires mendesah kesal karena ucapanku, tapi aku tidak akan membiarkannya menderita kok, aku kan sangat sayang padanya.
Kalian akan mengerti rencanaku, jadi tolong temani aku untuk menyelesaikan misiku. Terimakasih