Lima tahun.
Itulah waktu yang dia butuhkan untuk meyakinkan dirinya bahwa malam itu hanya mimpi buruk yang sudah lama berlalu. Lima tahun yang dia pakai untuk membangun ulang hidupnya dari reruntuhan masa lalu—tanpa darah, tanpa pelarian, tanpa pria bersenjata atau bayangan mafia.
Kini dia punya pekerjaan tetap di sebuah butik kecil. Tinggal di apartemen mungil yang hangat. Bangun pagi, membuat kopi, tersenyum pada pelanggan, lalu pulang menatap langit malam dari jendela kamar yang menghadap kota.
Hidupnya... normal.
Setidaknya sampai malam itu.
---
“Terima kasih, Kak. Cantik banget bajunya,” kata pelanggan terakhir sebelum keluar dari butik.
“Senang bisa bantu. Hati-hati di jalan, ya,” balasnya dengan senyum.
Setelah pelanggan itu pergi, dia mengunci pintu kaca butik dan mematikan lampu utama. Jam dinding menunjukkan pukul 21.43. Lebih malam dari biasanya, tapi tidak masalah. Kota ini cukup aman.
Dia mengambil tas selempangnya dan berjalan keluar dari pintu belakang butik. Hujan rintik turun lembut, menyapu aroma aspal dan kopi dari kafe seberang.
Langkahnya pelan. Tenang.
Sampai dia merasa... dia tidak sendiri.
Langkahnya berhenti.
Jantungnya berdetak lebih cepat, nalurinya menjerit tanpa alasan. Dia menoleh. Lorong sepi. Tidak ada siapa pun.
Dia tertawa pelan, “Parno banget, sih…”
Tapi saat dia melangkah lagi, seseorang berdiri di ujung lorong. Pria. Tinggi. Jas hitam. Mata berkilat di bawah cahaya lampu jalan. Dan tatapan itu... membuat darahnya beku.
Tubuhnya mematung.
“Sudah lama,” suara pria itu terdengar.
Dia mundur setengah langkah. “K-Kamu...”
“Kau terlihat lebih hidup dari terakhir kali kulihat. Kupikir kau akan lebih pucat.”
“Bagaimana... kau bisa—?”
“Sshh,” pria itu berjalan mendekat. “Banyak yang bisa kita bahas. Tapi bukan di sini.”
Dia ingin lari. Tapi kakinya tidak bergerak. Matanya mengunci ke mata pria itu—mata yang sama yang dia lihat lima tahun lalu, saat dia setengah mati di gang belakang.
The Devil.
“Aku tidak punya urusan denganmu lagi,” katanya gemetar. “Aku sudah punya hidup baru.”
Pria itu tersenyum miring. “Sayangnya, aku tidak pernah bilang kau boleh pergi.”
“Kau menyelamatkan aku... tapi itu lima tahun lalu.”
“Dan sekarang aku menagih.”
Tangannya terulur, meraih dagunya, memaksa wajahnya menatapnya lurus.
“Kau tahu aturan dunia ini, kan? Tidak ada yang gratis.”
“Aku bukan milikmu!” teriaknya.
Tatapan pria itu menjadi tajam. “Tapi kau sudah berjanji. Dan aku tidak pernah melupakan janji.”
Dia mencengkeram lengan gadis itu, menariknya lembut namun pasti. “Aku memberimu lima tahun untuk merasakan kebebasan. Sekarang waktunya kembali ke kenyataan.”
“Kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu?”
“Karena saat itu kau belum siap. Tapi sekarang... kau sudah cukup kuat untuk hidup di dunia gelapku.”
Dia terdiam. Dunia gelap? Dunia yang dia lari darinya seumur hidup?
“Aku tidak akan ikut,” katanya lirih.
Pria itu mendekat, menunduk hingga bibirnya hampir menyentuh telinganya.
“Kau akan ikut. Karena kalau tidak, aku akan hancurkan semua yang kau bangun selama lima tahun ini.”
Napasnya tercekat. Pria itu melangkah mundur, tersenyum dingin.
“Jangan khawatir. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan mengubahmu. Menjadi milikku... sepenuhnya.”
---
Malam itu, dia tidak pulang ke apartemennya. Dia tidak sempat mengemasi barang. Tidak sempat mengabari siapa pun.
Dia dibawa dalam mobil hitam panjang, dengan kaca gelap dan pengemudi bersenjata.
Kembali ke dunia yang dulu dia pikir sudah tertutup selamanya.
Sebuah rumah besar, lebih seperti benteng, menanti di ujung bukit. Pagar besi. Kamera. Pengawal. Dan aroma kematian.
Pintu dibuka. Dia dibimbing masuk. Lantai marmer mengkilap. Dinding dengan lukisan mahal. Tapi semua itu terasa dingin. Mati.
Sang iblis berjalan di depannya, lalu berhenti di tengah aula.
“Mulai malam ini, kau tinggal di sini.”
Dia menatapnya dengan mata benci. “Apa kau pikir aku akan patuh begitu saja?”
“Aku tidak butuh kepatuhanmu.” Pria itu menoleh pelan. “Aku hanya butuh kau tetap di sini. Karena dunia luar tidak lagi aman untukmu.”
“Ancaman?”
“Perlindungan.”
“Dari siapa?”
Dia berjalan mendekat. “Dari aku.”
---
Di malam yang sama, siaran berita di televisi kota menampilkan laporan:
“Mayat pengusaha lokal ditemukan terbunuh dengan dua peluru di kepala. Diduga terkait jaringan mafia internasional. Korban sebelumnya diketahui dekat dengan seorang wanita muda…”
Gadis itu menatap layar televisi di kamar barunya. Jantungnya berdetak keras.
Dia tidak butuh bertanya siapa yang melakukannya.
Sang iblis telah menepati janjinya.
Dengan darah.
---
✦
Janji iblis tak pernah untuk ditepati. Tapi saat ia menepatinya... dunia akan berlutut.