Valey’s POV
Pagi hari. Aku mendapat mindlink dari gammaku, Ken. Kenapa gammaku? Itu karena hari ini Peter sedang libur dan menikmati masa bersama dengan matenya. Ken mengatakan ada masalah di perbatasan barat. Aku pun langsung bergegas menuju ke sana. Di perbatasan nampak beberapa werewolf, sekitar 5 orang tengah berdebat dengan penjaga perbatasan milikku.
“Ada apa ini?” tanyaku tegas ketika aku sampai di sana. Para penjaga menunduk hormat. Melihat hal tersebut, kelima werewolf itu pun ikut menunduk.
“Maafkan kami, Alpha. Kami hanya sedang mencari pemberontak yang sepertinya masuk ke wilayah Anda.” Kata seseorang yang terlihat paling besar. Sepertinya dia pemimpinnya.
“Maaf, Alpha. Namun sejak tadi malam kami tidak merasakan adanya seseorang yang masuk melewati batas wilayah.” Sanggah penjaga perbatasanku. Yah, aku mempercayai penjagaku. Aku mulai berhitung, melihat situasi.
“Baiklah, kalian aku ijinkan. Namun hanya sekitar hutan wilayahku saja. Kalian tidak kuijinkan untuk mencarinya di bagian pack ku.” Balasku tegas. Entah mengapa firasatku buruk ketika mereka berada di dalam pack ku.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Alpha.” tanpa basa-basi mereka langsung pergi menyurusi hutan wilayahku.
Setelah masalah di perbatasan barat selesai, aku memutuskan untuk berburu. Ya itu untuk melampiaskan kekesalanku karena mereka mengganggu waktu tidurku. Sekali-kali aku juga mau sedikit bersantai.
Tak berselang lama, aku melihat seekor rusa. Buruan yang bagus. Aku mulai mengendap untuk menangkapnya. Tiba-tiba langkahku terhenti. Aroma yang memabukkan masuk menyeruak melalui indra penciumanku. Aroma mint dan hutan yang memabukkan.
‘Mate! Mate! Mate!’ teriak Roxie kegirangan yang membuat kepalaku sakit.
Aku mengedarkan pengelihatanku. Tiba-tiba aku melihat seorang pria penuh luka dengan pakaian robek dimana-mana berjalan tertatih. Ia memegangi lengannya yang terlihat masih mengeluarkan darah. Aku berlari ke arahnya dan kulihat tubuhnya mulai terjatuh. Segera aku menangkapnya dan memeluknya. Aku merasakan percikan-percikan listrik saat aku memeluknya.
Hatiku sangat sakit melihat mateku seperti ini. Rasa marah dan sedih bercampur begitu saja. Bahkan Roxie sangat marah dan berusaha mengambil alih tubuhku. Aku langsung memindlink Ken untuk segera ke tempatku berada.
Tak berapa lama Ken datang, karena dari tadi Ken masih di perbatasan barat mendiskusikan sesuatu. Ken terlihat kebingungan dengan tingkahku.
“Bawa mateku ke Rumah Sakit, Ken!” perintahku dengan alpha tone ku. Wajah terkejut Ken langsung pudar seketika. Ia langsung membawa mateku ke Rumah Sakit.
***
Di rumah sakit pack. Mateku periksa cukup lama. Hal itu membuatku sedikit khawatir. Kabar tentang aku yang menemukan mateku ternyata dengan cepat terdengar oleh Peter. Ia dan matenya muncul menemuiku di rumah sakit.
“Valey, bagaimana matemu?” tanya Peter.
Sudah jelas aku masih disini dan menunggu dengan ketakutan. Dia malah tanya bagaimana? Dasar Peter tidak peka.
‘Seperti itu lah temanmu, Val. Tidak peka.’
‘Dia juga temanmu Xie.’
Belum sempat aku membalas Peter, dokter keluar dari ruangan. Aku langsung berlari mendekatinya. “Bagaimana keadaan mateku?!”
“Dia terluka cukup parah, Alpha. Banyak luka pada tubuhnya. Selain itu, Ia juga terkena racun wolfbane. Saya harus memujinya karena Ia bisa bertahan sampai sekarang. Namun tenang saja, kami sudah menghilangkan racunnya. Sekarang dia hanya kelelahan. Mungkin dia akan sadar 2 sampai 3 hari ke depan.”
Aku langsung masuk ke ruangan tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi setelah mendengar apa yang terjadi pada mateku. Ku lihat mateku yang tertidur tak sadarkan diri di ranjang. Rambutnya yang hitam legam. Wajah tirus yang menawan. Aku tak sanggup menahan isakku.
“Terima kasih, dok.” ucap Peter yang diangguki oleh dokter. Setelah itu dokter tersebut pergi meninggalkan tempatnya.
Peter melihatku iba. Aku hanya menangis di samping ranjang mateku. Aku sudah tak bisa menahannya lagi. Mateku baru saja ku temukan. Tapi kenapa keadaannya seperti ini. Oh Moon Goddess, kenapa kau memberi ku cobaan yang begitu berat seperti ini.
“Val, kau..” Rose memotong perkataan Peter dengan gerakan tangannya. Sepertinya Ia tau kalau aku butuh waktu sendiri. Tanpa ku sadari, Peter dan Rose sudah pergi meninggalkan ruangan. Tinggal aku dan mateku sendiri di sini.
“Mate, kenapa keadaanmu begini? Apakah kau tidak tau betapa tersiksanya diriku tanpa ada dirimu di samping ku? Kenapa kau datang dalam keadaan seperti ini?” tanya ku pada mateku yang tidur.
Ia tak membuka matanya sama sekali. Aku bahkan belum mengetahui namanya. Apa warna matanya. Siapa dan bagaimana wolf nya. Aku tidak tau apa-apa tentang mateku. Sekarang, dia justru tertidur dan enggan membuka matanya.
***
“Permisi Alpha. Saya akan mengecek keadaan mate Anda”
“Alpha, bisa kita bicara? Ini tentang mate Anda.”
“Ada apa?”
“Mari Alpha kita ke ruangan Anda. Kita tidak bisa membicarakannya di sini.”
Aku membuka mataku. Aku masih melihat mateku yang tak sadarkan diri. Apa itu barusan? Apakah itu mimpi? Mimpi itu terasa sangat nyata. Ugh, kepalaku sakit. Aku tak bisa mengingat semuanya.
TOK TOK TOK
“Permisi, Alpha. Ini Peter.” Aku melihat ke arah jam dinding. Pukul 11. Sudah cukup siang ternyata. Mateku masih belum membuka matanya juga. Apa yang harus aku lakukan?
“Alpha. Saya tahu tentang keadaan mate Anda. Tapi saya mohon, jangan lupakan tugas dan kewajiban Anda sebagai Alpha.” Ucap Peter yang sudah masuk dan berdiri dibelakangku.
“Aku mau menemani mateku di sini.” Jawabku sendu.
“Tapi, Alpha. Kau tidak bisa terus seperti ini.”
“TINGGALKAN AKU SENDIRI, PETER!” bentakku pada Peter.
Peter tiba-tiba memutar tubuhku. Ia menampar kedua pipiku dan memukulkan jidatnya ke jidatku. Aku reflek memegang jidatku. Aku menatap wajah Peter yang terlihat sangat serius.
“Valey, aku sebagai sabahatmu tak bisa melihatmu berlarut dalam kesedihan seperti ini. Sudah cukup kau merasakan kesedihan yang mendalam. Itu saat kau kehilangan orang tuamu. Kau bahkan selalu terlihat sedih setelahnya sampai sekarang.” Aku terdiam mendengarkan Peter. Aku masih menatapnya dengan wajah sedihku.
“Kau itu kuat, Valey. Aku tau itu. Kau bisa bertahan sampai sekarang, membuktikan bahwa kau itu kuat. Matemu saat ini hanya kelelahan. Ia pasti akan bangun kembali. Berbeda dengan orang tuamu yang tak akan bisa bangun lagi.” Nafas Peter terdengar sedikit terengah-engah. Diam. Seketika setelah itu ruangan ini jadi sunyi.
“Maafkan aku, Val. Aku tak bermaksud—”
“Tak apa, Peter. Ini bukan salahmu. Kau benar. Mateku pasti akan bangun. Aku juga punya tanggung jawab sebagai Alpha. Aku akan sesekali pergi ke ruang kerjaku.”
“Maaf, Val. Aku tau kau ingin disampingnya saat ia membuka matanya. Tapi pack ini masih tetap butuh pemimpin.”
“Aku mengerti. Sob. Jadi tenang saja.” Ucapku sambil bediri dari kursiku.
“Aku akan membantumu agar tugasmu cepat selesai dan kau bisa segera kembali kemari.”
Aku hanya mengangguk. Peter benar. Aku bahkan sudah berlarut dalam kesedihan sejak dulu. Aku masih bisa mengerjakan tugasku sebagai Alpha. Sekarang aku menemukan mateku, belahan jiwaku. Ia tertidur karena kelelahan. Ia pasti bangun lagi. Ku tinggal sebentar, ku rasa tidak ada salahnya.