Valey’s POV
Sudah 2 hari mateku masih belum bangun juga. Peter dan Rose sering menemaniku. Terutama Peter. Dia tidak mau aku melupakan tugasku sebagai Alpha. Aku sesekali pergi ke ruang kerja ku di mansión meski pikiranku kosong, tapi Peter dengan sabar membantuku. Ia memang teman terbaikku. Aku jarang makan menunggu mateku sadar. Nafsu makanku hilang begitu saja.
Aku masih setia duduk menemani mateku di samping ranjang, menggenggam erat tangannya. Tiba-tiba, tangan yang ku genggam dari tadi mulai bergerak. Aku pun langsung memindlink Peter untuk segera memanggil dokter. Mata mateku mulai terbuka. Dapat ku lihat bola mata hitamnya yang mempesona. Aku tertegun dengan ketampanannya.
‘Ah, mata mateku indah sekali.’ Puji Roxie di dalam sana.
‘Mate kita!’
Aku membatu mengamati mate ku dalam-dalam dalam diam. Seketika mateku menoleh ke arahku. Mateku juga terlihat membatu menatapku. Apa aku secantik itu? Kami saling adu pandang cukup lama. Tiba-tiba..
“Permisi Alpha. Saya akan mengecek keadaan mate Anda” ucap dokter sembari memintaku keluar.
Lamunanku pecah seketika. Dengan langkah berat aku mulai keluar ruangan. Masih dapat kulihat bahwa mateku masih membatu di sana. Di luar ruangan ternyata ada Peter. Dia menatapku dengan serius. Seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Alpha, bisa kita bicara? Ini tentang mate anda” ujar Peter to the point.
“Ada apa?” ekspresiku langsung berubah dingin seketika.
“Mari Alpha kita ke ruangan Anda. Kita tidak bisa membicarakannya di sini.”
Aku tak mengerti dengan Peter. Mateku baru saja sadar dan dia malah memisahkanku dengannya? Aku sedikit bimbang. Tiba-tiba aku teringat dengan perkataan itu. Aku seperti pernah mendengarnya sebelumnya. Aku ingat. Aku pernah memimpikan ini. Apa yang sebenarnya terjadi.
***
“Alpha, saya sudah mencari identitas dari mate anda. Dia bernama Alexander Reva Black. Dia bekerja sebagai Beta di Blue Moon Pack. Dia tidak berasal dari sana. Tidak diketahui dari mana asal-usul nya. Dikabarkan dia selalu diincar oleh beberapa werewolf karena dianggap sebagai pemberontak.” Peter langsung mengatakan maksud dari perkataannya di rumah sakit tadi saat kami sudah sampai di ruang kerjaku.
“Tunggu dulu. Beta Blue Moon Pack? Pemberontak?”
“Ya. Belum lama Ia menjadi Beta dari Blue Moon Pack. Dia juga adalah pemberontak yang dicari oleh kelima werewolf kemarin.”
Aku merebahkan tubuhku. Apakah benar mateku orang yang seperti itu. Dengan kata lain, dia sekarang adalah lonewolf karena pergi dari pack oleh suatu masalah. Tapi, bagaimana dengan pack asalnya? Kenapa Ia bisa menjadi Beta Blue Moon Pack?
“Hah, Blue Moon Pack ya?”
“Itu benar. Pack yang dulu pernah menyerang pack ini dan menewaskan Alpha dan Luna sebelumnya.”
“Itu tidak ada hubungannya. Alpha Blue Moon Pack yang sekarang bukan lagi pamanku. Meski aku masih agak tidak suka dengan Blue Moon Pack.” Ini cukup sulit.
“Ini mungkin tidak sopan, tapi mungkin Anda bisa menggunakan kekuatan Anda untuk mengetahui tentang mate Anda.”
Aku menatap Peter tajam. Apa maksud dari perkataan Peter? Jadi dia meragukan mateku? Aku tidak terima itu. Mateku bukanlah orang membunuh kedua orang tuaku. Namun seketika amarahku menghilang karena aku teringat sesuatu dengan kekuatanku.
“Peter. Tentang apa yang ku alami pada siang tempo hari. Sepertinya dugaan kita benar.”
“Apa maksud anda, Alpha?”
“Sepertinya aku memang melihat masa depan. Karena pertemuanku dengan mateku sama persis dengan apa yang kulihat tempo hari.” Jelasku.
Hening. Aku maupun Peter tidak ada yang membuka suara. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba kepalaku kembali sakit. Aku memegang kepalaku lagi. Samar-samar ku dengan Peter yang panik.
Aku melihat, aku tengah memeluk mateku. Kemudian bayangan itu menghilang, berganti dengan aku mengatakan kebenaran dan aku melihat mateku terkejut dan pergi ke arah kegelapan. Hilang. Bayangan itu berganti lagi dengan seorang dengan jubah hitam berdiri di depanku, aku menangis, lalu dia menusuk jantungku dengan sebuah pedang.
Aku mengcengkram meja kerjaku. Nafasku terengah-engah. Memburu seakan aku akan kehabisan oksigen. Keringat bercucuran. Bayangan yang kulihat sebelumnya telah menghilang. Sekarang yang bisa kulihat adalah wajah Peter yang terlihat khawatir.
“Valey, kau tidak apa-apa?” tanya Peter, sebagai sahabatku.
“Aku— tidak..” aku mulai ketakutan dengan apa yang baru saja kulihat. Apakah itu masa depan? Apakah aku akan mati? Tapi kenapa terlihat terpenggal seperti itu?
“Peter. Sepertinya kita harus menyembunyikan identitasku sebagai Alpha terlebih dahulu.”
“Ada apa, Val?”
“Aku seperti melihat masa depan dan itu buruk. Sangat buruk. Aku akan ditinggalkan mateku dan aku akan mati.” Mendengar itu Peter langsung terkejut. Dapat dilihat dari dia yang membeku ditempat.
“Suruh Tom untuk mencari seorang Wizard yang dulu menjadi teman nenekku yang bernama Vanya. Aku butuh jawaban darinya. Karena darinya lah aku bisa tau tentang kekuatanku.”
“Baiklah” angguk Peter. Ia langsung memindlink Tom tanpa membuang waktu sedikitpun.
“Dan satu lagi, Peter. Untuk sementara, kau harus berpura-pura menjadi Alpha disini menggantikan diriku.” Ucapku tegas yang langsung ditanggapi dengan tatapan tak percaya dari Peter.
***
Alex’s POV
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Dapat kulihat langit-langit berwarna putih. Penciumanku pun penuh dengan aroma memabukkan bunga lily dan laut yang sangat manis. Ku edarkan pandanganku. Ini rumah sakit. Lalu aku melihat seseorang gadis yang sangat cantik, dengan rambut berwarna goldnya dan mata hijau yang sangat indah. Dia terlihat seperti bidadari. Apakah aku sudah mati.
Mata kami saling bertatapan cukup lama. Hingga tanpa sadar, aku sudah melihatnya di luar pintu dan pintupun tertutup. Aku sedikit kecewa dengan ini. Aku ingin mengejarnya, tapi kondisiku saat ini masih lemah. Aku hanya membayangkan Ia masuk dengan wajah khawatirnya.
‘Sam? Kau di sana? Jawab aku.’ Aku mencoba memindlink wolfku, Sammy. Tidak ada jawaban di sana. Aku cukup khawatir.
“Dokter, Aku tidak dapat menghubungi wolf ku. Apa yang terjadi padaku?” tanyaku pada dokter yang tengah memeriksa ku. Dokter itu tampak tak terkejut. Ia kemudian memeriksaku kembali.
“Wolf anda mengalami luka yang berat dan masih membutuhkan waktu untuk pulih, tuan. Wolf anda masih belum sadar. Istirahatlah untuk beberapa hari ini.”
Setelah mendengar itu, aku sedikit khawatir. Aku akhirnya melihat dokter itu keluar. Tapi kenapa mateku tidak segera kembali. Ada apa ini sebenarnya? Apa dia tidak menungguku di luar? Rasa kecewa kembali menyerangku. Aku pun pasrah dan mencoba untuk tidur kembali.
***
Author’s POV
Seorang gadis memasuki sebuah kamar. Ia duduk di sebelah ranjang dengan wajah sedihnya. Ia menggenggam tangan orang yang tertidur di ranjang tersebut. Ia terlihat sangat sedih.
“Mate, maaf karena meninggalkanmu terlalu lama.” Ucap gadis itu
Gadis itu terlihat sangat lelah. Tak berapa lama ia mulai tertidur di samping ranjang tersebut. Tanganya masih senantiasa setia menggenggam tangan pria yang tertidur di ranjang tersebut.
Tiba-tiba, mata pria itu terbuka, menatap langit-langit dengan senang. Mata biru es yang menatap bahagia kea rah matenya. Ia mengelus-elus kepala gadis itu dengan lembut. Ia lakukan itu dengan hati-hati agar ia tak terbangun.
“Tenanglah, mate. Aku senang karena kau ada di sini saat aku bangun. Ini hal terindah yang pernah ku alami seumur hidupku.” Ucap pria itu dengan bahagia yang terpancar dari wajahnya.