Valey’s POV
Aku dan Alex sedang berada di kamarku. Aku keluar dari kamar mandi setelah bertarunganku dengan Alex yang cukup melelahkan. Aku mengenakan kaos dan celana panjang. Cukup santai. Ku lihat Alex sedang duduk di balkon. Alex terlihat seperti menghindariku sejak tadi. Ini membuatku tidak nyaman.
“Alex?” suaraku ternyata mampu membuat Alex terkejut.
“Ada apa, honey?” tanya Alex dengan tanpa melihatku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan kejadian tadi. Maafkan aku.” Sudah ku duga itu yang dipikirkan Alex. Tadi setelah Sammy meninggalkan Roxie, Aku langsung mencarinya dan meminta penjelasan. Ia merasa bersalah karena melukaiku.
“Sudahlah, Alex. Kau sudah meminta maaf 50 kali untuk hal itu.”
“Tapi—” Aku memeluk Alex dari belakang. Aku bisa merasakan rasa bersalah yang dimiliki Alex. Seharusnya kau tak perlu seperti ini. Hal itu buka sesuatu yang kau inginkan.
“Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi. Bagaimana dengan kuncinya? Apa kau sudah mendapatkannya kembali?” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan ini. Aku tak mau Alex terus merasa bersalah.
“Aku sudah membukanya. Kekuatanku telah kembali.” Aku tersenyum. Itu berarti hanya tinggal sedikit lagi kita akan menyelesaikan tugas dari Moon Goddess.
Aku bertanya-tanya, kapan dia akan menandaiku? Tidak kah dia tau bahwa aku sudah sampai batas untuk menahannya. Entahlah, mungkin karena darah Alpha mengalir pada diriku yang menyebabkan aku juga tidak bisa mengendalikan hasratku.
“Alex?”
“Hmmm.”
“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Aku melepaskan pelukanku.
Aku pergi meninggalkan Alex. Apa dia mengikutiku? Sepertinya tidak. Ini tidak mungkin kan jika aku yang memintanya. Pertanyaan bodoh macam apa itu jika aku sampai menanyakannya. Harusnya dia yang lebih dulu menawarkannya.
***
Alex’s POV
“Alex?”
“Hmmm”
“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Valey melepaskan pelukannya. Kemudian ia pergi. Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
‘Dia ingin kita segera menandainya. Cepat lakukan, Alex.’
‘Itu tidak mungkin kan?’
‘Kau bodoh atau apa, hah? Dia itu keturunan Alpha. Pasti sangat sulit baginya untuk menahan hasratnya sendiri. Aku pun juga begitu.’
Aku tak tau apa yang dikatakan Sammy benar atau tidak. Tapi aku bisa melihat keraguan dari Valey. Aku langsung berdiri dan menggenggam lengannya. Aku menahannya untuk tidak pergi.
“A-ada apa, Alex?” tanya Valey.
“Mate, apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?”
“Ti-tidak ada.” Valey terlihat menyembunyikan sesuatu.
“Aku tau kau menginginkan sesuatu.” Aku akan mempercayai Sammy kali ini. Semoga ia benar. Aku bisa melihat rona merah di wajah Valey.
“Kau ingin aku segera menandaimu, bukan begitu.” Valey tampak terdiam. Ia memalingkan wajahnya dariku.
“IYA. ITU BENAR. SEJAK PERTAMA AKU BERTEMU DENGANMU, KITA TAK MEMILIKI WAKTU BERSAMA. KAU MASUK RUMAH SAKIT, LALU AKU TAK SADARKAN DIRI SELAMA LIMA HARI. SETELAH ITU KAU PERGI LAGI MENGAMBIL KUNCI SEGELMU!” teriak Valey tepat di depan wajahku. Aku bisa merasakan segala emosinya.
“Kau tak tau apa yang ku rasakan. Aku ingin kau selalu ada di sampingku. Tapi kau selalu pergi. Kita selalu saja—”
Aku mencium Valey, memotong perkataannya. Valey tampak terkejut, tapi aku bisa merasakan ia segera terbuai oleh permainanku. Valey mulai menikmati apa yang ku lakukan padanya.
“Aku tau itu, mate. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga ingin segera menandaimu. Menunjukkan bahwa kau milikku dan aku milikmu.” Valey terlihat meneteskan air matanya.
“Bolehkah aku?” bisikku di telinga Valey.
“Bodoh. Aku sudah terlalu lama menunggumu untuk mengatakan ini.”
***
Aku mencium bibirnya. Aku memeluk tubuh Valey. Memperpendek jarak diantara kita. Valey pun terlihat menerima ciumanku dan mengalungkan tangannya ke leherku. Ciuman kami semakin panas. Aku menelusuri setiap rongga mulutnya.
“Aku akan menandaimu, aku tak akan segan denganmu.” Valey menatapku dengan tatapan kegembiraan dengan air mata yang masih mengenang di sana.
“Mungkin ini akan sedikit sakit.”
Aku mencium mulut Valey lagi. Kemudian beralih mencium wajahnya. Ciumanku turun sampai dileher. Aku mencium tempat di mana aku akan menandainya. Aku mulai mengeluarkan taringku dan menancapkannya pada leher Valey.
Ku dengar dia sedikit berteriak. Ku tancapkan taringku lebih dalam. Setelah dirasa cukup, aku mencabut taringku. Aku menjilati tempat aku mendandainya untuk menghilangkan darah yang keluar. Dalam sekejap luka tersebut langsung sembuh dan muncul sebuah tato bergambar serigala yang melolong ke arah bulan sabit dengan gambar kepingan salju dibelakangnya.
Setelah selesai, Valey juga menandaiku. Tanda yang muncul padaku adalah gambar serigala yang melolong ke arah bulan sabit dengan gambar tetesan air dibelakangnya. Tato ini seolah melambangkan sesuatu.
Aku menempelkan dahiku ke dahi milik Valey. Kami masih saling berpelukan satu sama lain. Aku bisa merasakan kegembiraan dari Valey. Aku juga, merasakan bahagia dengan semua ini.
“Kau milikku, mate. Selamanya akan menjadi milikku.” Ucapku lembut.
“Kau juga milikku. Aku tak akan memberikanmu pada siapapun.”
Aku dan Valey kembali berciuman. Ciuman ini terasa sangat manis, berbeda dari ciuman yang sebelumnya. Apakah ini karena kami sudah saling menandai? Entahlah. Aku tak bisa memikirkannya. Sekarang, aku hanya bisa terfokus pada kegiatan kami berdua.
***
Author’s POV
Seorang pria terlihat sedang terburu-buru untuk menghampiri seseorang. Pria tersebut terlihat sedikit emosi. Langkah kakinya terlihat sedikit mengentak ke lantai. Tatapannya menunjukkan ketidak sukaannya terhadap sesuatu.
“Ayah, apa maksud dari semua ini?” tanya pria tersebut kepada seseorang yang dipanggil ‘Ayah’.
“Tidak ada, biarkan dulu mereka. Lebih baik kau mempersiapkan pasukan mu lebih baik lagi. Mereka ternyata adalah mate. Itu lebih menguntungkan bagi kita. Kita gunakan efek dari mate bound.” Jawab sang Ayah santai.
“Cih, selalu saja. Ayah melakukan sesuatu tanpa bertanya dulu padaku. Kau merusak semua rencanaku.” Pria itu mendekat pada ayahnya dan menatapnya dengan tatapan tidak suka dengan tindakan sang ayah.
Ayah pria tersebut menatapnya tajam seolah memerintahkannya sesuatu. Secepat itu, pria tersebut langsung menunduk, ia mundur beberapa langkah. Pria itu jelas takut dengan ayahnya.
“Sudahlah, lebih baik kau fokus pada perubahan rencanamu. Aku yakin kau bisa mengatasinya.” Ucap sang ayah enteng.
“Cih. Kalau begitu, lebih baik kita menyerang mereka dengan kekuatan penuh kita. Beri tahu aku saat Ayah sudah siap dengan semua ini.” Ucap Pria itu dengan sedikit emosi.
“Kelihatannya itu bagus. Aku akan ikut dalam penyerangan itu. Kita perlu menunggu mereka membawakan benda yang ku minta.”
“Benda apa itu?” sang Ayah tersenyum jahat.
“Benda ini akan berguna jika kita tidak berhasil dengan penyerangan ini.”
“Kau tidak mempercayaiku?” Pria tersebut terlihat sedikit tersindir dengan perkataan Ayahnya.
“Tidak. Tapi aku sudah memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Aku ingin kau membaca buku ini, suatu saat pasti akan berguna.” Sang Ayah mengeluarkan sebuah buku kuno dari sakunya. Ia menyerahkan buku itu pada pria tersebut.
Pria tersebut menerima buku itu dengan tidak suka. Ia melihat sampul buku yang terlihat sangat mengerikan. Ia akhirnya pergi dengan terpaksa dan rasa marahnya. Mungkin saja kalau dia bukan Ayahnya pasti sudah dicabik-cabik oleh pria tersebut.