Alex’s POV
Aku bangun di pagi hari. Masih di tempat yang sama. Rumah sakit. Ku lihat ada seorang gadis cantik yang duduk tertidur di samping ranjangku. Ya, dia adalah mateku. Oh Moon Goddess, terima kasih telah memberiku mate yang sangat cantik ini.
‘Ya, mateku memang cantik sekali.’
‘Sam? Apakah itu kau? Akhirnya kau bangun juga, Sam. Apa maksudmu dengan ‘matemu’? Dia mateku juga.’
‘Terserah kau lah. Aku sudah sadar sejak tadi malam. Kau tau, semalaman mate kita menunggui kita di sini. Bahkan aku sempat mengambil alih tubuhmu dan mengelus-elus kepalanya.’
‘Apa katamu?’
Sam memutuskan mindlink kami sepihak. Kurasakan pergerakan dari mateku. Ku rasa dia bangun karena kegaduhanku dengan Sam barusan. Mata kami saling bertemu kembali. Oh ini sungguh mendebarkan.
“Selamat pagi, mate.” kataku dan secepat kilat aku langsung menciumnya. Entah apa yang merasukiku sehingga aku melakukan itu. Setelah ku lepaskan ciuman kami, dapat kulihat wajah terkejutnya. Oh dia sangat manis.
‘Dan juga sangat cantik.’
Kulihat dia mulai tersadar dengan apa yang terjadi. Wajah cantiknya mulai memerah seperti tomat. Lihat dia, dia menggembungkan pipinya. Dia terlihat sangat imut.
“My First Kiss!” teriaknya.
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskannya.
“Ngomong-ngomong, siapa namamu? Oh, dimana sopan santunku. Namaku adalah Alexander Reva-” aku terhenti dan tidak menyebutkan nama keluargaku. Aku terlalu takut akan apa yang telah terjadi sebelumnya terjadi kembali.
“Va-Valey. Valey Enderson.”
‘Namanya sangat cantik sekali.’
‘Ya, kau benar Sam. Bahkan wajahnya juga sangat cantik. Valey Enderson? Apa cuma perasaanku saja atau memang ada yang janggal dengan nama itu?’
‘Aku juga tau itu. Apapun itu, biarkan mate kita yang mengatakannya.’
‘Kau benar.’
Kulihat dia malu-malu. Namun tiba-tiba dia mulai mendekat. Kedua tangannya memegang kepalaku. Wajahnya mendekat. Ku dengar samar-samar dia memanggil namaku. Semakin dekat. Semakin dekat. Mateku tenyata cukup agresif. Bibir kami akan mulai bertautan. Tiba-tiba..
BRAK
Seorang pria tinggi dengan wajah tirus dan rambut coklat kehitaman masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Cih, apakah dia tidak punya sopan santun.
“Valey, dari tadi aku mencari mu, bahkan kau tidak menjawab satu pun mindlink dari ku.”
“Ma-maafkan saya, Alpha.”
Alpha? Jadi dia Alpha di pack ini. Cih, menyebalkan. Berani sekali dia membentak mateku tepat dihadapanku. Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajahnya. Kulihat dia melirikku dingin.
“Jadi kau matenya Valey? Kalau kau bergabung dalam pack milikku ini. Itu berarti kau bersedia menerima ku sebagai Alpha mu. Namaku adalah William Peter Fredicson.” Fredicson? Apa ini Snow Moon Pack? Alpha Fredicson kalau tidak salah..
“Dan kau, Valey. Cepat kau pergi ke mansion. Ada seseorang yang mencarimu.” Perintah pria itu dan langsung pergi. Kulihat mateku menatapku penuh harap. Oh tidak, aku tidak tega melihatnya. Tapi siapa dia? Kenapa dia harus ke mansion?
“Pergilah, honey. Jika kau terbebani karena minta ijinku, aku akan mengijinkanmu pergi. Cepatlah kembali.” Ku kecup kening mateku dan dia tersenyum. Oh cantiknya. Ku lihat dia berdiri dan pergi meninggalkanku.
***
Valey’s POV
Saat ini aku sedang berada di ruang kerjaku- maksudku Peter. Ya, aku dan Peter bertukar posis untuk sementara karena pengelihatanku kemarin. Aku takut dengan apa yang mungkin terjadi, jadi kami bertukar posisi saja. Aku pun juga telah melihat masa lalu Alex ketika aku mencoba untuk menciumnya dan itu cukup membuatku tertekan.
“Peter, dia, mateku. Kakak dan ayahnya berencana untuk membunuhku. Aku tidak mendapat alasannya. Namun, dia. Mateku menolaknya, sehingga dia dianggap pemberontak dan akan dibunuh. Dia juga selalu disiksa untuk melakukan sesuatu. Aku.. aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang.”
“Tenanglah, Val. Kita tunggu dulu penjelasan dari Vanya. Tom sudah membawanya kemari.”
“Mateku sebenarnya juga memiliki kekuatan. Tapi aku tak tau kekuatan apa itu.”
Tiba-tiba pintu diketuk dan masuklah Tom bersama seorang wanita tua dengan jubah putih. Rambutnya putih sepinggang tergerai begitu saja. Dia berjalan dengan tongkat yang terlihat lebih tinggi darinya. Wanita tersebut langsung menghampiriku dan memelukku begitu saja.
“Oh, Valey. Sudah lama Oma tidak bertemu denganmu, kau sekarang sudah menjadi wanita yang cantik dan kuat.” Ucap Vanya, atau sering ku sebut Oma, sambil memelukku erat.
“Terima kasih, Oma. Maafkan aku karena kedatanganmu kemari begitu mendadak.”
“Oh, tidak apa, dear. Jadi apa yang ingin kau ketahui?”
“Kekuatanku, Oma. Beberapa hari yang lalu aku seperti melihat suatu gambaran dan itu terjadi sehari setelahnya. Lalu kemarin, aku juga melihat suatu gambaran kembali, namun kali ini gambaran tersebut terputus-putus dan tidak saling terhubung satu sama lain. Ini tidak seperti kekuatanku yang sebelumnya untuk melihat apa yang sudah dilalui orang yang aku sentuh.”
Setelah mendengar penjelasanku, Oma langsung memegang kepalaku. “Aku merasakan kekuatanmu mulai bangkit. Kekuatan penglihatanmu semakin kuat.”
Tiba-tiba cahaya putih keluar dari tangan Oma. Oma bahkan terlihat terkejut dengan apa yang terjadi. Terang. Hanya putih yang dapat ku lihat.
***
Peter’s POV
Sebuah cahaya keluar dari tangan Oma. Ini terang sekali. Apa yang dilakukan Oma pada Valey? Tiba-tiba, Valey terjatuh. Aku dengan cepat langsung menangkapnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ada apa ini, Oma? Kenapa Valey tiba-tiba seperti ini?” tanyaku cukup panik.
“Aku tidak tau.” Jawab Oma kebingungan.
“Apa maksud Oma dengan tidak tau?”
“Ini bukan aku yang melakukannya. Sepertinya, Moon Goddess memanggilnya untuk menjawab pertanyaan dari Valey.”
“Moon Goddess?” aku terkejut mendengar jawaban Oma. Apa yang sebenarnya terjadi pada Valey sampai Moon Goddess yang ingin berbicara dengannya?
“Jangan bercanda, Oma. Ini merupakan salah satu dari sihirmu, kan? Katakan padaku bahwa kau sedang mempelajari kekuatan Valey.” Tanyaku lagi tak percaya.
“Ini sungguh bukan aku, dear. Aku bahkan terkejut saat keluar cahaya putih dari tanganku. Kau seharusnya tau bahwa aku tak bisa menggunakan sihir cahaya.”
“Ini buruk. Tidak, ini berita baik. Ah tidak, ini sangat buruk.” Pikiranku kacau.
“Sudahlah, dear. Lebih baik sekarang kau bawa Valey ke kamarnya, dear.” Perkataan Oma menyadarkanku seketika.
“Baiklah, Oma. Kau benar.” Aku langsung membawa Valey ke dalam kamarnya. Ini sepertinya akan sedikit rumit. Terlebih lagi, bagaimana dengan matenya Valey nanti? Apa yang harus aku katakan padanya?
Aku meletakkan Valey ke atas kasurnya. Ia terlihat seperti tertidur. Benarkah ia sedang menemui Moon Goddess? Benarkah ini bukan karena efek dari sihir milik Oma? Tapi raut wajah Oma menunjukkan kekhawatiran yang besar. Tak mungkin Oma berbohong.
“Sekarang yang perlu kita lakukan hanya menunggu.” Ucap Oma tiba-tiba.
“Berapa lama hal ini akan berlangsung?”
“Aku tidak tau, dear. Ini bisa cepat dan bisa juga lambat. Aku tak bisa memastikannya.” Ini gawat. Apa itu berarti selama itu pula aku harus mengerjakan tugasku sebagai Beta sekaligus sebagai Alpha agar matenya Valey tidak curiga? Argh.
“Ini semua membuat kepalaku sakit. Valey, cepatlah kembali. Kau jangan terlalu lama di sana.” Ucapku frustasi yang ku rasa tidak akan terdengar oleh Valey.