Valey’s POV
Suasana kamarku tiba-tiba tegang seketika. Dapat ku lihat wajah serius dari semua orang. Kecuali mateku, karena dia tidak tau apa-apa. Ku harap keputusanku ini benar. Aku mengambil nafas dalam, mencoba menenangkan diriku.
“Alex.” Aku memasang wajah seriusku.
“Ya?” ku lihat wajah bingung Alex karena suasana yang berubah secara tiba-tiba.
“Aku ingin mengatakan sesuatu..” ku telan saliva ku dengan susah payah. Aku masih takut dengan rekasi Alex setelah ini. Ku mohon tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.
“Ada apa, honey? Kenapa suasananya juga berubah seperti ini?”
“Maafkan aku.” Aku menundukkan kepalaku. Aku merasa sangat bersalah atas ini.
“Aku, aku telah berbohong padamu. Maafkan aku.”
Seketika wajah Alex digantikan dengan wajah terkejut. Dia tidak menanggapiku apapun. Ini membuatku takut kalau dia akan meninggalkanku. Menurut pengelihatanku yang lalu, aku mengatakan kebenaran dan dia pergi ke arah kegelapan.
“Aku, sebenarnya.. Akulah Alpha di pack ini, dan aku memiliki kekuatan seorang wizard. Namaku yang sebenarnya adalah Valey Fredicson.” Aku masih menundukkan kepalaku. Aku takut dengan apa yang akan terjadi.
Alex masih diam tidak menanggapiku. Sorot matanya pun berubah. Dia terlihat terkejut. Aku telah mengkhianatinya. Aku memang bodoh. Tidak berpikir panjang. Ini terasa sangat sakit. Sakit sekali.
“A-aku melakukan itu karena aku melihat sesuatu yang sangat buruk dengan kekuatanku. Maaf kan aku, Alex.”
Air mataku mulai keluar jika aku mengingat tentang kekuatanku. Seperti kata Moon Goddess, apa yang kulihat pasti akan terjadi karena itu takdir. Tapi meskipun begitu, aku ingin sekali merubahnya. Karena aku tidak mau mateku pergi. Tiba-tiba, Alex, dia memelukku.
“Sudahlah, Val. Aku sudah mengetahuinya sejak awal.” Aku tersentak. Sebab Alex sudah mengetahui siapa aku sebenarnya. Kenapa ia diam saja?
“Aku sudah tau sejak aku datang ke sini karena aku mantan Beta. Keluarga Fredicson yang memimpin Snow Moon Pack adalah seorang Alpha female, dan itu kau, mate. Aku tau kau menyembunyikan statusmu karena suatu hal. Aku senang kau mau jujur padaku.”
Tangisanku semakin deras. Aku memeluk mateku sekencang mungkin untuk menghilangkan segala rasa bersalahku. Alex mengelus punggung berusaha untuk menenangkanku.
***
Aku melepaskan pelukanku. Karena ini belum selesai. Masih ada yang harus dilakukan. Aku mengusap kasar pipiku untuk menghilangkan air mata yang mengalir. Aku kembali ke wajah serius ku. Ini berhubungan dengan kekuatanku dan kekuatan Alex.
“Baiklah, sekarang kita kembali ke topik utamanya.” ucapku tegas sambil melihat ke arah Peter dan Vanya.
“Dalam mimpiku, aku bertemu dengan Moon Goddess. Dia mengatakan bahwa kekuatanku adalah melihat takdir, baik itu masa lalu maupun masa depan. Takdir masa depan ku lihat itu pasti akan terjadi. Selain itu, Alex.” Aku menatap tajam kearah Alex.
“Kau juga suatu kemampuan, bukan? Kenapa kau menyegelnya?” Tanyaku pada Alex. Alex menghembuskan nafasnya berat.
“Ya, aku memiliki kekuatan wizard juga. Karena Ayahku, adalah seorang wizard. Aku juga half werewolf half wizard seperti mateku. Ku rasa kalian sudah bisa mengetahuinya.” Semua orang terdiam. Kami semua tau bahwa Alex merupakan half sepertiku. Aromanya sangat jelas.
“Aku menyegel kekuatanku karena kekuatanku adalah ‘mengubah takdir’. Karena kekuatan ini sangat berbahaya, maka dari itu aku menyegelnya. Oleh karena itu, aku menolak rencana ayahku dan aku menjadi pemberontak.”
Setelah mendengar penjelasan Alex, semua orang terkejut. Itu karena kekuatannnya dapat mengubah takdir. Itu merupakan kekuatan yang luar biasa. Jika sampai digunakan dengan salah dapat berakibat sangat fatal.
“Tapi, aku harus tau terlebih dahulu takdir apa yang terjadi di masa depan. Karena jika aku merubah takdir menjadi takdir itu juga, maka aku akan mati.” Lanjut Alex.
“Apa maksudmu?” Aku tak mengerti dengan maksud Alex.
“Semisal, besok takdir Peter tertimpa tangga. Lalu aku mencoba agar merubah takdirnya terpimpa tangga juga, maka aku akan mati. Jadi intinya, jika aku merubah takdir tapi itu sesuai dengan takdir yang akan terjadi kekuatanku yang akan membunuhku.”
“Kenapa harus aku!” ucap Peter Sambil mencengkram bahu Alex. Alex hanya menatapnya dingin tak peduli.
Ternyata mengubah takdir tidak sesederhana itu. Karena menurut penjelasan Alex, jika ia merubah takdir ‘A’ menjadi takdir ‘A’ juga, dia akan mati. Jelas aku tidak mau itu. Membicarakan tentang kekuatan aku jadi teringat akan sesuatu.
“O iya, aku teringat sesuatu. Moon Goddess mengatakan padaku bahwa Alex dan aku memiliki kekuatan tersembunyi. Moon menyuruhku untuk bertanya pada Oma.”
Tanpa di suruh, Oma Vanya langsung mendekat menghampiriku dan Alex yang sedari tadi duduk di ranjangku. Oma menggenggam tanganku dan tangan Alex bersamaan. Oma menutup matanya perlahan. Semenit kemudian, Oma membuka mata dan menghela nafas berat.
“Ya, sepertinya yang dikatakan Moon Goddess benar. Ada suatu reaksi ketika kalian berdekatan. Kekuatan itu seperti tersegel. Sepertinya, segel tersebut terbuka ketika kalian sudah mating.” Aku dan Alex terkejut. Jadi kami hanya perlu menjadi sepasang mate yang sah. Maksudku tinggal melakukan itu. Itu mudah sekali. Itu. Aku tiba-tiba merasa malu. Wajahku pasti memerah sekarang.
***
“Ja-jadi kami ha-hanya perlu ma-ma-ma—”
“Aku mau, mate. Ayo kita lakukan sekarang.” Ucap Alex tiba-tiba dengan nada menggoda.
“A-a-aku—”
“Tunggu dulu, Valey. Sepertinya ada syarat untuk melakukannya. Kekuatan takdir kalian harus tebuka dan tidak ada salah satu yang tersegel.” Ucap Oma seketika memotong ucapanku.
Alex menegang seketika. Kenapa dia menegang? Bukannya dia cukup membuka segel yang ia buat? Seketika ingatan ketika aku melihat takdir masa lalu Alex kembali menghapiriku. Aku pun ikut menegang. Jadi ini alasannya?
“Aku, membuang kunci segelku ke—“
“Tidak Alex!” Teriakku memotong perkataan Alex.
Semua orang kelihatan kebingungan dengan tingkahku. Seharusnya aku membiarkan Alex pergi mengambil kunci untuk membuka segelnya karena ini perintah Moon. Tapi aku tidak rela. Aku tidak menginginkannya.
“Ada apa, Val?” Tanya Peter khawatir.
“Aku, aku tidak bisa. AKU TIDAK BISA MEMBIARKAN ALEX MASUK KE DALAM KEGELAPAN!” teriakku dan membuat semua orang terkejut.
Semua orang memandangku sendu. Bagaimana tidak, seorang yang ibaratnya baru saja bertemu matenya harus berpisah karena salah satu harus pergi ke dunia kegelapan. Itu adalah sesuatu yang berat.
“Tapi Valey,” Peter mulai angkat bicara lagi.
“Kau yang bilang kan, kau melihat Alex pergi ke kegelapan. Kau juga yang bilang bahwa takdir masa depan yang kau lihat pasti akan terjadi.” Aku terdiam mendengar penuturan Peter.
“Apa yang kau lihat, honey?” Kini giliran Alex yang bertanya.
“Aku melihat 4 kejadian masa depan, dan 2 sudah terjadi. Yang satu adalah ketika aku melihatmu pergi ke kegelapan dan satunya lagi..” aku tak sanggup untuk mengatakan pada mateku sendiri.
“Valey melihat dirinya ditusuk dengan pedang oleh seseorang dengan jubah hitam.” sambung Peter.
Alex terkejut. Bahkan bola matanya seakan ingin keluar. Bagaimana mungkin matenya sendiri akan mati begitu saja.
“Sayang, biarkan aku pergi. Aku tidak ingin kau mati. Aku bisa mengubah takdir agar kau tidak mati.” Aku terdiam. Tentu saja aku tidak ingin mati dan meninggalkan mateku.
“Di tambah lagi, kau melihat takdirku pergi untuk mengambil kunci segel itu. Jika seperti itu, aku akan pergi, untukmu.” Aku tidak ingin kau pergi ke kegelapan! Tidak kah kau mengerti?
Seletah banyak pikiran berkecamuk di kepalaku, terpaksa aku akhirnya mengiyakan permintaan Alex. “Baiklah, Alex. Kau boleh pergi untuk mengambil kunci tersebut. Tapi dengan syarat. Kau harus kembali kepadaku dengan baik dan selamat dan aku akan—“
“Tidak, Valey. Kau akan tetap di sini. Pack ini butuh seorang Alpha. Aku tidak ingin kau ikut karena ini sangat berbahaya. Aku ingin kau di sini. Untukku.” Potong Alex seolah mengerti apa maksud ucapanku. Ini pertama kalinya Alex memanggil namaku begitu saja.
Aku hendak menolaknya. Tapi aku melihat reaksi dari Peter dan Vanya, sepertinya mereka menyetujui ide Alex. Aku tak ingin ini terjadi. Aku tak ingin membiarkan Alex pergi. Akupun memeluk Alex, seakan aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Di akhir pelukan, Alex mencium bibirku cukup lama.
“Aku mencintaimu, mate.”