Valey’s POV
Aku berada di tengah hamparan bunga yang sangat indah. Tunggu dulu. Di mana ini? Entah mengapa rasanya aku pernah ke sini. Aku melangkahkan kakiku. Entah kemana aku pun tak tau. Aku terus melangkah sampai aku tiba di sebuah taman yang indah dengan air terjun mini dan beberapa pohon rindang yang menyejukkan. Ada sebuah ayunan pada salah satu pohon tersebut. Ku lihat seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun serba putih sedang duduk pada ayunan tersebut. Seolah menungguku.
Tanpa ku sadari, aku mendekati wanita tersebut. Lama-kelamaan, sosok wanita tersebut mulai terlihat jelas. Sontak aku membungkuk seketika.
“Moon Goddess.” Aku bisa merasakan Moon berdiri dari ayunan tersebut. Ia terlihat sangat anggun dan sangat cantik.
“Bangunlah, Valey.”
Aku pun bangkit setelah mendengar perintah dari Moon Goddess. Suaranya sangat indah. Terkesan sangat lembut. Aku cukup bertanya-tanya, kenapa aku bisa menemuinya. Ku lihat Moon tersenyum kepadaku. Seakan mengetahui isi hatiku, Moon menjawab pertanyaan yang ada dalam batinku tadi.
“Aku mengundang mu kemari untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu.”
Aku cukup terkejut dan sedikit senang. Tapi, benarkah Moon Goddess dapat memberikan jawaban atas pertanyaanku? Duh, Valey bodoh. Kenapa aku meragukan Moon Goddes. Ku lihat Moon yang tersenyum tulus ke arahku. Aku pun mulai bertanya dengan sedikit ragu.
“A-apa yang terjadi pada kemampuanku? Apakah mateku akan meninggalkanku setelah tau keadaanku?”
Aku takut mendengar jawaban dari Moon, aku pun menundukkan kepalaku. Namun, sepertinya Moon tidak marah sama sekali. Duh, bodohnya aku.
“Valey, percayalah pada takdirmu. Kau ku berikan kemampuan untuk melihat takdir. Baik itu takdir yang sudah terjadi maupun yang belum. Namun kau tidak boleh sembarangan dalam melihat takdir masa depan. Kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu, karena apa yang kau lihat pasti akan terjadi.”
Aku terkejut dengan penjelasan Moon Goddess. Jadi, yang kulihat itu adalah masa depan? Jadi Alex akan pergi ke dalam kegelapan? Aku akan mati? Apa yang bisa ku perbuat untuk mencegah ini?
“Ja-jadi, aku akan mati? Apa yang harus ku perbuat?” takutku dengan ketakutan.
“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan tentang takdir masa depan yang kau lihat. Semua itu tergantung padamu.” Aku terkejut dengan pernyataan Moon Goddess.
“A-Apa maksudnya?”
“Matemu juga ku berikan kekuatan. Namun ia menyegel kekuatan tersebut. Kalian juga memiliki satu kekuatan tersembunyi. Cari lah cara untuk membukanya.”
Aku sedang mencerna perkataan dari Moon. Ternyata mateku juga punya kekuatan. Entah mengapa aku jadi merindukan mateku. Tunggu dulu, jika membicarakan tentang mateku, apa yang sebenarnya terjadi padanya?
“Anu, ini tentang mateku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”
“Valey, sayang. Hal itu, biarkan matemu yang menceritakan semuanya. Kau harus bisa berada di sisinya saat keadaannya terpuruk. Terlebih lagi, kau harus jujur dan mempercayai matemu” Aku tersentak mendengar perkataan Moon Goddess. Aku memang membohonginya dan meragukan mateku.
Setelah mendengar hal itu firasatku jadi buruk. Ah tidak. Aku tidak boleh berfikiran buruk saat ini. Terlebih lagi di depan Moon Goddess. Ini sungguh tidak sopan. Aku yakin Moon Goddess punya maksud tersendiri.
“Sekarang Valey. Pulanglah. Tanyakan pada Vanya tentang ini. Hanya ini yang bisa ku beri tau kepadamu.”
Akupun menundukkan kepalaku. Aku mulai berbalik. Tunggu dulu, bagaimana caraku bisa kembali? Seketika cahaya putih di depanku serasa menarikku. Aku tersentak ke depan dan seketika gelap.
***
Aku mengerjapkan mataku. Menyesuaikan cahaya yang masuk melalui mataku. Dapat kulihat bahwa ini seperti kamarku. Seketika aku mencium aroma memabukkan yang terasa sudah lama tak ku hirup. Tunggu dulu, ‘sudah lama’? aku memikirkan apa yang terjadi dengan perasaanku.
Tiba-tiba, aku melihat Alex sudah bangun dan berdiri di sampingku. Tanpa aba-aba, dia langsung memelukku erat seakan aku akan pergi lagi. Dapat ku rasakan kekhawatiran yang ada pada dirinya.
“A-lex, kau ter-lalu kencang, a-ku tidak bisa ber-nafas.” Kataku putus-putus karena Alex memelukku terlalu erat.
“Ah, maaf.”
Alex melepaskan pelukannya. Aku akhirnya dapat bernafas dengan lega. Apa Alex berencana untuk membunuhku? Di mana aku sekarang? Tidak ada orang lain di sini. Hanya ada aku dan Alex di ka— Tunggu dulu. Kamarku?
“Alex, kanapa kau ada di kamarku?” Alex tampak mengerutkan dahinya. Ah, jika Alex bisa berada di sini, jangan bilang Alex sudah mengetahui semuanya. Tidak, Aku akan memberitahukan semuanya meski Alex sudah tau.
“Apa maksudmu, honey. Kau mateku. Aku khawatir padamu karena kau tidak sadarkan diri selama 5 hari.”
“5 hari?”
Alex menganggukan kepalanya. 5 hari, bukannya itu lama sekali. Apa yang telah aku lewatkan selama 5 hari ini. Dilihat dari expresi Alex saat ini, apakah benar Alex sudah mengetahui semuanya? Kemungkinan Peter masih menyembunyikan semuanya.
“Alex?” tanya ku ragu.
“Ya, honey?”
“Ada yang ingin ku—”
BRAK
Pintu kamarku terbuka tiba-tiba. Ku lihat Peter dan Vanya masuk dengan ekspresi kelegaan di wajah mereka. Terutama Peter, apa aku meninggalkannya pekerjaanku yang sangat berat?
“Valey, kau tidak apa?” tanya Peter yang langsung memelukku. Duh laki-laki ini, tak berubah sama sekali.
Aku menganggukan kepalaku saat Peter melepas pelukannya. Ku melihat mateku yang terlihat tidak suka karena cemburu, bisa ku dengan geraman dari mulutnya. Alex terlihat menahannya sekuat mungkin. Aku jadi merasa bersalah padanya. Peter yang mengetahui ini hanya meliriknya dengan tatapan mengejek. Oh, sudah berani ternyata dia.
‘Peter. Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Alex.’ Aku memindlink Peter tentang keputusanku. Bisa ku lihat Peter sedikit terkejut.
‘Apa kau yakin dengan ini?’ Aku menganggukkan kepalaku.
‘Aku bertemu Moon Goddess dan inlah keputusanku.’
‘Baiklah jika itu maumu.’ Aku memantapkan diriku. Aku akan mengatakan semuanya kepada mateku.
***
Author’s POV
Terlihat 5 orang werewolf tengah menghadap seseorang.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Kami kehilangan jejaknya.” Kata seorang dari mereka.
Pria yang dipanggil ‘Yang Mulia’ tersebut terlihat marah. Dapat dilihat dari urat nadinya yang tercetak di dahinya. Suara gesekan giginya yang keluar terdengar menyeramkan.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?! AKU MENYURUH KALIAN UNTUK MEMBUNUHNYA. BUKAN KEHILANGAN JEJAKNYA. SEKARANG, CARI DIA DAN BUNUH SEGERA!” Teriak pria tersebut dengan nada mengintimidasi.
“Ba-baik, Yang Mulia.” Jawab mereka dan mereka langsung pergi dari hadapannya.
Terlihat seseorang yang berdiri di belakang pria tersebut. Di balik bayangan gelap, dia tertawa.
“Hahaha. Apa yang kau lakukan, Ayah?”
“Diamlah, kau tidak membantu sama sekali!”
“Tapi kan paling tidak pasukanku dapat memberi kekuatan yang hebat.”
“Lebih baik kau memikirkan suatu rencana.”
“Hmm.. Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau begini,” pria tersebut membisikkan sesuatu ke telinga ayahnya. Terukir semua smirk mengerikan pada kedua pria itu.
“Itu mungkin bisa. Tapi aku butuh benda yang harus ku cari. Ini untuk rencana cadangan kita.” Sang Ayah terlihat menyetujui saran anaknya.
“Kau tak percaya dengan rencanaku ini, Ayah? Huh, kalau begitu jika kelima werewolf itu gagal, kau gunakan mereka sesuka hatimu.” Ucap pria itu dengan wajah tidak menyenangkannya.
“Itu memang jawaban yang ingin ku dengar darimu.”