Author’s POV
Vanya terlihat menghela nafasnya. Kekuatan yang hilang kendali dari dua half werewolf half wizard ini dapat dihentikan. Tangan kiri dan kedua kakinya membeku sampai batas paha. Itu cukup membuatnya meringis kesakitan.
Vanya mencoba merapal sihir api agar terlepas dari jerat es ini dengan sisa tenaganya. Tak berapa lama akhirnya dia bisa bebas. Peter terlihat berlari ke arah Vanya dengan wajah cemas.
“Oma, kau tak apa?”
“Aku tidak apa. Sekarang bawa Salex ke kamar. Dimana Vaxie?”
“Dia sudah ku bawa ke kamar.”
“Baiklah kalau begitu.”
Vanya pergi dengan langkah yang sulit. Meski ia terbebas dari es, tapi masih ada sedikit es yang membekukan tangan dan kakinya. Peter yang melihat hal itu langsung terkejut. Posisi Vanya sekarang jelas tidak baik.
“Oma, kau—” Vanya mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda ia tidak apa-apa. Peter terdiam sebentar kemudian pergi membawa Salex ke kamarnya.
Di kamar, terlihat sepasang kekasih yang tertidur lelap dan enggan membuka matanya. Mereka berdua masih tertidur meski sang matahari sudah mulai turun dari singgasananya. Sebentar lagi malam dan waktu mereka berdua tinggal sedikit.
Di ruangan lain terlihat Vanya tengah bersusah payah untuk melelehkan es yang membekukan tangan dan kakinya. Peluh terlihat dimana-mana. Kekuatannya seakan berkurang sangat drastis.
Sihir es dari Salex, Itu merupakan sihir yang tidak diketahui oleh Vanya. Meski Vanya juga bisa menggunakan sihir es, tapi sihir ini jelas berada pada level yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan dengan Vanya yang kesusahan dalam mencairkan es tersebut.
Di sisi lain, Peter terlihat sangat gusar. Pasalnya ia tidak tau apa yang akan terjadi. Mengingat kejadian tadi siang membuatnya khawatir tingkat tinggi. Tanpa ia sadari, hari sudah berganti malam.
***
Peter’s POV
‘Roy, bagaimana ini? Aku khawatir dengan apa yang akan terjadi.’
‘Tenanglah Pete, anggap saja itu sebagai shift pertama mereka menjadi Wolf.’ Tenang Roy tapi masih ada nada keraguan.
‘Bagaimana aku bisa tenang setelah melihat tadi.’
Belum sempat Roy menjawab pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Aroma memabukkan bunga mawar dan vanilla langsung menyeruak masuk melalui indra penciumanku. Itu adalah Rose, mateku.
Rose mendekatiku dengan wajah khawatir. Tanpa aba-aba, Rose langsung memelukku. Aku sedikit tensentak ke belakang, namun bisa ku tahan. Rose menaikan kepalanya sehingga menatapku. Dia lalu mengelus rahangku dengan lembut.
Aku menggeram kegirangan dengan tingkah Rose. Ku rasakan percikan-percikan listrik yang menyenangkan saat mateku menyentuhku.
“Kau tidak usah khawatir, Peter. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin Alpha dan Luna bisa melalui ini.”
Seketika aku langsung menatap mateku. Terlihat kekhawatiran terpampang di wajahnya. Aku menjadi merasa bersalah pada mateku. Seketika rasa khawatirku meluap.
‘Lihat lah apa perbuatanmu, kau membuat mateku khawatir.’
Aku tidak menanggapi perkataan serigalaku itu. Aku hanya fokus ke mateku. Aku mencium bibirnya sekilas. Aku tersenyum tulus kepadanya.
Aku dan mateku pergi ke meja makan. Di sana terlihat sudah ada beberapa orang, termasuk Vanya. Sepertinya dia sudah melelehkan semua es yang ada pada dirinya. Aku menatap Vanya dan ia mengangguk sembari tersenyum.
Acara makan malam selesai dengan cepat. Aku sedang berdiskusi dengan Vanya hingga tiba-tiba kami mendengar suara benda jatuh dan kaca yang pecah dari lantai dua. Aku dan Vanya langsung berlari ke kamar Valey dan Alex.
Saat kami masuk kami hanya mendapati ruangan kosong yang berantakan dengan kaca jendela yang percah. Oh, ayolah. Kaca lagi. Tidak bisa kah mereka membuka dengan tenang.
Tiba-tiba salah satu warrior memindlinkku bahwa ia melihat Aplha dan Luna yang berlari ke arah bukit. Tanpa perlu berpikir lagi, aku dan Vanya langsung pergi ke bukit. Tak lupa aku memindlink Tom untuk ikut datang dengan membawa beberapa warrior.
***
Author’s POV
Di bukit bagian timur pack, terlihat dua orang yang tengah berdiri di puncak bukit sambil menatap bulan purnama. Keduanya saling larut dalam cahaya bulan yang bersinar terang. Tiba-tiba, keduanya menggerang kesakitan. Tubuh mereka terasa panas. Sebuah cincin air besar mengelilingi mereka.
Di waktu bersamaan, terlihat beberapa orang datang dengan terengah-engah. Mereka merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi. Mereka dapat merasakan kekuatan yang besar.
Terdengar suara retakan tulang di ujung tebing. Terlihat seorang pria mulai berubah wujud menjadi Wolf-nya. Sementara seorang wanita masih memegang kepalanya kesakitan. Seketika terlihat wolf besar berwarna putih dengan bulu yang lebat. Di saat yang bersamaan, sang wanita terduduk lemah.
Cincin air yang mengelilingi mereka terbang ke atas dalam bentuk yang kecil layaknya hujan. Dengan cepat air tersebut jatuh kembali ke tanah dan berubah menjadi salju di udara.
Semua orang yang ada di sana melihat takjub. Tak terkecuali Peter dan Vanya. Mereka bernafas lega karena tidak terjadi hal yang cukup buruk.
Ketika semua orang tengah mengamati takjub apa yang terjadi, sang serigala putih telah mengamati mereka. Mengamati dengan tatapan kepemimpinannta. Mereka semua langsung menunduk hormat. Dia memindlink semua orang agar kembali. Mereka langsung mematuhi perintah Alpha mereka dan langsung pergi meninggalkan tempat.
Sang wanita yang terduduk lemah sedari tadi mencoba untuk bangkit. Serigala putih yang berdiri dasampingnya mulai merendahkan tubuhnya, meminta agar sang wanita untuk duduk di atas tubuhnya. Sang wanita tanpa ragu munaiki tubuh serigala putih besar itu. Mereka berlari kembali ke mansión.
***
Valey’s POV
Aku kembali dengan menaiki tubuh serigala putih besar milik Sammy. Bulunya sangat lembut dan juga hangat. Aku menggenggam erat bulu milik Sammy. Bulu-bulunya begitu nyaman di tubuhku. Tiba-tiba Sammy memelankan laju larinya. Sekarang malah terlihat seperti ia sedang berjalan.
“Ada apa, Sammy? Kenapa kau melambat?” tanyaku pada Sammy.
“Tidak ada, mate. Aku hanya ingin denganmu lebih lama.”
“Apa maksudmu? Kau akan selalu bersamaku. Aku tak akan kemana-mana.” Ucapku sambil memeluk tubuh besar Sammy.
‘Valey. Aku juga mau. Jangan kau nikmati sendiri mate kita!’ mindlink Roxie iri.
‘Baiklah, Roxie. Kita gunakan wujud itu saja, jadi kita berdua bisa menikmati ini.’ Jawabku sambil berganti shif. Roxie juga sepertinya tak keberatan.
“Aku sebenarnya keberatan. Tapi karena aku baik hati, aku tak akan mempermasalahkannya.” Jawab Roxie tanpa mindlink. Tentu saja dengan wujud ini kami tak bisa melakukan mindlink.
Aku mencium dengan rakus aroma mint dan hutan yang memabukkan ini. Ini kenikmatan dunia tersendiri bagiku. Roxie terkekeh senang. Hal itu membuat Sammy tersadar bahwa aku menggunakan wujud Vaxie.
Sammy tiba-tiba merebahkan tubuhnya ke tanah. Aku yang tak siap tentu saja terkejut dan berteriak kecil. Tapi Sammy sepertinya mengaturnya agar aku jatuh tepat di atas perutnya. Ini nyaman sekali.
Aku terbuai oleh kelembutan dan kehangatan tubuh serigala putih besar ini. Aroma memabukkan ini juga menambah diriku semakin nyaman. Sammy mendekatkan kepalanya ke tubuhku. Aku dengan lembut mengelus kepalanya.
“Kau sangat menyukai ini, Sammy.” Ucap Roxie. Sammy tak menjawab dan hanya mengibas-ibaskan ekornya.
“Aku kira kau juga akan berubah menjadi Salex.” Ucapku.
“Tidak. Aku tak ingin berbagi kalian berdua dengan Alex.” Jawab Sammy tak peduli.
Roxie terkekeh kecil. Aku masih setia mengelus-elus kepala Sammy. Sammy menggerakkan salah satu kaki depannya, membuatnya berada di atas tubuhku. Aku sepertinya mengerti maksud Sammy. Aku langsung memposisikan tubuhku senyaman mungkin. Kepalaku tepat di leher Sammy. Sammy mengukungku dengan lebut dan hangat.
Kami berdua tertidur di bawah pohon di tengah hutan. Sinar bulan menyinari kami berdua dengan lembut. Boleh juga.