Valey’s POV
Saat ini, aku sedang berada di ruang tahanan bawah tanah milik packku. Aku sedang menginterogasi salah satu rouge yang tadi menyerang. Aku dan Peter merasa aneh dari penyerangan tersebut. Maka dari itu, di sini lah aku dan Peter, bersama 2 warrior.
“Kenapa kau menyerang packku?” tanyaku dengan wajah datar dan tatap dingin sedingin es.
“Apa untungnya aku mengatakannya padamu, heh” jawab rouge itu dengan sinis
“Kau.. Aku yakin kau disuruh oleh seseorang. Karena tidak mungkin kalian akan menyerang dalam jumlah cukup besar seperti tadi”
“Heh, ternyata Alpha female ini cukup cerdas juga. Namun usahamu sia-sia. Aku tetap tidak akan mengatakannya padamu.”
“Katakan padaku atau kau akan merasakan siksaan yang berat.” Ancamku dengan tatapan tajam. Aku mulai marah dengan sikap dari rouge ini.
“Sayangnya tuan putri. Aku tidak akan mengatakannya.” Jawab rouge itu dengan wajah mengejek.
“Buka pintu nya” Perintahku dengan nada dingin.
Setelah pintu sel rouge tersebut terbuka, aku langsung mendekati rouge tersebut. Tangan dan kakinya dirantai sehingga ia tidak bias bergerak kemana-mana. Aku mendekatinya dan langsung mencengkram kepalanya. Rouge tersebut terkejut akan apa yang akan ku lakukan.
“APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?” teriak rouge tersebut saat cengkramanku semakin kencang.
Mataku mulai berubah-ubah, tanda Roxie mencoba mengambil alih tubuhku namun ku tahan. Tiba-tiba aku mulai marah dan mengatupkan rahangku. Aku langsung melempar rouge tersebut.
“Siapa dia? Orang dengan jubah hitam tersebut?” tanyaku dengan dingin, dapat kuliah rouge tersebut terdiam dan membeku. Ia mulai ketakutan sekaligus kebingungan.
“AKU TANYA SIAPA DIA” bentakku dengan suara sangat keras hingga terdengar hingga ujung ruangan.
“A-a-aku.. ti-ti-dak tau” jawabnya dengan terbata-bata.
Aku sudah tidak bisa menahan amarahku. Aku langsung keluar dari sel.
“Habisi dia secara perlahan” perintahku pada dua warrior yang ada disana.
“Alpha, apa yang terjadi?” tanya Betaku.
Aku hanya meliriknya sekilas dan dapat kulihat ia tiba-tiba membeku dengan keringat yang keluar di dahinya.
“Al-pha Roxie. Alpha ha-rus te-nang”
Aku tak memperdulikan apa yang dikatakan Betaku dan aku langsung pergi keluar. Ya, sekarang yang mengendalikan tubuhku adalah Roxie. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Roxie pergi ke perbatasan, dan entah secara kebetulan atau apa, ia bertemu dengan beberapa rouge lagi. Tanpa basa-basi, Roxie langsung menyerang rouge tersebut dan membunuh mereka untuk melampiaskan kemarahannya.
***
Peter’s POV
Setelah melihat mata biru lautnya tersebut, aku sadar bahwa dia bukan Valey, melainkan Roxie wolfnya. Matanya yang terlihat marah, dingin, dan penuh emosi tesebut menatapku dengan tajam.
“Al-pha Roxie. Alpha ha-rus te-nang”, kataku terbata-bata.
Bodohnya aku. Kenapa aku mengatakan seperti itu. Ya, semenjak insiden itu, Valey berubah menjadi sosok yang dingin. Valey yang dulu ceria, hangat, dan baik hati itu berubah 180 derajat menjadi sosok yang dingin dan arogan. Meskipun begitu, tidak jarang juga aku melihatnya tengah bersedih dengan mata sendunya.
Tanpa sadar Roxie telah pergi jauh. Akupun menyusul ke luar ruang tahanan, namun aku tidak dapat menemukan Roxie di manapun. Ku rasa dia butuh sendiri sekarang. Dapat kulihat amarah dimatanya.
‘Tentu saja bodoh, apakah kau mau jadi bahan pelampiasannya,’ kata Roy, wolfku
‘Ya tentu aku tidak mau. Tapi, biar bagaimana pun dia sahabat kita. Dia sudah terlalu lama tertakan dengan keadaan.’
‘Ya aku tau, tapi biarkan dulu dia. Wolf betina itu kalau sedang marah sangatlah menakutkan.’
‘Ya, kau benar.’ Aku akhirnya mengakhiri mindlink dengan Roy.
Tapi, tetap saja aku merasa khawatir dengannya. Bahkan tadi, Ia meneriaki Ibunya. Ia pasti teringat akan kejadian itu. Suasana hatinya saat ini, pasti sangat kacau. Aku akan mencarinya.
***
Hari menjelang malam, aku masih belum melihat Valey atau Roxie di manapun. Aku berkeliling mansion mencoba mencari dimana keberadaannya. Sampai akhirnya, aku melihat sebuah siluet seseorang sedang duduk di pinggir kolam di tengah taman mansion. Dapat ku lihat Valey sedang terduduk dengan wajah sendunya. Aku pun perlahan mendekatinya
“Valey, apakah aku boleh duduk?”
Dia tidak menjawab dan menatap kosong ke arah kolam. Semenit kemudian, Ia mengangguk kecil, mempersilahkanku. Aku duduk di samping Valey yang sedang termenung.
“Valey, bisakah kau bercerita pada sahabatmu ini? Apa yang kau lihat tadi? Kenapa kau marah? Apa yang membuatmu sedih sekarang?”
Dia hanya diam tanpa menjawab satu pun pertanyaanku.
‘Tentu saja bodoh, kau tidak bisa lihat kalau dia sedang sedih. Dasar human yang tidak berperasaan.’ Aku hanya diam tidak menanggapi perkataan serigala gila itu
‘Aku tidak gila.’
Dapat ku dengar helaan nafas keluar dari mulut Valey,
“Aku tadi, melihat seorang pria berjubah hitam mendekati rouge tersebut. Dia meminta rouge itu untuk membunuhku dengan imbalan bahwa rouge tersebut akan menjadi Beta di sebuah pack.”
Aku cukup terkejut dengan penuturan Valey. Bagaimana tidak, dia menjadi target seseorang dan suruhannya bisa menjadi Beta? Itu bukanlah hal yang biasa. Valey memang memiliki kekuatan untuk melihat apa yang telah dialami seseorang dengan menyentuh dahinya. Sebenarnya hanya dengan menyentuh dengan jari telunjuk saja sudah bisa.
Kekuatan Valey menurun dari neneknya yang seorang Wizard. Ibunya dulu, Elisabeth Fredicson, merupakan half werewolf half wizard, begitu pula Valey. Tapi, meskipun Valey merupakan half werewolf half wizard, Ia tak menunjukkan kemampuan untuk menggunakan sihir. Hanya kekuatan yang bisa melihat apa yang sudah dialami itu saja.
“Hey Peter. Apakah aku ini sudah cukup baik?”
“Apa maksudmu?”
“Tidak. Tidak ada. Aku hanya sedih dengan takdirku ini. Aku yang ditinggal keluargaku. Aku yang memiliki kekuatan aneh. Aku yang diincar orang dengan entah apa alasannya. Aku yang..”
“Hush, jangan berkata begitu Val, semua sudah diatur oleh Moon. Kau adalah gadis yang kuat, bahkan terkuat di pack ini. Kuat dalam fisik maupun batin. Kau tidak sendirian disini. Masih ada aku, sahabat terbaikmu, dan matemu kelak setelah kau menemukannya.”
Valey terdiam dan tiba-tiba dia memelukku kencang sambil menangis. Aku tersentak sedikit kebelakang namun bisa ku tahan, dan membalas pelukannya sambil mengelus-elus punggungnya.
***
Aku membawa Valey ke kamarnya. Ia tetidur setelah menangis di pelukanku. Valey, Ia orang yang hebat. Ia bisa melewati ini semua. Ia telah kehilangan orang tuanya di usia sangat muda. Mungkin jika itu aku, aku tidak akan sanggup melewati ini semua.
Aku merebahkannya di kasur kebesarannya dan menyelimutinya. Aku bisa merasakan tekanannya saat Ia memelukku tadi. Aku harap, Valey segera bertemu matenya dan bisa membagi semua keseihan yang ia miliki.
“Valey. Kau sudah sangat hebat. Kau Alpha yang paling kuat yang pernah ku kenal. Tidak akan ada Alpha lain yang sekuat dirimu.” Ucapku sesaat sebelum meninggalkan kamar Valey.
Lho? Aku merasa seperti melupakan sesuatu. Apa ya itu? Ah sudahlah. Akan ku pikirkan lagi besok. Mungkin saja ini hanya perasaanku saja. Semoga aku tak melupakan sesuatu yang penting. Ku harap tidak akan terjadi apa-apa besok.