Valey’s POV
Crass
Alex melukai lengan kiriku dengan cakarnya. Aku reflex mudur ke belakang. Tapi Alex tidak berhenti begitu saja. Dia masih mengejarku dan menyerangku. Segala layangan cakarnya ku hindari sebisa mungkin. Aku menahan tangisku. Aku mengingat takdirku bahwa aku akan bertarung dengan Alex. Tidak. Ku rasa aku harus menyadarkan Alex. Aku menguatkan tekadku. Dan aku mulai menahan serangan dari Alex.
Peter, Tom, Rose, Vanya, dan beberapa warrior sampai ke perbatasan. Mereka terkejut melihat ku bertarung dengan Alex. Segera Vanya langsung membuat tameng setengah bola di sekitar pertarunganku dengan Alex. Aku dulu yang meminta pada Vanya agar aku bisa fokus melawan Alex dan mengurangi dampak kerusakan di sekitar pertarungan kami.
“Alex, sadar lah. Ini aku, Valey. Matemu.” kataku mencoba menyadarkan Alex sambil menahan serangan dari Alex.
Alex tidak menjawab dan hanya menggeram. Alex menendang perutku sehingga aku terlempar hingga menabrak pelindung dari Vanya. Semua orang yang melihat melihat jeri. Aku mencoba berdiri dengan tertatih. Ku lihat Alex berlari akan mengantamkan tinjunya padaku. Aku langsung menunduk menghindar. Alex memukul pelindung dari Vanya hingga pelindung itu retak.
Ku sadari kekuatan Alex tidak main-main. Aku berada di bawah Alex. Aku menendang perut Alex dan ia terlempar cukup jauh ke tengah.
‘Valey, bertukarlah denganku.’
‘Roxie?’
‘Maafkan aku, Val. Tidak seharusnya aku membiarkanmu bertarung melawan Alex sendirian.’
‘Tidak apa, Xie. Aku tau kau pasti sangat terpuruk.’
‘Tidak, Val. Justru yang lebih tersiksa adalah dirimu yang menghadapinya langsung. Maaf karena aku egois.’
‘Roxie..’
‘Sekarang, Val. Berukarlah denganku.’
Aku memejamkan mataku. Kuku-kuku ku memanjang. Taring mulai keluar. Aku membuka mataku dan memperlihatkan mata biru lautku. Roxie mengambil alih tubuhku tanpa berganti shift. Aku langsung berlari ke arah Alex dan langsung menyerangnya.
Serangan dadakanku cukup untuk membuat luka cakar pada lengan kanan Alex. Alex tak tinggal diam. Dia juga mulai menyerangku kembali. Cakar bertemu cakar. Tinju bertemu tinju. Tendangan bertemu tendangan. Pertarungan yang kami lakukan cukup membuat jantung berdebar.
Perisai Vanya retak di mana-mana. Aku sudah tidak memiliki waktu lebih banyak lagi. Aku harus segera mengakhirinya. Tenagaku sudah terkuras habis. Terlihat Alex juga mulai kelelahan.
“Kenapa? Kenapa aku tak bisa mengeluarkan kekuatanku secara penuh kepadanya?” Aku terkejut mendengar suara berat yang keluar dari tubuh Alex.
Suara berat itu. Itu bukan suara Alex. Roxie juga tidak merasakan wolf nya Alex. Jadi suara siapa itu? Apakah itu suara kegelapan yang ada pada tubuh Alex?
Alex mulai menyerang ku lagi. Aku mengelak serangan dari Alex dan itu cukup menguntungkan bagiku. Pertahanan Alex terbuka pada bagian samping. Tanpa menyiakan kesempatan, aku menyerang Alex dan menjatuhkan tubuhnya di atas tanah.
***
Aku berada di atas tubuh Alex dan mengunci pergerakannya. Kedua tanganku menahan kedua tangan Alex. Luka cakar dan lebam terpapar jelas pada kedua tubuh kami.
“Alex. Sadarlah. Ini aku, Matemu.” Suara Roxie mencoba menyadarkannya lagi. Alex hanya menggeram dan mencoba untuk melepaskan diri. Aku menguatkan genggamanku agar Alex tidak bisa lepas.
“Alex. Sadarlah. Ini bukan dirimu. Kau sudah berjanji padaku untuk kembali dengan selamat dan baik-baik saja. Jadi mana janjimu itu?” Roxie mulai meneteskan air matanya.
Aku tak kuat lagi melihat kondisi Alex yang seperti itu. Aku hanya bisa bersembunyi di dalam diriku. Alex masih mencoba melepaskan diri. Matanya menatapku tajam. Namun sekilas aku bisa melihat mata hitamnya.
Secara tiba-tiba Roxie langsung mencium Alex. Ciuman penuh akan kerinduan dan harapan. Alex mulai melemas. Dia tidak mencoba untuk melepaskan diri lagi. Alex mulai menutupkan matanya.
Aku mendengar suara benda pecah. Ku rasa itu adalah perisai Vanya yang hancur. Alex secara tiba-tiba memeluk punggungku dan memperpendek jarak di antara kita. Tanganku pun terulur mengalung ke leher Alex.
Peter menyadari bahwa pertarungan ku dengan Alex telah usai. Ia segera menyuruh Tom dan para warrior untuk kembali dan membawa Vanya ke rumah sakit. Ya, Vanya pingsan karena terlalu banyak menggunakan kekuatannya untuk membuat perisai. Rose ikut pergi bersama Tom untuk merawat Vanya.
Aku menyudahi ciumanku dengan Alex. Mata hitam yang menawannya terlihat jelas menandakan bahwa ia adalah Alex. Aku merindukannya. Ku lihat Alex seperti memandangi ku dengan tatapan takjup.
“Ada apa, sayang. Aku tau aku memang sangat mempesona. Tapi jangan menatapku seperti itu.” Ucapku dan langsung membuat Alex tersadar.
“Kau—“
“Aku adalah Roxie. Wolf dari Valey.”
“Suaramu begitu indah, Roxie. Begitu merdu dan indah.” Aku hanya terkekeh.
“Sammy juga ingin bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita berganti shift?”
Aku pun berdiri. Begitu juga Alex. Aku dan Alex menjaga jarak agar kami bisa berubah dengan leluasa. Ku lihat Peter mendekatiku. Aku memindlinknya untuk memberi waktu untuk kami berdua. Dia pun berhenti dan meninggalkan kami berdua. Sepertinya ia mengerti maksudku.
Aku dan Alex mulai berganti shift. Suara retakan tulang yang dapat membuat telinga ngilu terdengar. Dalam sekejap, dua ekor serigala sama besar dengan warna bulu perak dengan mata biru laut dan berbulu putih, seputih salju, dengan warna mata biru bagaikan es terlihat.
Roxie dan Sammy saling mendekat. Saling mengendus satu sama lain. Mereka mengeluskan kepala mereka untuk melepas rindu. Sammy menjilati kepala Wolfy. tentu saja Wolfy terlihat sangat senang dengan itu.
***
Author’s POV
Serigala berbulu perak dan serigala berbulu putih yang menawan. Sepasang serigala dengan bulu yang sangat menawan. Mereka terlihat sedang bermain-main dengan gembira. Pasangan mate yang tak bisa dipisahkan.
‘Kau adalah seorang White Wolf.’ Ucap Roxie.
‘Itu benar, mate. Apa kau terkejut?’
‘Ah tidak. Biasanya seorang White Wolf adalah seorang shewolf. Tak kusangka aku akan melihat White Wolf male yang merupakan seorang half. Kau terlihat sangat menawan.’
‘Oh, aku memang selalu menawan, mate.’
Kedua serigala itu merebahkan tubuh besar mereka. Sammy menjilati peru Roxie. Roxie terlihat senang dengan itu, bisa dilihat dengan expresi Roxie yang menjulurkan lidahnya. Ekornya juga berkibas tanda kegembiraan. Jilatan Sammy semakin naik ke lehernya.
‘Jangan kau berfikiran untuk melakukan itu, Sammy.’ Mindlink Alex.
‘Apa urusanmu?’
‘Kita baru saja melukainya. Kau harusnya tau itu.’
Sammy berhenti menjilati Roxie. Roxie seketika terlihat bingung dengan tingkah laku Sammy yang tiba-tiba berubah. Sammy mulai berdiri. Ia berlajan menjauh.
‘Sammy, ada apa?’ tanya Roxie.
‘Tidak ada apa-apa.’ Jawab Sammy dengan ekornya yang jatuh.
Roxie tak mengerti dengan apa yang baru saja yang terjadi. Ia bisa tau bahwa Sammy terlihat sedih. Tapi tak hanya itu. Ia juga merasakan sakit. Sakit di hatinya. Hal ini karena matenya seolah menolak dirinya.
‘Apa yang terjadi pada Sammy?’ tanya Valey.
‘Entahlah. Aku juga tak mengerti. Tapi aku merasakan sakit.’ Jawab Roxie sedih.
‘Aku juga. Seolah Sammy menolak kita begitu saja.’
Roxie dengan langkah lemahnya kembali ke mansion. Ia tak bisa memahami kenapa Sammy seperti itu. Banyak pikiran berkecamuk di dalam kepala Roxie.