***
Sepulang dari rumahnya, Jiyong pun kembali ke rumah Taeyeon. Laki-laki itu langsung berlari menuju kamar Taeyeon, dan ia tidak menemukan Taeyeon di sana. Jiyong panik. Ia keluar kamar, dan mulai mencarinya di ruangan rumah itu satu per satu. Setelah mengitari semua ruangan, Jiyong tidak juga menemukan keberadaan Taeyeon. Ia semakin panik tidak karuan.
Akhirnya, Jiyong memutuskan untuk mencari Taeyeon di hutan dalam keadaan selarut ini. Ia berlari mencari Taeyeon di tengah kegelapan yang mencekam. Bukan apa-apa, ia takut jika Taeyeon akan bertemu dengan kawanan serigala yang sedang berburu.
Dengan mengandalkan indera penciuman dan kemampuannya, Jiyong berhasil mengikuti aroma yang ditinggalkan Taeyeon di sepanjang jalannya.
Benar saja, ia menemukan Taeyeon dalam keadaan sedang meringkuk di tengah hutan. Jiyong bergegas menghampirinya.
Mendengar langkah Jiyong, Taeyeon pun menoleh. Dengan tatapan sendu dan pipi yang masih diselimuti air mata, ia menyambut kedatangan Jiyong.
“Kau sedang apa di sini?”
Taeyeon tersenyum dengan pahit,”Hanya ingin jalan-jalan.”
“Kenapa tidak menungguku?”
Jiyong memegang tangan Taeyeon dan membantunya untuk berdiri. Ia juga menghapus air mata yang tersisa di pipi perempuan itu.
“Kemana pun kau ingin pergi, tunggu aku. Jangan pergi sendirian, terlebih di larut malam seperti ini. Berbahaya untukmu, Taeyeon,” jelas Jiyong.
Taeyeon hanya tersenyum sambil terus membiarkan Jiyong memapahnya untuk terus berdiri.
“Kita pulang, ya?” ajak Jiyong yang langsung diiyakan oleh Taeyeon.
Jiyong dan Taeyeon berjalan pelan menyusuri hutan. Di sela-sela perjalanan mereka, Taeyeon berusaha mengalihkan pikirannya yang kosong. Agar tidak membuat Jiyong khawatir padanya.
“Tadi aku lapar, lalu aku berusaha untuk menangkap rusa,” mulai Taeyeon.
“Lalu? Kau berhasil?”
Taeyeon menggeleng,”Aku gagal.”
“Tidak apa-apa, besok kita belajar lagi ya menangkap rusa.”
“Iya.”
Gelapnya hutan belantara ini tidak lagi membuat Taeyeon takut. Terlebih saat ia tahu bahwa Jiyong bersamanya. Bersama Jiyong, ia jauh lebih berani.
“Waktu itu, waktu pertama kali kita bertemu, kau bilang bahwa setiap dari kita memiliki aroma yang berbeda. Tapi, di pertama pertemuan kita, kenapa kau tidak menyadari bahwa aku adalah manusia setengah vampire?” tanya Taeyeon mengisi kesunyian.
“Karena, aku jarang bertemu manusia setengah vampire. Makanya, aku tidak begitu familiar dengan aromanya. Itulah mengapa, aku tidak langsung menyadari identitasmu saat pertama bertemu.”
“Lalu, bagaimana kau bisa menemukanku malam ini?” tanya Taeyeon penasaran.
“Karena, aku sudah terbiasa dengan aromamu.”
“Terbiasa?”
Jiyong mengangguk,”Segala tentangmu kini sudah menjadi hal yang biasa dan menyenangkan untuk ku lakukan bersama.”
Taeyeon tersenyum. Menyadari senyum Taeyeon yang terkesan dipaksakan, Jiyong pun berusaha mengalihkan sedihnya.
“Taeyeon, boleh ‘kah kau menceritakan masa kecilmu?” tanya Jiyong. “Tapi, jika tidak, tidak apa-apa.”
Sebelum menjawab pertanyaan Jiyong, Taeyeon sempat terdiam. Ia menarik napasnya dalam sebelum akhirnya ia menjawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.
“Mama dan Papa selalu bertanya padaku, jika aku besar nanti, aku ingin jadi apa?”
“Kau ingin jadi apa?”
“Aku ingin jadi orang yang membahagiakan mereka.”
“Boleh ku tahu, kenapa kau begitu menyayangi mereka?”
“Jiyong, kadang, orang asing yang bisa menerima kita dan menghujani kita dengan cinta, bisa jauh lebih berharga di banding orang yang punya hubungan darah dengan kita,” Taeyeon menggantungkan ucapannya sejenak. “Mereka mencintaiku dengan tulus. Walau pun aku bukan darah daging mereka.”
Taeyeon bercerita sambil membayangkan kembali, bagaimana kenangan-kenangan manis itu tercipta. Ia meneteskan air mata saat mengingat, betapa beruntungnya ia bertemu dengan mereka. Meski hanya 7 tahun bersama, namun semua kenangan yang ditinggalkan sangatlah berharga. Termasuk perasaannya pada mereka.
“Waktu ku kecil, aku sempat bertanya-tanya, kenapa aku ditinggalkan? Apa ‘kah aku tidak diinginkan? Atau, aku memang tidak layak untuk dilahirkan. Ku habiskan masa kecilku untuk memikirkan hal itu. Sampai akhirnya, aku sadar, aku tidak akan pernah jawaban atas pertanyaanku. Dan, aku mulai menerima hidupku. Sampai di suatu ketika, aku bertemu mereka. Kedua orang tua angkatku.”
Bukan hanya Taeyeon, tapi Jiyong pun ikut menahan air mata sedihnya saat mendengar cerita soal Taeyeon kecil.
“Taeyon, kau harus ingat, bahwa apapun yang terjadi padamu bukan salahmu. Salah ‘kan saja orang dewasa yang tidak memberimu penjelasan dan jawaban atas semua pertanyaanmu.”
Taeyeon tertawa getir.
“Menjadi vampire bukan pilihanmu. Tapi, kau bisa memilih akan jadi vampire yang seperti apa. Jika orang tua mu jahat, kau tidak perlu untuk jadi seperti salah satu dari mereka.”
“Apa ada cara agar aku bisa jadi manusia seutuhnya, Jiyong?”
Pertanyaan Taeyeon barusan cukup mengejutkan Jiyong. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menatap wajah Taeyeon dengan serius.
“Kau tidak harus menyalahkan takdirmu. Tapi, kau bisa mengubah akan seperti apa takdirmu berjalan. Jangan khawatir, aku bersamamu.”
Sederhana tapi banyak makna. Seperti itulah kekuatan dari ucapan-ucapan pada Taeyeon saat ini. Ia menguatkan Taeyeon hanya dengan beberapa kata. Tidak dapat dipungkiri, Taeyeon pun tidak ingin menghadapi ini semua sendirian. Ia butuh Jiyong.
Tapi, apa ‘kah mungkin untuk mereka terus bersama?
“Jika suatu hari aku bertemu dengan orang tua kandungku, apa yang harus aku katakan?”
Jiyong memutar matanya sambil menggandeng Taeyeon untuk terus berjalan berdampingan.
“Hmm, tidak perlu berkata apa-apa. Cukup kau buktikan, bahwa kau tidak akan jadi salah satu di antara mereka.”
“Baiklah.”
Sejak kedatangan Jiyong, Taeyeon lebih banyak tersenyum. Secara tidak sadar, Taeyeon begitu bergantung pada Jiyong. Namun, Taeyeon masih berusaha keras untuk menampik segala perasaan yang ia rasakan saat ini. Karena baginya, ia dan Jiyong adalah dua makhluk yang berbeda dunia. Yang tidak akan diizinkan semesta untuk bersama.
“Apa makanan kesukaanmu, Taeyeon?”
“Saat ini? Atau, waktu dulu?”
“Berbeda ‘kah saat ini dan dulu.”
“Iya. Dulu aku sangat suka mie instan.”
“Kalau saat ini?”
“Darah hewan.”
Jiyong pun tertawa mendengar jawaban Taeyeon barusan. Tawanya menggelegar, memecah keheningan sang malam. Taeyeon pun ikut tertawa. Seakan sejenak ia melupakan rasa sedihnya. Ia memandangi Jiyong dalam diam, sambil terus mengembangkan senyum di wajahnya.
Saat suasana sedang mencair seperti ini, tiba-tiba saja langkah Jiyong berhenti. Membuat Taeyeon juga ikut berhenti.
“Ada apa, Jiyong?”
Taeyeon mengikuti arah pandangan Jiyong yang sedang melihat ke rumahnya yang kini sudah dikelilingi oleh banyak orang tak dikenal.
“Jiyong,” panggil Taeyeon khawatir.
“Ssssh!” Jiyong menutup mulu Taeyeon pelan-pelan. “Kita pergi dari sini diam-diam. Aku akan jelaskan nanti.”
Taeyeon dan Jiyong pun segera pergi dari tempat itu secara diam-diam dan tanpa suara. Dengan penuh perlindungan, Jiyong berusaha menjaga Taeyeon yang ada di sampingnya. Saat mereka sudah pergi jauh di dalam hutan, Jiyong langsung merangkul Taeyeon dan berlari secepat kilat ke arah Utara hutan. Sangat jauh mereka berlari, hingga mereka pun tiba di sebuah perumahan kecil di tengah hutan yang jauh dari jalanan.
Jiyong menggenggam erat tangan Taeyeon dan mengajaknya masuk. Taeyeon awalnya sempat ragu dan takut. Namun, melihat Jiyong yang berusaha meyakinkannya, ia pun akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.
“Jiyong,” teriak Sam dari dalam rumah yang langsung tahu kedatangan laki-laki itu.
“Sam,” Jiyong menyambut pelukan Sam.
“Apa kabar?”
“Baik.”
Sesaat kemudian, pandangan Sam mengarah kepada Taeyeon yang berdiri jauh di antara mereka berdua.
“Sam, ini Taeyeon.”
“I knew it,” kata Sam sambil menyeringai. “Sam.”
Taeyeon menjabat uluran tangan Sam,”Taeyeon.”
Setelah berkenalan, Sam kembali menatap Jiyong,”Setengah vampire?”
Keduanya pun dipersilakan masuk oleh Sam. Taeyeon pun mengikuti langkah Jiyong untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Saat keduanya sudah duduk, Sam pun mulai membuka pembicaraan serius.
“Ada apa, Jiyong? Kau jauh-jauh datang ke sini, aku yakin itu bukan hanya sebuah kebetulan,” tanya Sam pada Jiyong.
“Boleh ‘kah kami tinggal di sini untuk sementara?”
“Ada apa?” tatapan Sam semakin serius. “Kau –“
“Rumah Taeyeon tiba-tiba saja dikepung oleh kawanan vampire tidak dikenal. Aku khawatir jika ia harus tinggal di rumah itu saat ini.”
Sam mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon yang juga terkejut mendengar ucapan Jiyong barusan.
“Tapi, kenapa? Kenapa mereka harus mengepung sesama vampire?”
Kini, Jiyong yang mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon dengan sedikit khawatir.
“Aku takut kalau mereka tahu identitas Taeyeon yang sesungguhnya.”
Sam terdiam.
“Taeyeon berbeda, Sam. Ia tidak seperti kebanyakan manusia setengah vampire lainnya.”
Merasa pembahasan ini semakin serius, Sam pun mempersilakan Taeyeon untuk beristirahat di salah satu kamar di rumahnya.
“Oke, baiklah. Mari kita persilakan Taeyeon untuk beristirahat terlebih dahulu. Ia pasti lelah sudah berjalan jauh,” kata Sam sambil melemparkan kode ke arah Jiyong.
“A-ah, benar. Taeyeon, kau harus beristirahat.”
“Jiyong, aku tidak –“
“Percaya padaku, kau akan baik-baik saja. Dan, akan ku jawab semua pertanyaanmu esok hari. Sekarang, kau harus beristirahat dulu,” kata Jiyong lembut.
Akhirnya, Taeyeon pun mengangguk dan menuruti ucapan Jiyong. Ia pun mengikuti Sam yang mengantarnya ke kamar tamu di rumahnya. Meski awalnya pertemuan mereka sedikit canggung, namun kini keduanya berusaha untuk lebih saling mengenal.
“Jika ada apa-apa, Jiyong akan berada di samping kamarmu,” kata Sam yang dijawab dengan anggukkan oleh Taeyeon.
Sam kembali menemui Jiyong di ruang tamu sambil mengajaknya ke luar rumah. Jiyong pun mengikutinya. Dan, pembahasan di antara keduanya menjadi sangat serius.
“Aku sudah dengar apa yang terjadi denganmu di rumahmu,” kata Sam.
Jiyong diam. Ia tidak ingin membahasnya.
“Kau tahu seberapa berbahayanya makhluk itu bagimu, ‘kan?”
“Dia berbeda, Sam.”
“Dia hanya belum menunjukkan siapa dirinya, Jiyong. Bukan berarti dia berbeda dari yang lain.”
Jiyong menghela napasnya berat.
“Tapi, aku tidak ingin ikut campur dengan keputusanmu. Aku akan membantumu.”
Jiyong menoleh dengan haru ke arah Sam,”Aku akan sangat berterima kasih padamu, Sam.”
“Jiyong, jika para vampire itu mengetahui identitasmu, itu juga akan membahayakanmu. Pikirkan baik-baik segala resiko yang bisa saja menimpamu,” jelas Sam untuk meyakinkan Jiyong.
“Aku tahu.”
“Ingatlah, Jiyong. Identitasmu tidak boleh diketahui oleh mereka. Sekali pun itu Taeyeon.”