Valey’s POV
Aku saat ini sedang memeriksa berkas-berkas di ruang kerjaku. Aku harus menyelesaikan semua ini agar aku tak beurusan lagi dengan kertas menyebalkan ini. Hm? Aku merasa ada yang kurang. Apa ya?
Peter. Oh iya, biasanya Ia akan masuk dan memberiku lebih banyak tumpukan kertas. Kemana ia pergi? Tunggu dulu, itu justru bagus. Pekerjaanku akan berkurang.
‘Mungkin Ia sedang mempersiapkan untuk pertarunganmu nanti.’ Ucap Roxie tiba-tiba.
‘Oh, itu masuk akal.’
‘Val, aku bosan. Biarkan aku berkeliling.’
‘Ha? Aku sedang senang karena pekerjaanku tidak akan bertambah, tapi kau ingin jalan-jalan?’
‘Ayolah, sudah lama kau tidak membiarkanku berkeliling.’
‘Ugh, baiklah.’
Aku bertukar shift dengan Roxie. Roxie dengan santainya keluar mansion. Hm? Aku bisa melihat Peter kebingungan di ruang makan. Hah, sepertinya Roxie benar. Di luar, Roxie langsung berubah ke wujud wolf nya.
Roxie langsung berlari ke hutan, mengelilingi pack. Melihat bulu putihnya yang tertiup oleh angin dan wajahnya yang terlihat gembira. Roxie seperti terbebas dari kurungan setelah sekian lama. Ugh, dia seperti menghinaku dengan kesenangannya.
‘Kau harus menggantikanku dalam mengurus pekerjaan Alpha lain kali, Roxie.’
‘Baiklah-baiklah, aku mengerti.’
Benarkah Ia mengerti? Ia terlihat seperti hanya ingin bersenang-senang saja. Pernahkan ia mencoba mengerjakan pekerjaannya dengan benar? Selalu saja aku yang membereskan semuanya.
***
Pukul 10 pagi, eerrr atau siang. Terserahlah. Waktunya aku akan latihan tanding dengan Peter. Haha, rasakan Peter, kau akan jadi tumbal untukku. Ku lihat camp pelatihan penuh dengan para warrior yang berlatih. Jangan salah sangka, Snow Moon Pack mengharuskan setiap orang untuk dapat bertarung, paling tidak untuk mempertahankan diri. Sehingga tidak heran kalau tempat ini juga ada anggota pack yang ikut berlatih.
Kabar tentang latihan tandingku dengan Peter ternyata tersebar begitu cepat. Bahkan ketika aku sibuk dengan kertas-kertas menyebalkan di ruanganku, aku dapat mendengar orang-orang membicarakan tentang latihan tersebut.
Aku sudah siap di lapangan. Semua orang membungkuk ketika aku masuk tadi. Kulihat Peter.. Tunggu, itu Peter? Demi Moon Goddess, kenapa Peter berpakaian seperti itu? Dia mengenakan baju besi yang sangat tertutup.
“Peter, kita hanya akan latihan tanding. Bukan perang. Bahkan pun kau tidak pernah berpakaian seperti itu. Sekarang lepas baju besi itu.” Perintahku dengan alpha tone sehingga dia tidak bisa menolak.
Setelah Peter melepas baju perangnya, akhirnya latihan tanding kami dimulai. Kami memilih latihan tanding dengan pedang. Aku sih yang memilih. Hmm, kelihatannya Peter sudah menduganya. Lihatlah, pedang yang dibawanya terlihat bagus. Tapi, yang menentukan adalah sang pengguna pedang.
Aku menyerang Peter duluan. Suara dentingan pedang saling beradu. Aku mengayunkan pedangku, Peter dengan tangkas menahannya. Dia cukup hebat juga, tapi masih belum. Ini belum cukup.
Latihan terus berlangsung. Menyerang bertahan menyerang bertahan. Seolah latihan tak usai-usai. Setelah sekitar 2 jam. Entahlah aku tidak tau. Latihan akhirnya selesai dan pemenangnya jelas aku. Huahaha. Aku tersenyum puas.
“Sudah lama aku tak melihat senyum mu.” ucap Peter.
Seketika aku kembali datar.
“Ayolah Val. Tersenyumlah. Kau akan menjadi Alpha yang lebih baik jika kau tersenyum.”
Aku pergi meninggalkan Peter tanpa sepatah kata pun. Aku masuk ke ruang kerjaku. Baru beberapa langkah, tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Aku memegang kepalaku. Seketika aku seperti melihat diriku pergi ke hutan perbatasan, kemudian muncul orang yang terluka berjalan tertatih, setelah itu aku berlari dan memeluknya. Sakit kepalaku kembali menyerang. Sampai tak terasa kegelapan menjemput diriku.
***
Peter’s POV
Setelah latihan tanding Valey langsung pergi begitu saja. Menyebalkan memang aku kalah dari Valey. Tapi bagaimana lagi, Valey adalah orang yang sangat kuat, darah Alpha mengalir pada dirinya. Aku menyuruh Tom, Delta pack ini, untuk membereskan semua ini. Firasatku tidak enak semenjak kepergian Valey. Aku masuk ke dalam mansion. Kemudian, terdengar suara teriakan.
“Valey.” gumamku,
Aku pun langsung berlari sampai di depan ruang kerja Valey. Aku tanpa mengetuk terlebih dahulu langsung membuka pintu ruangannya. Ku lihat Valey tengah memegang kepalanya. Sepertinya dia sangat kesakitan.
‘Itu jelas lah bodoh, kau tidak lihat dia memegang kepalanya dan berteriak tadi.’ Ketus Roy. Ck, di saat seperti ini sempat-sempatnya wolfku mengejekku?
‘Itu karena kau bodoh,’ ejeknya.
Aku langsung mendekatinya. Tiba-tiba Valey terjatuh, dengan cepat aku langsung menangkapnya.
“Valey, Valey. Bangun Valey. Kau tidak apa-apa?” ku tepuk-tepuk pipinya Valey dan tidak ada reaksi apapun. Aku pun langsung keluar dari ruang kerja Valey dan kebetulan bertemu beberapa omega di sana.
“Tolong panggilkan dokter segera. Suruh dia untuk ke kamar Alpha.” pintaku pada salah satu omega yang ku lewati.
“Baiklah, Beta.”
Aku langsung menuju kamar Valey dan merebahkannya di kasurnya. Tak perlu waktu lama dokter akhirnya tiba. Aku disuruh keluar oleh dokter sementara ia memeriksa Valey. Setelah 5 menit, ku rasa, dokter akhirnya keluar.
“Aku tidak melihat ada hal yang aneh pada Alpha.” ucap dokter tersebut sebelum aku bertanya.
“Tidak ada bagaimana? Tadi Alpha memegang kepalanya sambil kesakitan sebelum pingsan.” Tanyaku tak percaya.
“Itu benar Beta. Dari hasil pemeriksaan saya, Alpha baik-baik saja.”
Aku menghela nafas kasar. Jelas-jelas penjelasan dokter tersebut membingungkan. Valey sakit. Bahkan sampai pingsan. Tapi diagnosa mengatakan Valey baik-baik saja. Ini jelas tidak masuk akal.
***
Aku masuk ke kamar Valey. Aku melihat Valey sepertinya sudah sadarkan diri. Syukurlah.
“Valey?” tanyaku sambil mendekati ranjangnya. Valey terlihat kebingungan.
“Peter? Ini.. kamarku? Bukannya sebelumnya aku di ruang kerja?” tanya Valey dengan wajah bingungnya. Sudah lama aku tak melihat ekspresi itu :3
“Tadi kamu pingsan, Val. Aku yang membawamu ke sini.”
“Terima kasih.” Valey menundukkan kepalanya seperti bersalah. Tidak tidak, kau tidak salah, Val. Jadi santai saja.
“Apa yang terjadi?” tanyaku pada Valey.
“Entahlah, yang ku ingat adalah aku masuk ruang kerjaku. Kepalaku sakit. Aku melihat bayangan seseorang. Gelap.” Valey Nampak mengingat-ingat apa yang terjadi.
“Tunggu dulu, melihat bayangan seseorang?” tanyaku bingung, karena tidak ada orang lain di sana. Apa Valey menggunakan kekuatannya? Tapi untuk apa?
“Entahlah, bayangan itu muncul ketika aku memegang kepalaku.”
“Apakah itu bayangan masa lalumu?”
“Bukan. Bukan seperti itu. Itu lebih seperti—”
“Ha? Bukan?” tanyaku memotong ucapan Valey. Itu aneh, karena dilihat bagaimanapun Valey seperti menggunakan kekuatannya pada dirinya sendiri.
“Kalau begitu, jangan-jangan—”
“Gambaran masa depan.” kataku dan Valey bersamaan.
Diam. Sesaat setelah kami mengucapkan hal itu, tak ada satu katapun yang keluar. Suasana langsung berubah canggung seketika.
“Hahaha, i-itu jelas tidak mungkin, iya kan Val?” ucapku sambil tertawa memecah suasana.
“Iya, itu sangat tidak mungkin. Jadi, keluarlah sekarang.” Valey menjawab dengan wajah datar dan dinginnya.
“Eh?”
“Aku bilang KELUAR SEKARANG!” Kali ini Valey menggunakan Alpha tonenya. Gulp.
“Ba-Baik, Alpha.” Aku sesegera mungkin langsung keluar kamar Valey dan menutup pintunya. Huft. Apa yang sebenarnya terjadi pada Valey? Kenapa Ia tiba-tiba marah seperti itu?