Bagi Lucas Zander Alessio berpetualang dari ranjang satu ke ranjang lainnya sudah menjadi kebutuhan primer. Lucas bahkan tak pernah menghitung berapa jumlah wanita yang sudah menghangatkan ranjangnya; karena setelah itu dia dengan brengseknya melupakan wanita layaknya membuang kondom bekas pakai.
Toh, ia tak peduli seperti pepatah yang mengatakan; mati satu tumbuh seribuㅡitu benar adanya karena sedikitpun Lucas tak pernah kekurangan wanita bahkan terlalu banyak wanita di sekelilingnya yang rela membuka kaki di hadapannya hanya untuk satu malam yang menggairahkan.
Dan Lucas dengan arogannya memasang mimik muka merendahkan seakan-akan dirinya adalah raja dan wanita hanya sebatas b***k belian yang diciptakan sebagai objek pemuas berahi atau penampung s****a. Seribu wanita bahkan tunduk di bawahnya kecuali satu; rubah liar sialan yang membuat harga diri tinggi seorang Lucas Alessio merosot sampai ke perut.
Semua persepsi yang bahkan Lucas bangun selama puluhan tahun seakan-akan menamparnya telak. Membuat Lucas seperti pecundang sialan yang pantas menghuni kerak neraka.
“b***h!”
Kepalanya seakan berdenyut ingin pecah membuat Lucas meringis. Entah efek sakit di kepala atau bagian tubuh yang lain. Lucas menunduk melihat tubuh bagian bawahnya yang masih berdenyut nyeri ia melonggarkan celana bahannya. “Jika sampai milikku lecet aku bersumpah akan menembak kepalamu!”
Ini kali pertama seorang wanita yang berani mendaratkan lututnya di area kebanggaannya di saat para wanita lain mengagumi miliknya sedangkan wanita gila itu?! Ck, Lucas bahkan tak percaya bahwa ada yang berani menolaknya. Apa mungkin wanita itu seorang lesbian?
Dengan rahang mengetat Lucas beranjak masih berusaha menetralisir rasa sakit dari kejantanannya. Sekuat apapun dia, ditendang tepat pada pusat gairahnya yang tengah mengeras adalah neraka sesungguhnya. Ini benar-benar menyakitkan. Gebuan amarahnya semakin mencuat ke ubun-ubun ingin rasanya ia menerjang dan meremukkan leher wanita k*****t itu yang sialannya berhasil membangunkan sisi iblis di dalam tubuhnya.
“Seret wanita sialan itu ke hadapanku secara hidup-hidup!” Tanpa mau mendengar sahutan dari orang kepercayaannya, Lucas mematikan sambungan ponsel secara sepihak sebelum membantingnya ke arah sudut ruangan.
Bibirnya terus menyesap anggur dengan gebuan penuh emosi, buku-buku jemarinya memutih saat ia terlalu kuat mencengkeram gelas yang tak berdosa itu. Sialan! Ia butuh sebuah pelampiasan secara nyata untuk meredakan gejolak emosi yang terus terpacu naik.
Sebelum akhirnya pintu terbuka menampilkan seorang pelayan yang mengantarkan sebotol whiskey pesanannya dengan pandangan menggoda. Lucas menggeram saat melihat wanita itu seperti p*****r rendahan lainnya di luar sanaㅡyang memakai pakaian kurang bahan.
“Ini pesanan anda, Tuan Lucas,” ujarnya dengan senyuman menggoda sebelum menaruhnya di atas meja.
Wanita yang memiliki bibir tebal dengan lipstik merah menyala itu menatap wajah Lucas yang memancarkan aura datar tetapi hal itu tak membuatnya gentar untuk angkat kaki dari ruangan VIP yang Lucas pesan. Ruangan yang bahkan hanya kalangan tertentu yang dapat masuk karena terlalu mewah dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Lagian siapa juga perempuan t***l yang tidak sudi berdekatan dengan Tuan Lucas?
Terlebih jika harus menghangatkan ranjang seorang bujang yang paling diminati oleh wanita-wanita di luar sana. Ya lord, ia seperti mendapat angin segar di saat musim kemarau panjang.
Sadar pikirannya sudah terlalu jauh ia kembali menatap Lucas yang kini sedang memandangi jalanan kota yang terlihat lenggang karena waktu menunjukan tengah malam. Menghela langkah perlahan menghampiri Lucas. Senyuman menggoda tak surut dari bibirnya saat melihat punggung kokoh yang seolah meraung minta disentuh.
“Tuan,” Jemari lentik itu mengusap punggung telanjang Lucas yang dihiasi tato serigala. “Singkirkan tangan kotormu itu dari tubuhku, jalang!” tandasnya dengan suara rendah. Seperti perintah mutlak yang tidak ingin dibantah.
***
Sejemang, wanita itu terkesiap kaget tapi bibir dengan lipstik merah menyala itu malah tersenyum menggoda saat mendengar suara rendah sarat gairah itu. Jemarinya dengan berani menyusuri area pinggang Lucas dengan gerakan selembut sutra. Seolah-olah ingin menguji iblis tampan di depannya ini.
Semakin turun menuju tubuh bagian selatannya yang kini tengah mengeras dan kemudian meremas lembut penuh dengan keahlian. Seperti ditampar bolak-balik Lucas tersadar, bahwa sebelumnya wanita sialan itu juga sangat ahli seperti p*****r ini. Ia tidak sudi menyandang julukan keledai t***l yang jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya; kedua tangan kekar itu mencengkeramnya dengan kekuatan tak ditahan-tahan lagi membuat ringisan keluar dari bibirnya.
Brengsek! Mengapa ia juga mengingat rintihan wanita sialan tadi?!
“Menyingkir,” gaungnya dingin lalu menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar. Dengan amarah meletup-letup Lucas beranjak menjauh sebelum kedua langkah kakinya terhenti saat merasakan ada yang memeluk tubuhnya dari belakang.
“Kau membutuhkan teman tidur ‘kan? Izinkan aku menemanimu, Tuan. Aku mohon, kau bisa menggunakan tubuhku semaumu.” Labium tebal itu menyeringai saat kedua indera pendengarannya mendengar kata dengan sarat memohon. Lihat, wanita sinting itu mungkin positif lesbian.
Jemarinya mengeluarkan pistol dari saku celana bahannya. Mengusapnya amat perlahan seperti membersihkan barang keramat peninggalan majapahit dari debu yang mengotorinya.
“Semauku?” tanyanya menggoda.
Tanpa curiga pertanyaan itu dibalas anggukan antusias, “Ya, semaumu.”
Akhirnya, p*****r lain yang berada di rumah bordil ini pasti akan memandangnya iri. Karena ia berhasil mengajak seorang miliarder terkaya untuk menghabiskan satu malam menggairahkan bersama dengannya. Ia akan dengan bangga memamerkannya.
Lucas membalikan tubuhnya merengkuh pinggang wanita blasteran itu lalu mengecup bibirnya singkat. “Kalau begituㅡ” wanita itu terpejam menikmati gerakan selembut sutra dari jemari Lucas. “ㅡaku mau, kau berada di neraka!”
Belum sempat ia mengeluarkan suara untuk menanyakan apa maksud pria itu. Telinganya berdengung mendadak tuli saat gelegaran itu mampu mendobrak gendang telinga.
Bau mesiu menguar di udara saat Lucas menekan pelatuknya membuat peluru secepat kilat itu menembus daging bersarang di dalam sana. Membuat darah segar mengalir tanpa bisa ditahan.
Tubuh wanita itu terdiam kaku dan berlutut di atas lantai. Meringis dengan napas terputus-putus seraya menatap turun ke bawah ketika darah merembas keluar dibalik mini dress-nya dan ia ambruk seketika.
“T-tuan,” Dengan tangan bergetar ia menyentuh dadanya yang berlubang kedua netranya terbelalak memandangi tubuh Lucas yang berdiri dengan arogan setelah meluncurkan salah satu peluru kesayangannya. Setiap area yang ditekannya terasa mati rasa membuat kesadaran tidak lagi bisa digapainya.
Dan benar saja, hanya membutuhkan satu nyawa untuk bisa meredakan emosinya.