Kedua sepasang mata dengan iris berbeda itu bersirobok. Musik yang sebelumnya mengalir liar di kedua indera pendengaran Lucia mendadak menghilang seakan musik itu sudah punah dari peradaban dunia. Yang ia dengar adalah suara gemeretak gigi yang saling berbenturan.
Tidak menampik bahwa ia bergetar menatap sepasang mata dengan iris coklat pekat yang memandangnya tajam. Sebisa mungkin Lucia menormalkan tubuhnya, mengangkat tinggi dagunya dengan pandangan mencemooh yang dibalas rahang pria itu semakin mengetat seakan-akan tidak takut bahwa hal itu bisa membuat copot dari engselnya.
Lucas mengusap sisa muntahan yang berada di ujung bibirnya dengan sapu tangan yang ia miliki setelah itu menginjak bengis seolah-olah ia sedang menginjak tubuh wanita di hadapannya. “Sial, apa yang kau lakukan rubah kecil,” ucapan pria itu tenang namun tidak menyurutkan tatapan mematikan yang dilontarkan ke arah Lucia.
Sejemang, Lucia membeku saat suara berat itu mengalun di kedua indera pendengarannya seperti ajakan untuk bercinta. Hormon endorphinnya meningkat pesat membuat sel telur yang berada di rahimnya seakan-akan meledak siap untuk dibuahi. Astaga! Lucia menggelengkan kepalanya berusaha meraih kesadarannya yang menipis karena kabut gairah.
Tingkah laku wanita itu tak luput dari kedua indera penglihatannya membuat Lucas mengerutkan alisnya angkuh.
“Dasar gila.”
Cibiran merendahkan yang dilontarkan mulut b***t Lucas hanya dibalas angin lalu oleh Lucia. Ia hanya fokus untuk merapikan kembali sisa pakaiannya yang sudah melorot sana-sini akibat ulah tangan j*****m si b******k paling hot di kawasan bordil ini.
Jika saja Lucia tidak sadar bahwa ia memiliki kepentingan khusus yang ia lakukan di tempat yang biasa ia sebut sebagai nerakaㅡmungkin Lucia dengan senang hati berbagi malam yang panas.
“Sayang sekali, kau bisu rupanya?” tanyanya sarkastis. Bibir dengan lipstik yang sudah memudar itu tetap terkatup terlalu enggan bersuara biar saja b******n seksi ini terus menggonggong layaknya anjing kelaparan.
Hening.
Iris biru laut itu menatap Lucas dengan pandangan tidak tertarik sama sekali. “Tidak usah sok jual mahal, aku tahu bahkan dalam segi seksual kau benar-benar payah dan amatiran.”
Brengsek! Seharusnya Lucia tidak termakan ucapan meremehkan dari mulut penuh dosa Lucas Zarden Alessio. Tetapi, melihat betapa ringannya mulut sialan itu berucap, membuat dadanya terasa terbakar oleh api amarah dan juga gairah. Terlebih sesaat menatap Lucas yang menyesap anggurnya secara elegan dengan mata tajam yang tidak henti memandanginya seakan-akan menelanjangi tubuhnya; membuat Lucia rasanya ingin melorotkan dress-nya saja.
Lihat saja, tubuh pria ini bahkan seperti ukiran patung Dewa Yunani sangat proporsional; otot liatnya, lower abdomen hingga pandangan Lucia tertuju ke arah bagian tubuh selatan yang tidak tahu malu menonjol seakan-akan menantangnya.
“Tutup mulutmu b******k! Bahkan aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu dan kau bukanlah salah satu pria yang akan lolos list untuk one night stand denganku.”
Munafik!
Seringaian terpatri di bibir Lucas, “Oh ya?”
****
Seumur hidupnya, ini kali pertama Lucia dihadapkan oleh Lucas yang terkenal kejam di dunia hitam. Lucia bahkan sadar bahwa pria ini benar-benar berbahaya dibalik wajah tampan rupawannya. Dan berada di satu ruangan VIP dengan ranjang king size yang seakan-akan meraung meminta untuk diporak-poranda itu tidak ada di daftar riwayat hidupnya.
Semuanya karena bodyguard k*****t milik Lucas yang berbadan paling besar saat sekonyong-konyong merenggutnya kasar, mengangkatnya, lalu membantingnya di pundaknya seperti sekarung beras.
Di saat Lucas dengan gaya luar biasa angkuhnya tak mengindahkan Lucia yang terus memberontak di pundak bodyguard-nya memuntahkan sumpah serapah yang sialannya terasa seperti menghadapi rubah liar yang perlu dijinakkan. Damn it, memikirkannya saja membuat miliknya menyempit di dalam kungkungan celananya.
Sesampainya di kamar yang sialannya benar-benar luas. Lucas hanya terkekeh kecil saat melihat Lucia yang menatapnya berapi-api dengan gelagat tubuh seolah-olah menantangnya. Menantang untuk disetubuhi secara brutal, mungkin.
“Jangan ada yang mendekati pintu kamar ini, aku ingin bersenang-senang dengan rubah liarku itu, kalian berjaga di luar tempat bordil ini.”
Bodyguard berbadan besar itu mengangguk sesaat sebelum berujar dan memberikan Lucas sekotak karet pengaman, “Selamat bersenang-senang, Bos.”
Lucas mengangguk singkat, menutup pintu dengan kakinya sebelum mendekati buruannya layaknya predator yang kelaparan.
Seringaian mengejek itu tak luput dari penglihatan Lucia sehingga membuatnya muak dan ingin menghantamkan vas bunga ke kepala Lucas. Sebelum akhirnya pandangan Lucia memandangi area d**a bidang Lucas membuat bibir Lucia terpatri senyuman menggoda.
“Sudah tergoda, huh?” ejeknya.
Kedua tungkai kakinya berjalan menghampiri Lucas yang berdiri dengan angkuh. Wanita itu bahkan tanpa malu membuai d**a Lucas dengan gerakan pola abstrak sengaja memainkan gairah sang pejantan. Kecupan basah yang diterima Lucas menggetarkan tubuhnya. Sial, wanita ini bahkan terlihat seperti penggoda ulung.
“Sekarang bagaimana? Masih meragukanku tentang kegiatan di ranjang?” lirihnya di daun telinga Lucas.
Seringaian terpatri di bibir Lucas, "Mungkin tidak, setelah aku melihatmu bergoyang di atas tubuhku dan memuaskanku."
Dalam sekali sentakan Lucia merapatkan tubuhnya membuat Lucas menggeram rahangnya mengetat, gairahnya sudah berada di ubun-ubun dan wanita ini ingin menggodanya? Ia mencengkeram kuat jemari Lucas yang nyaris menyentuh kejantanannya membuat wanita itu merintih di cuping telinga Lucas.
Bak melodi rintihan itu membuat libidonya semakin memuncak. Lucas bahkan mulai membayangkan bahwa wanita ini merintih saat dirinya melesakan kejantanannya ke dalam tubuh yang sialannya terasa menggairahkan.
Bangsat!
Pikiran kotor yang terus bersarang di kepalanya membuat Lucas menggeram rendah. Seolah tak sabar untuk memulai sebuah penyatuan.
Dengan cekatan, Lucas menghempaskan tubuh Lucia ke ranjang. Hormon testosteronnya tak bisa diajak untuk berkompromi lagi. Sial, Lucas merasa bahwa ia seperti singa jantan yang sedang mengalami musim kawin. Begitu liar, bahkan Lucas bisa merasakan celananya benar-benar menyesakkan.
Bibir keduanya bertemu saling bertautan liar seolah-olah tidak ada hari esok. Ciuman itu tak kalah hebat dan panasnya melebihi ciuman sebelumnya, mengeksplorasi dan menjajah tubuh yang terbaring pasrah.
Seperti seorang alpha yang menunjukkan kekuasaannya kepada matenya sendiri.
Lucas mengerang saat Lucia terus membelai dadanya merembet ke belakang menyentuh tengkuknya. Membuat ia semakin terasa sesak secara bersamaan, sebelum akhirnya entakkan kasar itu terasa di antara kedua pangkal pahanya.
“Holy s**t!”
Lucas merasa lumpuh detik itu juga di saat ia merasakan pusat gairahnya ditendang oleh lutut wanita k*****t yang bahkan sudah enyah dari kamar bordil ini. Dengan membawa berlian miliknya.
Benar-benar double s**t!