Valey’s POV
Hari ini adalah keberangkatan Alex untuk mencari kunci segel kekuatannya. Setelah perdebatan kecil kemarin, akhirnya Alex bisa pergi juga. Sedangkan aku, aku ditinggal tidak diajak oleh Alex. Alasannya simple. Karena sebuah pack membutuhkan Alpha. Meyebalkan memang. Aku berharap ingin segera lepas dari tugas Alpha ini.
Di sini, perbatasan selatan. Aku bersama Peter dan Oma menemani kepergian Alex. Aku tak rela jika Alex pergi. Wajahku terlihat sedih, aku sudah tau itu. Aku tidak ingin mateku pergi ke kegelapan. Aku tak bisa membayangkan apa yang bisa terjadi di sana.
“Apakah kau yakin, kau akan baik-baik saja?” tanyaku cemas.
“Tentu, honey. Aku pasti akan kembali. Aku berjanji padamu.” Ucap Alex mencoba menenangkanku.
Alex memelukku erat. Aku akan merindukan aroma ini. Aku akan merindukan sentuhan ini. Aku akan merindukan pelukan ini. Aku bahkan seperti merasa belum cukup dengan ssemua pujian dan rayuan dari Alex.
Alex melepaskan pelukannya. Ia menicumku. Melumat bibirku seakan aku tak akan bisa merasakannya lagi. Air mataku mengalir begitu saja tanpa ku perintah. Hatiku terasa sakit. Aku tak siap menerima ini.
Alex melepaskan ciumannya. Ia menatapku seolah ia tak akan kembali. Aku bisa melihat tatapannya. Tatapan penuh keyakinan dan kesedihan di waktu bersamaan. Aku tak bisa membayangkan apa yang saat ini dirasakan Alex.
Aku tak yakin dengan semua ini. Akhirnya, Alex pergi, meninggalkanku di sini. Sesaat setelah Alex menghilang dari pandanganku, kepalaku terasa sakit. Akh, kenapa ini? Jangan di saat seperti ini.
Aku memegang kepalaku. Saat itu juga, aku bisa melihat sebuah gambaran. Aku berada di perbatasan. Aku terluka cukup parah. Aku bertarung dengan seseorang. Air mataku mengalir ketika pertarungan berlangsung. Lawan bertarungku..
Aku berteriak. Kepalaku terasa sangat sakit. Sesaat aku bisa merasakan aku kehilangan keseimbanganku. Kesadaranku juga perlahan mulai menghilang. Setelah itu, aku bahkan tak bisa mengingat apa yang selanjutnya terjadi.
***
Author’s POV
Sedikit lebih jauh dari perbatasan Snow Moon Pack, terlihat lima werewolf yang mengintai kegiatan Valey yang lainnya. Mereka merasa curiga dengan Alpha tersebut sehingga mereka tidak kembali setelah tidak berhasil menemukan apa yang mereka cari di hutan.
Kecurigaan mereka terutama mulai terlihat sejak pertama mereka bertemu. Meski tatapan sang Alpha waktu itu terlihat menjanjikan dan tak mengetahui apa-apa, tapi berdasarkan apa yang ia katakan cukup membuktikan bahwa ia menyembunyikan sesuatu.
Kelima werewolf itu bisa melihat orang yang mereka cari sedang bersamanya saat ini. Ia terlihat ingin meninggalkan pack. Pemimpin mereka memberi isyarat untuk tetap ditempat, menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.
Mereka bisa melihat target mereka bergerak. Tak berapa lama, mereka melihat Valey berteriak kesakitan. Target mereka berhenti dan menoleh ke belakang. Ia terlihat mau kembali, namun Ia langsung menggelengkan kepalanya dan kembali berjalan.
Pemimpin mereka, melihat ekspresi dan tingkah laku targetnya, ia bisa menyimpulkan bahwa ia pasti mate dari Valey. Ia langsung memerintahkan dua dari mereka untuk kembali dan melaporkan pada ketua mereka. Ia juga memberikan perintah pada dua lainnya untuk mengikuti target mereka.
Ia sendiri, masih mengamati Valey yang sudah dibawa pergi oleh rombongannya kembali ke dalam pack. Ia merencana untuk memata-matai Valey. Ia harus melakukannya dengan hati-hati. Pengintaian terhadap orang penting suatu pack, bukanlah hal yang mudah. Tatapannya, terlihat tatapan tajam terpahat dikedua matanya.
***
Alex’s POV
Sejak tadi aku merasakan seperti ada yang mengikutiku. Aku tidak bisa mencium aromanya. Sepertinya jarak mereka cukup jauh. Kenapa aku bisa bilang ‘mereka’. Karena aku merasakan yang mengikuti itu ada 2 orang.
‘Sam, kau merasakannya?’
‘Aku merasakannya. Aku rasa mereka juga werewolf. Mereka dapat menjaga jarak dengan sangat baik.’
‘Apa yang harus kita lakukan?’
‘Lari bodoh, semakin cepat kau pergi semakin baik. Ditambah Vanya telah memberika mantra pelindung untuk kita.’
Ck!
Aku memutuskan mindlinkku dengan Sammy. Tanpa aba-aba, aku pun lari sekencang mungkin. Sepertinya mereka juga ikut berlari sambil menjaga jarak dengan ku. Haruskah aku meladeni mereka? Tidak. Ini demi Valey. Aku harus cepat.
Aku terus berlari menyusuri hutan. Begitu pula mereka. Sampai akhirnya aku sampai di gerbang dunia kegelapan. Aura kegelapan yang bisa dirasakan dengan jelas. Tanpa basa-basi aku langsung lari masuk ke dalam.
Hutan. Aku masih berlari di dalam hutan. Huta nini tampak biasa saja. Yah, memang sedikit lebih gelap, tapi sejauh ini tak ada bedanya. Sepertinya mereka tidak ikut masuk dan berhenti di depan gerbang antar dunia tersebut. Itu bagus. Aku tak perlu meladeni mereka di dalam sini.
‘Sepertinya kita menghindari mereka.’ Aku memindlink Sammy tapi tak ada jawaban di sana.
‘Sammy?’ masih tidak ada jawaban dari Sammy.
‘Sammy, jangan bercanda. Jawab aku.’
Huh? Aku tak bisa memindlink Sammy? Apa yang terjadi? Apa karena aku sedang di dunia kegelapan? Oh iya, kalau dipikir-pikir lagi bagaimana aku mencari kuncinya? Dulu aku membuangnya di pintu masuk. Aku bisa merasakan ada yang mengambil kunci tersebut. Sekarang, bagaimana ini?
Sekilas aku bisa merasakan ada yang sesuatu yang melewatiku. Apa itu? Aku tak bisa mengandalkan Sammy di saat seperti ini. Sepertinya aku harus melakukannya sendiri.
***
Valey’s POV
Aku terbangun dari tidurku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Di mana ini? Ini.. Rumah sakit packku. Aku mengedarkan pandanganku. Ku lihat Peter, Rose, dan Vanya sedang berbincang-bincang di ujung ruangan. Aku mencoba untuk duduk, dan seketika itu Rose melihatku.
Dengan sigap Rose langsung menghampiriku dan memeriksa kondisiku. O iya, Rose sekarang bekerja menjadi salah satu dokter terbaik di pack ku. Karena sebelumnya Rose memang bekerja sebagai dokter di Red Eclipse Moon Pack.
Setelah selesai memeriksaku Rose hanya tersenyum menandakan bahwa aku baik-baik saja. Peter dan Vanya segera menghampiriku.
“Apa yang terjadi, Val?” tanya Peter to the point.
“Aku melihatnya lagi.”
Peter, Rose, dan Vanya saling bertatapan. Mereka menganggukan kepala seakan setuju dengan sesuatu.
“Seperti dugaanku, Val. Kau pasti pingsan karena kau melihatnya lagi.”
“Aku rasa alasan kau pingsan adalah kondisimu yang sedang terpuruk. Jika sebelumnya kau dalam kondisi baik kemungkinan yang akan terjadi kau hanya kelelahan.” Jelas Vanya.
Setelah dipikir-pikir, ku rasa itu memang benar. Karena kemarin aku hanya kelelahan saat melihat gambaran 4 kejadian yang tak saling berhubungan itu. Saat itu mateku baru saja sadar dan kondisi sangat baik, bahkan sangat senang.
“Jadi apa yang kau lihat, Val.” Aku terdiam. Aku seakan ingin melupakan apa yang sudah ku lihat. Tubuhku bergetar. Mereka terlihat bingung dengan sikapku.
“A-aku, melihat—” perkataanku terputus, seakan tertahan di tenggorokanku. Aku mulai menundukkan kepalaku.
“Melihat—diriku bertarung melawan Alex.” Aku tak sanggup menahan air mataku lagi. Seketika cairan hangat tersebut mengalir jatuh ke pipiku.
Vanya langsung memelukku mencoba untuk menenangkanku. Terlihat Rose yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan mulai berkaca-kaca. Dengan sigap Peter langsung memeluk matenya tersebut. Kami semua hanya diam, taka da yang memiliki cara untuk mencegah hal ini.