***
Setelah menyantap perburuannya, Jiyong langsung bergegas mengajak Taeyeon pergi dari tempat itu dengan terburu-buru. Mereka langsung bertolak menuju rumah Sam dengan gusar.
“Jiyong, Taeyeon,” panggil Sam saat melihat keduanya datang dengan napas terengal-engal.
“Kita harus pergi dari sini.”
“Kenapa? Ada apa?” tanya salah satu teman Sam yang lain.
“Para vampire mengetahui identitas Taeyeon.”
Seluruh mata langsung mengarah pada Taeyeon yang sama gusarnya dengan Jiyong.
“Bagaimana, bisa? Kalian habis dari mana?”
“Kami berburu di hutan netral. Lalu –“ Taeyeon menggantungkan kalimatnya, melihat ke arah Jiyong seolah memintanya untuk melanjutkan.
“Para vampire itu tidak sengaja lewat saat kami berburu. Saat aku akan diserang, Taeyeon membantuku,” jelas Jiyong.
Salah satu teman Sam berdecih,”Jiyong tidak akan kalah dan mati hanya karena dua vampire. Jiyong ‘kan...”
Dengan cepat, Sam langsung memukul lengan tangan temannya, memintanya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Begitu pun Jiyong, ia sudah melemparkan tatapan ke arah temannya itu untuk tidak berbicara apapun tentangnya di depan Taeyeon.
“Kita pulang sekarang.”
“Maksudmu? Pulang ke rumahku? Tidak mungkin.”
“Jiyong, kita tidak punya pilihan. Jika para vampire itu mengikuti jejak Taeyeon, maka Taeyeon bisa dalam bahaya.”
Jiyong dan Taeyeon saling beradu pandang. Entah apa yang ada dipikiran Jiyong saat ini dan keputusan apa yang akan ia ambil. Tapi, yang pasti ia sangat mengkhawatirkan Taeyeon lebih dari dirinya sendiri.
“Oke, kita pulang.”
Taeyeon terkejut,”Jiyong, aku tidak mungkin bersembunyi di sana.”
“Kita tidak punya pilihan, Taeyeon.”
“Aku bisa menghadapi mereka, Jiyong.”
“Taeyeon,” tiba-tiba saja, nada suara bicara Jiyong naik. Membuat Taeyeon langsung membungkam mulutnya. “Kita akan pulang ke rumahku. Demi keamananmu, oke?”
Hari sudah mulai gelap, dan mereka harus bergegas sebelum hari benar-benar gelap. Dengan didampingi oleh kawanan serigala, Taeyeon pun dilindungi sebisa mungkin untuk bisa sampai di rumah Jiyong. Dalam perjalanannya, Taeyeon terus memperhatikan Jiyong dengan seksama. Tersirat rasa khawatir dan cemas di sana. Begitu pun Taeyeon.
“Apa ‘kah mereka akan menerimaku, Jiyong? Aku bukan bagian dari kalian,” kata Taeyeon.
Jiyong tertawa kecil,”Mereka akan menerimamu. Jika mereka tidak mau menerimamu, aku akan pergi bersamamu kemana pun kau mau.”
Kata-kata klise Jiyong sangat menenangkan Taeyeon. Meski faktanya, Taeyeon menyadari bahwa ia dan Jiyong tidak mungkin terus bersama. Kebersamaan yang fana ini tetap ia nikmati, walau ia tahu, ia hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan, Jiyong melepas jaketnya dan memberikannya pada Taeyeon. Ia juga menggenggam tangan Taeyeon. Seolah tidak ingin melepaskannya.
-
Seluruh sorot mata para kawanan serigala langsung mengarah kepada Jiyong, Taeyeon, Sam, beserta kawanan serigala lainnya. Jelas saja, kehadiran Taeyeon bukanlah hal yang diharapkan oleh para penduduk di desa ini.
Lupin keluar dari rumahnya setelah mendengar kedatangan Jiyong. Ia menghela napasnya panjang saat melihat kedatangan Taeyeon. Disambut dengan banyak pasang mata yang berwarna keemasan bukanlah suatu pertanda yang baik. Jiyong menyembunyikan Taeyeon ke belakang tubuhnya.
“Kau tidak akan senekat ini jika tidak ada masalah serius,” kata Lupin sambil memalingkan wajahnya dari mereka.
Jiyong, Taeyeon, dan Sam pun masuk ke rumah Lupin. Taeyeon berkali-kali memberi kode takut pada Jiyong. Namun, semakin Taeyeon menunjukkan rasa takutnya, Jiyong semakin menggenggam tangan Taeyeon dengan sangat erat.
Lupin mempersilakan mereka untuk duduk dan ketiganya pun duduk dengan sungkan.
“Ada apa, Jiyong?”
“Aku butuh tempat berlindung untuk Taeyeon.”
Lupin mengarahkan pandangannya ke arah Taeyeon.
“Para vampire mengetahui identitas mereka, Ayah. Dan, itu akan sangat membahayakan Taeyeon nantinya. Aku bisa pastikan Taeyeon berbeda dari vampire lainnya, Ayah,” jelas Jiyong.
“Kau tahu ‘kan bahwa ini juga bisa membahayakan dirimu, Jiyong?”
Taeyeon memandangi Jiyong. Dan, Jiyong hanya tersenyum membalas tatapan Taeyeon.
“Aku tahu. Tapi, jangan khawatir, Ayah.”
Cukup lama Lupin memikirkan jawaban untuk permintaan Jiyong. Melindungi Taeyeon berarti melindungi vampire. Menerima vampire berada di daerahnya sudah melanggar apapun yang ada. Terlebih, istri Lupin, ibu Jiyong pun kehilangan nyawa karena makhluk berdarah dingin yang haus darah ini.
Namun, sekuat apapun peraturan, jika ia harus melindungi sang anak, Lupin akan rela melanggarnya.
Saat ini baginya, Jiyong adalah yang utama. Dan, Taeyeon terhubung oleh suatu hubungan yang tidak bisa dijelaskan dengan Jiyong. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, Lupin akan melakukan apapun demi sang anak.
“Baiklah.”
Sorot mata Jiyong, Taeyeon, dan Sam pun berbinar. Mereka sangat bahagia mendengar jawaban dari Lupin.
“Tapi, ingat, jika ada satu kekacauan yang ditimbulkan di sini, ia harus pergi.”
“Iya, Ayah. Terima kasih,” ucap Jiyong.
Jiyong memandang Taeyeon yang sedang mengembangkan senyumnya. Entah mengapa, tapi Taeyeon seakan bahagia dengan kebersamaan yang fana ini. Ia lupa, bahwa dunianya berbeda. Dan, perpisahan bisa saja datang dengan sekejap mata. Taeyeon seakan lupa, ada luka yang harus dibayar di sini. Ada darah yang harus tumpah di sini. Ada dendam yang belum terkubur rapat di dalam dirinya.
-
Jiyong menemani Taeyeon di dalam rumah yang diberikan untuk Taeyeon bersembunyi sementara. Malam di desa ini sungguh berbeda dari malam lainnya. Di sini, Taeyeon bisa mendengar suara lolongan serigala yang saling bertautan dengan jelas. Nampak berisik.
“Berisik, ya?” kata Jiyong yang datang dengan membawa segelas darah hewan.
Taeyeon terkekeh kecil,”Semakin malam, semakin ramai, ya?”
Taeyeon menerima segelas darah yang Jiyong bawa untuknya. Ia pun meminum darah pemberian Jiyong tersebut. Dari lantai dua di rumah ini, Taeyeon mengedarkan pandangannya menembus sang malam. Melihat bagaimana kawanan serigala di sini mulai beraktivitas di malam hari.
“Taeyeon, bagaimana pada waktu itu kau bisa mengontrol dirimu untuk tidak teralihkan dengan darah manusia dan lebih memilih melindungiku?” tanya Jiyong mencairkan suasana.
“Aku tidak tahu. Aku hanya mencoba untuk mengontrol diriku sendiri. Dan, ku lihat kau juga sedang dalam bahaya. Jadi, aku memutuskan untuk menyelamatkanmu.”
“Tapi, karena itu, kau malah menempatkan dirimu ke dalam bahaya, Taeyeon.”
Taeyeon tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Asal kau selamat. Karena, kau juga pernah menyelamatkanku, Jiyong.”
Jiyong menarik napas panjangnya,”Aku tidak ingin kau terluka atau pun berada dalam bahaya.”
“Jiyong, kenapa kau sangat ingin melindungiku?” tanya Taeyeon.
“Karena, kau Taeyeon.”
Mendengar lelucon Jiyong barusan, Taeyeon langsung memukul bahu laki-laki itu.
“Aku serius.”
“Aku juga serius,” katanya dengan nada yang sedikit berbeda.
Taeyeon menoleh ke arah Jiyong yang sedang memandangnya. “Aku menyukaimu, Taeyeon.”
Deg.
Jantung Taeyeon seolah berhenti seketika. Pandangan laki-laki itu menatapnya dengan intens. Ia dapat melihat bagaimana Jiyong sangat serius dengan ucapannya.
“Jiyong, kau tahu kita berbeda,” kata Taeyeon.
Jiyong tertawa kecil sambil membalikkan badannya dan bersandar di tepi pagar lantai dua rumah tersebut.
“Bahkan, jika kau adalah makhluk yang tidak tinggal di bumi pun, aku akan tetap menyukaimu, Taeyeon. Aku tidak peduli dengan apapun perbedaan kita.”
Taeyeon tersenyum tipis. Matanya mengekor dan memandang Jiyong dengan malu.
“Jiyong, saingan kita bukan lagi dunia. Tapi, seluruh alam semesta. Apa kau siap menghadapinya?”
“Seluruh alam semesta harus tahu, bahwa kau milikku, Taeyeon.”
Taeyeon tertawa kecil,”Aku bukan barang, Jiyong.”
“I know, but –“
“Sebesar apa kau menyukaiku?”
Jiyong memutarkan bola matanya, berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.
“Kau akan selalu menjadi jawaban di antara pilihan yang aku dapatkan.”
“Meski suatu saat jika pilihan itu adalah tentang aku atau keluargamu?”
Jiyong diam. Tatap matanya berubah. Binar matanya tidak seperti beberapa menit yang lalu.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Ia masih diam. Dan, diamnya seolah menjadi jawaban. Bahwa, Taeyeon tidak akan berada dalam pilihan itu. Bahwa, cintanya hanya sebuah kebahagiaan fana. Dan, bahwa, Taeyeon harus siap merelakannya kapan pun saat waktu itu tiba.
Rasanya, seperti patah hati sebelum terjadi. Pilihan itu memang belum datang, tapi rasa sakitnya sudah ia rasakan duluan. Memiliki saja belum, tapi sudah merasa kehilangan.