***
Jiyong terkurung di sebuah kurungan besi dengan rantai di kakinya. Setiap hari, tangannya terus terluka. Meski ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi, gigitan dari James tidak menghilang dan justru memberinya racun di tubuhnya.
Para vampire ini membutuhkan darah serigala untuk menjadi kuat. Terlebih, Jiyong adalah keturunan serigala setengah vampire yang sangat sulit ditemukan.
Bertahun-tahun James mencarinya, dan kini ia telah menemukannya.
Sayangnya, Jiyong tidak diberi makanan yang layak. Darahnya terus dihisap tapi, ia tidak memakan apapun. Yang berarti ia bisa saja menemui ajalnya saat ini juga.
Dengan tubuh lemas dan tak berdaya, Jiyong memandangi James yang sibuk dengan para vampire wanita di sampingnya.
“Jadi, kapan ‘kah tuan akan membawakan kami vampirei kecil itu? Dengan darahnya, aku bisa terus menjadi awet muda,” kata salah satu vampire yang ada bersama James.
“Benar. Kalau perlu, kita habisi saja mereka.”
James tertawa,”Sabar. Akan ku bawakan vampire kecil dan tak berdaya itu kehadapan kalian.”
James mengalihkan pandangannya ke arah Jiyong yang menatapnya dengan sinis. Dengan menyeringai, ia menghampiri Jiyong.
“Andai kau berikan saja perempuan itu dan kau tetap menyembunyikan identitasmu, mungkin kau tidak akan jadi seperti ini.”
Jiyong berdecih,”Tidak akan ku biar kan kau menyentuhnya.”
James tertawa. Diikuti dengan suara para wanita di sekelilingnya.
“Jadi, kau adalah anak dari Lupin dan Zeca?”
Mendengar pertanyaan James, tubuh Jiyong yang tak berdaya langsung bangkit dan menatap James dengan tajam. Kedua matanya mendelik.
“Dari mana kau tahu soal ibuku?”
James tertawa,”Jadi, benar?”
Dengan amarah yang memuncak, Jiyong memukul kurungan besi yang mengurungnya.
“Jangan-jangan, kau –“
James tersenyum sambil menyeringai.
“Apa? Aku yang membunuh ibumu?”
Kedua mata Jiyong berubah menjadi warna keemasan dan warna merah secara bersamaan.
“Kalau iya, terus, kenapa? Kau akan membunuhku? Dari balik jerusi besi itu? Kau bahkan tidak bisa menggunakan kekuatan vampire mu sekarang,” kata James yang membuat Jiyong semakin kesal.
“s****n kau! Ba$tard!” kata Jiyong memaki James.
James hanya tertawa.
“Selain ibumu, kau juga akan mati di tanganku,” kata James sambil berlalu meninggalkan Jiyong. “Tapi, sebelum itu kau harus menyaksikan kekasih vampire mu mati di hadapanmu.”
“JANGAN SENTUH DIA! JANGAN KAU BERANI MENYENTUHNYA!!!”
James hanya mengangkat kedua bahunya.
“KAU BERJANJI BAHWA KAU TIDAK AKAN MENYENTUH ORANG-ORANG DI SEKELILINGKU SETELAH KAU MEMBAWAKU!”
“Aku tidak pernah berjanji.”
“s****n!”
“Akan ku bawakan ia ke hadapanmu sebelum ku membunuhmu.”
-
Taeyeon masih terus berlatih instingnya. Dengan dibantu Choi dan Sam, kini ia sudah ditahap perlahan menyadari kehadiran makhluk lain yang datang kepadanya. Ia bahkan mulai bisa mendengarkan suara yang samar-samar dari kejauhan.
Ia juga mulai bisa mengontrol dirinya saat tengah berubah jadi vampire.
Hari ini, ia bahkan berhasil menangkap beberapa rusa dengan tangannya sendiri.
“Fokus, Taeyeon!” kata Choi pada Taeyeon yang sedang belajar untuk menghipnotis Sam.
Taeyeon menarik panjang napasnya.
“Kenapa? Kau lelah?” tanya Sam.
“Kita sudah melakukan ini selama dua jam. Dan, aku hanya terus menatap matamu tanpa keberhasilan apa-apa,” keluh Taeyeon.
Sam dan Choi pun tertawa lepas.
“Kami tidak bisa membantumu karena kami tidak punya kekuatan sepertimu.”
Taeyeon menyandarkan tubuhnuya pada sebuah pohon yang ada di dekatnya.
“Jika kau begini saja sudah menyerah, lantas bagaimana bisa kau menyelamatkan Jiyong?”
Suasana pagi ini sangat damai. Bau aroma tanah yang terkena air hujan membuatnya tenang. Udaranya yang sejuk pun sangat menyenangkan Taeyeon. Ia memandang ke arah daun yang masih basah dengan pasrah.
“Apa kita bisa menyelamatkan Jiyong tepat waktu? Bagaimana kalau kita terlambat?”
“Taeyeon, Jiyong pasti akan bertahan. Dan, kita pasti akan menyelamatkannya,” kata Choi.
Melihat Taeyeon yang putus asa, Lupin pun memanggilnya.
“Taeyeon.”
Taeyeon menoleh ke arah Lupin yang memberinya isyarat untuk mendatanginya. Dengan langkah gontai, ia pun mengikuti Lupin ke kediamannya yang mulai sepi oleh para kawanan serigala yang mulai berpatroli dan berburu.
Lupin menuangkan darah hewa pada gelas yang akan ia berikan pada Taeyeon.
“Apa kabarmu, Taeyeon?” tanya Lupin sambil menyodorkan gelas minuman pada Taeyeon.
“Baik –“ Taeyeon menggantungkan ucapannya, ia bingung ingin memanggil Lupin dengan sebutan apa. Pasalnya, ia juga tidak pernah bicara empat mata secara pribadi seperti ini.
“Kau mau panggilku dengan sebutan Ayah juga tidak apa-apa,” kata Lupin sambil tersenyum.
Taeyeon langsung menundukkan wajahnya, malu.
“Anggap saja aku seperti Ayahmu sendiri. Setelah Jiyong bercerita banyak tentangmu, aku juga ikut merasa bersalah atas kehilanganmu.”
Taeyeon tersenyum tipis.
“Ku lihat, dalam beberapa hari ini, kau berusaha keras untuk belajar bela diri. Kau bahkan melatih kemampuan vampire-mu.”
“Iya, Ayah...” kata Taeyeon dengan sedikit ragu-ragu. “Aku berniat ingin menyelamatkan Jiyong.”
Lupin terkekeh kecil sambil meminum minumannya.
“Kau tahu siapa musuhmu?”
“Para vampire itu, Yah,” jawab Taeyeon dengan hati-hati.
“Salah. Musuhmu itu kami, Taeyeon.”
“T-tapi...”
“Kau harus belajar terlebih dahulu mengenali musuhmu.”
“Bagaimana mungkin aku menganggap kalian musuhku. Sedangkan, kalian yang menolongku di sini.”
Lupin menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mengamati Taeyeon dengan lamat-lamat.
“Bagaimana pun, kau memiliki insting seorang vampire. Jika kau tidak bisa mengontrolnya, maka sisi vampire-mu lah yang akan menguasainya. Dan, jika itu terjadi, maka kau tidak akan bisa melihat kami sebagai temanmu,” jelas Lupin.
“Aku akan belajar mengontrolnya.”
Mendengar hal itu, Lupin tertawa kecil.
“Dulu Jiyong juga sepertimu saat ia mulai tahu bahwa vampire menjadi sebagian dari dirinya,” kata Lupin yang mulai bercerita. “Ia meraung kesakitan menahan rasa hausnya. Butuh berbulan-bulan untuk mengontrol dirinya sendiri. Sampai akhirnya, ia bisa menguasai dirinya.”
Taeyeon tersenyum mendengar cerita Lupin.
“Dia senang sekali ketika dia bisa menguasai kekuatan vampirenya. Sampai sisi yang tidak diinginkan itu merenggut bahagianya.”
Senyum di wajah Taeyeon seketika berubah jadi sendu,”Kenapa?”
“Suatu hari, saat ia mencium darah manusia di perbatasan hutan milik para vampire, ia tidak bisa menguasai dirinya. Dan, membuat ibunya harus berusaha keras untuk membawanya keluar dari hutan itu. Sayangnya, kedatangan mereka memang telah ditunggu oleh raja vampire kejam itu, dan ibunya Jiyong langsung dibunuh di tempat. Sedangkan kami, datang terlambat. Tapi, Jiyong diselamatkan untuk terakhir kalinya oleh ibunya. Ia terlempar keluar dari hutan tersebut. Dan, menyaksikan ibunya mati di depan kedua matanya.”
Taeyeon menarik napasnya panjang. Ia tidak menyangka Jiyong memiliki masa lalu semenyakitkan ini.
“Aku tidak tahu soal ini dan dia tidak pernah menceritakan apapun,” kata Taeyeon dengan lirih.
“Dia memang tidak mau membuka kisah masa lalu yang menyakitkan itu. Karena, masih tersimpan rasa dendam di dirinya. Sejak saat itu, ia berjanji tidak akan mengeluarkan sisi vampirenya lagi. Sampai ia bertemu denganmu. Dan, ia membuka identitasnya sendiri.”
Mendengar hal itu, Taeyeon merasa sedih sekaligus bersalah.
“Ini semua salahku,” kata Taeyeon lagi.
“Jiyong bilang, apapun yang terjadi bukan salahmu. Karena, kamu tidak pernah ingin dilahirkan dalam keadaan seperti ini,” ucap Lupin.
“Lalu, di mana raja vampire yang kejam itu?”
Lupin tersenyum getir. Ia kembali meminum minumannya yang hampir habis.
“Kau sudah bertemu dengannya, Taeyeon.”
Taeyeon mendelik,”M-maksudmu... James?”
Lupin menganggukkan kepalanya.
“Wah, pantas saja.”
Melihat ekspresi Taeyeon, Lupin pun tertawa kecil.
“Bagaimana kalau kita balas dendam padanya? Dengan mengambil sesuatu yang juga berharga darinya, seperti anaknya gitu,” ucap Taeyeon dengan berapi-api.
Lupin kembali tertawa,”Tidak ada yang tahu di mana anaknya. Ku dengar, ia pernah punya anak. Lalu, ia membuangnya. Dan, tidak ada yang pernah melihat keberadaan sang anak. Jadi, bisa disimpulkan bahwa ia juga membunuh anaknya.”
“Bagaimana dengan istrinya?”
Lupin mengangkat kedua bahunya,”Tidak ada yang pernah melihat istrinya. Ia menutup rapat tempat tinggalnya bersama istri misteriusnya. Jadi, kita tidak pernah tahu siapa. Hanya saja, ku dengar, istrinya pergi dari rumahnya, jadi ia hidup dengan dikelilingi banyak wanita seperti sekarang.”
“Lalu, bagaimana kita akan membalasnya?”
“Taeyeon, sejauh apa yang akan kau lakukan demi menyelamatkan Jiyong?”
“Aku akan mengorbankan nyawaku jika perlu,” jawab Taeyeon tegas.