***
“Pagi,” sapa Jiyong pada Taeyeon yang baru saja bangun dari tidurnya.
Taeyeon berdiri dengan kikuk saat melihat Sam dan Jiyong sedang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
“Kau masih memakan makanan manusia, ‘kan?” tanya Sam.
Taeyeon mengangguk kaku,”M-masih.”
“Tapi, dia lebih suka darah hewan sekarang,” goda Jiyong yang langsung membuat Sam tersenyum ke arah Taeyeon.
“Ada yang bisa ku bantu?” tanya Taeyeon.
“Duduk saja. Biar kami yang menyiapkannya,” kata Jiyong sambil menyuruh Taeyeon untuk duduk.
Dari kursi yang tidak jauh dari dapur, Taeyeon bisa melihat keduanya sangat sibuk menyiapkan makanannya. Tidak hanya makanan manusia, tapi ada juga darah hewan segar yang mereka sediakan.
“Bagaimana tidurmu, Taeyeon? Nyenyak?”
“Nyenyak. Terima kasih untuk tempatnya.”
Sam dan Jiyong tersenyum tulus. Selagi mereka sibuk menyiapkan makanan, pandangan Taeyeon pun bergerilya di setiap sudut rumah Sam. Rumah yang terbuat dari kayu sangat nyaman sekali untuk ditempati. Berada di tengah hutan dengan udara yang segar dan sinar matahari yang masuk melalui celah di antara rindangnya pepohonan. Sangat nyaman sekali.
“Sam, apa kau tinggal seorang diri di sini?”
Sam menggeleng dengan cepat,”Sebentar lagi kau akan bertemu mereka.”
“Mereka?” Kedua alis Taeyeon pun saling bertaut. Bingung.
“Para penghuni rumah ini.”
Benar saja, tak lama dari itu, terdengar suara ramai yang masuk ke rumah Sam. Taeyeon terkejut sekaligus merasa takut. Langkah mereka juga langsung terhenti saat melihat Taeyeon yang sedang berdiri ketakutan.
“Tenang saja. Dia bersama Jiyong,” kata Sam menenangkan mereka. “Tenang saja, Taeyeon. Mereka teman kita,” lanjut Sam.
Dengan langkah yang hati-hati, mereka pun menghampiri Taeyeon dan mulai memperkenalkan diri mereka satu per satu. Begitu pun Taeyeon, ia memperkenalkan dirinya kepada sekawanan serigala yang baru saja tiba di rumah Sam.
“Jadi, kabar itu benar, Ji? Bahwa kau mengencani seorang vampire?” goda salah satu dari mereka.
Jiyong langsung membelalakkan matanya dan mengangkat jari telunjuknya ke depan mulutnya. Sebuah isyarat agar mereka tidak membahas soal itu.
“Kencan?” tengok Taeyeon.
Sebelum suasana berubah menjadi canggung, Sam pun langsung menginterupsi mereka dengan makanan yang sudah ia sediakan. Mereka pun nampak b*******h melihat makanan yang Sam sediakan.
“Ini buatmu,” kata Jiyong sambil menyerahkan segelas darah hewan pada Taeyeon.
Seluruh pandangan langsung mengarah pada Taeyeon. Yang ditatap pun langsung kikuk.
“Harap maklum, Taeyeon masih dalam masa pertumbuhan. Jadi, dia masih perlu mengontrol rasa hausnya,” celetuk Sam yang langsung diikuti gelak tawa dari teman-temannya.
“Tapi, aku bukan anak kecil, Jiyong,” kata Taeyeon sambil berbisik pada Jiyong yang duduk di sebelahnya.
Jiyong hanya tertawa sambil menyantap sarapannya. Begitu pun Taeyeon, ia menenggak minuman yang diberikan Jiyong dengan lahap dan tanpa tersisa.
“Jadi, Taeyeon, mereka adalah teman-temanku. Dan, mereka tidak tinggal di sini. Tapi, mereka juga sering ke sini,” jelas Sam.
“Apa Taeyeon akan tinggal di sini?” tanya salah satu dari teman Sam.
Jiyong mengangguk,”Untuk sementara. Dan, aku butuh bantuan kalian.”
“Tentu akan kami bantu. Taeyeon bersama Jiyong. Dan, sudah tugas kami untuk saling membantu di antara kita, ‘kan?”
Suasana pagi yang dihiasi gelak tawa ini seakan mengusir kesedihan Taeyeon yang baru kehilangan kedua orang tua angkatnya beberapa hari lalu. Setelah saling berusaha mengenal, mereka pun mulai welcome dengan Taeyeon. Bahkan, di antara mereka ada yang sudah tidak lagi canggung untuk mengajak Taeyeon bercanda ria. Jiyong menarik garis senyumannya saat melihat Taeyeon tersenyum bahagia.
Ia ingin terus melihat senyuman yang ada di wajahnya. Bisa ‘kah?
“So, Taeyeon, bagaimana tidurmu di sini?”
“Aku pikir dia tidak akan tertidur. Dia vampire.”
“Half vampire,” balas Sam kepada para teman-temannya. “She still half human, tho.”
Setelah Taeyeon menghabiskan minumannya, Jiyong pun menarik tangan Taeyeon untuk mengajaknya berjalan-jalan ke luar.
“Maaf, kalau mereka menyinggungmu,” kata Jiyong.
“It’s okay. Mereka seru.”
Jiyong tersenyum mendengar ucapan Taeyeon barusan.
“Jiyong, kenapa kau tidak membicarakan tentang masa kecilmu? Aku pikir kau sudah hampir mendengarkan seluruh ceritaku. Tapi, aku masih tidak tahu apapun tentangmu.”
Jiyong tertawa kecil,”Tidak ada yang menyenangkan dari masa kecilku. Hanya seputar kehidupan serigala.”
“Tell me about it. I want to know.”
Sambil berjalan menyusuri hutan di pagi hari, Jiyong dan Taeyeon pun berbagi cerita tentang kehidupan mereka berdua. Tentang, bagaimana Jiyong tumbuh sebagai serigala. Dan, bagaimana kehidupan seorang serigala. Saat mendengarkan cerita Jiyong, Taeyeon mengamatinya sambil tak henti-hentinya ia tersenyum.
“Kenapa?” tanya Jiyong saat melihat Taeyeon tersenyum.
“Apanya?”
“Kenapa kau tersenyum?”
“Ku rasa tersenyum adalah hal yang gratis di dunia tanpa harus dipertanyakan alasannya.”
Jiyong pun ikut tersenyum mendengarnya.
Di tepi sungai yang mengalir deras, Jiyong mengentikan langkahnya. Diikuti oleh Taeyeon yang berada di sampingnya.
“Ini adalah batasan milik para serigala. Sedangkan yang di sana,” Jiyong menunjuk ke arah sebrang mereka. “Milik para vampire berburu hewan.”
Taeyeon menyimak penjelasan Jiyong dengan seksama.
“Sedangkan, daerah hutan tempat aku berburu denganmu, itu adalah daerah netral. Siapa saja boleh berburu di situ.”
“Lalu, apa yang terjadi jika di antara kalian menginjakkan kaki di daerah yang lain?”
Jiyong menoleh ke arah Taeyeon dengan serius,”Sudah pasti akan ada keributan besar di antara kita. Jadi, kau harus waspada.”
“Tapi, bagaimana denganku? Aku vampire, dan kini aku berada di daerah serigala.”
“Kau akan aman berada di sini, selama bersamaku.”
Taeyeon mengembangkan senyumnya. Dan, mengalihkan pandangannya ke arah sungai jernih yang mengalir dengan sangat deras.
“Jiyong, ada apa para vampire itu mencariku?” tanya Taeyeon dengan penasaran.
“Kemarahanmu beberapa waktu lalu saat kau sedang mengejar para serigala yang membunuh kedua orang tuamu, aku pikir pada saat itulah kau mengundang mereka. Karena, saat itu, kau membawa awan hitam dan bulan merah bersamamu. Dan, kedatangan mereka, ingin melihat dan mengajakmu bergabung bersama mereka. Manusia setengah vampire hampir tidak pernah ditemukan lagi. Jadi, kau akan sangat berharga bagi mereka.”
“Jiyong.”
Tiba-tiba saja Taeyeon memanggil nama laki-laki itu dengan lirih. Jiyong pun menoleh.
“Terima kasih,” jawab Taeyeon asal. Sebenarnya, bukan ini yang ingin ia katakan. Ia ingin meminta maaf pada Jiyong. Namun, lidahnya terasa kelu dan ia tidak sanggup untuk merusak suasananya dengan Jiyong.
Jiyong tersenyum.
“Harus ‘kah kita berburu sekarang?” tanya Jiyong.
Taeyeon mengangguk. Dan, keduanya mulai menyusuri hutan menuju ke daerah netral yang berada tidak jauh dari mereka berdiri saat ini.
Langkah Taeyeon berhenti tepat saat ia melihat seekor rusa sedang mencari makan. Jiyong menepuk pundak Taeyeon sambil berkata,”Fokus dan tenang.”
Lalu, Jiyong pun meninggalkan Taeyeon dan berdiri dari kejauhan. Agar Taeyeon bisa memulai berburu dan melatih kemampuannya. Taeyeon berjalan merunduk mendekati sang rusa. Ia yang masih bisa tersenyum itu pun secara tiba-tiba berubah jadi serius. Salah satu matanya memerah dan taringnya keluar. Pandangannya tidak lagi mengarah pada rusa yang ada di depannya, ia teralihkan oleh bau darah manusia yang tidak jauh dari ia berada sekarang.
Dengan cepat, Jiyong menghampiri Taeyeon dan berdiri di belakang perempuan itu.
“Fokus, Taeyeon. Fokus pada rusanya, bukan yang lain.”
Rasa haus darah manusia itu mulai menguasai Taeyeon. Ia terlihat sangat lapar. Saat Taeyeon mulai menggerakkan kakinya ke arah manusia, Jiyong menahan tangannya sambil kembali berbisik.
“Rusa, Taeyeon. Bukan manusia. Ingat, kau hanya akan memburu rusa, Taeyeon. Sadarkan dirimu,” kata Jiyong sambil berbisik.
Tepat setelah Jiyong berbisik, ia pun mendengar langkah kedatangan orang lain di sekitarnya. Melihat keadaan Taeyeon yang masih belum mampu mengendalikan diri, ia semakin khawatir. Pasalnya, yang datang ini adalah yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya.
“Vampire,” gumam Jiyong.
Saat dua orang vampire sudah hampir mendekatinya, salah satu mata Jiyong langsung berubah berwarna merah dan mendorong Taeyeon dengan kekuatannya untuk pergi menjauh dari daerah itu. Taeyeon terlempar dan terjatuh ke hutan bagian milik serigala.
Sementara Jiyong, berdiri menghadapi vampire yang mendatanginya.
“Wah, lihat, ada makanan di sini,” kata mereka.
Jiyong panik. Ia takut identitas Taeyeon terbongkar. Terlebih, aroma darah manusia masih berada di sekitar sini.
Mata Jiyong yang memerah telah berganti jadi hitam, dan warna bola mata yang lainnya berganti jadi keemasan.
“Pergi, sebelum ada yang terluka,” kata Jiyong yang siap menyerang.
“Dua lawan satu? Ku pikir kau yang akan jadi makanan kami.”
Saat kedua vampire itu akan menyerang Jiyong. Taeyeon pun berlari mengarah ke mereka dan menyerang kedua vampire itu tanpa aba-aba. Mereka terkejut dengan kedatangan Taeyeon. Begitu pun Jiyong.
Tatapan mata merah Taeyeon pada mereka sudah menjelaskan semuanya. Melihat Taeyeon, keduanya langsung bergegas mundur dan memilih untuk pergi.
“Manusia setengah vampire?” gumam salah satu di antara mereka sebelum akhirnya mereka pergi dan meninggalkan Taeyeon dan Jiyong.
Saat para vampire itu telah pergi, Taeyeon langsung membalikkan badan dan memburu rusa yang sudah berlari dari pandangannya. Jiyong mengikuti Taeyeon dari belakang sambil mengamati. Tanpa disangka, Taeyeon langsung berhasil menyergap rusa hasil buruannya dan menghisap habis darah sang rusa.
Jiyong mematung. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Taeyeon, kau –“