Hujan turun deras malam itu, membasahi jalanan kumuh di sudut kota yang nyaris terlupakan. Lampu jalan berkedip lemah, seolah ikut gemetar oleh aroma darah yang menguar dari gang sempit. Suara langkah kaki tergesa-gesa berpadu dengan napas tercekat seorang gadis muda yang tengah berlari untuk menyelamatkan nyawanya.
Tangannya bergetar, tubuhnya berlumuran luka, dan wajahnya penuh luka memar. Tapi matanya... masih menyala dengan satu hal: bertahan hidup.
"Ayo... tinggal sedikit lagi..." desisnya sendiri, menggigit bibirnya agar tidak jatuh.
Suara sepatu bot berat menggaung di belakangnya. Orang-orang itu masih mengejarnya. Lima pria bersenjata, semua wajah asing—tapi satu hal yang dia tahu pasti: mereka ingin dia mati malam ini.
Gadis itu berbelok ke lorong gelap, tapi jalan buntu menunggunya. Dinding tinggi, kawat berduri, dan tidak ada jalan keluar.
"Sh*t..."
Langkah kaki berhenti. Lima pria itu muncul di mulut lorong, mengurungnya.
"Sudah kubilang, kamu tidak akan bisa kabur, cantik," salah satu dari mereka terkekeh, mengangkat pistol.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" gadis itu memekik, berdiri dengan sisa tenaganya.
"Kamu tahu terlalu banyak. Dan bos kami... tidak suka gadis cerewet."
Pistol diarahkan. Jari hampir menarik pelatuk. Gadis itu menutup mata. Dalam detik itu, dia hanya bisa berpikir satu hal.
Jadi ini akhirnya...
Tapi suara tembakan tak pernah datang.
Yang terdengar justru suara letusan keras—DOR! DOR!—disusul jeritan. Saat gadis itu membuka mata, dua dari lima pria itu sudah terkapar. Peluru tepat di dahi mereka.
“Siapa—?!”
Sosok tinggi muncul dari balik bayangan, mengenakan jas panjang hitam, wajahnya setengah tertutup topi dan kabut hujan. Matanya tajam seperti belati, dingin seperti maut.
“Keluar dari sini... atau kalian menyusul mereka.”
Suaranya datar. Tenang. Tapi lebih mengancam daripada raungan peluru.
Tiga pria sisa saling pandang, lalu mundur dengan panik. Tak ada yang berani melawan. Bukan malam itu. Bukan setelah melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka.
Karena semua orang mengenal sosok itu.
The Devil.
Sang iblis dunia mafia. Tak tersentuh. Tak terkalahkan. Dan tak punya belas kasihan.
Gadis itu terjatuh. Tubuhnya lemah. Dunia mulai memudar.
Langkah kaki pria itu mendekat. Dia jongkok, menatap langsung ke mata gadis itu.
"Kau terluka." Suaranya pelan kini, nyaris lembut. "Tapi kau tidak mati."
"Siapa... kamu?" gumam gadis itu.
Pria itu tersenyum tipis. Senyuman itu tidak menyenangkan. Tapi juga tidak sepenuhnya jahat.
"Aku seseorang yang baru saja menyelamatkan hidupmu," katanya. "Dan aku tidak melakukannya secara cuma-cuma."
Gadis itu ingin membalas. Tapi tubuhnya ambruk. Kesadarannya lenyap dalam pelukan sang iblis.
---
*****
Saat dia terbangun, dia berada di kamar yang asing—luas, gelap, tapi bersih. Seprei hitam. Lantai marmer. Aroma kayu dan dupa lembut menguar di udara.
Dia duduk dengan panik. "Di mana aku?"
Sebuah suara menjawab dari pojok ruangan. "Kau aman."
Dia menoleh. Sosok pria yang menyelamatkannya malam itu sedang duduk di kursi, mengenakan kemeja hitam terbuka di bagian d**a, memperlihatkan luka dan tato di tubuhnya.
"Aku membawamu ke tempatku."
"Kenapa? Kenapa selamatkan aku? Kau... siapa, sebenarnya?"
Pria itu menatap langsung ke matanya. Tatapannya menusuk, seperti membaca isi hatinya.
"Orang-orang itu dikirim untuk membungkam saksi. Kau melihat sesuatu, bukan?"
"Aku hanya... tidak sengaja lewat."
"Kau tidak 'tidak sengaja' jika berada di lokasi pembantaian mafia tengah malam."
Gadis itu terdiam.
Pria itu berdiri, berjalan perlahan ke arahnya. Setiap langkah terdengar berat.
"Aku menyelamatkanmu karena aku ingin tahu siapa kau sebenarnya."
"Aku bukan siapa-siapa."
"Tapi sekarang kau milikku."
Gadis itu menegang. "Apa maksudmu?"
Dia berhenti tepat di depannya. "Kau berutang nyawa padaku. Dan aku bukan pria yang melupakan utang."
Dia mengulurkan tangan, menyentuh dagunya lembut.
"Aku akan melindungimu. Tidak ada yang akan menyentuhmu... kecuali aku."
"Kenapa?"
Mata pria itu berkilat. "Karena aku ingin tahu kenapa kau berani menatapku tanpa takut."
Dia mendekatkan wajahnya. Suaranya nyaris seperti bisikan iblis.
"Dan karena aku baru saja membuat janji."
---
✦
Malam itu, hujan berhenti. Tapi badai baru saja dimulai.
Janji telah diucapkan. Janji seorang iblis.
Dan iblis tidak pernah berjanji sembarangan.