Valey’s POV
Namaku adalah Valey Fredicson dan aku adalah seorang Alpha dari Snow Moon Pack. Ya, aku adalah seorang Alpha female karena adikku, calon Alpha ini, ikut meninggal bersama orang tuaku saat insiden perang beberapa tahun silam. Waktu itu aku yang masih berumur 6 tahun dan aku melihat dengan mata kepala ku sendiri insiden tersebut.
Orang tua ku bernama Roger Fredicson dan Elisabeth Fredicson berperang dengan pamanku David Fredicson karena pamanku ingin merebut pack milik ayahku. Sebenarnya pamanku memiliki pack sendiri yang cukup jauh dari pack ayahku yang bernama Blue Moon Pack. Tapi entah mengapa pamanku jauh-jauh datang ke Snow Moon Pack untuk merebut pack ini.
Pada waktu itu ibuku, Elisabeth Fredicson, sedang mengandung adikku yang kelak akan menjadi calon Alpha dari Snow Moon Pack ini. Dia dijadikan sandra oleh pamanku sehingga mau tidak mau ibuku ikut dalam perang tersebut. Perang dimenangkan oleh Snow Moon Pack. Meskipun begitu ibu dalam kondisi kritis dan nyawanya tidak dapat terselamatkan bersama adikku. Sedang ayahku, setelah ia memenangkan pertempuran, ia juga meninggal karena racun yang diberikan pamanku.
Okey, sudah cerita masa laluku. Terlalu sedih untuk ku kenang. Aku tidak pernah bertemu dengan paman sejak hari itu. Bahkan aku tidak pernah bertemu orang dengan nama Fredicson lain ketika pertemuan para Alpha. Ya, dipertemuan itu, aku satu-satunya wanita sebagai Alpha, bisa kalian bayangkan itu. Ketika para wanita saling berbicara sebagai Luna, aku di sini berbicara sebagai Alpha mewakili sebuah pack.
TOK TOK TOK
“Masuk!” jawabku setelah terdengar suara ketukan pintu di ruang kerja ku. Kalian tau, ini begitu melelahkan.
Seseorang dengan penampilan rapi dengan tubuh tinggi, wajah tirus, mata berwarna hazel dan rambut coklat kehitamannya itu masuk dengan cukup tergesa-gesa. Ia adalah William Peter Enderson, dia adalah Betaku dan teman masa kecilku.
“Alpha, perbatasan utara diserang oleh rouge.”
“Berani sekali mereka masuk ke wilayahku. Peter, kau ikut aku, kita akan ke sana. Panggil beberapa warrior.”
“Baik, Alpha.”
***
Aku pergi ke perbatasan utara disusul oleh Peter dan beberapa warrior. Sesampainya di sana, ada sekitar 20, tidak, 30 rouge yang menyerang. Beberapa penjaga masih berusaha melawan mereka dan beberapa sudah ada yang tumbang.
Tanpa basa-basi aku langsung berganti shift dengan Roxie, wolfku. Dia memiliki tubuh yang cukup besar, memiliki mata berwarna biru, sebiru lautan, dan bulu berwarna perak yang tebal. Roxie langsung menyerang para rouge tersebut tanpa pandang bulu. Disusul oleh Peter dan beberapa warrior yang langsung menyerang para rouge.
Roxie menyerang para rouge tersebut. Ini terlalu mudah. Lihatlah, Roxie sudah bisa menumbangkan 5 rouge dalam sekejap. Aku bingung, apa yang membuat para penjaga lama mengurus para rouge ini?
Beberapa menit kemudian, para rouge tersebut telah tumbang. Aku pun langsung pergi menuju balik pohon dan berganti shift ke wujud manusia ku. Peter dan yang lainnya juga telah berganti wujud.
Aku dengan dingin mendekati pada salah satu mereka. Aku berjongkok. Aku memang tak membunuh yang satu ini agar aku bisa mengintrogasinya. Kondisinya sangat parah. Apa peduliku? Dia sudah berani menyerang packku.
“Apa yang kalian rencanakan?” tanyaku dingin.
Rouge itu tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya batuk darah. Heh? Dia tak ingin berbicara ya? Aku langsung berdiri. Aku muak melihat mereka semua.
“Peter, urus mereka semua. Bawa yang satu ini ke penjara.” perintahku dan langsung pergi kembali menuju mansion.
“Baik Alpha.”
***
Snow Moon Pack adalah pack yang cukup besar. Ada cukup banyak pack house yang ada di pack ku. Rumah sakit pack ini juga merupakan rumah sakit terbaik. Masionku terletak di belakang pack house.
Sesampainya di mansion, aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan diriku dari darah para rouge yang melekat pada tubuhku. Setelah selesai, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur berukuran queen size itu untuk melepas penat.
‘Roxie, apakah kau baik-baik saja?’ tanya ku pada wolfku melalui mindlink sambil memejamkan mataku.
‘Roxie, kau di sana? Akhir-akhir ini kau bersikap aneh’
‘Aku tidak apa-apa Val, aku juga tidak tau apa yang terjadi pada diriku’
‘Huh, apakah kau ingin mencari mate Roxie?’
‘Entahlah, aku tidak tau. Aku juga mau, tapi aku juga tau posisi kita.’
‘Maafkan aku Roxie karena kau memiliki human sepertiku yang tidak punya waktu untuk mencari mate seperti shewolf lainnya.’
‘Bicara apa kau ini. Aku sungguh bersyukur memiliki human sepertimu yang kuat menghadapi apapun.’
Aku tidak menanggapi Roxie dan hanya tersenyum. Entah apa sekarang yang ada dipikiranku, aku tidak bisa menjelaskannya. Aku memejamkan mataku. Entah mengapa aku merasa lelah sekali.
***
“Elisabeth!”
“Roger. Akh.”
“Bagaimana sekarang, Roge? Apakah kau masih ingin melawanku?”
“Cih. Valey, berlindunglah di sana.”
Aku tak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya ingin bermain dengan Paman David. Kenapa semua malah jadi seperti ini? Aku bersembunyi di balik pohon. Aku juga bisa merasakan para warrior saling bertarung satu sama lain. Tidak. Aku tidak mau ini.
“Serahkan packmu padaku.” Paman menggoreskan cakarnya ke leher Ibu sampai berdarah.
“Berani sekali kau!”
“Ops. Jangan bergerak. Cakarku ini akan menusuk lebih dalam lagi jika kau bergerak satu langkah.”
“Roger. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa.” Aku bisa melihat wajah ketakutan Ibu. Seseorang, tolong katakan ini mimpi.
Aku ketakutan. Sangat ketakutan. Seseorang tolong aku. Tiba-tiba, aku merasakan ada seseorang di belakangku. Aku dengan ketakutan menoleh. Seseorang mengayunkan pedangnya tepat ke arahku. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku.
“Valey!”
Ibu mengeluarkan sihir api. Paman David terlihat terkejut dengan ini, Ia melepaskan cengkramannya. Ayah tak membuang waktu. Ia langsung menyerang Paman yang sudah tak menyandra Ibu lagi. Ibu langsung berlari ke arahku. Ia langsung menangkis serangan orang itu.
Paman David dengan cepat menghindar. Ia juga melancarkan serangannya pada Ayah yang membuatnya terbating ke tanah. Paman David langsung mengambil sembarang pedang dan berlari ke arahku.
“Valey, kau baik-baik saja?” tanya Ibu sesaat setelah Ia mengalahakn orang di depanku.
Secepat kilat, Paman David sudah berada dibelakang Ibuku. Ia menusukkan pedangnya tepat kepunggung Ibu. Pedang tersebut sampai tertembus ke depan dan berhenti tepat di depanku.
Darah. Aku bisa melihat darah mengalir di pedang tersebut. Ibu juga muntah darah. Air mataku mengalir. Bibirku gemetaran. Ibu terduduk. Saat itu juga, aku bisa melihat wajah mengerikan dari Paman David. Tatapan membunuhnya yang mengerikan.
“IBUUUU!” aku menatap dinding kamarku. Aku, tertidur?
Air mataku mengalir. Mimpi kah? Tidak. Itu bukan mimpi. Itu ingatan masa laluku. Aku menekuk lututku, menyembunyikan kepalaku. Aku menangis. Menangis sejadinya. Kenapa hal itu harus terjadi padaku?
‘Alpha.’ Aku mendengar mindlink dari Peter. Aku mengangkat kepalaku sedikit, menatap kosong ke depan.
‘Jangan sekarang, Peter. Beri aku waktu.’
‘Baiklah.’
Aku mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari kamarku. Aku rasa itu Peter. Ia sudah menungguku sejak tadi. Aku.. memang sangat payah.