Valey’s POV
5 hari kemudian—
Hari ini adalah hari dimana kami akan berganti shift. Selama beberapa hari ini, kami sudah berlatih berbagai hal. Aku sudah bisa mengendalikan air sesuai keinginanku. Salex juga tidak perlu lagi menggunakan pakaian kutub nya yang super tebal itu.
Aku sekarang sedang berada di dapur. Oh iya, sekarang aku sudah bisa memasak, meski baru sedikit. Sebenarnya dibantu oleh para omega sih. Aku sedang membuatkan Salex biskuit coklat penuh cinta. Alay ya.
Aku membawakan biskuit buatanku ke ruang kerja Salex. Dulu itu ruang kerjaku, tapi sekarang menjadi ruang kerja Alex. Senangnya hatiku. Aku membuka pintu ruang kerja Alpha. Ku lihat Salex sedang frustasi dengan kertas-kertas terkutuk itu. Ya aku tau rasanya.
“Salex, Aku membuatkan mu biscuit coklat ini untuk menghilangkan stress mu.” Jelasku sembari tersenyum semanis mungkin.
“Mate, kau harus memakan ini, ini ku buat penuh dengan cinta.” Jelas Roxie masih memasang senyum termanis.
Salex melihatku dengan sangat frustasi. Sepertinya jika menggunakan dua kepala sekaligus membuat pekerjaan ini semakin rumit. Aku menatapnya dengan tajam. Salex memasang senyum terpaksanya. Kasihan sekali dia.
Aku meletakan biskuit yang ku buat di atas meja, kemudian aku berjalan mendekati Salex. Ku lihat Salex yang menyandarkan tubuh di kursinya sambal memijit pangkal hidungnya. Aku memegang kepala Salex dan mengusap-usapkan jariku di dahinya.
Salex yang merasakan pergerakanku membuka matanya. Mata kami saling bertemu. Salex mulai memegang belakang kepalaku dan menempelkan kedua dahi kami. Salex kemudian menciumku sesaat.
“Apa yang kau lihat, honey?” Salex seperti mengetahui apa yang aku lakukan, melihat masa depan. Ya, aku juga sudah bisa mengontrol kekuatanku ini, sama seperti aku mengntrol kekuatan melihat takdir masa lalu.
“Aku melihat kau membekukan seluruh taman, mate. Ku rasa itu kabar buruk.”
“Hmm.. itu tidak akan terjadi sayang. Aku akan merubah—“
Kata-kata Salex terputus, seketika tubuh ku terasa sangat panas. Tubuhku terasa sakit. Aku menggerang dan berteriak sangat kencang. Salex juga mengalami hal yang sama. Aku memegang kepalaku. Ini terasa sangat sakit. Bahkan lebih sakit dibandingkan pertama kali aku melihat masa depan.
Aku terduduk di lantai. Ku dengar suara pecahan kaca. Sepertinya Salex mengkhawatirkan diriku dan melompat melewati kaca. Aku tak sempat menghawatirkan Salex yang terjun dari lantai dua ini. Badanku sangat sakit sekarang. Peter dan Vanya terlihat langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Mereka terlihat terkejut.
“Ke-jar Sa-lex. Dia melom— akhh. melompat-ke-taman. Dia a-kan membekukan se-muanya.” Jelasku terbata-bata sambil menggerang kesakitan.
Vanya yang sedari tadi berlari mendekatiku langsung berbalik arah menuju arah taman. Sedangkan Peter terus berlari ke arahku. Lingkaran air cukup besar mengelilingiku seperti cincin. Lingkaran air itu berputar dengan cepat dan melebar membuat Peter terpental hingga menabrak dinding.
Aku tidak bisa mengontrol kekuatanku. Apa yang terjadi? Air menyembur ke mana-mana dari lingkaran air tersebut. Terlihat Peter bangkit dan kembali mendekatiku. Ia menghindari semburan air yang ku buat. Sesekali dia terkena air tersebut dan terpental ke belakang.
Peter semakin mendekatiku dan memukul tengkuk leherku dan membuatku pingsan. Selanjutnya hanya gelap yang ku lihat.
***
Author’s POV
Peter terlihat kesusahan menghindari air yang sedari tadi menyerang ke berbagai arah. Dugaan Peter ternyata salah, meski Vaxie sudah tidak sadarkan diri, namun kekuatan itu masih keluar. Untung saja Vanya sudah memprediksi hal ini akan terjadi, sehingga dia sudah membuatkan kertas mantra untuk berjaga-jaga.
Belum sempat Peter menempelkan kertas tersebut pada Vaxie, air yang berbentuk cincin besar itu meledak dan membuat satu ruangan tersebut terpenuhi air. Air keluar memecah kaca-kaca jendela dan melalui pintu bagaikan air bah. Terlihat Peter terseret air hingga keluar ruangan. Orang-orang di dalam mansion mulai panik melihat air keluar dari ruangan Alpha, namun dengan sigap Peter menjegah mereka untuk mendekat.
Sementara itu, beberapa waktu lalu sebelum air bah membanjiri mansión. Salex terlihat melompat dari lantai dua dan jatuh di taman yang terletak di belakang mansión. Salex menggerang kesakitan sambil memegang kepalanya. Ia duduk bersimpuh di atas tanah.
Seketika, secarik cahaya dengan kepingan-kepingan salju kecil mencul mengintarinya. Cahaya itu membesar dan semakin besar. Tiba-tiba, dari cahaya itu menembakkan kepingan saljunya bagaikan sihir. Seketika benda tersebut menyentuh sesuatu, maka benda itu membeku seketika. Kepingan salju itu menembakkan ke segala penjuru.
Vanya tiba di taman dengan tergesa-gesa. Ia cukup panik melihat karena kondisi taman yang sudah membeku setengahnya. Ditambah lagi kondisi Salex yang cukup mengkhawatirkan. Vanya mencoba mendekati Salex, namun kepingan salju tersebut seolah menghalanginya.
Beberapa kepingan salju mengenai tangannya, dan seketika itu pula tangan kiri Vanya membeku. Vanya mengaduh kesakitan karena sihir ini cukup kuat. Vanya terlihat memaksakan diri untuk mendekati Salex. Kemudian dia membuatnya pingsan dengan sihirnya.
Namun sihir Salex justru makin tidak terkendali. Vanya mulai terlihat semakin panik. Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dan keluarlah air bah yang cukup besar. Hal yang tak terduga juga terjadi di taman. Suhu udara semakin dingin. Seketika air menyentuh tanah, air itu mulai membeku ke atas.
‘Aku harus segera mengakhiri ini. Peter, kumohon cepatlah.’ batin Vanya.
Ia mulai merasakan kakinya yang mulai membeku. Dengan sekuat tenaga, Vanya mengeluarkan kertas mantra dan menempelkannya pada Salex. Cahaya putih menyilaukan keluar dari kertas tersebut, tampak terlihat cahaya juga keluar dari ruangan di lantai dua.
Seketika, kepingan-kepingan salju tersebut menghilang. Air yang membeku ke atas juga berhenti, begitu pula air yang mengalir dari atas.
***
Author’s POV
Terlihat empat orang werewolf berlutut di hadapan seseorang. Mereka telah kembali dari tugas yang telah diberikan kepada mereka. Setidaknya begitu.
“Yang Mulia, kami sudah membawakan apa yang kau inginkan.” Ucap salah satu dari mereka.
Pria tersebut tersenyum dan menerima benda berbentuk bulat dengan ukiran bintang di atasnya. Namun, senyumannya menghilang saat ia menyadari bahwa ia tak menerima yang lainnya.
“Dimana yang lainnya? Kenapa cuma ini yang kalian berikan padaku?” ucap pria itu.
“Maaf, Yang Mulia. Kami baru menemukan benda ini saja.” Pria itu langsung marah kepada mereka berempat.
“BAGAIMANA BISA KALIAN BARU MENEMUKAN SATU SAJA? APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN SELAMA INI?” teriak pria tersebut.
“Ma-maafkan kami, Yang Mulia.”
Pria tersebut mulai lelah. Ia mencoba memikirkan hal lain lagi. Waktunya terbatas dan sudah mendekati hari pertempuran. Ia tak akan menyerah apapun yang terjadi. Ia menatap para werewolf tersebut dengan tajam.
“Baiklah. Kalian bersiaplah untuk pertempuran besok.” Ucap pria itu pada akhirnya.
“Baik, Yang Mulia.” Jawab keempat werewolf tersebut serentak.
“Tunggu dulu, kau. Kau ku perintahkan untuk memahami seluruh buku ini. Tidak cuma ini, tapi juga buku-buku yang berada di ruanganku.” Pria itu menunjuk pada salah satu dari mereka.
“Saya mengerti, Yang Mulia.” Werewolf yang ditunjuk tersebut maju dan menerima buku yang terlihat usah dari pria tersebut.
Keempat werewolf itu dengan cepat langsung meninggalkan tempat mereka. Sementara itu, pria yang duduk di sanggasana itu menatap benda yang dibawanya dengan lekat.
“Lihat saja, Valerine. Aku akan pastikan bahwa ramalan yang kau berikan tidak akan terjadi.”